
"Apa maksud kamu minta pisah?" tanya celo sesaat dia sampai di rumah Citra.
"Aku nggak mau mas kamu perlukan seperti ini, aku ini juga istri kamu," jawab Citra dengan marah.
Celo membuang tubuhnya di sofa sambil memegangi kepalanya yang pening.
Rasanya kepala Celo akan pecah, kerjaan yang jam terbangnya semakin padat, Aisyah yang manja dan kini Citra yang mulai menuntut.
"Astagfirullah, ya Allah Citra," kata Celo.
Celo menghela nafas.
"Aku harus bagaimana? dulu kita kan sepakat kalau kamu nggak akan nuntut, aku kesini kalau aku ada waktu luang, kenapa kamu sekarang berubah Citra?" kata Celo yang frustasi.
"Tapi aku juga ingin seperti istri kamu mas, selalu menjadi prioritas kamu," sahut Citra.
"Beda Citra, kamu dan dia berbeda," timpal Celo.
"Dia sah di mata hukum dan aku tidak kan?" tanya Citra dengan melemparkan tatapan mautnya ke arah Celo.
"Bukan begitu Citra," ucap Celo.
"Ya sudah kita pisah saja mas, dengan perginya aku dari hidup kamu tentu tentu ga akan buat kita saling terluka kamu, aku ataupun Istri kamu itu," sahut Citra.
Celo memeluk Citra, dia mengiba memohon Citra untuk tidak meminta pisah.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku sayang," kata Celo yang lagi-lagi membuat Citra bingung.
Cinta Celo sungguh mengikatnya, Citra sendiri tidak ingin pisah dengan Celo, apa dia harus mengalah dan menuruti kemauan Celo?
"Baiklah mas, maafkan aku. Wajar kalau aku bersikap seperti itu karena bagiamana pun juga aku juga istri kamu, aku butuh cinta dan perhatian kamu," ucap Citra.
"Aku paham sayang, maafkan aku," sahut Celo yang semakin erat memeluk Citra.
Citra meminta ijin pada Celo untuk kembali bekerja mungkin dengan begitu dirinya ada kesibukan dan tidak terlalu memikirkan Celo.
"Baiklah sayang asal kamu jangan terlalu capek ya," kata Celo.
"Iya mas," sahut Citra dengan tersenyum.
**********
"Kamu di atas ya sayang," bisik Celo.
Citra mengangguk.
Celo mengubah posisi mereka tanpa mencabut rudal yang telah tertancap di sarangnya.
Suara ******* dan decakan semakin nyaring terdengar dengan Citra Celo seakan tak punya lelah setiap bertemu dengan istri keduanya Celo selalu berhasrat.
Hingga malam larut mereka masih saja asik bercocok tanam, entah berapa benih yang Celo tanan di lahan milik Citra.
__ADS_1
Lelah melakukan tanam benih kini keduanya terkapar tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh mereka hanya selimut yang menutupi keduanya.
Celo langsung saja memejamkan matanya sedangkan Citra menatap Celo yang telah terlelap.
"Jangan bangun hingga besok pagi mas," harapan Citra.
Dan benar saja pukul tujuh pagi Celo baru bangun dia langsung mandi kilat.
"Astaga Citra kenapa ketiduran," kata Celo.
Celo melihat ponselnya namun mati mungkin kehabisan baterai.
"Aku langsung balik ya," pamit Celo lalu mengecup kening Citra tak lupa dia mencubit kecil bagaian dada Citra yang kelihatan.
Citra berteriak dan itu membuat mereka tertawa.
Celo kembli ke Surabaya dengan kecepatan lumayan tinggi hingga hanya perlu waktu dua jam untuk sampai ke rumah.
"Kamu darimana mas kenapa pagi baru pulang?" tanya Aisyah.
"Maaf aku ketiduran, semalam aku sungguh lelah sekali dan frustasi operasinya gagal dan pasien meninggal," kata Celo dengan bersedih.
Untuk meyakinkan aktingnya Celo sampai harus pura pura menangis.
"Aku cuma Dokter sayang yang hanya membantu bukan pemilik nyawa manusia tapi mereka seenaknya mengdudge aku katanya aku tidak becus, anak kecil saja tidak bisa aku selamatkan," imbuh Celo.
Aisyah yang ingin marah jadi tak tega, dia membawa Celo dalam pelukannya.
"Iya sayang, terima kasih kamu memang yang terbaik, hanya kamu yang mampu tenangkan aku saat aku dalam duka," sahut Celo.
Celo tersenyum dalam hati karena Aisyah telah percaya padanya.
Aisyah mengajak Celo untuk makan karena dia yakin kalau Celo belum sarapan.
"Aku masak sayur sup kesukaan kamu mas, sama perkedel dan empal," kata Aisyah.
"Wah makasih sayang," sahut Celo.
"Oh ya mas nanti malam kita makan malam yuk, udah lama kita nggak makan diluar," kata Aisyah.
"Nanti aku kabari lagi ya sayang," sahut Celo.
"Ok mas," timpal Aisyah.
Celo makan dengan lahap, kelelahan bercocok tanam semalam membuatnya kehabisan banyak energi sehingga pagi ini dia makan sangat banyak.
Setelah kenyang Celo pamit untuk berangkat kerja, tak lupa dia mencium kening Aisyah sebelum berangkat.
Berapa hari telah berlalu Citra yang sangat rindu dengan Celo memutuskan untuk datang ke Surabaya, dia sudah mengajukan lamaran pekerjaan di rumah sakit tempat kerjanya dulu tapi lamarannya ditolak sehingga Citra ingin melamar kerja di kota Surabaya lebih tepatnya di rumah sakit dimana Celo bekerja.
Sesampainya di Surabaya Citra menginap di sebuah hotel dia menunggu Celo menghubunginya.
__ADS_1
Satu jam menunggu Akhirnya Celo menghubungi Citra.
"Mas lamaran kerja aku ditolak jadi aku putuskan untuk melamar kerja di Surabaya," kata Citra.
Celo kaget mendengar perkataan Citra, dia takut kalau citra satu kota dengannya dia akan nekat dan menemui Aisyah, memang sebisa mungkin Celo menyembunyikan identitas Aisyah dari Citra dia takut kalau Citra tau menahu tentang Aisyah dia bisa saja mengubungi Aisyah atau bahkan menemuinya.
"Jangan sayang nanti aku bantu masuk ke dalam rumah sakit, kamu tenang saja," kata Celo.
"Ini aku sudah ada di Surabaya," sahut Citra.
"Apa kamu di Surabaya?" tanya Celo kaget.
"Iya di hotel," kata Citra.
Celo yang kebetulan sudah selesai kerja segera meminta nama hotel tempat Citra sekarang beserta nomor kamar hotelnya.
"Kamu ngapain sih Citra datang kemari?" tanya Celo.
"Aku ingin dekat dengan kamu mas oleh karena itu aku ingin kerja di rumah sakit tempat kamu kerja. Aku janji akan jaga rahasia kita dan bersikap profesional," bujuk Citra.
Celo nampak terdiam, ada baiknya juga Citra di Surabaya jadi lebih dekat dengannya.
Dia nggak perlu lagi alasan keluar kota pada Aisyah jika ingin menemui Citra.
"Akan aku pikiran dulu," kata Celo.
Seminggu tak bertemu kedua insan ini melapas kerinduan mereka di tempat tidur, entah berapa lama Celo menanam benihnya di lahan Citra hingga benih Celo hingga habis tak bersisa.
"Sudah ya, besok pagi aku akan kesini lagi," kata Celo lalu memakai pakaiannya.
"Baiklah mas," sahut Citra
Selesai tune up pulang ke rumah, di rumah istri tercintanya telah menunggu di teras.
"Assalamualaikum sayang," salam Celo.
"Waalaikum salam," balas Aisyah.
Bibi menyiapkan makan malam untuk Celo dan juga Aisyah dan setelah makan Celo mengerjakan pekerjaannya sedangkan Aisyah menulis kelanjutan ceritanya.
"Maaf ya Syah, akhir akhir ini jarang komen di novel kamu, lagi banyak masalah dengan suami aku." Citra mengirim pesan pada Aisyah.
"Nggak papa dunia nyata jauh lebih penting dari sebuah novel meski sebenarnya aku tuh mencari-cari kenapa Readerku nggak komen," balas Aisyah.
"Iya Syah, ni aku mau otw kok yuk ramaikan kolom komennya," balas Citra dengan semangat berapi-api.
"Bahagia banget sih," balas Aisyah.
"Aku mungkin mulai hari ini aku akan bertemu terus dengan suami aku Syah," balas Citra.
"Wah Alhamdulillah ya Cit semoga kamu dan suami kamu bahagia dan segera diberi momongan," doa tulus Aisyah untuk Citra.
__ADS_1
Dari doa Aisyah, Citra pun memiliki rencana untuk hamil secepatnya.