
"Wah, ya sudah kita berangkat dari sini saja kalau begitu," kataku dengan tersenyum.
Aku menggandeng tangan Celo lalu mengajaknya keluar, sepanjang perjalanan Celo nampak gelisah seperti ada yang dipikirkannya dan aku tau pasti Citra yang dipikirkannya.
"Ada apa mas? kamu seperti nggak suka gitu keluar sama aku," kataku yang membuat Celo langsung menatapku.
"Eh siapa bilang, enggak kok. Tentu aku suka sayang cuma aku was was jangan-jangan nanti pihak rumah sakit mengubungi aku, kan mengganggu waktu kita," ucapnya.
"Ya kalau menghubungi bilang aja lagi ada kencan ma istri gitu aja bingung," sahutku dengan bibir yang maju.
"Iya ya jangan ngambek dong," bujuknya.
"Aku nggak suka ya mas, kamu selalu mikir kerjaan. Pulang larut, pagi udah berangkat. Kita hampir nggak pernah punya waktu berdua," sahutku.
"Mulai sekarang aku akan program hamil, aku harap kamu mengerti dan mau diajak kerja sama," imbuhku.
"Iya sayang," timpal Celo
Raut wajah Celo sudah berubah, aku nggak mau bertoleransi lagi meksipun Citra lebih membutuhkannya tapi aku nggak mau kalah salah sendiri dia mau menikah dengan orang yang sudah beristri.
Mobil Celo sudah masuk parkiran restoran, aku segera keluar sedangkan dia memainkan ponselnya.
Setelah dia memainkan ponselnya berkali-kali terdengar dokter Faisal menelpon, aku curiga kalau itu bukan Dokter Faisal melainkan Citra.
"Tuh dokter Faisal memanggil," kataku.
"Biarin sayang paling pekerjaan lagi," sahut Celo.
Senyuman terukir di wajahku.
"Angkat dong, siapa tau memang kerjaan penting," kataku.
Celo mengangkat panggilan dari Dokter Faisal, dia nampak gugup.
"Ada apa Dok?" tanyanya.
Raut wajah Celo nampak berubah dan aku suka melihat dia seperti ini.
Beginilah lelaki yang tidak bersyukur atas apa yang dia punya, jangan dipikir dengan membawa wanita lain hidup akan lebih tenang malah yang ada pikiran tertekan.
"Baiklah nanti saya kesana dok," kata Celo lalu menutup panggilannya.
Celo kembali memakan makananya.
"Ada apa mas?" tanyaku.
"Ada kerjaan di rumah sakit," jawabnya.
"Ya sudah ayo kita kesana, kamu masuk saja sedangkan aku akan menunggu di mobil," sahutku.
Celo nampak sangat frustasi.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanyanya kesal.
" kamu kok kesal sih mas, aku tu bawaannya ingin dekat-dekat dengan kamu," jawabku.
Celo mengusap rambutnya dengan kasar kemudian dia mengajakku ke rumah sakit, dia tentu tidak ingin aku curiga oleh sebab itu di mengikuti kemauanku.
"Kamu yakin mau nunggu di mobil?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, kamu cepetan ya," jawabku.
"Sayang mana mungkin bisa cepat-cepat mengoperasi orang," katanya.
Aku tertawa kemudian mengangguk.
Celo segera turun dan berjalan cepat masuk ke rumah sakit.
Sambil menunggu Celo aku mengakses app novel dari ponsel sehingga aku bisa membalas komen reader lewat hp.
Readerku sangat ramah, mereka semua nggak hanya menganggap aku author tapi lebih ke saudara, saat aku tidak mempublish cerita mereka mengirim chat secara pribadi padaku, sungguh care sekali.
Seusai membalas komen reader aku membuka wa ku, aku saling chat pada Diana.
Sudah hampir empat jam aku menunggu, aku menghubungi Celo namun ponselnya tidak aktif.
Aku mengerutkan alis, kenapa lama sekali?
Saat ingin turun Celo sudah datang dengan nafas yang terengah.
"Maaf sayang operasinya lama," katanya.
"Sampai aku berlari takut kamu kelamaan menunggu," imbuhnya.
Aku menatapnya lekat, kulihat kancing dia sangat berantakan. Kancing baju nomor dua dipasangkan dengan kancing baju nomor tiga bahkan resleting celananya dibiarkan terbuka.
"Mas kamu habis operasi apa habis bercinta?" tanyaku.
Celo memucat, dia terlihat gugup dan bingung saat akan menjawab pertanyaan ku.
"Kamu ngomong apa sih sayang," katanya.
"Tuh lihat baju berantakan, resleting juga terbuka," sahutku.
"Astaga," katanya dengan tertawa.
"Ini tadi aku mandi sayang, sungguh gerah banget habis operasi karena tergesa-gesa jadi begini deh, maaf ya," imbuhnya.
Hatiku perih, ingin sekali aku berteriak meluapkan rasa sakit yang ada alami saat ini tapi aku sebisa mungkin menahannya.
Dengan menahan air mata yang ingin menerobos keluar aku mengangguk lalu mencoba tersenyum.
"Iya mas," kataku.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, malas sekali mengobrol dengan Celo.
"Kamu kok diam saja?" tanyanya.
"Aku lagi mikir sesuatu mas," jawabku.
"Apa?" tanyanya.
"Program hamil, tapi aku harap kamu perbaiki hubungan intim kita, aku kadang heran kamu kok bisa ya tahan nggak gituan, padahal dulu nggak lo," jawabku.
Celo tertawa.
"Faktor usia sayang terus kerjaan yang banyak," sahutnya.
"Kalau usia aku rasa enggak, banyak kerjaan orang lain juga banyak kerjaan," timpalku.
__ADS_1
"Entahlah, aku merasa aneh saja dengan hal itu, besok pagi aku ikut kamu ke rumah sakit karena aku ingin konsultasi dengan dokter kandungan di sana," imbuhku.
Entah apa yang dirasakan Celo mungkin dia kena mental akan sikapku yang mencoba mengganggu kesenangannya dengan Citra.
Sesampainya di rumah, aku memakai pakaian kurang bahan milikku, aku ingin mengajak Celo bercinta karena sudah seminggu dia tidak memberi nafkah batinnya.
"Sayang aku lelah," katanya.
"Lelah?" tanyaku.
"Baiklah, tapi tolong jangan ada lelah saat kita program hamil, aku nggak mau alasan apapun," kataku dengan kesal.
Aku membaringkan tubuh di tempat tidur, aku merasa aku ini seorang pengemis yang meminta kenikmatan padanya.
Tak terasa air mataku keluar, aku segera menghapusnya dan memejamkan mata walau sulit sekali untuk terlelap.
Pukul lima aku bangun, aku lihat Celo sudah tidak ada di sampingku.
"Dimana dia?" batinku.
Aku turun untuk mencarinya.
"Lihat mas Celo bi?" tanyaku.
"Keluar non, subuh tadi tuan keluar," jawab bibi.
Tanganku mengepal, aku tau pasti dia pergi ke rumah Citra.
"Baiklah kalau kamu ingin selalu bersamanya, aku ikhlas," kataku.
"Oh ya bi bekal kemarin habis?" tanyaku.
"Habis tak bersisa, hanya kepala dan duri ikan gurami yang tersisa," jawab bibi.
Dari bekal ini aku sudah menyimpulkan kalau bekal itu untuk Citra, bukan dia yang makan.
"Bangun pagi, nyiapin bekal untuk kamu tapi malah kamu berikan untuk istri kamu itu mas, keterlaluan," batinku dengan mata yang basah.
Aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi sakit rasanya, sungguh perih.
Tak berselang lama aku mendengar mobil berhenti dia masuk dengan membawa buah.
"Sayang lihatlah aku beli buah," katanya.
"Iya," sahutku.
"Sarapan dulu," kataku
"Iya aku lapar," timpalnya.
Aku ke dapur, lalu mengambil sayur nangka muda sisa kemarin, kalau di Surabaya memang sayur nangka muda yang kemarin itu yang lebih enak.
"Lo sayang aku kan nggak suka nangka muda," katanya.
"Bekal kemarin habis kan?" tanyaku.
"Iya habis," jawabnya.
"Bekal kemarin itu nangka muda Lo mas," kataku dengan menatapnya.
__ADS_1
Celo bingung mau bilang apa.
"Ya memang aku buang sayur nangkanya," ucapnya.