
Usia kehamilan Citra sudah semakin besar, dia meminta Celo untuk menjadi suami siaga jadi setiap hari Celo harus tidur di rumah Citra.
"Sayang, aku mau ngomong bentar," kata Celo.
Aisyah mengangguk lalu menutup majalah seputar kehamilan yang dia baca.
"Apa?" tanyanya.
"Kehamilan Citra telah memasuki trimeser terakhir jadi aku harus siaga," jawab Celo.
"Oh silahkan dia kan istri kamu," sahut Aisyah.
"Atau aku bawa dia kesini saja sayang," ucap Celo.
Aisyah menatap Celo dengan tajam, dia keberatan kalau Celo membawa Citra pulang.
"Kamu bisa membawa Citra pulang setelah aku pergi dari sini," kata Aisyah dengan marah.
"Baiklah biar aku yang tidur di rumah Citra, tapi kamu nggak papa kan sayang?" tanya Celo.
Aisyah tersenyum menyeringai.
"Sejak kapan kamu peduli ma aku," kata Aisyah.
"Tentu aku peduli padamu sayang," sahut Celo.
"Udahlah mas, kalau kamu mau menemani Citra monggo, silahkan. Budalo, aku gak opo-opo. Im fine," ucap Aisyah lalu pergi meninggalkan Celo di tempatnya.
Celo menatap punggung Aisyah dengan sendu entah bagaimana lagi supaya bisa membuat Aisyah mau menerima Citra.
__ADS_1
Di sisi lain Reno yang rindu dengan Aisyah mengajak Aisyah untuk bertemu lagi-lagi alasan syuting Reno gunakan supaya Aisyah mau menemuinya.
"Aku jemput ya," kata Reno.
"Nggak usah aku kesana saja," sahut Aisyah dalam sambungan telponnya.
"Nggak nggak aku jemput saja takut kalau anak kita kenapa-kenapa," seloroh Reno dalam sambungan telponnya.
"Astaga Ren," sahut Aisyah.
"Ya sudah aku berangkat, tunggu aku di rumah," kata Reno lalu memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.
Aisyah hanya bisa menggelengkan kepala.
"Anak ini," kata Aisyah lalu bersiap.
Beberapa saat kemudian Reno telah sampai saat dia akan mengetuk pintu keluarlah Celo.
"Aku mau jemput Aisyah," sahut Reno.
"Dengar Reno aku tau kamu temannya dan sekarang menjadi partnernya dalam hal kerjaan tapi dia adalah istriku," kata Celo.
Reno tersenyum lalu menatap Celo dengan tatapan tak biasa.
"Sebelum kamu menasehati aku lebih baik kamu nasehati diri kamu sendiri, apa kamu ini sudah pantas dan layak menjadi seorang suami atau tidak." Reno memancing emosi Celo.
Celo yang kesal mengepalkan tangannya, tanpa ragu dia melayangkan pukulan di wajah Reno.
Reno yang belum siap langsung tersungkur di lantai.
__ADS_1
Dengan menahan sakit Reno beranjak lalu dia membalas perbuatan Celo.
"Brengsek kamu Celo," umpat Reno.
Celo dan Reno saling serang sehingga satpam yang bertugas mencoba melerai perkelahian majikannya.
"Sudah tuan sudah," kata Pak satpam mencoba melerai.
"Diam," sahut Reno dan Celo lalu meninju pak satpam barengan.
"Haduh haduuuuh haduh! yok opo seh iki kok malah aku yang ditinju," kata pak satpam dengan logat Surabaya.
Karena kesal pak satpam malah menjadi wasit perkelahian antara Celo dan Reno.
"Ayo hajar tuan," kata Satpam.
Reno yang tak mau kalah membalas pukulan Celo, Aisyah yang baru keluar sungguh kaget melihat Celo dan Reno bertengkar.
Wajah Celo dan Reno nampak babak belur karena pukulan yang mereka layangkan.
"Stop," teriak Aisyah.
Celo dan Reno menatap Aisyah lalu mereka berhenti.
"Kalian ini apa-apaan," maki Aisyah.
Celo dan Reno duduk lemas di halaman, mereka tidak memiliki tenaga lagi.
"Kenapa kok bertengkar seperti anak kecil," omel Aisyah.
__ADS_1
Melihat luka Reno dan Celo membuat Aisyah masuk kembali ke dalam untuk mengambil kotak obat.
"Produser dan Dokter baku hantam di depan rumah. Astaga heran ma mereka," kata Aisyah.