Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Mengunjungi Keluarga Icha


__ADS_3

“Oke, kalau begitu, aku berangkat ke kantor duku, Mom!” ucap Erick. Dia menghapus bibirnya dengan tisu, setelah menghabiskan roti bakar dan susu putih hangatnya.


Dia berdiri, dan mencium pipi ibunya. “Love you Mom!" ucapnya usai mencium kedua pipi ibunya.


“Love you dad. Aku pergi dulu, bye!” Erik lebih dulu pergi.


“I think ... I'm also going to the office,” ucap sang suami. Dia berdiri dan disambut berdiri juga oleh sang suami. (Aku pikir ... aku juga akan berangkat ke kantor)


“Love you, muuach!” Mereka berdua pun saling berciuman bibir berdua sebentar. Setelahnya, barulah sang istri beranjak keluar, masuk ke dalam mobilnya untuk berangkat ke kantor.


Sang istri segera menelepon seorang wanita.


“Hallo, iya, beberapa hari lagi kami akan datang ke Indonesia, putraku setuju.” Dia tampak senang saat bicara dengan orang yang ada di balik telepon.


“Oh, sungguh? Aku juga sangat senang, kalau putrimu juga menyetujui perjodohan ini. Semoga kedua anak kita berjodoh ya,” ujarnya.


Mereka berdua berbicara penuh semangat, membahas tentang perjodohan putra putri mereka, cukup lama.


***


Ibu Erick mulai shopping, membeli beberapa barang-barang branded, oleh-oleh makanan dan lainnya, dia begitu senang dan bersemangat, membayangkan perjodohan anaknya berhasil, dia akan sering pulang ke kampung halamannya.


“Ah, aku harus beli ini! Kalau dari segi wajahnya yang imut, dia sangat cocok dengan aksesoris ini!” Ibu Erik memilih aksesoris untuk wanita yang akan di jodohkan dengan putranya, sia sudah melihat foto dari putri teman bisnis suaminya itu.

__ADS_1


Semuanya sudah beres, oleh-oleh, barang-barang keperluan sudah dikemas ke dalam koper, berkas-berkas penting dan pemesanan tiket bisnis ke Indonesia sudah siap.


“Mom sudah siapkan semuanya, pakaian dan keperluan kamu juga,” ucapnya pada Erick malam itu, saat Erick pulang dari kantor.


“Mom sudah menyiapkan? Wah, Mom tampak bersemangat sekali,” goda Erick.


“Tentu, karena tak lama lagi, Mom akan memiliki cucu,” sahut Ibu tersenyum.


Erik geleng kepala. “Aku belum menyentuhnya, bagaimana bisa dia hamil dengan cepat?” Erik terkekeh.


“Makanya, kita segera ke Indonesia, dan menikahkan kamu dengannya, maka dia akan segera memberikan Mom cucu!” ucap sang Ibu tertawa.


“Ahahha! Ok, apapun yang Mom inginkan!” Erik berjalan ke kamarnya sambil terkekeh. Dia berharap, wanita yang dijodohkan dengannya, wanita baik, agar Ibunya tak kecewa, karena ibunya terlihat sangat berharap.


***


Kurang lebih 24 jam, mereka habiskan waktu dari Amerika ke Indonesia lamanya dalam perjalanan.


Di rumah Icha.


Mama Icha tampak berdandan dan sibuk. “Nanti malam kita akan makan malam, papa pulang dari kantor harus langsung bersiap, dan kamu Icha, pulang kuliah, harus segera dandan dengan cantik. Mama tidak ingin mendengar alasan apapun!” perintah Mama Icha menatap suami dan putrinya gantian.


Icha melirik Papanya dengan ekor mata. Pria itu tampak pasrah dan mengangguk.

__ADS_1


Setelah berbicara seperti itu, Mama Icha tampak pergi terburu-buru sambil melihat jam di tangannya. Dia segera mengerjakan pekerjaannya, dia harus menyelesaikan sebelum sore datang menyapa.


Di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta disingkat SHIA atau Soetta. Sore itu, Mama Icha tampak menunggu keluarga Erik dengan semangat.


Di rumah Icha, para pelayan sudah mempersiapkan makanan untuk tamu mereka, rumah sudah di rapi dan di bersihkan. Papa Icha pulang lebih awal, begitu pula Icha, di jemput oleh Papanya langsung ke kampus, jadi dia tidak bisa menolak, dengan malas, kaki Icha melangkah ke kamarnya.


“Jeng!” teriak Mama Icha melambai.


Dia segera menyalami keluarga Erik setelah dekat. “Ayo, kita ke rumah dulu. Maaf, suami dan anakku tidak bisa menjemput, soalnya putriku sedang ujian akhir, tidak bisa libur, mereka sedikit telat pulangnya,” ucap Mama Icha beralasan.


“Tidak apa-apa,” jawab Mama Erik tersenyum.


“Mungkin, sekarang mereka sudah berada di jalan pulang. Hm, kalau begitu, bagaimana kalau kita ke rumah sekarang?” ajak Mama Icha.


“Oh, baiklah,” sahut Ibu Erik.


Mereka pun pergi ke rumah Icha dengan dua mobil, satu mobil Mama Icha dan satu lagi mobil milik Erick. Sebagian barang-barang sudah di bawa bawahan Erik ke apartemen miliknya, sedangkan sebagian oleh-oleh sekitar tiga koper, langsung di bawa mereka ke rumah Icha.


Tak lama, mereka sampai ke rumah Icha.


“Mari masuk,” ajak Mama Icha.


Saat masuk, mata Erik terbelalak!

__ADS_1


__ADS_2