
“Apa!” Boy sangat terkejut, mendengar apa yang dikatakan oleh asisten ayahnya itu.
‘Tuan Besar sedang berada di rumah sakit sekarang, Tuan Muda.’ Begitulah berita yang disampaikan.
Boy bergegas kembali ke Villa, membersihkan diri, agar aroma alkohol tidak tercium pada dirinya, karena sudah meneguk minuman itu tadi. Mangganti baju yang lebih rapi dan segera berangkat ke rumah sakit, alamat yang diberitahukan oleh sekretaris ayahnya tadi.
Saat sampai di rumah sakit, Boy segera memarkirkan motor dan meletakkan helmnya. Dia bergegas berlari di lorong rumah sakit itu, memencet nomor sekretaris ayahnya.
“Paman, ada di mana? Aku sudah sampai di rumah sakit, sedang di lorong. Dimana?”
Setelah mendengar jawaban dari Sekretaris ayanya, Boy dengan cepat mematikan panggilan telepon, masih sambil berlari, dia menyimpan teleponnya.
Tak lama, di sebalik dinding, tampak Boy muncul, berlari dengan nafas terengah-engah.
“Ah, ah! Paman! Dimana Papaku?” tanyanya.
__ADS_1
“Masih di dalam,” jawabnya.
Boy yang cemas, kehilangan kendali, sehingga dia ingin menerobos masuk ke dalam ruangan UGD itu. Tangannya sempat dicegat oleh sekretaris ayahnya.
“Tuan Muda, kita tidak bisa masuk, sebelum perwat dan dokter mengizinkan,” ucapnya melarang Boy.
Pemuda itu tampak mengabaikan dan ingin menerobos, seorang suster yang berjaga di depan pintu bagian dalam ruangan langsung mencegah Boy.
“Maaf, Anda belum bisa masuk untuk sekarang. Mohon jangan mengganggu proses yang sedang berlangsung, harap Anda mengerti.” Suster itu masih berkata ramah.
Tak lama, dokter keluar dengan suster, mereka bicara, pasien belum bisa diganggu dulu untuk 2 jam ke depan. Boy terkulai lemah, melihat ayahnya yang hanya terdiam di atas ranjang dengan alat-alat medis. Dia hanya bisa melihat dari kejauhan.
Boy dan Sekretaris ayahnya duduk kembali di kursi besi panjang, namun kini sudah ada minuman mineral di samping mereka. “Minumlah dulu Tuan Muda, wajah Anda tampak pucat,” tawarnya, lalu ia segera meneguk minuman miliknya juga.
“Paman, kenapa Papaku bisa sakit? Bukankah dia baik-baik saja kemarin, saat aku melakukan video call dengannya? Dia juga berkata akan pulang beberapa hari lagi, maybe seminggu atau dua minggu lagi?” Boy menatap intens Sekretaris ayahnya.
__ADS_1
“Ya, Tuan Muda. Rencananya memang seperti itu, tetapi Tuan Besar tiba-tiba sakit dan meminta pulang. Lebih tepatnya, saya harap Anda bertanya kepada beliau saja langsung nanti, saat beliau sudah sadar, lebih baik beliau yang menceritakan kepada Anda langsung, dari pada Anda mendengarkan dari saya,” tutur Sekretaris itu.
Boy mengangguk. “Baiklah.”
Ayah boy sudah satu bulan ini diluar kota, sebenarnya, ayah Boy memiliki penyakit.
Penyakit ini, sudah lama diderita olehnya, sudah memasuki stadium empat. Saat dia merasa penyakitnya tak aman, dia ingin pulang dan memberitahu keluarga nya. Akan tetapi, baru mandarat di bandara, dia sudah tak sadarkan diri, melihat ada notif di hp nya. Sebuah foto dan vidio yang mengejutkan.
Dia selama ini, memang merahasiakan penyakitnya dari semua keluarganya, dia tak ingin keluarga mengkhawatirkan dirinya. Hanya sekretaris pribadinya saja yang tahu, karena di sudah lama bekerja dengan ayah Boy, dan juga sekretarisnya ini adalah sahabat karibnya yang di angkat jadi sekretaris pribadinya.
Mereka adalah sahabat sejati. Walaupun sang sekretaris bekerja dengan sahabat sendiri, tapi dia tak semena-mena, ia mengikuti prosedur bekerja yang berlaku dan memang sangat bisa di andalkan dan sangat profesional.
Ya, ayah Boy memiliki penyakit jantung koroner dan kanker otak.
Kemarin, dia memang baik-baik saja, dia terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya karena rindu dengan istri dan anak. Dia ingin memberikan surprise kepada istri tercintanya. Sayangnya, dia yang mendapatkan surprise terlebih dahulu, sebelum kakinya memijak tanah halaman rumahnya. Masih di bandara, foto dan video wanita yang dia cintai sedang bermain ranjang dengan pria lain.
__ADS_1
Video dan foto itu di kirim.oleh nomor yang tidak dikenal. Dia terguncang, itulah pemicu pertama sakit jantungnya, membuat seluruh aliran darahnya tersendat, hingga kepalanya terasa sangat sakit, dan beliau langsung terjatuh pingsan, tak sadarkan diri hingga detik ini.