
Selamat siang kak.
Mungkin bingung ya, ini sebenarnya masih dalam mode flashback, dimana Aisyah masih belum tau kalau Citra itu adalah madunya.
Klo di awal bab kan Aisyah lihat foto profil Citra yang mana Celo mencium perutnya la ini masih flashback ya kak, segera off kok flashbacknya.🤗🤗🤗🤗
Oh ya untuk cerita ini ada G.A nya ya, mangknya selalu ikutin ceritanya biar dapat G.A nya.
Selain itu aku juga adakan kuis lumayan lah hadiah pulsa🤗🤗🤗
pemenang G.A fans itu dari hadiah yang kak berikan untuk aku.
Pemenang pertama 100.000
Pemenang kedua 75.000
Pemenang ketiga. 50.000
Pemenang ke empat 25.000
Pemenang ke Lima 10.000
Selain top fans ada juga top komen, syarat untuk top komen itu yang sekali komen di setiap bab ya kak, Trus komennya yang panjang 🤣🤣🤣 hayo gak boleh traveling🤣🤣.
Untuk yang udah ngikutin ceritanya maksih ya kak, bersyukur banget bisa kenal dan interaksi dengan kak semua.
lope lope you kak 😘
POV 1
Aku bangun saat Celo menutup pintu kamar, lelaki yang kedatangannya aku tunggu dari tadi akhrinya datang juga.
"Baru pulang mas," kataku lalu aku bangun.
"Iya sayang, lelah sekali," sahut Celo dengan mengusap tengkuknya.
"Sudah makan?" tanyaku.
"Sudah sayang," jawab Celo.
"Aku tidur dulu ya, aku lelah sekali," kata Celo lalu merebahkan diri di tempat tidur.
Aku menatapnya dengan rasa kecewa, merasakan ada hal yang aneh sudah hampir satu bulan dia tidak menyentuh aku, apa dia tidak pengen? atau tidak berhasrat gitu saat melihatku? entahlah.
Aku ikut merebahkan diri lalu memeluknya dia juga membalas pelukan dariku, kami pun tidur dengan saling peluk.
"Mas mas sudah jam enam kamu nggak bangun?" Aku membangunkannya.
Celo menggeliat lalu menatapku dengan senyuman manisnya.
"Pagi sayangku," sapa Celo.
"Pagi mas," balasku.
Tangan Celo pagi ini mengusap perutku, dia tiba-tiba mendekatkan bibirnya di perutku.
"Halo sayangnya papa, gimana tidurnya," katanya.
Hatiku sangat ngilu melihat sikap aneh dari Celo pagi ini, apa dia sangat menginginkan anak sehingga dia bersikap seperti itu?
__ADS_1
Air mataku jatuh, benar-benar perih melihatnya yang sangat menginginkan seorang anak.
"Maafkan aku mas, maafkan aku," kataku dengan terisak.
Celo memelukku dengan erat.
"Maafkan aku sayang, aku masih kepikiran dengan mimpiku, aku mimpi sangat indah hingga saat bangun aku masih memikirkannya.
Aku semakin terisak, aku merasa menjadi seorang istri yang tidak becus, istri yang tidak berguna sehingga membuat suamiku sampai memimpikan memiliki anak.
"Ya sudah, kita mandi yuk," ajak Celo mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Lama kan tidak mandi berdua," bisiknya.
Aku mengangguk lalu mengusap air mataku.
Melihat dia polos memunculkan hasrat yang semalam terpendam.
Aku memeluknya dari belakang dan memegang rudalnya.
"Bangun mas," kataku.
"Iya," sahutnya.
"Ayo mas, aku lagi pengen. Lama kita nggak gituan," ajakku.
Celo mengangguk lalu membawaku ke dalam bathub, kamu melakukannya di sana.
Aku yang lama tidak dibelai merasakan nikmat saat miliknya menyatu dengan milikku.
Hingga mulutku mengecup lehernya dengan kuat meninggalkan jejak merah di sana.
Setelah selesai mandi kami keluar dengan handuk yang menutupi tubuh kami masing-masing.
"Sayang aku sarapan di rumah sakit saja ya, nih rumah setengah tujuh," kata Celo.
"Aku bawakan bekal saja," sahutku lalu keluar kamar untuk membawakan bekal untuk Celo.
Memang soal makanan aku sangat cerewet, aku tidak mengijinkan Celo untuk jajan sembarangan.
"Ini mas bekalnya," kataku dengan menyodorkan bekal makan untuknya.
"Terima kasih ya sayang," ucap Celo lalu mengecup keningku.
Aku melambaikan tangan saat mobilnya sudah mulai berjalan lalu duduk di teras rumah.
**********
POV 3
Celo melakukan mobilnya ke rumah Citra, dia tidak tega jika Citra sendirian ke rumah sakit.
"Halo sayangnya papa, lagi ngapain di dalam," sapa Celo pada Calon bayinya yang ada di perut Citra.
"Aku baik pa cuma pagi ini ingin makan yang seger-seger," balas Citra seolah bayinya yang menjawab.
Celo menatap Citra.
"Kamu belum sarapan?" tanya Celo.
__ADS_1
"Belum mas, mulut aku pahit, kepala pusing dan mual, pengen makan yang seger-seger," jawab Citra.
"Ayok kita cari makan tapi makannya di mobil menghemat waktu, takut telat," kata Celo.
"Iya mas," sahut Citra.
Saat di mobil mata Citra tak sengaja melihat kotak bekal Celo di bangku belakang.
"Bekal kamu mas?" tanya Citra.
"Iya, aku juga belum sarapan," jawab Celo.
"Istri kamu perhatiaan banget ya mas," timpal Citra.
"Kalau kamu mau, kamu bisa memakannya," kata Celo.
Citra tersenyum kemudian mengambil kotak makan yang tergeletak di bangku belakang.
Citra menelan saliva saat melihat bekal makan Celo, langsung saja Citra memakannya.
Dalam sekejap bekal makan Celo habis tak tersisa.
"Enak mas," kata Citra.
"Kalau kamu mau, setiap hari aku akan meminta istriku untuk membawakannya," sahut Celo.
"Nggak papa nih mas," kata Citra.
"Nggak papa, apa sih yang nggak buat kamu," timpal Celo.
Citra dan Celo asik bercanda di dalam mobil hingga tak sengaja mata Citra melihat tanda cinta merah di leher Celo.
Hatinya sakit melihat tanda cinta itu meskipun dia tau kalau istri pertama Celo juga berhak melakukannya.
"Kamu habis bercinta ya mas?" tanya Citra.
"Iya kenapa?" jawab dan tanya Celo.
Citra menangis mendengar jawaban Celo, keadaannya yang hamil membuatnya lebih sensi ditambah lagi memang dasarnya dia cemburu dengan Istri pertama Celo.
"Kamu kenapa?" tanya Celo khawatir.
"Aku nggak suka kamu bercinta dengan istri kamu," jawab Citra.
"Ya nggak boleh gitu dong sayang, dia juga istri aku dan aku wajib memberi nafkah batin padanya, ini sudah hampir sebulan aku nggak melakukannya padannya sedangkan dengan kamu aku setiap hari hampir melakukannya," ucap Celo.
"Pokoknya aku nggak suka, ya sudah kalau kamu masih bercinta dengannya lebih baik baik kita pisah saja," ancam Citra yang membuat Celo menatapnya tak percaya.
Celo menyadari kalau memang orang hamil lebih sensitif tapi bukan berarti Citra melarang dirinya untuk tidak berhubungan dengan Aisyah.
"Jangan gitu sayang," kata Celo.
"Aku tuh lagi hamil mas, nggak suka kalau kamu bercinta dengan istri kamu itu. Kamu mengerti dong mas," sahut Citra.
Meski berat namun Celo menyetujui keinginan Citra untuk tidak berhubungan dengan Aisyah.
"Baiklah baiklah aku tidak akan bercinta dengannya," kata Celo.
Citra tersenyum, meski harus mengorbankan perasaan wanita lain dia tidak peduli asalkan dia tidak sakit hati.
__ADS_1