Maduku ternyata Readerku

Maduku ternyata Readerku
Heran


__ADS_3

"Papa papa memangnya kamu ikutan nyumbang," sahut Aisyah dengan kesal.


"Kamu mau ta aku sumbang sekarang," goda Reno yang membuat Aisyah berteriak.


"Renoooooooo," teriak Aisyah.


Meskipun berteriak tapi alam bawah sadar Aisyah membayangkan dia dan Reno di atas ranjang bersama.


"Astaga astaga, astagfirullah nggak nggak. Ini nggak boleh terjadi," kata Aisyah dengan menggelapkan kepalanya.


Reno hanya tertawa dia tahu kalau Aisyah pasti membayangkan dirinya.


"Kamu membayangkan kita di atas ranjang ya." Reno menggoda Aisyah lagi.


"Iya eh eh enggak," sahut Aisyah.


Dirinya sungguh malu bagaimana bisa dia bersikap seperti ini.


Keasikan bercanda tak terasa mobil Reno sudah sampai di depan rumah Aisyah, nampak mobil Celo juga sudah terparkir di garasi.


"Makasih ya Ren, maaf merepotkan kamu," kata Aisyah.


"Nggak repot kok malah aku mau ngelamar jadi sopir pribadi kamu," sahut Reno dengan terkekeh.


"Astaga Ren, kamu tuh udah jadi produser terkenal udah punya perusahan perfilman masak iya masih aku jadi supir pribadi aku," timpal Aisyah.


"Nggak sanggup bayar aku," imbuh Aisyah dengan tertawa.


"Nanti biar aku yang bayar perbulan, tak hanya sopir aku juga akan jadi tempat kamu sharing dan teman ranjang kamu." Reno terus saja menggoda Aisyah.


"Apaan sih Ren, udah ah aku mau turun," kata Aisyah lalu turun.


Reno menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia sungguh heran dengan sikapnya sendiri, entah kenapa dia malah kepikiran untuk membangun relationship dengan Aisyah.


Tak ingin berlama-lama di depan rumah Aisyah Reno pun melajukan mobilnya.


Di sisi lain Aisyah tersenyum sendiri sungguh Reno pandai sekali bergombal.


Saat hendak naik tangga Celo dari arah berlawanan menatap Aisyah dengan sinis.


"Mari kita bicara," ajak Celo.


Celo membawa Aisyah ke dalam ruang kerjanya, dia yang melihat Aisyah diantar oleh seorang pria nampak cemburu, api di dalam dirinya berkobar melihat Aisyah tersenyum pada pria lain.

__ADS_1


"Apa maksud kamu minta diantar pria lain? ingat kamu itu wanita bersuami," maki Celo.


Aisyah menatap Celo dengan tersenyum.


"Kamu sakit kan melihat istri kamu diantar pria lain? sakit kan saat istri kamu tersenyum manis pada lelaki lain. Lantas bagaimana dengan aku mas, yang kamu tikam dari belakang, yang kamu selingkuh, kamu bohongin setiap saat setiap waktu, aku jauh lebih sakit mas, beribu kali lebih sakit dari apa yang kamu rasakan saat ini," kata Aisyah dengan mata yang basah.


"Maafkan aku Aisyah tapi aku sungguh tak bisa hidup tanpa kamu," kata Celo dengan mata yang basah.


Aisyah tertawa mendengar kata Celo, mana ada yang tidak bisa hidup tanpanya tapi malah asik main dengan perempuan lain.


"Sudahlah mas, jangan lawak. Dimana-mana tempatnya kalau lelaki itu cinta mati sama istrinya dia nggak akan selingkuh tapi bagaimana dengan kamu," sahut Aisyah.


"Aku khilaf," timpalnya.


Aisyah semakin tertawa.


"Mas mas, kamu ini bilang khilaf tu sadar apa nggak. Yang namanya khilaf itu nggak akan berlanjut mas, main sekali nyesel dan nggak kan ngilangin lagi itu baru yang namanya khilaf la ini berkelanjutan sampe beberapa episode terus menikah dan hamil," ungkap Aisyah dengan tertawa sambil menggelengkan kepala.


Celo hanya terdiam menatap Aisyah, dia bingung mau berkata apa lagi intinya dia tidak suka Aisyah dekat dengan pria lain yang bukan muhrimnya.


"Tenang mas, aku ngga akan membalas perbuatan kamu, aku dan Reno bertemu karena memang ada hal yang kita bahas," ucap Aisyah lalu masuk ke kamarnya.


Aisyah berdiri di balkon untuk menatap hamparan langit yang cerah dengan ribuan bintang.


"Aku kangen sayang," bisik Celo.


"Lepas mas," kata Aisyah berusaha melepas pelukan Celo.


"Berilah aku kesempatan lagi, aku janji akan meninggalkan Citra," ucap Celo.


Aisyah menghela nafas, dia sungguh kesal dengan Celo yang mempermainkan perasaan wanita.


"Nggak mas, aku sudah puas kamu sakiti. Kenapa kamu baru sekarang bilang kalau ingin meningkatkan Citra kenapa nggak dari dulu," kata Aisyah dengan menangis.


"Aku baru menyadari kamu sangat berarti sayang," ucap Celo.


"Sudahlah, lebih baik kita fokus ke masa depan kita masing-masing," kata Aisyah.


Aisyah memohon pada Celo supaya melepaskan pelukannya karena dia ingin istirahat.


Mau nggak mau Celo melepaskan pelukannya lalu keluar dengan hati yang kecewa.


Aisyah menatap kepergian Celo dengan mata yang basah.

__ADS_1


"Selingkuh itu bukan sebuah kekhilafan mas tapi sebuah penyakit yang mana sewaktu-waktu bisa kambuh. Citra lebih membutuhkan kamu daripada aku. Aku masih memiliki orang tua dan para sahabat yang care padaku sedangkan dia hanya punya kamu apalagi keadaannya yang tengah hamil besar," kata Aisyah.


Celo yang mendapatkan penolakan dari Aisyah semakin frustasi, dia bingung harus bagaimana dia baru menyadari arti Aisyah dalam hidupnya, dibanding Citra tentu Aisyah memiliki arti yang lebih besar.


Saat bingung memikirkan Aisyah, tiba-tiba Citra muncul.


Dia mendekati Celo yang tengah duduk di rumah tengah.


"Citra!" teriak Celo


"Kamu kenapa di sini?" tanya Celo kemudian.


"Aku sengaja datang kesini untuk mencari kamu mas, kamu nggak bisa dihubungi sedangkan perut aku selalu sakit tiap malam," jawab Citra.


Melihat Citra dengan perut besarnya membuat Celo iba apalagi wajahnya nampak pucat.


"Kamu istirahat di kamar dulu sayang," kata Celo lalu menuntun Citra masuk ke dalam kamarnya.


Citra nampak senang untung dia tadi mempunyai ide untuk pergi ke rumah Celo coba kalau tidak pasti dia kini meringkuk sendiri di rumah.


"Mas kandunganku sudah semakin besar, kamu seharusnya paham mas dan meluangkan banyak waktu untuk aku, apa kamu mau anak kita kenapa-kenapa," kata Citra.


Celo sungguh bingung dengan perasaannya, tadi dia sungguh yakin untuk meninggalkan Citra namun saat melihat Citra dan perutnya Celo jadi mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Citra.


Kesokannya bibi mengadu pada Aisyah bilang kalau semalam ada wanita cantik yang mencari Celo.


"Itu istri tuan yang lain bi," kata Aisyah.


"Astaga Non jadi selama ini non dimadu?" tanya bibi tak percaya.


"Baru satu tahun yang lalu bi," jawab Aisyah sambil tersenyum.


"Anda wanita yang baik non bibi yakin pasti ada akan ada kebahagian untuk non, bibi yakin itu," sahut bibi dengan menatap Aisyah iba.


Beberapa waktu kemudian Citra dan Celo turun, Aisyah menatap Celo dengan tatapan sinis.


Perasaan Semalam bilang kalau akan meninggalkan Citra la ini malah keluar dari kamar berdua dengan rambut yang basah.


"Astagfirullah model wong Lanang koyok opo Yo Iki, heran aku. Bengi kedelai isuk tempe," kata Aisyah dengan menggelengkan kepala.


(Astagfirullah, ini laki2 model apa ya, heran aku.


malam kedelai isuk tempe.

__ADS_1


__ADS_2