
Dengan bantuan Celo, akhirnya Citra bisa masuk dan menjadi perawat di rumah sakit tempat dia bekerja, untuk menghindari pandangan orang Celo meminta Citra untuk bersikap profesional.
Citra mengikuti semua apa yang Celo bilang, baginya bisa bertemu dengan Celo setiap hari sudah cukup baginya.
"Terima kasih ya sayang kamu mengerti aku banget dan nggak menuntut lagi," kata Celo.
"Sama-sama mas," sahut Citra.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya," pamit Celo.
"Iya mas hati-hati ya," sahut Citra
Tiga bulan telah berlalu hubungan Celo dan Aisyah sangat baik begitu pula dengan hubungan Celo dan Citra hingga suatu ketika saat akan berangkat bekerja Citra merasa pusing dan mual.
"Aku kenapa ya, pusing dan mual sekali," kata Citra.
Citra menatap tubuhnya di cermin memang nampak tubuh yang agak gendut dengan perut membuncit.
Citra membolakan matanya dia juga baru sadar kalau tidak datang bulan. Memang sedari kecil siklus menstruasinya tidak teratur, pernah dua bulan tidak menstruasi jadi saat dia tidak menstruasi dia tidak kaget alias biasa saja.
"Apa aku hamil," kata Citra dengan senyuman yang mengembang.
Meski pusing dan mual dia tetap pergi ke rumah sakit dia ingin tes kehamilan di sana.
"Aaaaaaa," teriaknya saat dia mendapati kalau tes kehamilan menunjukkan dua garis merah.
"Astaga aku hamil," katanya lagi dengan menutup mulutnya.
Citra sangat bahagia bahkan tak terasa air mata keluar, dia bergegas keluar dan segera menuju ruangan Celo.
Citra langsung menyusup masuk ke dalam ruangan Celo.
"Kamu ngapain kesini? kan aku sudah bilang jangan kesini," kata Celo.
"Maaf mas, aku mau memberi kabar gembira," kata Citra
"Kabar apa?" tanya Celo.
Citra menunjukan testpack yang menunjukan dia hamil pada Celo, tentu hal ini membuat Celo bahagia.
"Kamu hamil," kata Celo raut wajah yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Citra mengangguk dengan mata yang berkaca, tanpa aba-aba Celo memeluk Citra dengan mata yang berkaca juga.
"Terima kasih sayang, terima maksih," kata Celo dengan menangis.
Akhirnya Citra memberinya keturunan, memberikan kebahagian yang tidak diberikan oleh Aisyah istri pertamanya.
Aisyah beberapa kali pergi ke dokter untuk periksa dan memang dokter menemukan ada masalah yang membuat Aisyah kemungkin kecil memiliki keturunan.
__ADS_1
Aisyah sempat down tapi dia terus berusaha agar mendapatkan momongan dan Celo lah yang selalu support Aisyah namun apa kata dikata berjalannya waktu membuat Celo berubah, melihat teman-temannya memiliki momongan membuat Celo frustasi, dia ingin sekali memiliki anak hingga dia bertemu Citra.
"Udah mas, aku kembali kerja dulu ya," kata Citra.
"Aku sangat bahagia sayang, aku bahagia," ucap Celo.
Dia menghujani Citra dengan banyak kecupan karena telah memberinya keturunan.
Citra tersenyum lebar hingga dia pun punya niatan untuk memiliki Celo seutuhnya.
"Iya mas sama-sama aku juga bahagia karena akan segera menjadi seorang ibu," sahut Citra.
Celo membiarkan Citra untuk pergi karena dia juga ingin bekerja kembali.
"Hati-hati ya, jangan terlalu capek," pesan Celo.
Citra mengangguk senang karena kehamilannya kini Celo lebih perhatiaan padanya.
Jam pulang telah datang, Celo mengantar Citra pulang terlebih dahulu sebelum dia kembali ke rumah sakit lagi.
"Kalau ada yang lihat gimana mas," kata Citra
"Nanti aku bisa cari alasan," sahut Celo.
Sesampainya di rumah kontrakan, Citra dan Celo segera masuk.
Celo merebahkan Citra ke tempat tidur, Celo mendekatkan bibirnya ke perut Citra dan berbicara.
Citra terharu dengan ucapan Celo, dia mengelus rambut Celo dengan lembut.
Celo mengangkat wajahnya lalu menatap Citra yang kini tengah bahagia.
"Boleh aku menjenguknya?" tanya Celo.
"Bisa tapi pelan ya mas," jawab Citra.
Celo mengangguk kemudian dia melepas baju serta celananya.
Dan apa terjadi selanjtnya mereka yang tau.
*********
POV 1
Di sisi lain aku yang tengah mengambil air tiba-tiba gelasnya terjatuh dan pecah. Pikiranku menjadi tak enak, ada apa dengan suamiku?
Aku mengabaikan pecahan gelas, aku menghubungi Celo untuk memastikan dia baik baik saja apa tidak.
Hingga panggilan ketiga, Celo tidak mengangkat panggilanku dan ini membuat aku semakin takut.
__ADS_1
"Angkat dong mas," kataku dengan cemas.
Karena tak bisa aku hubungi, aku mencoba menghubungi rumah sakit dan Suster bilang kalau Celo tengah keluar.
Mataku mengeluarkan air matanya tanpa ada aba-aba dariku.
"Ya Allah mas kamu kemana? kenapa panggilanku tak dijawab?" Aku bermonolog dengan diriku sendiri.
Aku mondar mandir menunggu panggilan balik darinya namun hingga satu jam berlalu Celo tak kunjung mengubungi aku.
Saat ingin ke kamar ponselku berbunyi dan benar saja Celo menghubungi aku.
"Maaf sayang, ponsel ketinggalan di ruangan aku, tadi aku keluar sebentar dengan Dokter Faisal," kata Celo dalam sambungan telponnya.
"Oh, aku hanya cemas mas sama kamu, tiba-tiba pikiran aku nggak enak," ucapku.
"Aku baik baik saja kok sayang, oh ya nanti aku pulang larut ya, ini harus keluar lagi dengan dokter Faisal, ada operasi di rumah sakit yang lain," kata Celo.
Aku memberengut kesal, padahal malam ini adalah malam Jumat waktunya untuk sunah rasul tapi Celo malah keluar padahal aku telah membeli baju kurang bahan untuk persiapan malam Jumat.
"Pulang jam berapa mas?" tanyaku.
"Operasinya sekitar jam sembilan sepuluh, mungkin jam 2 aku sampai rumah sayang," jawab Celo yang membuat aku melemas.
"Kamu nggak bisa ta pulang dulu lalu balik lagi ke rumah sakit," timpalku.
"Nggak bisa sayang waktunya mepet, aku selesai pukul delapan, lalu setengah sembilan aku dan Dokter Faisal berangkat dari sini," pungkas Celo.
"Ya sudah hati-hati ya mas, doa terbaik untuk kamu," kataku lalu memutus sambungan telpon secara sepihak.
Aku sangat kecewa tapi aku juga tidak bisa protes, ku ambil baju kurang bahan yang aku beli lalu menyimpannya ke dalam lemari.
"Lain kali saja aku memakainya," kataku.
Aku membuka laptop milikku dan menulis lagi, lumayan bisa up beberapa episode malam ini, aku juga bisa saling balas komen dengan Reader mungkin dengan begitu aku tidak jenuh dan bisa menghilangkan rasa kecewa aku.
Akun Cilo kali ini juga nongol.
"Kelihatan senang nih," godaku.
Citra membalas komenku langsung ke wa.
"Iya nih Ais, akhirnya aku hamil dan suami aku bahagia sekali," kata Citra.
"Wah selamat ya Cit, aku turut bahagia. Semoga dengan kehamilan kamu suami kamu semakin sayang nggak seperti biasanya," ucapku dengan emot tersenyum.
Mengetahui Citra hamil entah mengapa membuatku ngilu, aku sangat iri padanya. Kenapa wanita lain dengan mudahnya hamil sedangkan aku harus menunggu hingga bertahun-tahun.
Tak terasa air mataku jatuh, mengenang nasib diri yang belum juga memberi keturunan pada suami.
__ADS_1
"Maafkan aku mas karena tak bisa menjadi istri yang sempurna dan terima kasih telah setia padaku," kataku.