
Aku menarik nafas dalam dalam dan melepaskannya.
Sedih rasanya membayangkan pernikahan yang sudah hampir sepuluh tahun aku jalani harus berakhir seperti ini sungguh bukan akhir yang aku mau.
Mungkin aku dan Celo tidak berjodoh.
Aku menatap hamparan luas di depanku dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir.
Ku nikmati rasa sakit ini seorang diri entah berapa lama aku berdiri di balkon menikmati udara pagi.
Matahari hampir di atas kepala, aku yang lelah memutuskan untuk masuk.
"Gak terasa sudah hampir siang," kataku.
Kuambil ponselku dan ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor asing. Aku mengerutkan alis siapa yang menghubungiku dengan sembilan panggilan tak terjawab?
Tanpa pikir panjang aku mengubungi balik nomor asing tersebut dan betapa kagetnya aku kalau yang menghubungi aku adalah pihak kepolisian yang mengabarkan kalau suamiku kecelakaan.
Tanganku bergetar mendengar berita buruk tersebut seusai mendapatkan informasi aku bergegas pergi ke rumah sakit.
Aku melupakan sejenak rasa sakit yang kurasakan sebagai seorang istri aku wajib merawat suami yang tengah sakit.
Sesampainya di rumah sakit aku segera bertanya pada resepsionis dimana Celo dirawat, setelah mengantongi informasi aku berjalan setengah berlari menuju ruangan Celo.
Saat aku buka pintu aku lihat Citra sudah ada di sana menemani Celo.
"Oh aku kira kamu sendiri ya sudah aku pulang saja," kataku lalu berbalik namun dengan cepat Citra memanggilku.
"Aisyah tunggu," teriaknya.
Aku berhenti di ambang pintu.
"Lebih baik kamu yang menemaninya," katanya.
"Kamu saja, dia lebih butuh kamu daripada aku," sahutnya.
"Ya sudah," kataku lalu masuk ke dalam.
Citra juga ikut masuk tapi dia hanya ingin mengambil tasnya.
"Maaf telah lancang mendahului kamu sebagai istri pertama, tadi pihak kepolisian menghubungi kamu tapi kamu tidak mengangkat telpon jadi semua aku yang putuskan tadi," kata Citra.
"Ya," kataku singkat padat dan jelas.
Citra menatapku dengan tatapan sendu hilang sudah Aisyah yang hangat, hilang sudah Aisyah yang suka bercanda dan hilang sudah Aisyah yang ramah.
__ADS_1
"Aku pulang mas karena aku juga harus kerja," pamit Citra.
"Iya, makasih ya," sahut Celo dengan lirih.
Selepas kepergian Citra, aku duduk di tempat duduk yang tadi di duduki Citra, aku menatap Celo dengan sendu.
Melihat keadaannya yang seperti ini membuat aku iba, lenyap sudah rasa sakit yang dibuatnya.
"Kenapa bisa terjadi? apa kamu nggak hati-hati mas?" tanyaku.
Celo menatapku dengan mata basahnya.
"Bagaimana aku bisa hati-hati kalau kamu meminta pisah dari aku sayang," jawabnya.
Aku menghela nafas dan tersenyum menatapnya.
"Jangan membahas masalah itu lagi, sekarang fokus dengan kesembuhan kamu mas," kataku.
Celo tersenyum lalu memintaku untuk menggenggam tangannya. Dia menggenggam erat tanganku seolah dia tidak ingin kehilangan diriku.
"Aku tidak bisa kehilangan kamu sayang," kata Celo dengan menangis.
Hatiku tercabik melihatnya tapi keruhnya rumah tangga juga karena ulahnya sendiri.
"Aku juga mas tapi semua kamu sendiri yang menghancurkan istana cinta kita mas dengan mendatangkan Citra," sahutku.
Rumah tangga yang adem ayem dihancurkan sendiri dan setelah semua hancur dia baru menyesalinya.
Melanjutkan rumah tangga yang sudah hancur sungguh sangat sulit karena semua telah hilang.
Kepercayaan, cinta dan hangat dalam rumah tangga telah pergi dan yang tersisa hanya perih dan air mata.
**********
Hari berlalu dengan cepat, keadaan Celo cukup membaik dia sudah bisa duduk meski masih dengan bantuan aku.
Selama Celo di rumah sakit tak pernah Citra mengunjungi Celo, dia bak hilang ditelan bumi ada apa dengannya? apa dia baik-baik saja? entahlah.
Hingga suatu malam dia datang dengan membawa makanan untuk Celo.
"Bagaimana keadaan suami kita Aisyah?" tanyanya.
Hatiku meradang, memanas dan sakit mendengar kata suami kita dari mulutnya.
Meksipun kenyataannya dia telah dinikahi secara agama tapi aku tidak mau menganggapnya istri Celo hanya aku istri yang sah.
__ADS_1
"Jangan sebut dia suami kita karena hanya aku satu-satunya istri yang sah," kataku.
"Aku tau Aisyah tapi aku juga istrinya walau hanya nikah di bawah tangan," sahutnya tak mau kalah.
Aku tersenyum menyeringai, kelihatannya Citra ingin bersaing denganku.
Apa aku harus meladeninya? menunjukan siapa dirinya dan dimana tempatnya? entah mengapa aku malah ingin bersaing dengannya, ingin tau seberapa kuat posisi dia dalam hati Celo walaupun nantinya akan ada yang pergi diantara kami.
"Aku ingin tanya padamu Citra, apa yang ada dipikiran kamu saat kamu menjalin hubungan dengan suami orang?" tanyaku.
"Aku tidak memikirkan apa-apa Aisyah, Celo sendiri yang datang padaku, kejadiannya terjadi begitu saja hingga kami saling mencintai dan menyayangi," jawab Citra.
"Tapi seharusnya kamu berfikir dua kali Citra, apa kamu nggak berfikir kalau Celo bisa saja meninggalkan kamu? dan lebih memilih aku?" tanyaku lagi.
Citra tertawa mendengar pertanyaan dariku.
"Mas Celo menginginkan anak dari dulu, kini setelah dia mendapatkan anak, apa kamu pikir dia akan meninggalkan aku," jawab Citra.
Aku terkejut mendengar jawabannya, memang senjata Citra lebih kuat dibanding aku meski statusku lebih kuat darinya.
"Kita lihat saja Citra mana yang akan dia pilih diantara kita," kataku.
Raut wajah Citra berubah, dia menatapku dengan tatapan tak biasa.
"Kenapa kita nggak berdampingan menjadi istri Celo Aisyah, sehari dia bersama kamu sehari dia bisa denganku, jadi dengan begitu tidak akan ada perpisahan diantara kita," sahut Citra.
Ingin sekali aku meremat bibirnya, seenaknya dia bicara seperti itu. Andaikan dia jadi yang pertama apa mau dia hidup berdampingan dengan seorang madu?
"Enak sekali bicara kamu Citra, nggak akan ada ketenangan, karena pada hakekatnya wanita itu memiliki rasa iri, sekarang kamu bisa bilang seperti itu tapi nanti saat kamu melahirkan pasti akan menuntut lebih, sudahlah intinya kita tidak bisa hidup berdampingan harus ada yang mundur di antara kita," kataku.
Citra nampak kesal lalu dia pamit untuk pulang lagipula Celo juga tidur.
Aku mendongakkan kepala berusaha menahan air mata yang jatuh. Sungguh sesak hati wanita yang disakiti oleh suaminya.
"Hamba pasrah dan mengikuti alur ya Tuhan," kataku.
Hari ini adalah hari dimana Celo boleh pulang, aku yang lelah merawatnya sendiri membuat tubuhku kurang fit.
"Kamu pucat sekali sayang?" tanya Celo dengan cemas.
Aku mengangguk dan menatapnya namun pandanganku kabur hingga lama-lama semua nampak gelap dan aku tak tau lagi.
Aku merasa aku berada di tempat yang empuk, dengan tangan yang menggenggam tanganku. Perlahan aku membuka mata kulihat Celo tersenyum menatapku.
Dilihat dari wajahnya dia sangat bahagia, ada apa? aku sakit kok dia malah bahagia?
__ADS_1
"Kamu hamil Sayang,"