
Tak bisa dipungkiri ada rasa lelah pada diri Citra akan sikap Celo yang menurutnya tidak adil pada dirinya dan istri pertama Celo.
Ingin menyerah dan meninggalkan Celo tapi rasa cinta yang besar pada Celo membuatnya buta dan bodoh.
Dia pikir menjadi yang kedua akan dinomorsatukan oleh Celo namun kenyataannya tidak sesuai ekspektasi yang dia harapkan.
"Bagaimana caranya mas agar kamu lebih perhatian sama aku daripada istri pertama kamu itu." Batin Citra dengan menangis.
Hatinya sungguh lelah, lelah menanti, lelah menunggu dan lelah menahan keinginan untuk selalu bersama sang suami.
Tengah malam Celo terbangun, dia segera memakai pakaiannya lalu menatap sang istri yang tengah tertidur pulas.
Celo yang haus berjalan keluar untuk mengambil air saat itulah dia teringat akan Citra yang tidak dia hubungi sama sekali.
Celo mengambil ponsel di kamar dan membuka blokiran nomor Citra, dia yang malas untuk mengambil ponsel satunya di dalam mobil lebih memilih menggunakan ponsel umum miliknya.
"Sayang." Celo mencoba mengirim peran pada Citra.
Citra yang belum tidur tentu segera membalas pesan Celo.
"Kiraen udah lupa sama aku," balas Citra.
"Kok gitu sih sayang," balas Celo.
"La gimana mas, aku sedari tadi nungguin pesan dari kamu, aku tuh sedih tau nggak," kata Citra.
"Sabar dong sayang," sahut Citra.
"Sabar sabar, aku udah sabar banget mas, level tertinggi," timpal citra.
Celo mengirim emot orang frustasi, dia tidak tau lagi mau ngomong apa.
"Ya sudah lebih baik kamu tidur," kata Celo.
"Jangan, aku kangen mas," cegah Citra.
Celo kembali ke kamar untuk memastikan Aisyah, dirasa Aisyah tidur dengan lelap Celo pergi ke ruang kerjanya untuk menghubungi Citra.
"Aku kangen tau nggak," kata Citra dengan bibir yang maju.
"Kan kemarin udah ketemu nanti lagi aku cari alasan agar aku bisa pulang," sahut Celo.
Tapi kapan mas," protes Citra.
"Ya sabar dong sayang, suami kamu ini seorang dokter, jadi harus membagi waktu dulu," ucap Celo.
"Sabar sabar dan sabar terus bisa nggak mas kamu tuh adil gitu aku juga istri kamu mas," kata Citra dengan menangis.
Celo mengusap rambutnya kasar, dia tidak menyangka memiliki dua istri membuatnya puyeng sendiri.
Di sini ada Aisyah yang tidak mungkin dia tinggalkan di sana ada Citra yang menuntut untuk selalu ditemui.
__ADS_1
"Entahlah Citra," kata Celo yang memanggil Citra dengan namanya bukan sayang lagi.
Celo memutuskan sambungan telponnya secara sepihak, dan Citra mengirim pesan pada Celo.
"Kita belum selesai bicara mas," kata Citra.
Celo hanya membaca pesan Citra lalu memblokirnya nomor Citra kembali.
Dia yang pusing ingin menghubungi Citra lagi keesokan harinya.
Celo kembali ke kamar dan memeluk Aisyah yang tidur pulas.
Di sisi lain Citra menangis histeris, dia membuang bantal dan guling ke lantai, dia merasa sakit diperlakukan Celo seperti ini.
"Mas Celo kamu brengsek mas," teriak Citra.
"Apa salah aku mas," katanya dengan menangis.
Sepanjang malam Citra menangis hingga pagi hingga matanya nampak sembab.
Tepat pukul enam Citra bisa tidur, dia sengaja mengirimkan pesan pada Celo dan minta pisah, dia lelah begini terus, menjadi nomor dua dan dinomorduakan itu nggak enak banget jadi dia minta Celo untuk tegas atau pisah.
Sumpah telah dibuat di hadapan Tuhan meski dibilang menyalahi aturan karena tidak meminta ijin istri pertama tapi ijab Qabul telah diucap, suka nggak suka mau nggak mau Celo harus tetap adil padanya begitulah menurut Citra.
Hari ini Celo libur lagi, Aisyah meminta Celo untuk menemaninya belanja, ingin sekali dia pergi ke malang untuk menemui Citra tapi Aisyah sudah menekankan kalau libur kali ini harus di rumah.
"Kalau dokter Faisal telpon biar aku yang angkat, enak saja menyuruh kamu untuk kerja terus, aku juga butuh kamu bukannya dokter Faisal saja lagian kan ada banyak dokter lain kenapa harus kamu," protes Aisyah.
Seusai belanja, Celo dan Aisyah bersantai di ruang tengah.
"Sayang, apa permintaan kamu?" tanya Celo.
"Aku pengen punya anak," jawab Aisyah dengan sendu.
Celo mengangkat wajah Aisyah, dia menatap lekat wajah istrinya dengan lekat.
"Jangan bahas anak karena itu akan membuat kamu sedih," kata Celo.
"Aku takut mas, kamu akan meninggalkan aku," ucap Aisyah.
"Siapa yang bilang? aku tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan kamu sayang," bujuk Celo.
"Tapi aku takut kalau kamu memiliki wanita lain mas, aku takut kalau kamu mencintai wanita lain dan menduakan aku," kata Aisyah yang membuat Celo terdiam.
Melihat Celo terdiam membuat Aisyah curiga, apa benar Celo telah memiliki waktu lain seperti praduganya beberapa waktu yang lalu?
"Kamu kenapa diam mas?" tanya Aisyah.
"Enggak papa kok sayang," jawab Celo.
"Jangan bilang kalau kamu punya wanita lain mas karena jika itu benar terjadi aku akan minta pisah sama kamu, aku nggak mau dimadu," ancam Citra yang membuat Celo semakin frustasi.
__ADS_1
Di sisi lain Citra meminta pisah jika nggak adil di sisi lain Aisyah juga minta pisah jika Ceko berbohong.
"Apa yang harus aku lakukan," batin Celo dengan mata yang basah.
Celo menggelengkan kepala dan menatap sendu Aisyah.
"Kejam sekali dirimu sayang menuduh aku memiliki wanita lain padahal kamu tau kalau aku hanya mencintai kamu, menyayangi kamu seorang please jangan ragukan itu sayang," kata Celo.
"Maafkan aku mas, yang telah membuat aku terluka dengan ucapan aku," ucap Aisyah.
Tak ingin larut dalam kesedihan Celo mengganti topik pembicaraan mereka.
"Apa impian kamu sayang?" tanya Celo.
"Aku ingin pergi ke tanah suci bersama kamu," jawab Aisyah.
Celo tersenyum.
"Nanti kalau aku bisa ambil cuti kita umroh bersama ya," kata Celo dengan memeluk Aisyah.
Tak berselang lama ponsel Celo berbunyi, ada panggilan dari rumah sakit, ada pasien korban kecelakaan yang harus di operasi.
"Siapkan ruang operasinya, dua puluh menit saya sampai," kata Celo.
Celo menutup sambungan telponnya.
"Dari rumah sakit sayang, ada pasien korban kecelakaan harus segera di tangani," kata Celo.
Dilihat dari wajahnya Celo nampak serius dan tidak ada kebohongan sehingga Aisyah pun percaya.
"Ya sudah ayo aku bantu siap-siap," kata Aisyah.
Setelah siap Celo segera berangkat, dia mengemudikan mobilnya cukup kencang sehingga tidak memerlukan waktu sampai dua puluh menit.
"Sudah siap semuanya?" tanya Celo.
"Sudah dok," jawab suster.
Celo dan Dokter lainnya masuk ke dalam ruang operasi, dia segera mengoperasi pasiennya.
Satu jam berlalu operasi pun selesai dengan lancar.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar, semoga saja pasien baik baik saja," kata Celo pada keluarga pasien.
Celo pergi ke ruangannya untuk istirahat, lalu ke mobil untuk mengambil ponsel satunya.
Benar saja banyak pesan dari Citra, dia meminta pisah dari Celo karena Celo tidak bisa adil.
Celo yang frustasi segera menghubungi Citra namun tidak diangkat oleh Citra sehingga Celo mau nggak mau menemui Citra di malang.
"Sayang, maaf keliahatannya aku pulang larut, ada masalah di rumah sakit." Celo mengirimkan pesan pada Aisyah.
__ADS_1