
Celo dan Citra berjalan menuju meja makan, raut wajah Celo berubah saat Aisyah menatapnya dengan tatapan sinis.
"Pagi sayang, maaf Citra semalam kesini karena perutnya sakit," kata Celo.
"Sejak kapan mas kamu buka praktek di rumah? oh iya bukannya kamu dokter bedah kenapa malah jadi dokter kandungan?" tanya Aisyah dengan tatapan tajamnya.
Celo hanya diam dengan menatap Aisyah, dia tau kalau Aisyah tak suka dengan kehadiran Citra di rumah.
Tanpa berkata apa-apa Celo mengajak Citra untuk duduk.
"Kamu pilih sendiri makanan mana yang kamu suka Citra," kata Celo
"Sayang tolong ambilkan makanan buat aku dong," pinta Celo dengan tersenyum.
"Kan ada Citra mas, biarlah istri muda yang melayani suami itung-itung belajar. Jadi nanti kalau istri tua resign dia sudah mahir melayani suami tak hanya melayani di ranjang saja," sahut Aisyah dengan tersenyum balik.
Celo terkena mental mendengar kata sindiran Aisyah begitu pula dengan Citra tapi mereka tidak bisa bicara apa-apa.
"Udah mas biar aku saja, mungkin Aisyah capek," kata Citra.
Celo lalu menunjuk makanan apa yang akan dia makan pagi ini.
Aisyah yang telah selesai sarapan pamit undur diri dia harus keluar karena ada janji dengan Reno beserta tim nya.
"Kenapa tidak menunggu kita sayang?" tanya Celo.
"Nggak mas nanti ganggu, monggo dinikmati waktu berduaan kalian aku pamit dulu," jawab Aisyah lalu pergi ke kamarnya.
Di kamarnya, Aisyah menutup pintu agak keras dan menangis dibalik pintu. Sepuluh tahun bukan lah waktu yang singkat. Cinta Aisyah pada Celo telah mendarah daging dan butuh waktu untuk melupakannya.
Tak seharunya Celo mengijinkan Citra bermalam di rumah, seharusnya Celo bisa menjaga perasaannya tapi nyatanya nggak, baru semalam bilang akan meninggalkan Citra tapi nyatanya malah memadu kasih dan parahnya di rumahnya bukan rumah Citra.
"Kenapa kamu selalu saja menyakiti aku mas, bisa nggak kamu mengijinkan Citra tidur di kamar itu setelah aku sudah tidak menjadi istri kamu lagi, tidak bisakah kamu menghargai perasaan aku sedikit saja," kata Aisyah.
Tak ingin larut dalam kesedihannya Aisyah segera beranjak dan mengambil tas miliknya namun sebelumnya dia membersihkan dulu wajahnya yang basah karena air mata.
Celo dan Citra masih asik makan di ruang makan sedangkan Aisyah berangkat karena tidak ingin telat bertemu Reno.
Aisyah yang pikirannya kacau memutuskan untuk tidak menyetir sendiri dia memilih menggunakan jasa taksi online.
Di perusahaan Reno, Aisyah menunggu di loby sambil menunggu Reno datang.
"Reno mana ya kok belum datang," gumam Aisyah yang sudah lelah.
Tak berselang lama Reno datang dengan menggunakan pakaian formal, nampak gagah dan tampan sekali.
"Astaga dia seperti CEO yang ada di novel," batin Aisyah.
__ADS_1
Reno melemparkan senyumannya pada Aisyah dan Aisyah juga melemparkan senyumannya pada Reno.
"Pagi beb," sapa Reno dengan memanggil Aisyah dengan sebutan beb.
Seketika Aisyah melemparkan tatapan mautnya pada Reno.
"Beb beb, kamu pikir aku bebek," gerutu Aisyah.
Reno hanya tertawa, entah mengapa ingin sekali menggoda ibu hamil yang ada di depannya.
"Baby Aisyah masak iya orang secantik kamu seperti bebek," sahut Reno.
"Kamu tuh ada ada aja Ren, Ket biyen ga berubah blas," timpal Aisyah.
( dari dulu nggak berubah sama sekali)
"Ya sudah nanti aku akan berubah jadi power ranger merah dan kamu yang pink ya," ucapnya.
"Wes mboh lah Ren, kok gemes aku sama kamu," kata Aisyah dengan menggelengkan kepala.
(entahlah Ren, gemes aku sama kamu)
Tak ingin ngobrol yang ga ada gunanya Aisyah meminta Reno untuk membawanya ke tim yang akan meninjau naskah miliknya.
"Tim datang dua jam lagi," kata Reno dengan terkekeh.
"Maksud kamu!" ucap Aisyah dengan melotot.
Aisyah hanya bisa menahan amarahnya, dia sudah bela-belain pagi datang dan ternyata meeting masih dua jam lagi.
"Astaga Reno kamu ngeselin banget tau nggak," kata Aisyah dengan memberengut.
"Iya iya maaf," kata Reno.
Tak ingin Aisyah kesal, Reno mengajak Aisyah untuk keliling. Dia menunjukan kantornya pada Aisyah.
"Besar sekali ya Ren," puji Aisyah.
"Iya Aisyah," sahut Reno.
Lelah mengelilingi kantor, Reno mengajak Aisyah ke ruangannya. Mata Aisyah terbelangak melihat ruangan Reno dengan desain yang bagus.
"Ruangan kamu bagus sekali Ren, siapa yang desain?" tanya Aisyah.
"Aku sendiri," jawab Reno.
Reno memang memiliki jiwa seni yang tinggi, dulu saat SMA Aisyah selalu meminta Reno untuk membantunya mengerjakan tugas Seni.
__ADS_1
"Kamu duduk dulu, rebahan juga boleh anggap saja ruangan suami kamu," seloroh Reno yang membuat Aisyah lagi-lagi menggelengkan kepala.
"Niat banget jadi suami aku," kata Aisyah lirih namun masih bisa didengar Reno.
"Daripada jomblo, lebih baik jadi suami kamu," kata Reno dengan terkekeh.
Aisyah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, dia membuka aplikasi novelnya namun tiba-tiba Citra menghubunginya.
Aisyah menatap gambar foto profil Citra, di dalam foto tersebut nampak Celo mencium pipi Citra, mereka berdua nampak bahagia.
Aisyah membiarkan ponselnya berdering, dia enggan untuk menerima panggilan Citra apalagi setelah melihat foto profil Citra.
Aisyah tersenyum, dia tau kalau Citra memang sengaja melakukannya, dia sengaja memakai foto profil dirinya dan Celo untuk membuat Aisyah sakit hati.
"Ambilah Citra bekas aku karena aku rasa kamu lebih membutuhkannya daripada aku," kata Aisyah.
Mata Aisyah membasah mengingat masa-masa dulu bersama Celo sebelum Citra hadir.
Dia masih tidak menduga kalau pernikahannya sepuluh tahun yang lalu harus kandas dengan cara seperti ini.
Reno yang melihat Aisyah mendongakkan kepala beberapa kali menjadi cemas dia tau kalau Aisyah berusaha menahan air matanya supaya tidak jatuh.
"Kamu kenapa Aisyah?" tanya Reno.
"Eh Ren, nggak papa kok, ini mataku kelilipan," jawab Aisyah berbohong.
Reno cukup tau kalau Aisyah berbohong tapi dia menghargai dengan tidak bertanya lebih lanjut.
"Mau aku bantu meniupnya?" tanya Reno.
"Boleh," jawab Aisyah.
Reno memegangi kepala Aisyah, bertemu dengan wajah membuat Reno tak kuasa melihat bibir Aisyah, hasrat laki-lakinya muncul, ada keinginan untuk mencium bibir manis tersebut.
"Astagfirullah Re, ini istri orang," batin Reno lalu meniup mata Aisyah.
"Sudah Ren," kata Aisyah dengan tersenyum.
Dua jam sudah berlalu, Aisyah dan Celo pergi ke ruang meeting untuk bertemu tim Reno yang akan meninjau naskah Aisyah.
"Selamat pagi semua," sapa Reno.
"Pagi," balas tim Reno.
Naskah Aisyah telah dibaca, nampak dari mereka semua tertarik dengan naskah.
"Cerita ini sungguh bagus," kata Salah satu tim Reno.
__ADS_1
"Iya, tapi kira-kira aktor dan Aktrisnya siapa?" tanya Reno.
"Kenapa nggak kalian saja," jawab sang Sutradara.