
Suasana nampak hening, kami bertiga sama-sama terdiam.
Baik Celo dan Citra sama-sama menunduk sedangkan aku bingung harus berkata apa lagi.
Hingga aku berbasa-basi bertanya tentang kerjaan Citra.
"Eh kok malah pada diem," ucapku mencoba melerai keheningan diantara kami.
"Oh ya mas Citra ini juga kerja Lo di rumah sakit yang sama dengan kamu, masa kalian nggak saling kenal?" tanyaku.
Citra hanya tersenyum.
"Dia dokter juga?" tanya Celo.
"Dia perawat mas," jawabku.
"Di rumah sakit sangat banyak perawat sayang," timpal Celo.
Aku memutar bola mataku untuk menatap Citra.
"Lantas bagaimana dengan kamu Citra?" tanyaku.
"Aku baru beberapa bulan kerja di sana jadi nggak begitu kenal dengan dokter di sana," jawab Citra.
"La suami kamu katanya dokter bedah juga di rumah sakit itu siapa namanya?" tanyaku yang seketika membuat Citra dan Celo panik. Ekspresi mereka sungguh menggemaskan.
Citra gelagapan ingin menjawab apa karena suaminya adalah Celo juga.
"Dokter.... Dokter...." Citra sungguh bingung.
"Dokter Reza, apa benar dokter Reza? dia juga Dokter bedah seprofesi dengan aku." Celo memotong.
Citra nampak menghela nafas.
"Benar suami aku dokter Reza," imbuh Citra.
"Tapi kok kalau ada acara apa-apa kita nggak pernah ketemu ya," sahutku.
"Dokter Reza baru kerja juga baru sayang, orangnya juga agak introvert jadi kurang suka dengan acara kumpul-kumpul," timpal Celo.
Aku pura-pura mengangguk paham, entah dokter Reza itu ada atau tidak aku juga tidak tau.
********
POV 3
Tak ingin ditanya macam-macam oleh Aisyah Citra memutuskan untuk pulang, dia takut kalau Aisyah curiga di samping itu dia tidak kuat melihat Aisyah dan Celo bermesraan.
"Aisyah aku pamit pulang ya," pamit Citra.
"Jangan dulu, kamu kan belum makan dan minum," cegah Aisyah.
"Pokoknya gak boleh pulang dulu," imbuh Aisyah.
Aisyah menarik tangan Citra dan membawanya ke ruang makan, setibanya di ruang makan Aisyah mempersilahkan Citra duduk.
"Duduk Cit," kata Aisyah.
Tak berselang lama Celo menyusul, Aisyah pun melayani Celo seperti biasa.
"Citra ayo dong ambil makanannya," kata Aisyah.
Citra hanya diam dengan wajah pucat.
"Aisyah boleh aku ke toilet," ucap Citra.
__ADS_1
Melihatnya yang pucat membuat Aisyah dan Celo takut, terlebih Celo dia takut terjadi apa-apa dengan Citra istri keduanya.
"Kamu cek sana, takutnya Citra kenapa-napa," titah Celo.
"Kenapa nggak kamu cek sendiri istri kedua kamu itu mas," batin Aisyah.
Meski dongkol namun Aisyah tetap pergi melihat Citra di toilet.
"Cit kamu baik baik saja kan?" tanya Aisyah.
"Iya Aisyah, aku cuman mual saja," jawab citra dari dalam.
Mendengar jawaban Citra, Asiyah cukup lega dan dia kembali lagi ke ruang makan.
Beberapa menit kemudian, Citra kembali ke ruang makan.
"Gimana Cit? udah baikan?" tanya Aisyah.
"Udah," jawab Citra.
Di depan Citra Aisyah bermanja-manja dengan Celo bahkan dia meminta Celo menyuapinya sambil disuapi dia melirik Citra.
Citra mengepalkan tangannya di bawah meja, dia sudah tak sanggup lagi jika harus melihat Aisyah dan Celo bermesraan.
Hatinya seperti diiris-iris, perih dan sakit sekali.
"Sudah Aisyah aku mau pulang, aku kesini untuk menjalin silaturahmi sama kamu bukan untuk melihat kemesraan kalian," kata Citra.
"Kamu kenapa Citra? kok malah marah?" tanya Aisyah.
"Maaf maaf, aku pulang sekarang," kata Citra melenggang pergi.
Citra pergi dengan air mata yang jatuh, perih sekali sedari tadi melihat Aisyah bermesraan dengan suaminya meski itu juga suami Aisyah.
Aisyah tersenyum sinis, memang ini rencananya membuat Citra panas, Aisyah hanya ingin menunjukkan posisinya.
"Biarin mas, dia aja yang baper. Kan wajar kalau kita mesra kita kan suami istri," sahut Aisyah.
"Aneh tuh Citra, kita yang mesra kok dia yang sewot, iya kalau aku mesra dengan suaminya," imbuh Aisyah.
Celo hanya terdiam, kata-kata Aisyah benar-benar mengena sekali.
Sepanjang perjalanan pulang Citra menangis dia sungguh tak menyangka kalau teman online yang selama ini tempat dia curhat adalah istri lain dari suaminya.
Bearti selama ini mereka berdua menceritakan orang yang sama, mengeluhkan orang yang sama dan memuji orang yang sama.
"Kenapa harus kamu Aisyah, kenapa bukan wanita lain," kata Citra.
Citra tak tau harus bagaimana, mengakhiri semuanya atau tetep melanjutkan hubungannya dengan Celo, apa yang dialami citra ini seperti pepatah jawa.
"Maju mundur ajur," (maju mundur hancur).
Yang mana tidak ada option indah untuk Citra, dia maju hatinya akan semakin terluka dia mundur hatinya juga terluka.
Sesampainya di rumah, Citra segera masuk kamarnya dia menangis sejadinya mengingat nasibnya yang seperti ini.
Dia tidak menyangka kalau perbuatannya akan seperti ini, dia mengira seperti dia bisa bahagia dengan merebut suami orang namun bahagia hanya di awal saja, selebihnya hanyalah penderitaan.
Tak hanya Citra Aisyah juga menangis di kamarnya, dia sungguh sakit karena wanita yang selama ini support dia salam menulis, wanita tempatnya berbagi adalah madunya sendiri, madu yang Celo berikan untuk Aisyah
"Kalian tega," kata Aisyah dengan terisak.
Celo di ruang kerjanya juga bingung, dia tak mengira kalau Aisyah dan Citra sudah saling kenal, lalu bagaimana sekarang? semua hampir terbuka, apakah dia berterus terang saja pada Aisyah? atau menyimpan bangkainya sampai nanti?
Aarrgrgggggg
__ADS_1
Celo frustasi dari ujung kedua matanya mengalir air, dia tak sanggup jika harus melihat Aisyah dan Citra terluka.
"Andaikan waktu aku tidak berjumpa dengan Citra, mungkin aku tidak akan melihat mereka terluka seperti ini," ucap Celo.
Nasi telah menjadi bubur, sebesar apapun penyesalan Celo tidak akan merubah keadaan. Bahtera mereka kini terombang-ambing tak tentu arah, lantas apa yang akan dia lakukan sebagai seorang nahkoda?
Malam ini tanpa ijin Aisyah dia pergi keluar ke rumah Citra dia ingin melihat keadaan Citra karena tadi siang dia pulang dari rumahnya dengan keadaan yang tidak baik.
Celo mengetuk pintu namun tak kunjung Citra bukakan sehingga membuat Celo panik.
Celo mengetuk lebih keras namun masih saja hingga dia mencoba mendobrak pintu.
Saat akan mengambil ancang-ancang pintu telah terbuka.
"Sayang," panggil Celo.
Pulanglah mas, kasian Aisyah di rumah," kata Citra.
"Dia sudah tidur," ucap Celo.
"Aku juga mau tidur, pulanglah. Di rumahmu bukan di sini tapi di sana bersama Aisyah," timpal Citra.
"Sayang kenapa kamu bilang begitu, aku mencintai kalian rumahku adalah kalian," bujuk Celo.
Citra masuk dan menangis di sofa.
"Aisyah adalah wanita yang baik mas," kata Citra.
"Lalu bagaimana dengan anak kita sayang? aku tidak akan meninggalkan kamu," sahut Celo.
"Apa kamu akan meninggalkan Aisyah demi aku dan anak kita?" tanya Citra.
Pagi kak semua
Gimana kabarnya? pasti baik.
Maaf nih kak kadang aku balas komennya lama, menjelang hari kemerdekaan kak, bocil aku banyak kegiatan,🤧
Tapi aku tetap balas kok, seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang🤣🤣🤣duh aku sekarang jago gombal kek Raymond, Sean dan Arsen😂tapi jangan sampe seperti Celo😒😒😒
Ini kak aku mau kasih visual biar dapat gitu feel-nya pas baca 🤣🤣🤣
Mereka bertiga ya 😂
Visual Celo
Visual Aisyah
Kalem dan keibuan ya.
Visual Citra
c
Cantik dan menantang, ini yang Celo Suka😂
__ADS_1
Selamat membaca kak 😘😘❤️😘