
Ke enam anak buah Rasyidin kembali pulang dengan wajah babak belur, mereka saling mengobati luka satu sama lain dengan obat di kotak P3K.
“Sialan! Kenapa kalian bisa babak belur begini!” hardiknya dengan marah. Emosi meledak seketika mendengar Boy mengalahkan enam anak buahnya yang perkasa dan kuat.
“Maaf, Pak....” lirih salah satu diantara mereka.
Plak! Rasyidin malah menampar wajah pria yang menjawab itu, kasihan sekali dia, padahal wajahnya masih nyeri akibat pukulan Boy.
“Masih berani menjawab! Dasar bodoh! Bocah seperti itu saja kalian kalah!” Rasyidin marah besar. Kemudian sebelum beranjak dari sana membawa kemarahan, dia menendang kaki salah satu pria yang dekat dengan dia berdiri.
“Aawch!” Pria itu meringis kesakitan karena kakinya terkilir habis di sandung dan dipelintir Boy.
Dia keluar dari ruangan itu, tetapi baru saja ke enam pria itu bernafas lega, Rasyidin kembali masuk ke dalam. “Anto! Kemari kau, ikut denganku!” teriaknya.
“Baik, Pak!” jawab Anto, dia baru saja selsai mengobati memar di bagian perut dan selesai mengolesi balsem di bagian tangannya yang sedikit bengkak habis di tendang sepatu boots tebal milik Boy.
Anto berjalan mengikuti Rasyidin ke dalam ruangan pribadinya.
“Dengar, gue pengen lo kembali bekerja di rumah Gunawan! Lu jadi mata-mata kembali!” perintah Rasyidin to the point.
“Tapi, Pak--”
“Apa lagi?” Rasyidin menatap tajam Anto.
“Hm, aku takut, aku dicurigai,” jawab Anto. Dia juga tidak ingin menceritakan kepada Rasyidin masalah Boy yang melihat wajahnya.
“Bodoh! Apa yang kau takutkan! Ada Marina di rumah itu! Dia akan melindungi kamu juga, dan anak kecil sialan itu juga tidak akan mengenal kamu orangku!”
__ADS_1
“Mmm, baik Pak, saya akan kembali ke rumah Gunawan,” katanya patuh.
Ya, Gunawan adalah nama ayah Boy. Anto sebenarnya salah satu bodyguard kepercayaan Gunawan, rupanya banyak sekali orang-orang yang berkhianat padanya selama ini.
Anto berharap, Boy lupa dan tidak ingat siapa dia, terlebih waktu malam, dia juga minta izin pulang kampung, jadi dia bisa membuat alasan yang lebih tepat.
Akhirnya, Anto pun kembali ke rumah Gunawan, dengan perasaan cemas, takut ketahuan. Akan tetapi, dia merasa lega setelah tidak melihat Boy, dia berpikir, mungkin saja Boy berkeluyuran.
“Woy, Nto. Apa kabar? Lama tidak bersua? Gimana kabar Ibu lo?” tanya teman sepekerjaan dengannya.
“Kabar gue gini-gini aja. Iya, ibu gue sakit parah waktu itu dan meninggal dunia, jadi gue nggak bisa kembali dengan cepat. Gue juga sedih banget nggak bisa bertemu di hari-hari terakhir Tuan Besar,” tutur Anto.
Sejujurnya, memang benar ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit.
“Turut berduka cita ya, Nto. Tabah, ya,” ujar mereka menghibur Anto.
Udin, sang sopir pribadi, orang jujur kepercayaan ayah Boy dan Boy melihat Anto sedang berbincang-bincang dengan yang lain. Pria paruh baya itu segera mencari-cari Boy.
Toktoktok! “Tuan Muda, ini saya, Kang Udin,” ucapnya dari depan pintu ruangan.
“Ya, silahkan masuk, Kang!” seru Boy dari dalam ruangan.
“Anu Tuan Muda, Anto sudah datang, dia sedang berbincang-bincang dengan yang lain,” Udin mengadukan pada Boy.
Boy yang mendengarnya langsung berdiri dengan langkah cepat langsung menuju Anto berkumpul dengan yang lain.
“Heh, Anto!” teriak Boy.
__ADS_1
Deg! Jantung Anto rasanya ingin meledak saat melihat wajah kemarahan Boy. Ya, Boy melihat ads belas luka di bagian bibir dan lengan Anto, sama persis dengan luka yang dia berikan.
Sepertinya, Rasyidin benar-benar bodoh dan tidak memperhitungkan dengan matang-matang saat memberikan perintah. Siapapun juga curiga saat melihat bawahan memiliki luka, luka itu sama dengan luka yang dia berikan.
“Jadi benar, kau baj*ingan yang menyerangku!” Boy langsung mencengkram kuat kerah baju Anto.
Bugh! Bugh! Boy memukul dan menendang Anto sekuat hati. Membuat yang lain terkejut, sangat aneh, bukannya seharusnya mereka saling mengucapkan belasungkawa, tetapi kenapa Boy begitu marah.
“Katakan! Siapa yang menyuruhmu! Apa kau juga yang membunuh Papaku, hah?” Boy menatap dengan kilatan kemarahan yang sangat besar.
Yang lain terkesiap mendengarnya.
“Kenapa kau tega membunuh Papaku dan menyerangku? Kenapa?” teriak Boy penuh emosi.
“Ma-maafkan aku, Tuan Muda. Aku terpaksa, jika aku tidak melakukannya, Nyonya Besar dan pacarnya akan membunuh istri dan anakku,” jawab Anto.
Jeder! Rasa ditembak petir di siang bolong. Yang meminta semuanya adalah wanita yang melahirkannya bersama kekasihnya. Kecewa, marah, sedih bercampur menjadi satu.
“Maafkan aku....” lirih ya mengelus wajah yang babak belur.
Boy lama terdiam, tungkainya terasa lemah, kenapa ibunya begitu tega?
“Katakan semuanya padaku, tak ada yang kau tutupi. Aku bisa menjamin keselamatan kamu untuk.sementara waktu, akan tetapi kau tetap.harus bertanggungjawab akan perbuatan kamu ke polisi karena telah melakukan pembunuhan berencana,” tegas Boy.
Wajah Boy berubah-ubah saat mendengar semua cerita Anto, mulai dari Ibunya memaksa dia mengganti obat yang berbahaya untuk Gunawan, menipu, memasukkan selingkuh Ibunya ke rumah, dan lainnya. Oleh karena itu, Boy tidak tahan dan mendorong tubuh Anto kuat ke tanah.
“Si*alan! Tunjukkan aku tempat baji*ngan Rasyidin itu! Jika tidak, kau yang akan aku habisi sekarang juga!” Mata Boy menatap nyalang Anto.
__ADS_1