
Dalam mobilnya Aisyah menangis, malam ini juga dia memutuskan untuk pergi dari hidup Celo dan Citra, dia ingin Celo fokus dengan anaknya kalau Aisyah terus di rumah mereka Celo pasti mengabaikan Citra dan anaknya.
Ini semua Aisyah lakukan demi anak Celo, kasian jika anak yang tidak bersalah harus menjadi korban. Biarlah dia mengalah, dia yakin kalau nanti pasti ada kebahagiaan untuknya.
Sesampainya di rumah Aisyah segera mengemas barang-barangnya, sebelum pergi bola matanya memutar melihat setiap sudut kamarnya sebenarnya dia untuk melihat kamar Celo yang sebelumya merupakan kamar mereka selama bertahun-tahun namun Aisyah mengurungkan niatnya karena Celo pernah bercinta di sana dengan Citra.
"Selamat tinggal istanaku, terima kasih atas semuanya," kata Aisyah.
Aisyah turun dengan membawa koper kebetulan bibi yang keluar kamar melihat Aisyah.
"Non mau kemana?" tanya Bibi
"Saya mau pulang bi, mungkin tidak akan kembali ke rumah ini," kata Aisyah.
"Apa non," kata Bibi kaget.
"Saya sudah berusaha kuat tapi saya bukan wanita pilihan yang menyetujui poligami bi, saya tidak bisa dipologami," ucap Aisyah dengan menangis.
"Saya sudah memberinya kesempatan namun mas Celo tidak berubah jadi lebih baik saya mundur," imbuhnya.
Bibi menangis, sungguh berat berpisah dengan majikannya, bagaimanapun juga bibi telah mengabdi saat Aisyah dan Celo baru membina rumah tangga.
__ADS_1
"Ajak bibi non, biarkan bibi bersama non Aisyah," pinta bibi.
"Ya sudah nanti bibi saya hubungi ya, untuk saat ini bibi jaga mas Celo dulu kasian kalau bibi ikut saya malam ini," ucap Aisyah.
"Baiklah non," sahut bibi pasrah.
Bibi dan Aisyah berpelukan, berat sekali meninggalkan rumah ini tapi bagiamana lagi Celo telah menghancurkan semuanya.
Aisyah bermalam di hotel dia tentu tidak mungkin pulang ke rumah orang tuannya malam malam begini, bisa saja Aisyah tinggal di rumahnya dengan Celo tapi Aisyah enggan untuk bertemu Celo, keputusannya sudah bulat untuk berpisah jadi dia tidak ingin goyah lagi.
Benar saja keesokannya, Celo pulang dan mencari Aisyah. Setelah mengelilingi semua rumahnya Celo baru bertanya dimana keberadaan Aisyah.
Celo mematung dan berlari ke kamar Aisyah dia membuka lemari dan benar saja baju Aisyah sudah tidak ada.
"Sayang kamu benar-benar pergi," kata Celo dengan mata yang basah.
Kenangan manis tentang Aisyah telah masuk ke dalam pikiran Celo membuatnya semakin terisak, penyesalan menyeruak masuk ke dalam hati Celo membuatnya tak kuasa dan tak ingin berpisah tapi bagaimana dengan Citra dan anak yang baru dilahirkannya?
"Andai saja waktu itu aku tidak berjumpa dengan Citra pasti semua ini tidak akan terjadi, maafkan aku sayang karena telah merusak rumah tangga kita yang sekian tahun kita bina," ucap Celo.
Celo terisak mengingat semuanya dia sungguh tak bisa pisah dari Aisyah.
__ADS_1
Lama Celo menangisi kepergian Aisyah hingga suara dering ponselnya berbunyi.
Citra memanggil.
Celo segera mengangkat panggilan dari Citra.
"Ada apa?" tanya Celo.
"Temani aku mas," jawab Citra.
"Baiklah," sahut Celo lalu memutuskan sambungan telponnya.
Celo yang harus bekerja meminta bantuan bibi untuk menjaga Citra dan anaknya, meski di sana banyak perawat tapi tidak seperti kalau dijaga sendiri.
"Ini ada bibi, kamu dengan beliau dulu karena aku harus ke rumah sakit," kata Celo.
"Baiklah mas hati-hati," sahut Citra.
Citra merasa kalau Celo sedikit berubah, dia sedikit ketus.
"Entahlah mungkin perasaan aku aja," batin Citra.
__ADS_1