
"Aku juga tidak bisa meninggalkannya sayang," kata Celo.
Mendengar jawaban Celo membuat Citra membuang wajahnya, dia tak tau lagi harus bagaimana?
"Kalau aku sih fine mas jadi yang kedua tapi bagaimana dengan Aisyah, apa dia mau mau madu?" tanya Citra.
"Entahlah, please jangan bahas masalah ini lagi. Kita ikuti alur saja sayang," bujuk Celo dengan memeluk Citra.
Citra mengangguk, dia sendiri juga bingung harus bagaimana.
Keesokannya pukul empat Celo pulang, dia sangat kaget karena Aisyah sudah beraktivitas di dapur.
"Darimana? kenapa pagi baru pulang?" tanya Aisyah.
"Dari rumah sakit, semalam mau pamit tapi kamu udah tidur," jawab Celo.
"Oh gitu ya sudah mandi sana," kata Aisyah.
"Aku mau tidur sayang," sahut Celo.
"Iya," timpal Aisyah.
Aisyah yang lelah berdebat melanjutkan masaknya lagi, kali ini memang dia yang masak karena art nya sedang sakit lagipula dia juga ingin menyibukkan diri untuk menghilangkan risalah hatinya.
Selama dua jam berkutat kini masakan Aisyah telah berpindah tempat, Celo juga sudah turun dengan pakaian rapi.
"Sayang bekal untuk aku mana?" tanya Celo.
"Nggak ada bekal mas, kamu sarapan di rumah saja," jawab Aisyah.
"Bawain bekal ya, aku tuh kalau nggak makan bekal kamu bawananya gimana gitu," ucap Celo.
Sebenarnya bukan Celo yang menginginkannya tapi Citra, entah mengapa memakan bekal Celo membuat Citra tidak mual.
"Kan sarapannya udah di rumah kalau untuk makan siang biar nanti aku yang bawain, sekalian aku mau ketemu dengan Citra," sahut Aisyah.
Raut wajah Celo seketika berubah.
"Kamu mau bertemu dengan Citra ya," kata Celo.
"Iya sekalian ngantar makanan kamu," sahut Aisyah.
"Iya sayang," timpal Celo dengan pasrah.
Seusai makan Celo pamit karena pagi ini dia akan menjemput Citra. Tadi sebelum pulang Celo udah janjian untuk menjemput Citra.
************
"Mas," panggil Aisyah.
"Eh sayang," sahut Celo lalu beranjak dari kursinya.
__ADS_1
Aisyah meletakkan bekal makan siang untuk Celo, tadinya Celo ingin memakannya dengan Citra namun Aisyah malah meminta Celo untuk memakan makannya.
"Aku makan nanti saja ya sayang," kata Celo.
"Makan sekarang saja, aku juga ingin makan bareng sama kamu mas," ucap Aisyah.
Celo menghela nafas, nanti pasti ada perang dunia dengan Citra tadi pagi saja Citra sudah ngambek karena Celo tidak membawa bekal.
Sesuai makan Aisyah pamit pulang.
"Aku pulang dulu ya mas, oh ya nanti sore kita pulang ya karena bunda dan ayah ada syukuran kecil-kecilan," kata Aisyah
"Siap sayang," sahut Celo.
Senyum mengembang di bibir Aisyah ada rasa puas tersendiri dalam dirinya. Dia telah mengacaukan waktu bersama Citra dan Celo.
Di sisi lain Citra sangat kesal karena Celo selalu ingkar janji dan ini membuat Citra menangis.
"Aku lelah, sumpah aku lelah," katanya.
Waktu kerja Citra telah habis, dia memutuskan langsung pulang tanpa mengabari Celo terlebih dahulu namun saat menunggu taksi mobil Celo menepi dan meminta Citra untuk masuk.
Citra langsung masuk namun dia hanya diam.
"Maaf tadi Aisyah datang dan menunggui aku makan," kata Celo.
"Seharusnya kamu itu nggak selingkuh mas, kamu sangat menyayangi Aisyah kenapa dulu kamu memutuskan mengikat komitmen dengan aku?" tanya Citra.
"Andaikan aku bisa menolak rasa yang datang, aku tidak akan mau mengikat janji dengan kamu sayang, tapi apa daya, aku hanya mahkluk yang tidak bisa menghindari rasa yang datang," jawab Celo.
"Tapi kalau gini terus aku yang terluka mas apa kamu mau anak kita jadi korban keegoisan orang tuanya," sahut Citra.
"Kalau kamu terus saja menurut kata-kata Aisyah lebih baik kita pisah mas, aku nggak mau jadi korban janji manis kamu," imbuh Citra dengan menangis.
Celo lagi-lagi kembali frustasi, dia menghentikan mobilnya lalu menatap Citra dengan lekat.
"Udah jangan drama, malam ini aku mau kamu sama aku, nggak ada acara pulang dan nggak ada alasan lagi titik no debat," kata Citra lalu membuang wajahnya.
Celo mengusap rambutnya dengan kasar, padahal sore ini dia ada janji dengan Aisyah untuk pulang ke rumah orang tua Aisyah.
"Baiklah," kata Celo.
Celo menonaktifkan ponselnya supaya Aisyah tidak menghubunginya. Dia tidak ingin Citra marah dan pergi dari hidupnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore tapi Celo tak kunjung datang, Aisyah mencoba menghubungi Celo namun tidak bisa.
"Keterlaluan kamu mas, saat ada acara dengan orang tua, kamu malah memilih dengan Citra." kata Aisyah dengan kesal.
Aisyah akhirnya pergi ke rumah orang tuanya sendiri yang berada di kota sebelah yaitu Sidoarjo.
Aisyah beralasan kalau Celo ada operasi dadakan sehingga tidak bisa ikut.
__ADS_1
Setelah selesai Aisyah pamit pulang karena dia mengira kalau Celo pasti pulang malam ini.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam namun Celo tidak menghubunginya sama sekali ponsel juga nggak aktif.
"Rupanya kalian mengajak perang," kata Aisyah.
Aisyah duduk di balkon kamarnya, dia melihat langit yang penuh dengan bintang.
"Bintang saja tidak merubah tempatnya, sekali mereka di sana selamanya tetap akan di sana, berbeda dengan kamu mas yang dengan mudahnya berpindah hati dari aku ke Citra atau sebaliknya," kata Aisyah dengan menangis.
Aisyah memutuskan untuk menyusul Celo ke rumah Citra, sudah tidak ada yang harus ditutupi lagi biar semua jelas, Celo sudah waktunya memilih antara mereka.
Meskipun nanti Aisyah bukan menjadi pilihan Celo dia pun ihklas daripada selalu bersedih dan diperlakukan seperti ini.
Lagi-lagi Aisyah tidak bisa tertidur, dia membuka laptop miliknya dan menulis, dia mencurahkan semua keluh kesahnya dalam cerita tak sedikit para reader yang merespon tulisan Aisyah dengan emot sedih termasuk Citra.
"Sedih sekali Aisyah," komen Citra.
"Banget, kadang aku heran kenapa ada wanita yang tega menyakiti wanita lain dengan merebut apa yang wanita lain punya," balas Aisyah.
"Bukan masalah tega nggak Aisyah cuma rasa yang datang tidak bisa dihindari," balas Citra.
"Semua tergantung orangnya Cit, eh tumben nggak tidur nunggu suami kah?" tanya Aisyah.
"Biasa habis sunah rasul," balas Citra dengan emot terkekeh.
"Enaknya, suami aku entah kemana dia nggak pulang bahkan ponselnya juga nggak bisa dihubungi," balas Aisyah dengan emot menangis.
"Sabar Aisyah, besok pagi pasti pulang," balas Citra.
Aisyah membalas pesan Citra dengan emot terkekeh.
Aisyah yang lelah memutuskan untuk memejamkan mata namun tak kuasa, dia tidak bisa memejamkan matanya.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tiga pagi, Aisyah mengambil kontak mobil dan membuka sebuah alamat.
Dengan bismilah Aisyah melajukan mobil di pagi buta bahkan adzan subuh belum berkumandang.
Mobil berjalan perlahan di depan sebuah rumah, di sana nampak mobil yang tidak asing bagi Aisyah.
Aisyah duduk di depan teras rumah karena kebetulan rumahnya model cluster tanpa pagar.
Aisyah nampak mendengar suara di dalam rumah yang artinya pemilik rumah tersebut sudah bangun.
Aisyah gemetar dengan mata yang basah, semua akan jelas setelah ini.
Halo kak mau promo nih kak
Jangan lupa mampir ya.
__ADS_1