Maduku ternyata Readerku

Maduku ternyata Readerku
Ketemuan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, hubungan Celo dan Aisyah semakin membaik dia telah manjadi suami siaga, pulang tepat waktu tidak pernah keluar dan selalu perhatian.


Aisyah cukup senang terlebih dia lebih unggul dari Citra.


Di sisi lain Citra merana, dia menangis sembari memegang perutnya yang kini sudah jalan enam bulan.


Celo hanya menemuinya saat di rumah sakit dan saat dia istirahat dia menyempatkan untuk mengantar Citra, semua dilakukannya dengan hati-hati supaya Aisyah tidak tau.


"Aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana, kenapa ceritanya seperti ini sekarang, kenapa mas Celo jauh memperhatikan Aisyah daripada aku," kata Citra dengan menangis.


"Tuhan kenapa semua tidak adil bagi aku, Aisyah masih memiliki orang tua sedangkan aku hanya sebatang kara," teriaknya.


Memang Aisyah lebih beruntung daripada Citra, orang tua Citra meninggal karena kecelakaan dan semua aset yang dimiliki harus disita bank karena hutang papanya.


Untuk kuliahnya Citra mengandalkan cairan asuransi pendidikannya hingga dia bisa bekerja sebagai perawat di rumah sakit elite di kota Malang.


"Aku harus menemui Aisyah," kata Citra dengan menghapus air matanya.


Citra mengirimkan pesan untuk aisyah, dia ingin bertemu di sebuah kafe.


Awalnya Aisyah menolak namun karena Citra terus memaksa akhirnya Aisyah bersedia.


"Ada apa Citra?" tanya Aisyah saat dia baru saja sampai.


"Duduk dulu Aisyah," kata Citra.


Aisyah menghela nafas lalu duduk, dia menatap malas Citra.


"Cepat katakan ada apa kamu mengajak aku untuk ketemu?" tanya Aisyah.


Kini gantian Citra yang menghela nafas dia meminum minumannya dan menatap Citra dengan tatapan sedihnya.


"Aku mohon padamu jangan monopoli Mas Celo, kita sama-sama istrinya sekarang," kata Citra.


Aisyah tertawa mendengar perkataan Citra.


"Kenapa? merasa terabaikan?" tanya Aisyah.


"Bukan masalah terabaikan atau nggak Aisyah tapi aku juga butuh suamiku," jawab Citra.

__ADS_1


Lagi-lagi Aisyah tertawa, entah mengapa ada rasa puas tersendiri bisa membuat Citra merasakan apa yang dia rasakan.


"Seharusnya kamu memikirkan hal ini sebelum kamu berkomitmen dengan mas Celo Citra karena sejatinya tidak ada istri yang mau dimadu," ucap Aisyah.


"Tapi semua telah terjadi Aisyah dan kamu pasti tentu tau hukumnya," timpal Citra.


Aisyah tersenyum menyeringai.


"Jangan bicara soal hukum Citra, saat kamu dan Celo menikah tanpa seijin aku, apa pikir kalian sudah mentaati hukum menikah?" tanya Aisyah.


"Sekarang jangan membolak-balikkan fakta, intinya aku tidak mau berbagi suami titik," imbuh Aisyah.


"Kamu jangan egois Aisyah, dia juga suami aku," sahut Citra dengan kesal.


Aisyah hanya tertawa.


Mungkin inilah pelajaran bagi pelakor untuk berfikir dua kali saat menjalin dengan suami orang karena bagaimanapun juga kembali seorang suami itu pada istri pertama, karena pada hakekatnya lelaki menjalin hubungan dengan wanita lain itu karena sebuah kebutuhan sesaat saja bukan karena untuk memiliki selamanya,


tetap istri pertama yang prioritaskan.


"Aku bukannya egois Citra tapi aku hanya mempertahankan milik aku yang kamu rebut, jadi kalau aku merebutnya kembali kamu jangan marah," ucap Aisyah.


Citra semakin kesal, kalau sudah begini entah siapa yang salah tak ada yang tau yang jelas posisi Citra saat ini sangat lemah yaitu istri kedua yang terabaikan.


Melihat Citra menangis membuat Aisyah tak tega, tapi bagaimana lagi dia juga tidak mau sakit hati dan stres karena ini juga berpengaruh akan kehamilannya. Sepuluh tahun menunggu bukanlah waktu yang singkat, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon bayinya.


"Kalau aku mengasihani anak kamu lantas bagaimana dengan anak aku Citra, sepuluh tahun aku menunggu apa kamu pikir aku akan mengorbankan dia demi kamu?" ucap Aisyah dengan penuh penekanan.


"Apa yang terjadi dengan kamu adalah buah dari apa yang kamu tanam, aku juga menderita Citra dibohongi dan ditikam oleh kalian, sakit Citra sakit," imbuh Aisyah dengan menangis.


Aisyah menghapus air matanya lalu dia memutuskan untuk pulang. Dia tidak mau goyah dan luluh hanya karena melihat air mata Citra sudah cukup dia sakit hati sekarang giliran Citra yang harus merasakan diabaikan.


Citra menangis di tempat duduknya hingga sebuah tangan menyodorkan sapu tangan.


"Maafkan aku karena tidak bisa adil padamu, semuanya memang salahku yang telah membawa kamu masuk dalam rumah tanggaku," kata Celo lalu memeluk Citra.


"Kamu jahat mas, kamu jahat, lalu bagaimana dengan nasib aku sekarang? aku nggak bisa terus-terusan seperti ini, kasihan anak kita," kata Citra dengan terisak.


Celo mencoba menenangkan istri keduanya tersebut, entah akal apa untuk membodoho Aisyah lagi supaya dia bisa bersama Citra.

__ADS_1


"Nanti aku akan pikir caranya supaya bisa bersua seperti biasanya sayang," hibur Celo.


Citra mengangguk, dia nampak tenang.


Setelah tenang Celo dan Citra kembali ke rumah sakit.


Di sisi lain Aisyah juga menangis dalam mobilnya, sebenarnya dia tidak tega dengan Citra tapi bagaimana lagi.


"Maafkan aku Citra," kata Aisyah.


"Aku masih belum masuk ke dalam wanita pilihan yang rela berbagi suami, aku hanya wanita biasa yang mempertahankan milik aku. Semua yang terjadi pada dirimu adalah salah kamu sendiri, sudah cukup aku sakit selama ini ditikam oleh kalian orang-orang yang aku sayang." Aisyah mengeluarkan isi hatinya.


Waktu berlalu dengan cepat, tepat pukul delapan Celo sampai di rumah, dia pulang dengan wajah sedih.


"Wajah kamu kenapa murung begitu nggak suka bertemu dengan aku dan calon bayi kita," kata Aisyah.


"Senang kok sayang, cuma...." Celo menggantung kata-katanya.


"Cuma kengen sama Citra," terka Aisyah.


"Nggak sayang, tadi di rumah sakit pasienku meninggal dan keluarganya tidak terima, dia ingin menuntut rumah sakit," kata Celo.


"Benarkah? ini nggak akal-akalan kamu saja untuk keluar kan?" tanya Aisyah.


Celo menatap Aisyah dengan sendu, padahal dia mengatakan hal yang sebenarnya.


Begitulah jika keseringan bohong meski berbicara jujur pun orang lain akan menganggapnya sebuah kebohongan.


"Aku berkata jujur sayang, aku tidak bohong," kata Celo dengan raut wajah yang berubah.


Aisyah menghela nafas.


"ini semua karena kamu terlalu seiring berbohong mas jadi kejujuran yang kamu katakan aku anggap juga sebuah kebohongan," kata Aisyah.


"Iya sayang, maafkan aku," sahut Celo dengan lirih.


Aisyah meminta Celo untuk membersihkan diri, dia juga menyiapkan makan malam untuk sang suami.


Setelah semua selesai Celo pamit untuk ke ruang kerjanya. Dia ingin membuat laporan atas apa yang terjadi tadi siang.

__ADS_1


Aisyah yang lelah juga tidur, saat Celo masuk kamar dia pun segera keluar lagi untuk menghubungi Citra.


Kali ini dia mengganti nama Citra dengan nama Keluarga pasien, Celo juga meminta Citra untuk menghilangkan foto profilnya.


__ADS_2