Maduku ternyata Readerku

Maduku ternyata Readerku
Pisah kamar


__ADS_3

Aisyah yang terbangun beranjak mencari Celo, dia berjalan menuju ruang kerja suaminya namun Celo tidak ada di sana.


"Kamu dimana mas?" kata Aisyah..


Aisyah kembali ke kamar, samar-samar dia mendengar suara orang mengobrol, Aisyah yang penasaran pergi ke balkon kamarnya dan benar saja nampak Celo sedang menghubungi seseorang.


Hati Aisyah meradang, dia tau kalau Celo menghubungi Citra, entah apa lagi alasannya nanti.


Aisyah menatap Celo dari atas balkon, tak terasa air matanya jatuh melihat kelakuan suaminya.


Dia sadar kini kalau Celo dan Citra tidak mungkin berpisah, meski Celo memprioritaskan dirinya namun tetap ada Citra di hatinya dan dimana ada kesempatan pasti Celo gunakan untuk menghubungi Citra.


Aisyah sadar tidak selamanya menjadi CCTV, dia juga bukan cenayang yang tau semua apa yang dilakukan Celo.


Hati yang sudah terbagi tidak mungkin bisa setia mengingat Citra juga hamil anaknya.


"Baiklah mas, percuma juga aku memaksa kamu untuk setia padaku, karena rasa setia itu bukan paksaan tapi melainkan sikap sukarela menjaga hati.


Sekeras apapun aku padamu tidak akan merubah perasaan kamu pada Citra.


Kini biarlah aku yang mengalah, insha Allah aku bisa tanpa kamu, aku yakin itu," kata Aisyah dengan menangis.


Memang lelaki telah terbagi hatinya tidak akan bisa setia, lebih baik jalani hidup sendiri meski tanpa adanya laki-laki.


Aisyah masuk kamar dan tidur kembali, meski tidak bisa tidur tapi Aisyah tetap memejamkan matanya.


Aisyah memutuskan untuk pisah kamar dengan Celo, mungkin dengan begitu Celo bisa menghubungi Citra bila malam hari jadi nggak harus sembunyi-sembunyi.


"Kamu mau kemana?" tanya Celo.


"Lebih baik kita pisah kamar, nanti setelah anak ini lahir aku akan pergi dari sini," jawab Aisyah.


Celo menatap Aisyah dengan nanar.


"Apa salah aku sayang? kenapa kamu minta pisah?" tanyanya.


"Mas, kenapa sih kamu nggak ngerti, aku nggak mau dimadu mas, aku nggak mau berbagi suami dengan yang lain kalau kamu masih mempertahankan Citra ya udah aku yang mengalah," jawab Aisyah dengan menangis.


"Im fine mas, im fine. Hidup tanpa kamu aku sangat baik, daripada aku terus tersiksa mas. Aku sakit jika kamu masih terus bersama Citra," imbuh Aisyah dengan menangis.


Celo menatap Aisyah dengan mata basahnya nampak terlihat kalau dia tidak ingin berpisah dengan Aisyah.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan sayang, Citra juga hamil anakku," tanya Celo.


"Mohon maaf mas, kalau itu hanya diri kamu yang bisa menjawabnya. Sudah cukup kamu main-main dibelakang aku mas, kamu ganti nomor ponsel Citra dengan nama lain, kamu menghubunginya saat aku tidur, kamu bersama aku tapi pikiran kamu jauh menerawang ke Citra. Aku nggak bisa maaf," kata Aisyah lalu membawa koper miliknya ke kamar sebelah.


Bisa saja Aisyah pergi ke rumah orang tuanya namun dia tidak ingin membuat orang tuanya sedih mengingat ayah Aisyah memiliki riwayat sakit jantung.


Biarlah dia bertahan di rumah itu sampai dia melahirkan setelahnya dia akan pulang ke rumah orang tuanya.


Hari berlalu dengan cepat, Aisyah bersikap biasa pada Celo, tetap tegur sapa namun dia tidak menginginkan Celo untuk menyentuhnya. Semua keperluan Celo bibi yang mengatur, mulai dari bekal hingga baju dan lain-lain.


Aisyah pasrah meski dia dibilang istri durhaka tapi mau bagaimana lagi dia tidak ingin berbagi hati dengan yang lain.


Aisyah aktif menulis, dia membuat novel yang mengangkat kisahnya. Ternyata banyak yang suka dengan novel Aisyah meski mereka tidak tau kalau pemeran dalam cerita tersebut adalah Aisyah sendiri.


Novel miliknya terus masuk rekomendasi hingga Diana teman Aisyah menyarankan Aisyah untuk menghubungi penerbit supaya bisa menerbitkan karyanya.


"Gitu ya Din," kata Diana.


"Eh aku kemarin lihat suami kamu bersama wanita lain, apa dia...." kata Diana dengan menggantung kata-katanya.


"Dia istri keduanya," sahut Aisyah.


"Astaga," ucap Diana tak percaya.


"Kalau aku jadi kamu mending pisah, kamu nggak akan bahagia jika bersama pria yang sudah membagi hatinya," imbuh Diana.


Aisyah hanya tersenyum, dia membenarkan perkataan Diana, memang tidak ada kebahagian semenjak Celo memiliki wanita lain meski saat Celo bersamanya hatinya tidak tenang.


"Oh ya Aisyah kamu ingat Reno?" tanya Diana dengan terkekeh.


"Kenapa?" tanya Aisyah sewot.


"Jangan marah dong, aku dengar dia sukses sekarang," kata Diana.


"Ya Alhamdulillah dong, lagian malas mikirin dia," sahut Aisyah.


"Iya kalian kan musuh bebuyutan dari dulu," timpal Diana.


Aisyah dan Diana malah bercerita tentang masa lalu mereka saat sekolah hingga mata mereka tak sengaja melihat Celo dan Citra makan berdua.


"Sabar Aisyah jangan dilihat, pura-pura nggak tau saja," kata Diana.

__ADS_1


"Iya," sahut Aisyah.


Aisyah dan Diana enjoy menikmati makanan mereka, meski Aisyah sakit tapi dia pura-pura tegar, dia menyemangati dirinya sendiri kalau dia tidak akan cemburu lagi.


"Kita pulang yuk Aisyah," ajak Diana.


Aisyah mengangguk, dia melirik Celo dan Citra yang makan dengan mesra berdua.


"Melihat cara kamu memperlakukan Citra kini aku yakin kalau akan benar-benar pergi dari kamu mas, sudah cukup aku menderita," batin Aisyah.


***********


Ketekunan Aisyah dalam menuangkan ide cerita kini kini berbuah manis, memang kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.


Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Aisyah karena salah satu ceritanya akan diterbitkan oleh penerbit terkenal.


"Alhamdulillah," kata Aisyah.


Dia sangat bersyukur bukunya akan diterbitkan, padahal dia menulis dan banyak yang baca serta komen saja sudah Alhamdulillah banget.


Di sibukkan dengan revisi naskah membuat Aisyah fokus dengan kerjaannya dan durasi bertemu Celo sangat sedikit.


"Sayang, mau sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini," kata Celo.


"Sudahlah mas, kamu urusi saja Citra nggak usah ngurusin aku," sahut Aisyah.


"Tapi bagaimana dengan anak kita," tanya Celo.


"Mas kalau kamu sayang dengan anak kita kamu nggak akan memperlakukan aku seperti ini, kamu nggak akan bohong terus-terusan padaku kamu juga akan tegas. Nggak plin plan sana sini Ok," jawab Aisyah.


"Tapi bagaimana dengan Citra?" tanyanya.


"Citra Citra Citra terus, kalau kamu sayang sama anak kita seharunya kamu lebih memilih kita, kamu tinggalin Citra mas tapi kamu lebih memilih dia daripada anak kita," jelas Aisyah.


"Aku tidak bisa," sahut Celo.


"Ya sudah kalau tidak bisa, tinggalkan aku. Udah selesai. Masalah kelar, nanti talak aku saat anak kita lahir," kata Aisyah lalu masuk kamar.


Celo mengusap rambutnya dengan kasar, dia masih ingin mempertahankan Aisyah tapi dia tidak bisa kehilangan Citra.


"Apa aku salah jika menginginkan kalian berdua?"

__ADS_1


__ADS_2