
Aisyah dan Reno saling pandang lalu mereka menggelengkan kepala.
"Maaf kita cari artis dan aktor lain saja, teman saya ini lagi hamil muda takutnya terjadi apa-apa," kata Reno.
"Tidak masalah, lagipula naskah ini tidak ada adegan ekstrimnya jadi saya rasa tidak masalah kalau hamil," sahut sutradara.
"Dan untuk lokasi syutingnya biar lebih dapat feel-nya kita syuting di Jakarta dan Turki saja di Cappadokia, selain anda kita butuh artis dan aktor lain." Sutradara menambahkan.
"Baiklah, semua tergantung kalian minta kerja samanya semoga film kita ini diterima masyarakat luas," kata Reno.
"Amin," sahut tim yang lain.
Setelah memilih artis yang pas mereka segera merealisasikan kapan waktunya syuting.
Aisyah sebenarnya enggan untuk jadi artis dadakan mengingat situasinya saat ini.
"Aku sebenarnya nggak minat jadi artis, aku hanya ingin jadi ibu rumah tangga, ngurusin suami, anak dan rumah itu aja namun karena rumah tanggaku yang diujung tanduk membuat aku harus terbang tinggi untuk memberikan yang berbaik untuk anakku," ungkap Aisyah dengan air mata yang jatuh.
Reno nampak iba dengan Renata dia ingin sekali membawa Renata dalam pelukannya namun dia takut kalau Aisyah marah.
"Andaikan aku diberi satu permintaan, aku akan meminta untuk jadi pengganti Celo, aku akan merawat kamu dan anak kamu dengan baik, aku akan mewujudkan impian kamu untuk jadi ibu rumah tangga tulen yang hanya merawat aku dan anak-anak kita Aisyah," sahut Celo dengan tersenyum.
Aisyah menatap dalam Reno, kata-kata Reno sangat menyentuh hatinya namun untuk saat ini Aisyah masih trauma untuk jatuh cinta lagi, rasa sakit yang Celo torehkan di hatinya membuatnya takut untuk memulai.
"Kita lihat saja nanti ya, aku masih belum berfikir untuk mencari ayah pengganti anakku," kata Aisyah dengan tersenyum.
"Aku paham dan mengerti," sahut Reno.
Setelah urusan mereka selesai, Reno mengajak Aisyah untuk makan siang, kebetulan mereka makan di cafe yang tak jauh dari rumah sakit Celo.
"Itu bukannya suami kamu?" tanya Reno.
Aisyah menengok dan melihat Celo bermesraan dengan Citra.
"Lelaki plinplan," kata Aisyah dengan kesal.
"Kenapa nggak kamu labrak saja mereka," kata Reno.
"Ngapain, biarin aja. Aku juga nggak papa," sahut Aisyah dengan tersenyum sinis.
Aisyah mencoba melawan amarahnya dia mencoba santai supaya terlihat biasa.
__ADS_1
Celo dan Citra nampak sangat mesra bahkan sesekali mereka saling suap hingga tak sengaja Celo melihat Aisyah dengan Reno. Seketika amarah Celo memuncak reflek dia mengepalkan tangannya dan menghampiri Aisyah dan Reno.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Celo.
"Kamu sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya?" jawab dan tanya Aisyah.
"Aku tau kamu lagi makan tapi kenapa dengan dia?" tanya Celo dengan menunjuk Reno.
Para pengunjung cafe sudah melihat ke arah mereka sehingga membuat Aisyah menghentikan makannya lalu beranjak.
"Ren, kita ketemu besok lagi, aku pulang dulu," kata Aisyah lalu pergi.
"Sayang, sayang kita belum selesai bicara," teriak Celo dengan mengejar Aisyah.
Celo yang sudah dapat mengejar Aisyah segera menarik tangan istrinya tersebut.
"Kita belum selesai bicara," kata Celo dengan marah.
Aisyah menatap malas Celo kemudian melepas tangan Celo yang memegang tangannya.
"Mau bicara apa lagi," kata Aisyah.
"Ingat kita masih suami istri jaga sikap kamu tak seharusnya kamu keluar dengan pria lain selain suami kamu Aisyah," sahut Celo.
"Aku memangnya ngapain? suap suapan, makan dengan cium-cium pipi atau gimana? bisa nggak kamu jelasin sikap aku yang harus aku jaga," tanya Aisyah.
"Kamu kan bisa nggak keluar dengan pria lain," sahut Celo.
"Aku ada urusan kerja dengan dia mas jadi kamu nggak perlu khawatir, aku masih sadar dan paham kalau aku ini istri orang jadi aku nggak akan melakukan hal yang diluar batas," timpal Aisyah.
"Kerja apa hingga kamu bela-belain menyakiti aku dengan keluar bersamanya," kata Celo.
Aisyah menetap Celo dengan malas, dia yang enggan debat lebih jauh lagi memutuskan untuk pergi tapi Celo mengejarnya lagi.
"Apa lagi sih mas," kata Aisyah dengan kesal.
"Kamu mau kerja apa?" tanya Celo.
"Aku nulis, kebetulan Reno adalah produser film, beberapa film dari rumah produksinya terkenal," jawab Aisyah.
"Nggak nggak kamu nggak boleh kerja, aku nggak setuju," sahut Celo.
__ADS_1
"Is my dream mas, my dream dari dulu sebelum aku nikah, my dream dari aku kecil," timpal Aisyah.
"Aku nggak mengijinkan dream kamu itu," pungkas Celo.
Aisyah menatap Celo dengan tersenyum sinis.
"Kurang puas kamu menghancurkan dream aku mas dan sekarang kamu melarang aku menggapai dream aku yang lain," kata Aisyah.
"Dream mana yang aku hancurkan?" tanya Celo.
"Kamu nggak tau, OMG," sahut Aisyah.
"Dengerin baik baik, dengan kamu membawa Citra masuk ke dalam rumah tangga kita kamu itu udah mengambil mimpi aku, udah merusak mimpi aku untuk hidup sakinah, mawadah dan warohmah bersama kamu," jelas Citra kemudian.
Celo nempak menunduk, namun meskipun begitu dia tidak sadar akan kesalahannya.
"Kita bisa bangun dream kamu kembali sayang, kita bertiga bisa kok membangun impian bersama," sahut Celo.
"Lama-lama malah nggak jelas, sinting kamu mas, gila," kata Aisyah dengan menggelengkan kepala.
Aisyah segera pergi dan langsung menghentikan taksi yang kebetulan lewat di tepi jalan. Celo mencoba menghentikan Aisyah tapi Aisyah yang sudah masuk langsung meminta sopir untuk melakukan taksinya.
Celo masuk kembali lagi untuk menemui Reno, dia ingin Reno menjauhi Aisyah.
"Jauhi Aisyah," kata Celo.
"Untuk saat ini aku tidak bisa karena kami udah terikat kontrak," sahut Reno.
"Alasan, kamu ingin mendekati istriku kan?" ucap Celo penuh penekanan.
"Kalau iya kenapa kamu cemburu?" tanya Reno.
"Brengsek kamu Reno!" seru Celo.
"Kamu yang brengsek, tega menyia-nyiakan wanita sebaik Aisyah, ingatlah perjuangan Aisyah mendampingi kamu selama ini, bukannya menyayangi dia dengan sepenuh hati malah melukai seperti ini," ungkap Reno.
Reno yang tidak ingin debat dengan Celo beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan meninggalkan Celo namun saat beberapa langkah Reno berbalik dan kembali ke tempat dimana Celo berdiri.
"Dengerin aku baik baik, nanti kamu akan menyesal karena telah menyia-nyiakan Aisyah," kata Reno lalu menepuk bahu Celo.
Celo nampak mengepakkan tangannya ingin sekali menghajar Reno tapi dia tidak ingin membuat keramaian di tempat umum.
__ADS_1
Citra berdiri mendekati Celo yang masih menatap kepergian Reno.
"Sudahlah mas, bairin saja mereka. Kalau Aisyah susah dibilangin ya sudah, lagian udah ada yang punya kenapa masih deketin orang lain dan si lelakinya juga gitu udah tau Aisyah milik orang lain kenapa masih dideketin heran aku," kata Citra.