
Dengan bismilah aku melajukan mobil di pagi buta bahkan adzan subuh belum berkumandang.
Mobil berjalan perlahan di depan sebuah rumah, di sana nampak mobil yang tidak asing bagiku.
Aku duduk di depan teras rumah karena kebetulan rumahnya model cluster tanpa pagar.
Aku mendengar suara di dalam rumah yang artinya pemilik rumah tersebut sudah bangun.
Aku deg degan dan gemetar. Mataku mulai membasah, semua akan jelas setelah ini.
Cukup lama aku menunggu, hingga beberapa kali mondar-mandir untuk menguraikan kejenuhanku. Aku yang lelah memutuskan duduk kembali dan setelahnya terdengar bunyi pintu dibuka.
"Aku pulang dulu ya sayang," kata Celo yang keluar terlebih dahulu.
Citra ikut keluar dengan manja dia bergelayut manja di lengan Celo.
Hemmmmm kalau aku tak ingat dosa ingin rasanya aku mencekik mereka berdua hingga mati.
"Iya mas hati-hati, jangan lupa bawain bekal, anak kita nih yang pengen," sahut Citra.
"Siap-siap nanti aku akan bawain makanan buat kamu tapi ada syaratnya," tawar Celo.
"Apa mas?" tanya Citra.
Celo menunjuk mulutnya dan langsung saja Citra mencium bibir Celo dengan rakus suara decakan kedua bibir mereka terdengar cukup jelas.
POV 1
Aku memanas, hatiku sangat sakit melihat orang yang aku cintai berciuman dengan wanita lain di depan mataku sendiri meskipun Citra juga istrinya.
Dengan memegang dadaku aku berusaha menetralkan rasa sakit yang kini aku rasakan.
"Kuatkan hambamu ini ya Tuhan," batinku kemudian aku menghela nafas dan menghapus air mata yang terjatuh.
Aku berdiri dan menatap mereka.
"Wah, mesra banget ya," kataku.
Sontak Citra dan Celo melepas ciuman mereka, Celo menatapku dengan mata yang terbuka lebar begitu pula dengan Citra.
"Sayang," ucap Celo.
"Aisyah," ucap Citra.
Mereka berdua nampak terkejut.
"Sudah selesai operasinya?" tanyaku dengan tatapan maut.
"Oh pasti sudah dong, kan ini udah mau pulang." Aku menjawab sendiri pertanyaan yang aku lontarkan untuk Celo.
__ADS_1
Kini pandanganku jatuh ke Citra, aku menatapnya dari atas sampai bawah ku lihat banyak kecupan di leher Citra.
"Gimana rasanya bercinta dengan suami orang? enak? pastinya enak dong. Bangga gitu ya bisa tidur dengan suami orang," kataku.
"Aisyah...." Aku memotong ucapan Citra.
"Hussst Citra, nggak usah menjelaskan apa-apa. Kamu tau nggak Crazy rich dari Medan yang bernama Indra kenz dia setiap beli barang pasti berkata Wah Murah banget , ya itulah kata yang pas buat buat kamu murah, wanita murahan," kataku lagi.
Celo memegang tanganku.
"Sayang ayo kita pulang," ajak Celo.
"Cih jangan sebut aku sayang, jika dengan wanita lain pun kamu juga menyebut sebutan yang sama," teriakku.
Aku tidak bisa lagi membendung air mata yang terjatuh.
"Aku bisa jelasin semuanya," kata Celo.
"Mau jelasin apa lagi, semua sudah jelas," kataku dengan terisak.
Celo mencoba memegangi tanganku namun aku segera menepisnya.
"Jadi selama ini operasi dadakan, tugas keluar kota, lembur, jam praktek malam semua bulsyit alias hoax dan kenyataan yang ada kamu bersama dia," kataku dengan menunjuk Citra.
Celo menarik tanganku, dia ingin membawaku masuk ke mobil namun lagi-lagi aku menepis tangannya.
"Lepas kan tanganku," teriakku.
"Aku benci kalian," teriakku lalu berlari masuk ke mobilku.
Aku menyalakan mobilku dan pergi. Aku menangis membayangkan betapa kejamnya Celo dan Citra, mereka telah menusukku aku dari belakang.
Meskipun Citra tidak tau kalau aku adalah istri Celo namun minimal dia tidak merebut milik orang lain.
"Tega kalian, tega." Aku berteriak dengan kencang, mencoba meluapkan rasa sakit di hatiku.
Setibanya di rumah aku memarkirkan mobil sembarang aku berlari menuju kamar, tak selang berapa lama Celo menyusul.
"Maafkan aku," katanya.
"Nggak, hatiku terlalu sakit untuk memaafkan kamu," kataku.
Celo mencoba mendekat namun aku melarangnya.
"Jangan mendekat, tetap di posisi kamu," kataku.
Celo diam di tempatnya dengan menatapku nanar.
"Kamu sudah tau hubunganku dengan Citra?" tanyaku.
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Saat dia datang kemari kemarin sebenarnya aku sudah tau, aku sudah tau semuanya kelakuan busuk kamu mas," ucapku dengan menangis.
"Aku tau alasan kamu kenapa di kamar mandi bawa ponsel, aku juga tau kenapa kamu selalu minta bekal, aku tau siapa itu doker Faisal, aku tau siapa itu dokter Reza, aku tau semua aku tau," imbuhku.
Celo terduduk di lantai dengan mata basahnya.
"Aku kira kamu itu benar-benar setia mas, benar nerima aku apa adanya tapi nyatanya nggak, kamu mencari wanita yang bisa memberi kamu anak," ucapku.
"Kenapa sih mas kamu nggak ceraikan aku dulu sebelum kamu menikah dengan wanita lain, aku lebih legowo kalau kamu bilang terus terang nggak seperti ini," imbuhku.
"Aku khilaf sayang, aku khilaf. Pesona Citra membuat aku khilaf dan kejadiannya begitu saja hingga aku tidak bisa melepasnya," sahut Celo.
Aku tertawa mendengar sahutannya , bagaimana bisa dia bilang khilaf saat selingkuh.
"Mas mas, selingkuh ya selingkuh saja jangan bawa kata khilaf, saat kamu enak enakan dengan Citra kamu seratus persen sadar kan? bahkan kamu menikahinya, kamu bolak balik ke luar kota dan selalu bohong kamu sadar kan? kenapa sekarang bilang khilaf?" kataku dengan kesal.
Celo tak bisa menjawab, dia hanya diam dengan tatapan nanarnya padaku.
"Pergilah sana, sudah waktunya kerja," kataku.
"Bagaimana aku bisa kerja sayang," sahutnya.
"Udahlah mas nggak udah drama, apa belum puas kamu berdrama selama ini, atau kamu mau jadi raja drama supaya masuk nominasi untuk mendapatkan piala Oscar?" tanyaku dengan kesal.
Celo beranjak lalu bersiap untuk ke rumah sakit, aku malas menyiapkan keperluannya kalau dia ingin membawa bekal biar dia meminta bibi di bawah.
"Sayang, aku mau berangkat," katanya setelah selesai bersiap.
"Hem," sahutku.
"Sayang kamu nggak ngantar aku ke bawah?" tanyanya.
"Sudahlah mas, anggap saja aku nggak ada toh kita juga nggak kan bersama lagi kan?" jawabku.
Celo memelukku meskipun aku meronta namun dia tetap memelukku.
"Jangan lakukan itu, aku nggak ingin kita pisah," kata Celo dengan menangis.
"Kalau kamu nggak ingin kita pisah denah aku tinggalkan Citra," sahutku.
Celo melepas pelukannya, dia mengusap rambutnya dengan kasar.
"Mana mungkin bisa aku meninggalkannya sayang," ucap Celo dengan lirih.
"Kalau begitu ceraikan aku, kelak anak kamu perlu pengakuan, kalo kamu hanya menikah di bawah tangan kasian anak kamu," kataku.
"Jadi aku nggak mau menyulitkan anak yang berdosa, biarlah aku yang mundur pelan-pelan," imbuhku lalu aku ke balkon.
__ADS_1
Aku menarik nafas dalam dalam dan melepaskannya.
Sedih rasanya membayangkan pernikahan yang sudah hampir sepuluh tahun aku jalani, mungkin aku dan Celo tidak berjodoh.