
Sedikit banyak Reno mulai menyukai Aisyah, rasa iba akan hal yang dialami Aisiyah kini perlahan menjadi rasa yang tidak biasa, keinginan untuk selalu bertemu Aisyah, keinginan untuk melindungi Aisyah dan sederetan rasa yang lain.
Dengan tersenyum manis Reno menatap foto yang kini dipegangnya, foto jaman SMA saat dia dan Aisyah masih menjadi musuh.
Siapa sangka wanita yang selalu berdebat dengannya dulu kini malah mengobrak abrik hatinya, membuatnya tak sabar menanti sang mentari pagi supaya dia bisa bertemu dengan Aisyah.
"I think i love you," kata Reno dengan menatap foto Aisyah.
"Semoga kisah cinta yang kamu tulis di novel kamu akan menjadi sungguhan dan akulah pangeran itu." Reno bermonolog dengan dirinya sendiri.
Puas menatap foto Aisyah Reno mengambil ponselnya dan menghubungi Aisyah.
"Assalamualaikum, ada apa Ren?" tanya Aisyah.
"Waalaikum salam, ini besok kamu datang lebih awal ya," jawab Reno.
"Bukannya jam sepuluh?" tanya Aisyah.
"Kamu datang jam delapan," jawab Reno.
"Baiklah," sahut Aisyah.
Sudah tidak ada yang dibicarakan membuat Aisyah menutup sambungan telponnya.
Celo yang berada di dekat Aisyah nampak marah, dia cemburu jika Aisyah berhubungan dengan Reno.
"Bisa nggak sih sayang kamu itu nggak berhubungan dengan lelaki lain," kata Celo.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aisyah memutar bola matanya dengan malas.
"Ya aku tidak suka kamu dekat dengan pria," jawab Celo.
Aisyah tertawa ingin sekali dia menggetok kepala Celo dengan palu supaya otaknya geser perasaan dari kemarin dia terus saja melarang Aisyah untuk dekat dengan Reno tanpa sadar akan kelakuannya.
"Kamu pikir dulu aku suka kamu dekat dengan wanita?" Aisyah mengajukan pertanyaan balik.
"Aku nggak suka mas, kamu sama Citra aku sakit. Tiap malam aku nangis, nggak habis pikir dengan suami yang amat aku sayangi tega menusuk aku dari belakang." Aisyah menjawab pertanyaannya sendiri.
Celo hanya terdiam, matanya membasah sambil menatap Aisyah.
Aisyah juga menatap Celo dengan lekat kemudian membuang tatapannya sembarang.
"Aku nggak mau berakhir seperti ini, aku nggak mau mengakhiri pernikahan yang selama sepuluh tahun aku jalani sama kamu tapi aku hanya wanita biasa bukan wanita istimewa pilihan Tuhan yang bisa berbagi dengan wanita lain, seharusnya kamu tau hal itu karena dari awal aku sudah menegaskan aku tidak mau dimadu," kata Aisyah.
"Kamu bisa kok jadi wanita pilihan itu, kita bisa mencobanya sayang," bujuk Celo.
Dengan kesal Aisyah melepaskan pelukan Celo lalu menatap Celo dengan tatapan tajamnya.
"Sudahlah mas, kita terima saja semua. Aku ikhlas menerima semua ini, berpisah dengan kamu pun tidak masalah bagiku dan kamu juga harus terima hasil dari perbuatan kamu dengan memilih wanita lain saat kamu dan aku masih terikat pernikahan," ucap Aisyah lalu pergi ke kamar.
Celo kini tak tentu arah, di sisi lain dia tidak mau berpisah dengan Aisyah dan di sisi lain dia tidak aku kehilangan Citra.
"Andaikan waktu bisa aku putar kembali," kata Celo dengan mata yang basah.
Penyesalan hanya tinggal penyesalan, dia ingin memutar waktu juga tidak bisa karena waktu bukanlah es putar yang bisa diputar seenaknya.
__ADS_1
*********
Keesokannya tepat pukul delapan Aisyah telah tiba di studio namun di sana hanya ada Reno.
"Ren, kok sepi," kata Aisyah dengan heran.
"Iya nanti jam sepuluh baru pada datang," sahut Reno.
"Lalu kenapa kamu meminta aku untuk kesini?" tanya Aisyah kesal.
"Aku kangen sama kamu," jawab Reno yang membuat Aisyah menatapnya.
"Apa maksud kamu Ren?" tanya Aisyah.
Reno nampak tertawa dan ini membuat Aisyah semakin bingung.
"Wajah kamu tegang banget sih Aisyah, memangnya nggak boleh aku kangen sama sahabat aku sendiri," kata Reno.
Aisyah ikut tertawa, entah mengapa dia gugup saat Reno dengan serius bilang rindu padanya.
"Boleh kok Ren," sahut Aisyah.
Reno tersenyum lalu mengelus perut Aisyah yang membuncit.
"Adek gimana kabarnya di dalam? papa kangen Lo gak sabar ingin kamu cepat keluar supaya kita bisa bersama," kata Reno.
Aisyah lagi-lagi dibuat gugup dengan perkataan Reno.
__ADS_1
"Apa maksud kamu Ren?"