
"Kamu hamil sayang," kata celo dengan mata basahnya.
Duaarrrrr
Aku bagai disambar petir, bukannya aku tidak suka dengan kehamilanku tapi kenapa harus hamil disaat aku ingin pergi darinya? Kenapa aku hamil saat dia telah berbagi kasih dengan wanita lain?
Apakah kami masih berjodoh? atau Tuhan telah menyiapkan alur lain untukku?
Tanganku tergerak untuk mengelus perutku yang masih datar, aku tak menyangka Tuhan mengabulkan doaku sepuluh tahun menanti datangnya sang buah hati akhirnya hari semua telah terjadi.
Aku menangis, antara sedih dan senang. Setelah ini bingung apa yang harus aku lakukan.
Celo yang melihatku menangis pun memelukku.
"Kamu kenapa menangis sayang?" tanyanya.
"Aku bingung antara senang atau sedih, kenapa aku baru hamil setelah kamu berbagi dengan yang lain," jawabku.
Celo terdiam, dia menatapku dengan tatapan tak biasa kemudian melepas pelukannya.
"Maafkan aku, tapi aku janji akan berlaku adil pada kalian, kini kalian sama-sama mengandung benih aku," katanya.
"Nggak akan ada keadilan yang ada kamu semakin pusing," kataku.
"Semoga saja aku bisa melewatinya sayang," sahutnya.
Aku tersenyum sinis.
"Kita lihat saja," batinku.
Kata-kata Citra waktu membuat aku ingin bersikap licik, mendominasi Celo untuk diriku sendiri.
Tak apa jika aku mengorbankan perasaan Citra toh salah dia sendiri salah masuk kamar, sudah tau salah tapi malah dilanjutkan hingga hamil.
"Ayo kita pulang sayang," ajak Celo.
"Iya," sahutku.
Kami berdua memutuskan untuk pulang lagipula keadaanku juga baik baik saja.
Orang tuaku yang mendengar berita kehamilanku juga ikut senang bahkan ibu akan tinggal di rumah beberapa hari ke depan.
"Aku kan lagi hamil, aku harap kamu nggak buat aku stres, marah apalagi kesal dan satu lagi jangan coba-coba mematikan ponsel kamu saat di luar atau sengaja tidak mengangkat panggilan aku, jika itu terjadi jangan salahkan aku jika aku pergi membawa anak ini darimu," kataku.
Celo menghela nafas.
"Lalu bagaimana dengan Citra?" tanyanya.
"Itu urusan kamu, salah sendiri menikahi wanita lain tanpa ijinku," jawabku dengan ketus.
__ADS_1
"Aku ingin kehidupan kita normal seperti dulu, nggak ada alasan luar kota atau operasi dadakan, nggak ada alasan ini itulah, dengar itu mas!" Aku menegaskan alasanku.
Celo terdiam. Aku tau di dalam hatinya dia pasti pernah batin, dia pasti memikirkan Citra yang juga hamil anaknya.
Tiga hari sudah berlalu, meskipun dia dalam masa penyembuhan tapi Celo dengan perhatian padaku, dan ini justru membuat aku menangis.
"kamu kenapa malah menangis sayang?" tanya Celo.
"Nggak papa mas," jawabku berbohong.
Selain Celo ibu juga merawat aku dengan baik, dia selalu mengingatkan Celo ini dan itu.
Meski terkadang apa yang diperintahkan ibu tidak sesuai dengan ilmu kedokteran.
"Aku lelah sekali, masa ibu nyuruh aku mengupas kunir malam gini," katanya.
Aku tertawa melihatnya yang kelelahan ya memang begitulah kalau memiliki orang tua yang kejawen.
"Kamu besok masuk?" tanyaku.
"Masuk sayang, aku kan harus kerja untuk mencari uang buat baby kita," jawabnya lalu mengelus perutku.
"Dan bertemu Citra," imbuhku.
Raut wajah senang berubah menjadi murung.
"Ok, tapi ingat aku nggak mau alasan apapun dari kamu, besok jangan pulang telat," ucapku.
Aku tau Celo frustasi dengan sikapku tapi mau gimana lagi, sudah menjadi konsekuensinya
*********
POV 3
"Sekarang bagaimana dengan nasib aku mas? anak ini juga membutuhkan kamu," kata Citra dengan menangis.
"Aku bingung Citra, Aisyah juga hamil," ucap Celo.
"Tapi kamu harus adil mas, kamu harus tegas. Aku juga istri kamu," timpal Citra.
"Aku tau, tapi aku harus bagaimana Citra. Ada mertua aku di rumah, Aisyah juga sangat rewel dia muntah-muntah," sambung Celo.
"Apa menurut kamu aku tidak muntah-muntah, aku tidak mual," kata Citra.
Citra menangis, apa dia harus mundur? tapi waktu dia sendiri yang menantang Aisyah.
"Baiklah mas, lakukan aja apa yang kamu mau, perhatikan saja istri pertama kamu toh aku juga bukan pilihan hatimu. Kamu datang ke aku saat kamu butuh dan setelah istri kamu hamil kamu ingin meninggalkan aku," imbuh Citra lalu keluar dari ruangan Celo.
Celo semakin frustasi, dia sungguh bingung kalau dengan Citra bagiamana dengan Aisyah, kalau sama Aisyah bagiamana dengan Citra?
__ADS_1
Aaarrrgggg
"Mengapa malah jadi seperti ini," katanya dengan mata yang basah.
Waktu pulang Celo jam tujuh malam tapi dia meminta ijin pada pihak rumah sakit untuk pulang lebih awal dengan alasan istri sedang sakit.
Semua hanya akal-akalan Celo untuk bisa menemui Citra, dia ingin menyakinkan Citra supaya tidak meninggalkannya.
"Aku mohon pengertian kamu sedikit saja sayang, aku tidak bisa memilih satu diantara kalian, kalian sama-sama aku cintai, sama-sama ibu dari anak-anakku," bujuk Celo.
"Wanita mana mas yang mau diperlakukan kamu seperti ini, meski aku hanya istri kedua tapi aku juga butuh perhatian kamu bukan hanya Aisyah," sahut Citra.
"Aku tau, aku tau tapi mengertilah Citra, dimana diri kamu yang dulu, katanya kamu akan menurut setiap ucapan aku," timpal Celo dengan sendu.
Celo menangis dan ini membuat Citra tak tega, apa harus istri kedua yang harus mengalah? dimana-mana istri pertama lah yang harus mengalah bukan istri kedua.
Citra menghela nafas lalu dia mengelus punggung Celo.
"Baiklah, aku akan mengalah tapi kamu juga harus janji setiap ada kesempatan untuk menemui aku kamu harus menemui aku mas," kata Citra.
"Pasti sayang kalau itu," sahut Celo.
Celo yang rindu dengan Citra melakukan serangan senjanya, dia bermain dengan durasi pendek karena takut menyakiti anaknya di dalam.
"Aku harus pulang," kata Celo setelah mendapatkan kepuasannya.
"Bentar lagi dong mas," kata Citra.
"Sayang, besok kita kan bisa bertemu di rumah sakit," bujuk Celo.
"Baiklah," kata Citra dengan pasrah.
Mau nggak mau, rela nggak rela Citra harus membiarkan Celo pergi, dia harus mau menerima semua konsekuensinya.
Pukul 19.30 Celo telah sampai di rumahnya, dia segera menemui Aisyah tak lupa jus serta buah untuk calon buah hatinya.
"Sayang," panggil Celo.
"Iya mas," sahut Aisyah.
"Bagiamana kabar yang di dalam sayang?" tanya Celo lalu mengusap perut Aisyah.
"Baik mas," jawab Aisyah.
"Ini aku bawa jus dan buah untuk calon baby kita, ingat kamu harus makan makanan yang bergizi supaya dia tubuh dengan sehat di dalam," kata Celo.
"Iya mas, ini juga sudah makan makanan yang bergizi dan untuk perkembangannya tak cukup hanya makanan sehat tapi juga sikap kamu," sahut Aisyah.
Celo menatap Aisyah dengan tatapan sendu, dia berharap suatu saat nanti sembuh lah luka dan semua kembali ceria dan hidup berdampingan, Citra dan Aisyah.
__ADS_1