Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Naas


__ADS_3

Dengan hati berdebar, cemas, dan takut. Anto akhirnya berbalik ke rumah Rasyidin. Ia melakukan semua ini terpaksa, menjadi bawahan Rasyidin juga terpaksa, sekarang terpaksa juga berpihak pada Boy. Itu semua demi keamanan anak dan istrinya.


Anto pergi ke markas Rasyidin. Tempat itu berjarak 5 km dari rumah elitnya. Anto sudah sampai di markas itu, dia menyapa yang lain seperti biasa.


“Lu dah balik, Nto? Bukannya lo di suruh jadi mata-mata sama Pak Rasyid?" tanya temannya.


“Iya, ada sesuatu yang tinggal, nanti gue balik lagi ke rumah Buk Maria,” jawab Anto sekenanya.


Sedangkan Boy dengan yang lainnya mengikuti Anto secara diam-diam dengan pelacak GPS.


Anto terus berjalan, hingga sampai di ruangan pribadi Rasyid. “Pak,” panggil Anto.


Rasyid berbalik, alisnya berkerut. “Kenapa kau kembali lagi? Apa dia curiga?” tanya Rasyid.


“Itu--” Belum selesai Anto berbicara, sudah terdengar Suara motor besar datang secara bergerombol.


“Sialan! Anto berkhianat!” Terdengar teriakan dari luar.


“Kau-” Ucapan Rasyid yang geram tertahan, karena asisten pribadinya dengan sigap masuk ke dalam ruangan, dia menarik tangan Rasyid cepat ke jalan rahasia. Sedangkan Anto mendapatkan bogem mentah sampai pingsan oleh dua orang pengawal Rasyid lainnya.


“Lindungi kami!” ucap asisten pribadi Rasyid pada dua orang pengawal yang berbadan kekar itu, mereka tengah menuju jalan rahasia untuk melindungi Rasyidin.


“Serang!” Anak buah Rasyid yang berada di luar dengan cepat mengambil senjata tajam dan alat pukul seperti kayu dan lainnya.


“Maju! Hajar mereka sampai tak bergerak!” balas bawahan Boy.


Ya, bawahan yang dia bawa adalah bawahan yang terpilih sebagai pelindung Papanya selama ini, karena Gunawan seorang pengusaha, dan dicampur dengan gang motornya, salah satunya di pimpin oleh Lopi.

__ADS_1


Lopi dan Boy menyerang bawahan yang badannya paling tegap dan berotot, sedangkan yang lainnya juga saling beradu otot, senjata tajam, untung saja tidak ada senjata seperti pistol.


Mereka terus berkelahi, Boy pun mengalahkan musuh yang menghadangnya, dia dengan cepat masuk ke dalam, terlihat Rasyidin bersama tiga anak buahnya berlari, dia mengejar, tetapi langkahnya di hadang oleh dua orang pengawal. Sehingga Rasyidin bisa terus berlari dengan asisten pribadinya.


“Siaaal!” geram Boy. Dia menghadapi dua orang bawahan itu sekaligus. Cukup lama dia bertarung, sampai di kehilangan jejak Rasyidin bersama asistennya.


“Aaaaakh! Sialaaan!" jerit Boy marah.


Akan tetapi, Boy tidak putus asa, dia masih mengingat bentuk mobil dan plat yang dinaiki Rasyid tadi, saat dia di hadang. Bergegas Boy menaiki motor hijaunya, dia melihat bekas ban mobil sekitar 500 meter di jalan tanah itu, lalu dia melihat bekas tanah berbelok kiri saat bertemu jalan raya.


Boy tidak patah semangat, dia terus melajukan motornya, menajamkan insting. Boy cukup ngebut sehingga dari kejauhan dia bisa melihat mobil itu telah terparkir karena bocor, dan tak jauh dari sana Boy melihat pecahan kaca mobil, satu orang pingsan tergeletak di sana.


Boy semakin melajukan motornya dengan gesit, dia yakin Rasyid tak terlalu jauh, apalagi dengan mobil curian, pasti dia akan membawa mobil ke jalan sepi atau jauh dari pantauan polisi, dia tidak akan bawa ke jalan raya.


Benar saja feeling Boy, nampak bekas rem cakram masuk ke gang perumahan setelah dia melajukan motornya 1 km. Tak jauh, dia bisa melihat mobil yang disetor terburu-buru.


“Aha! Itu dia!” Boy tersenyum. Dia mengejar mobil curian itu.


“Boss, pergilah, biar saya yang menghadap--" ucap asisten pribadi Rasyid terpotong, Boy melemparnya dengan helm fulfacenya yang kuat dan kokoh.


“Boy langsung menerjang dan memukuli asisten itu tanpa celah dengan sigap, dia menghajar dan memelintir asisten itu dengan jacketnya, sehingga tangan dan kepala pria itu terikat otomatis dengan jacket Boy, benar-benar jagoan!


Setelah tak berkutik, Boy memutar kepala pria itu sampai pingsan, sedangkan Rasyid sudah berlari sambil bersembunyi-sembunyi dari Boy.


“Kemana kau iblis?” Suara Boy terdengar berat dan penuh emosi.


Brak! Boy menendang tumpukan sampah yang ada di sana.

__ADS_1


Rasyid bersembunyi, Boy terus mencari dan menyaring kan telinganya mendengar pergerakan Rasyid, hingga akhirnya dia mendapati Rasyid.


“Baji*ngan kau!” Bugh! Boy memukul dan menendang Rasyid, tentu saja Rasyidin melawan.


Mereka saling berkelahi, beradu tinju, dan tendangan, bahkan saling melempar sampah.


“Kenapa kau membunuh Papaku?” teriak Boy emosi.


“Itu semua karena kau terlalu ikut campur urusanku dengan Maria!" jawab Rasyidin tak tahu malu, dia terus saja melempar sampah pada Boy.


“Dasar ba*jingan tidak tahu malu! Sangat pantas aku ikut campur, karena kau menganggu pernikahan Mama dan Papaku!”


“Papamu lah yang pengganggu!” balas Rasyid. Dia melemparkan sampah basah yang sudah berulat-ulat ke arah Boy, sehingga mata Boy terasa perih.


“Aakh!” Boy memegangi matanya yang perih.


Di saat itulah Rasyid berlari secepatnya, tiada henti sambil sekali-sekali menoleh ke belakang, melihat Boy yang akan mengejarnya.


Rasyid terus berlari, bahkan sampai sempoyongan dan terjatuh, dia masih terus berlari, jika tertangkap, ada dua yang menantinya, yang pertama dihajar Boy, yang kedua dia akan dijebloskan ke dalam penjara, jadi dia memutuskan melarikan diri, setelah ini dia akan berangkat keluar kota atau ke.luar negeri, begitulah rencana Rasyid.


Sayang seribu kali sayang, rencana tinggallah rencana....


Dia yang berlari dengan terburu-buru tanpa melihat kiri dan kanan, tertabrak truk.


Brak!


Naas! Rasyid pun meninggal di tempat.

__ADS_1


Boy yang tengah mengejar Rasyidin celingak-celinguk, dia tidak melihat pria itu tertabrak, dia hanya melihat orang ramai berkumpul di depan saja. Dengan ragu, Boy berjalan mendekat ke arah keramaian, dan dia melihat yang tertabrak itu adalah Rasyid, selingkuhan ibunya.


Boy pun pergi dari sana. Ada puas, kasihan, dan benci melihat kejadian itu. Dia sebenarnya, belum rela laki-laki itu mati begitu saja, karena Boy ingin laki-laki itu terkurung dipenjara, mati secara perlahan, sama seperti ayah ya yang mati perlahan karena obat-obatan yang berbahaya di berikan Anto atas suruhan Rasyid.


__ADS_2