Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Boy Bertengkar dengan Mamanya


__ADS_3

Di kediaman Boy.


Rumah yang seharusnya tempat yang nyaman dan pulang yang sesungguhnya, tempat beristirahat dan menenangkan diri. Akan tetapi, berubah menjadi menyeramkan. Sosok Ibu yang seharusnya menjadi tempat dia mengadu, tempat dia bermanja, tempat dia meminta saran yang baik, tapi, tak dia temui di rumah ini. Yang ada, hanya seorang wanita yang tidak berperasaan.


Waktu kecil, mungkin Boy tidak mengerti apa-apa, namun setelah besar dia menyadari semuanya, wanita yang melahirkan dia sangatlah buruk, wanita yang hanya tahu berbelanja, menghabiskan banyak uang, ke salon dan bersenang-senang, tetapi tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri ataupun Ibu yang baik.


“Dari mana saja kau?” tanya Mama Boy berkacak pinggang, tangan dan jari tangannya penuh dengan perhiasan. Kukunya yang berwarna merah dan panjang berbunyi-bunyi karena ia mainkan, rambutnya di blonde berwarna coklat tua, tampak bergoyang saat dia bicara, karena dia menjepitnya setengah menyanggul.


“Dari luar,” jawab Boy malas.


“Kau harus minta maaf pada teman Mama, Boy!”


“Teman? Teman yang mana? Teman yang tidak punya otak itu? Teman bia*dap itu? Sorry, Ma! Will Never!” Boy melengos meninggalkan Ibunya dan hendak menaiki tangga ke kamarnya.


“Boy, dia teman Mama. Kau harus memperlakukan dia dengan baik. Mama tidak mau kamu begitu padanya!” ancam Mama Boy.

__ADS_1


“Shiit!" Boy mengumpat keras, memukul pegangan tangga dengan kuat. “You know Mom, aku jijik sekali denganmu dan temanmu itu. Jika kau tidak ibuku, mungkin aku sudah menendangmu!” Mata Boy menyala merah. “Gue lebih baik mati, dari pada gue minta maaf sama pel*cur kel*min itu!” hina Boy jijik pada selingkuhan Mamanya.


“Kau! Beraninya kau melawan dan membantah Mama!” Mama Boy berteriak keras.


“Mama yang buat aku berani! Mama yang buat aku kurang ajar! Apa salahnya Papa? Di mana letak salahnya? Papa bekerja mati-matian cari uang sebanyak-banyaknya, memanjakan Mama, apapun untuk Mama. Papa selalu setia. Tapi apa Ma! Apa? Kau berselingkuh dengan bajing*an yang hanya memoroti uangmu!”


“Apa maksud kamu Boy, dia teman Mama!”


“Hahahha!” Boy tergelak masam. “Teman Mama bilang? Teman tapi demen, iya!” Boy mengembuskan nafas kasar, lalu melanjutkan perkataannya kembali. “Mama egois, tidak pernah menyayangi aku dan papa. Mengabaikan aku dan Papa. Mama jahat!”


“Apa kamu bilang?” Mama Boy berjalan mendekat dan ... Plak! Dia menampar pipi Boy.


Hahahaha! “Tampar, Ma! Tampar! Tampar sampai puas!”


Setelah perang mulut dan berakhir pada tamparan di pipi Boy, dia memilih naik ke tangga, masuk ke kamarnya dengan membanting pintu sangat kuat. Tak berapa lama, dia kembali turun, membawa tas sandang belakang, lalu pergi dari rumah, meninggalkan Mamanya yang masih menatapnya tajam.

__ADS_1


Boy mengendarai motornya hampir dua jam, dia pergi ke vila di tepi pantai. Vila ini milik dia pribadi, hadiah dari Papanya saat dia berumur 17 tahun dengan tema ultah sweet seventeen.


Dia memberikan tas, kunci motor, dan helm pada penjaga vila. Kemudian, memilih berjalan menyusuri tepi pantai dengan hati dan pikiran yang kalut sambil menenteng satu botol alkohol beserta kacang-kacangan yang tadi dia beli di supermarket.


Dia benar-benar menyimpan perselingkuhan Mamanya seorang diri, tak pernah menceritakan pada teman, pacarnya, ataupun ayahnya. Beberapa helaan nafas dia keluarkan.


Boy akhirnya memilih duduk di tepi pantai, cigaretek ia bakar, menyulutkan api merah diujungnya. Gulungan asapnya terlihat rapi terbang di bawa angin laut. Perlahan, Boy membuka tutup botol dari minuman beralkoholnya. Meneguk seteguk demi seteguk minuman sepat, asam, manis, pahit, dan bergas itu. Rasanya sungguh nano-nano.


“Aku benci dengan semua ini!" gumamnya kesal, meneguk minuman alkohol sambil menghisap cigareteknya.


🎵Sikok bagi duo, sikok bagi duo! Terdengar nada dering di hp nya.


Dia merogoh hp dari kantong celana. “Siapa sih, mengangganggu aja!” Ia berdecih. “Paman?” ucapnya membaca nama yang tertera. Yang menelponnya adalah sekretaris ayahnya.


“Ya, Hallo. Ada apa Paman?”

__ADS_1


“Apa!” Boy terkejut.


__ADS_2