
Deg...
Aisyah nampak gugup, dengan bismilah dia berjalan mendekati wanita yang tengah berdiri di teras.
"Citra," panggil Aisyah.
POV 1
Aku tertegun menatapnya, dia sangat cantik pantas jika Celo tergoda dengannya.
Dari ujung kepala sampai ujung kaki Citra begitu sempurna.
Rambutnya panjang, hitam berkilau. Matanya, hidungnya, bibirnya semua begitu sempurna dibandingkan dengan aku tentu kami sangat berbeda. Meskipun banyak yang bilang aku ini cantik tapi dibanding Citra aku kalah jauh
Selama ini aku mengira fotonya mungkin hasil dari kamera jahat, tapi aku salah ternyata dia jauh lebih cantik dari yang di foto.
Tak hanya aku, Citra juga menatapku. Dia tersenyum begitu manis. Dengan berlari kecil dia memeluk aku yang tengah menatapnya.
"Nggak nyangka akhirnya kita ketemu," katanya.
Mataku membasah saat dia memeluk aku, ya aku berdiri dipeluk maduku, dipeluk wanita yang dengan sadarnya merebut suamiku meksi kenyatananya dia tidak tau kalau akulah wanita yang telah dia sakiti.
Aku terisak dalam pelukannya, beginilah rasanya dipeluk dengan orang yang kita benci, orang yang menaburkan luka di hati.
Citra melepas pelukannya dan menatapku heran.
"Kamu kenapa menangis Aisyah?" tanya Citra dengan heran.
"Aku bahagia bertemu dengan kamu," jawabku berbohong.
Sebisa mungkin aku berhenti menangis, aku tidak ingin membuat pra drama karena drama sesungguhnya akan segera dimulai.
"Aku juga bahagia, nggak nyangka ya kita yang selalu bertemu di kolom komentar kini bisa bertemu secara langsung seperti ini," katanya.
"Iya," sahutku.
Aku berpura-pura clingukan seolah aku mencari sesuatu.
"Kamu cari apa?" tanya Citra.
"Suami kamu nggak ngantar kamu?" tanyaku balik.
"Sibuk dia," jawab Citra dengan wajah lesu.
"Minggu-minggu gini apa nggak libur?" tanyaku lagi.
"Nggak Aisyah kan profesinya juga seroang dokter jadi wajarlah sibuk di hari libur," jawab Citra.
Aku mengangguk dengan tersenyum kemudian aku memanggil bibi untuk membawakan minum serta camilan untuk Citra.
Kini gantian Citra yang bertanya padaku, dia bertanya dimana suamiku.
"Masih di kamar, dia tuh kalau dandan suka lama entah apa yang dipoles lama sekali," jawabku dengan tersenyum.
Saat asik mengobrol ponsel Citra berbunyi, Celo yang memanggilnya.
"Ada apa mas?" tanya Citra.
__ADS_1
Entah apa yang dibicarakan yang jelas Citra bilang kalau dia telah sampai di rumahku.
Citra tertawa ngakak entah apa yang Celo ceritakan padanya.
Aku yang melihatnya sungguh sakit hati sendiri.
"Asik sekali," kataku sesaat Citra mematikan sambungan teleponnya.
"Iya Aisyah, suami aku tu kadang mesuuuummm banget, dia ngajakin aku VC kebetulan dia sekarang berada di kamar mandi," sahutnya.
Tanganku bergetar, hatiku sangat perih begitu kah kelakuan suamiku dengan madunya pantas beberapa kali aku lihat dia membawa ponselnya ke kamar mandi.
"Astagfirullah mas, mas," batinku.
"Kalau suami kamu gimana?" tanya Citra.
"Suamiku biasa kok, lagian kami kan bisa langsung mandi bareng ngapain harus VC seperti itu?" jawabku.
"Iya sih Aisyah kamu beda ma aku, dulu kami kan hidup di beda kota jarang sekali bertemu dan untuk melampiaskan rasa rindu kami ya kami vc begitu," sahut Citra dengan raut wajah sedih.
Aku tersenyum.
"Tergantung orangnya Cit, aku juga pernah LDR tapi aku dan suamiku nggak pernah seperti itu, kami VC biasa, meskipun kadang ada obrolan dewasa diantara kita," pungkas aku.
Citra hanya tersenyum.
Banyak yang kami obrolkan, Citra sangat hambel dia mudah akrab, dia juga seorang yang humoris persis saat memberi komen di novel aku.
Mungkin karena sikapnya inilah Celo tergoda, sebenarnya aku menyayangkan, Citra yang begitu sempurna rela menjadi wanita kedua, padahal kalau dia mencari pria lain dia pasti bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Celo.
"Sudah masuk bulan ke empat Aisyah," jawab Citra.
"Udah besar ya," timpalku
Dengan sayu aku menatapnya, mungkinkah waktu Celo akan lebih banyak untuknya? apa aku sanggup berbagi suami dengan wanita lain? atau aku memilih pergi?
Aku yang selalu takut diduakan kini telah kejadian, ancaman pergi yang aku ucapkan ternyata tidak diindahkan oleh Celo.
Saat bersamaan datanglah Celo dari kamar, dia memakai celana selutut dan kaos oblong warna putih.
"Sayang ini teman kamu?" tanyanya.
Aku dan Citra menatapnya bersamaan.
Andaikan aku bisa mengabadikan ekspresi mereka berdua mungkin aku akan mengabadikannya bila perlu aku akan menyewa fotografer ternama untuk mengambil gambar Citra dan Celo.
Celo menatap Citra begitu dengan Citra.
"Mas kenalin ini teman aku," kataku dengan menarik Celo yang masih saja berdiri menatap Citra.
Celo seperti orang linglung, dia hanya diam tak berkata apa-apa.
"Mas, hey. Kenalin ini teman aku." Aku mengulangi perkataanku.
"Eh iya sayang," katanya.
Celo menyodorkan tangannya pada Citra.
__ADS_1
"Celo," ucapnya.
"Citra," balas Citra.
Mereka ternyata memilih bersandiwara padaku, mereka memilih drama tak saling kenal.
Hmmmm mungkin supaya aku tidak curiga.
Celo duduk sedikit menjauh dariku namun aku mendekat dan memegang tangannya. Aku ingin membuat Citra paham kalau Celo adalah milik aku meski aku sebenarnya juga muak dengan Celo.
"Ini suami aku Citra? dia tampan kan? dia lelaki yang begitu baik, setia, jujur dan sekali memprioritaskan aku dalam hidupnya, bersamanya aku seperti Ratu, tak sedikitpun dia membiarkan aku terluka," kataku dengan mata yang basah.
"Aku sangat mencintainya Citra," imbuhku dengan tersenyum.
Citra menatap aku dengan tatapan sendu kemudian dia tersenyum.
"Beruntungnya kamu Aisyah memiliki suami yang begitu sayang padamu," sahutnya.
"Iya aku memang beruntung," timpalku dengan menatap Celo.
"Iya kan mas aku sangat beruntung dimiliki kamu?" tanyaku.
"Iya," jawabnya singkat.
"Lantas kamu beruntung nggak memiliki aku?" tanyaku lagi dengan menatapnya.
Bukannya membalas tatapanku Celo malah menatap Citra, aku pun ikut melemparkan tatapanku ke Citra, aku lihat yang memejamkan matanya sambil mendongakkan kepala mencoba menahan air mata yang jatuh. aku tau dan paham dia sangat terluka dengan drama yang kini tengah live show di depannya.
"Mas beruntung apa nggak? kok malah menatap Citra sih," protesku.
"Nggak enak sayang sama teman kamu," alasannya.
"Kenapa?" tanyaku protes.
"Malu lah sayang," jawabnya.
"Memangnya kita bercinta di hadapannya, kan cuma jawab kamu beruntung apa nggak," kataku.
"Ya beruntung dong," sahutnya.
"Makasih mas," ucapku dengan memeluknya.
Aku sengaja melakukannya biar Citra panas, mungkin kejam dan sadis tapi dia jauh lebih sadis dan kejam karena telah merebut suamiku.
"Kalian lanjut saja mengobrolnya aku mau ke atas dulu," ucap Celo.
"Nggak nggak, mau ngapain sih ke atas, ada tamu kok malah ditinggal," protes aku.
Aku nggak mengijinkan Celo meninggalkan kami karena kalau aktornya pergi nggak seru dramanya.
"Duduk manis, nggak usah pake alasan mau ke atas atau kemana, aku hanya minta kamu duduk di sini temenin aku ngobrol dengan Citra," kataku tegas.
Aku menatap Citra yang menunduk.
"Maaf ya Cit, aku malah berdrama dengan suamiku," kataku.
"Eh iya Aisyah, nggak papa," sahutnya dengan mata yang basah.
__ADS_1