
Tak terasa hari-hari pun terus berlalu, sudah enam bulan lamanya Boy dan Icha tidak berkomunikasi.
Icha mulai membuka hati dan pikiran nya untuk berkenalan dengan Erik karena pria tampan itu sangat gigih untuk mendekati dirinya, ditambah sang Mama yang menjodohkannya begitu keras, dan dia melarang untuk dekat dengan Boy. Tentu saja, masalah utamanya adalah Icha benar-benar tersinggung akan sikap Boy yang menamparnya hari itu di rumah sakit, saat meninggalnya Lopi, kekasih Katia.
Icha sangat kesal dan juga kecewa kepada Boy, dia merasa lelaki itu tidak ada rasa penyesalan sedikitpun karena dia yang membuat Lopi kecelakaan, dengan mengajaknya bertanding, padahal Lopi dan Katia akan segera menikah, ditambah juga sifatnya yang kasar, dia mulai percaya dengan ucapan mamanya, yang mengatakan jika Boy anak jalanan yang pasti memiliki sifat asli kasar dan akan melakukan kekerasan pada pasangannya. Oleh karena itu, Icha pun mulai menjauhkan diri dari Boy. Icha tdk pernah mau membuka maaf pada Boy, begitulah tekadnya.
Katia masih di dalam masa galaunya, dia benar-benar mencintai Lopi, kepergian Lopi membuatnya hancur, dia sangat bersedih, dan lebih sering mengurung diri untuk melihat foto-foto Lopi bersama dirinya, mengenang kenangan berdua yang telah mereka lewati.
Boy tidak pernah ingin kasar pada Icha. Akan tetapi, saat itu semua serba salah saja. Jika perasaan Boy, Icha lah yang salahz kenapa menuduh nya seperti itu? Walau, ia pun salah, kenapa dia bisa sampai menampar kekasihnya itu. Jika waktu bisa diputar! Biar lah ia yang mengalah dengan tidak menampar. Mungkin saja, tidak akan jadi seperti ini.
__ADS_1
Boy benar-benar menggalau, dia sering duduk termenung, kehilangan kekasih, kehilangan sahabat, rasanya dunianya benar-benar runtuh, dia tidak mengerti cara menaklukkan Icha. Dikarenakan, selama ini perempuanlah yang mengejar-ngejar dia, Boy sudah berusaha mengejar Icha, meminta maaf berkali-kali, dan mendatanginya, tetapi wanita itu mengabaikannya saja.
Sungguh menyedihkan nasib Boy! Pria yang terkenal playboy, keren, disukai banyak wanita, memiliki kelompok gang motor, semuanya terasa kosong!
Kini, Icha sudah dekat dengan Erik. Ia sudah mau di ajak ke mall dan pergi makan-makan dengan pria tampan itu.
“Pesan aja, apa yang kamu mau, Icha!” tawar Erik kepada Icha.
“Baguslah, senang mendengarnya, aku juga menyukai wanita yang banyak makan dari pada yang tidak makan, rasanya aku terlihat menjadi laki-laki pelit, kalau teman yang aku ajak makan tidak makan,” ucap Erik terkekeh.
__ADS_1
“Oh, ya, gimana sama kuliah kamu? Lancar 'kan?" tanya Erik berbasa-basi.
“Lancar, semuanya oke,” jawab Icha menatap Erik.
Erik mengangguk. “Oh, baguslah. Apa kabar temanmu, siapa namanya, aku lupa ya?” tanya Erik lagi.
“Namanya Katia, aku sudah menghiburnya, tapi mau gimana lagi, ini masalah perasaan, apalagi ditinggal meninggal saat mau menikah, pasti menyesatkan,” ujar Icha bercerita kepada Erik.
Melihat Icha tertunduk dan mulai berwajah sedih, Erik pun segera mengalihkan pembicaraan. “Oh iya, aku dengar, ada toko coklat baru loh di ujung sana, setelah makan kita lihat-lihat ke sana, ya,” ajak Erik.
__ADS_1
“Benarkah?" tanya Icha antusias. Dia memang pecinta coklat.
“Iya, nanti kita ke sana, ya,” sahut Erik.