
"Mas baju kamu kok bau parfum wanita," kataku saat kami bersua di tempat tidur.
Celo tersenyum menatapku.
"Wajarlah sayang, tadi tu ada tante-tante yang meluk aku, dia berterima kasih karena operasi anaknya berhasil," ucap Celo berbohong.
Aku memberengut kesal.
"Enak ya dipeluk Tante-tante, jadi pengen jadi dokter supaya ada om om yang peluk aku," kataku dengan bibir yang maju.
"Come on sayang jangan marah please, kalau aku tau dia akan memeluk, aku pasti menghindar," bujuknya.
Aku menghela nafas lalu membuka satu persatu kancing bajunya.
"Mau ngapain?" tanyanya.
"Siapa betah bau parfumnya," jawabku.
Aku melempar baju Celo ke lantai entah mengapa hatiku kesal sekali.
Celo yang sudah bercocok tanam dari siang sampai malam tentu tidak menginginkannya kembali tapi berbeda dengan aku yang menginginkannya.
"Mas kamu nggak pengen?" tanyaku.
"Pengen banget sayang tapi badan aku lelah, aku ingin tidur karena besok padi ada jam praktek," jawab Celo.
Aku tersenyum, entah mengapa hatiku nyeri mendengar penolakannya.
"Ditolak lagi," batin Aisyah.
Yang benar saja Celo kini malah tidur meninggalkan aku yang masih terjaga.
"Ya sudahlah," ucapku lalu menyusulnya tidur.
Pagi sekali Celo sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit padahal aku belum selesai masak.
"Mas ini jam berapa? kok kamu udah mau berangkat," tanyaku.
"Iya sayang maaf jam praktek aku maju satu jam," jawab Celo.
Aku mengerutkan alis, heran bagaimana bisa maju dan mundur jam praktek dokter.
"Pasti heran kan?" katanya.
Aku mengangguk kemudian menatapnya.
"Program baru dari rumah sakit sayang, sebenarnya aku juga ingin protes tapi ya sudah," sahut Celo.
Aku segera menyiapkan sarapan Celo, nasi sama lauk seadanya karena sayur yang aku masak juga belum matang.
"Oh ya sayang bibi dimana? kamu kok masak sendirian?" tanya Celo.
"Pulang mas, anaknya sakit," jawabku.
"Ya udah kamu cari art sementara saja," ucap Celo.
"Nggak usah biar aku saja yang mengurusi rumah ini lagipula bibi cuma pulang selama seminggu," sahutku.
__ADS_1
Celo segera menghabiskan sarapannya, dia bergegas untuk berangkat.
"Hati hati ya mas," kataku sambil melambaikan tangan.
Dia membalas lambaian tanganku lalu berangkat.
**********
POV 3
Tak jauh dari rumah, Celo menghentikan mobilnya dia membuka dasbor mobil lalu mengambil ponsel yang satunya.
Setalah dinyalakan banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Citra.
"Astaaga banyak sekali," kata Celo lalu menghubungi Citra.
Celo menggunakan Headset saat menghubungi Citra jadi dia bisa melanjutkan nyetir mobilnya.
"Halo sayang," sapa Celo.
"Semalam kok nggak ngabarin kalau sudah sampai sih sayang," protes Citra.
"Maaf sayang," ucap Celo.
"Kamu lagi apa ini?" tanya Celo kemudian.
"Ini habis mandi, tadinya mau ngajakin kamu mandi tapi Ponsel nggak aktif ya udah aku mandi sendiri," jawab Citra dengan manja dari sambungan telponnya.
Celo mengubah panggilannya dari voice call jadi video call.
Nampak Citra hanya menggunakan handuk saja.
Fantasi Seeeeeex Celo begitu liar saat dengan Citra berbeda jauh dengan Aisyah terkadang mereka melakukan yang diluar nalar yaitu Seeeeeks Video.
Citra segera membuka handuk yang menutupi tubuhnya naik tubuh molek yang menawan dengan gaya Citra yang menggoda membuat Celo semakin bergairah.
"Pengen," katanya dengan mengiba.
Citra hanya tertawa melihat ekspresi menahan hasrat sang suami.
Tak berselang lama mobil mewah jenis SUV masuk parkiran rumah sakit, Celo mencoba memendam hasratnya dia menenangkan diri sebentar.
"Ya sudah nanti aku hubungin lagi, aku mau masuk dulu," pamit Celo.
"Ya sudah," ucap Citra kecewa.
Saat rudal miliknya telah mengecil Celo keluar mobil dan bergegas ke ruangannya.
Di sana sudah ada suster yang memberesi meja kerja Celo.
"Pagi Sus," sapa Celo
"Pagi Dok," balas suster.
Tepat pukul tujuh semau sudah beres dan Praktek pun dibuka.
Seusai jam praktek Celo ada jadwal dua operasi dan jam empat sore semua baru kelar.
__ADS_1
Celo beristirahat sebentar di kursi kebesarannya tiba-tiba dia teringat akan tubuh Citra yang menawan tadi pagi.
"Shiiiiiit wanita ini tubuhnya selalu ada di pikiranku," kata Celo.
Mata Celo tak sengaja melihat foto pernikahannya dengan Aisyah, tiba-tiba matanya sendu menatap gambar dirinya dengan Aisyah.
"Maafkan aku sayang, hatiku tidak bisa berdusta cintaku kini milikmu dan dirinya, aku tak sanggup meninggalkannya dan aku juga tidak bisa bercerai dengan kamu," ucap Celo.
Nasi telah menjadi bubur, cinta yang seharusnya untuk sang istri seorang harus dibagi dengan wanita lain, wanita yang datang dan memberi harapan akan hadirnya sang buah hati membuat Celo terbuai, apalagi paras cantik baik artis papan atas serta tubuh yang aduhai membuat jiwa iblis Celo meronta, hilang sudah kesetiaan yang bertahun-tahun dia jaga, sumpah di depan saksi dan Tuhan pun dilanggar.
Citra yang saat itu menjadi suster jaga juga terbuai dengan ketampanan Celo, siapa yang tidak suka dengan Dokter muda yang mapan dan tampan.
Tanpa pikir panjang dan tanpa memikirkan perasaan istri Celo, Citra menjalani hubungan terlarang dengan Celo yang waktu itu ditugaskan di kota Malang.
Sumpah di atas ranjang pun terucap, bualan-bualan manis Celo ucapkan untuk menjerat Citra.
Citra yang dijanji akan dinikahi dengan mudahnya memberikan cintanya pada Celo.
Hingga tak lama kemudian mereka menikah di bawah tangan dan drama Korea Celo di mulai.
Setiap hari dia harus berbohong pada Aisyah dengan banyaknya schedule dari rumah sakit yang semua itu hanya alasannya saja supaya bisa bertemu Citra.
Kejam memang kejam, sadis memang sadis tapi apa mau dikata kini Celo telah memiliki Aisyah dan Citra dalam waktu bersamaan sehingga terkadang dia pusing sendiri.
Lama memandangi foto nikah mereka Celo memutuskan untuk pulang, entah mengapa dia ingin menumpahkan hasratnya dengan Aisyah.
Setibanya di rumah Celo menemui sang istri yang baru saja mandi, pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Kamu menggoda aku ya sayang," bisik Celo.
"Ih siapa yang goda," sahut Aisyah.
Celo membuka lilitan handuk sang istri, kemudian dia membawa sang istri ke tempat tidur.
Celo yang sedari tadi sudah berhasrat segera membuka bajunya nampak rudal miliknya telah menegang sempurna.
"Sayang," bisik Celo.
POV 1
Aku tersenyum lalu memejamkan mata saat bibirnya dan bibirku bertemu, dia ******* habis bibirku dan mengabsen rongga mulutku tanpa ada yang tersisa.
Kini bagian dada yang menjadi sasaran mulutnya, dia naik ke puncak dadaku dan mulai memainkannya.
Aku menggeliat penuh kenikmatan, kurasakan sensasi sakit saat dia menggigit pucuk dadaku.
Aku terus mendesssssssaaaah penuh nikmat, tanganku juga menarik rambutnya mencoba menenggelamkan wajahnya di dadaku.
Serangan senja aku dapatkan dari pria yang sangat aku cintai, hingga kami terkapar tak berdaya di ranjang dengan tubuh polos kami.
**********
POV 3
Di sisi lain Citra menatap ponsel miliknya dengan mata sendu, dering telpon dari sang suami tak kunjung berbunyi dan ini membuatnya menangis
Citra ingin menghubungi ponsel Celo yang lain tapi nomornya telah diblokir oleh Celo sehingga mau nggak mau dia hanya bisa menghubungi nomor lain yang kini tak kunjung aktif.
__ADS_1
"Kamu pasti di sana sedang berduaan dengan istri kamu mas," kata Citra dengan air mata yang jatuh.