
Sikap Aisyah yang cuek membuat Celo frustasi hingga dia marah-marah pada Citra.
Terkadang Celo juga tidak menemui Citra.
"Kamu ini kenapa sih mas dari kemarin diam aja," protes Citra.
"Aku lagi sedih, Aisyah benar-benar diam sekarang," kata Celo.
"Ya tapi jangan membawa permasalahan kamu dengan Aisyah ke hubungan kita dong mas," sahut Citra dengan cemberut.
"Iya aku tau, maaf," timpal Celo.
"Ya sudah, aku pulang dulu," imbuhnya lalu beranjak dari sofa.
Citra yang kesal membuang bantal sofa ke lantai, dia sangat kesal dengan Celo yang memperlakukannya sungguh tak adil. Baru saja dia merasakan jadi istri Celo yang seutuhnya tapi kini Celo kembali galau.
"Aisyah, Aisyah, apa istri pertama kamu begitu bearti buat kamu mas?" kata Citra dengan menangis.
Tentu istri pertama sangat berarti bagi seorang suami berbeda dengan istri kedua yang hanya tempat penat sesaat ketika ada masalah dengan istri pertama.
************
Hari ini Aisyah tengah sibuk menulis cerita, dia ingin merevisi semua ceritanya supaya lebih bagus dan saat bersamaan Diana menelpon.
"Aisyah ketemuan yuk, ada kabar bahagia buat kamu," kata Diana dalam sambungan telponnya.
"Apa Din?" tanya Aisyah.
"Udah ketemu dulu," jawab Diana.
Aisyah awalnya malas untuk datang tapi dipikir-pikir akhirnya ada baiknya juga menemui Diana siapa tau kabar dari Diana adalah kabar baik.
"Ya udah deh," kata Aisyah.
Aisyah segera ganti baju untuk pergi menemui Diana di sebuah kafe.
Setibanya dia kafe nampak Diana bersama David Reno, mereka nampak membicarakan sesuatu.
"Halo bestie," sapa Aisyah.
"Halo Aisyah," balas Reno dan Diana bersamaan.
Aisyah langsung duduk di samping Reno.
"Ada apa?" tanya Aisyah.
"Ini Lo Aisyah, ternyata Reno memiliki perusahan perfilman, tak di sangka dia juga seorang produser, aku kira dia seorang pengusaha sukses tapi malah lebih dari itu," jawab Diana.
"Lalu hubungannya dengan aku tuh apa Din?" tanya Aisyah.
Diana menghela nafas.
"Enaknya diapakan nih Ren," kata Diana yang membuat Reno menaikkan bahunya.
"Astaga Aisyah, apa Celo membuat kamu jadi oon gini," ucap Diana lagi dengan menatap Aisyah.
"Apaan sih Din, kan benar kata aku," timpal Aisyah.
"Ya ini berita bagus yang aku bilang tadi," ucap Diana yang semakin membuat Asiyah bingung.
Aisyah menaikkan bahu juga, dia tak tau apa maksud Diana yang menurutnya sangat berbelit-belit.
__ADS_1
"Kamu tau nggak film Mayat-mayat Cinta?" tanya Diana kesal.
"Tau yang pada mati karena virus cinta kan?" tanya Aisyah balik.
"Betul, seperti kamu," jawab Diana dengan tertawa.
"Tawa terus," sahut Aisyah.
Diana menghentikan tawanya lalu dia menjelaskan semua pada Aisyah.
"Kamu kan penulis tuh, kamu bisa memberikan naskah kamu ke Reno, siapa tau Reno tertarik dengan naskah kamu dan bisa dijadikan film seperti film mayat-mayat cinta," jelas Diana.
Aisyah tersenyum lalu menatap Reno.
"Benar Ren?" tanya Aisyah.
"Benar, kalau kamu bersedia," jawab Reno
"Wah bersedia banget," sahut Aisyah.
Saat asik mengobrol nampak Diana mendapatkan sebuah panggilan telpon dari suaminya.
"Iya ya, aku segera pulang," kata Diana di sambungan telponnya setelah itu dia pamit untuk pulang.
"Kok sudah pulang sih Din," protes Aisyah.
"Maaf ya, suami aku nyuruh pulang," kata Diana.
"Ya sudah pulang sana," sahut Reno.
Setelah kepulangan Diana, David Reno dan Aisyah mengobrol kembali.
"Aku nggak nyangka loh Ren," kata Aisyah.
"Apa Ren?" tanya Aisyah.
"Pendamping hidup," jawab Reno dengan terkekeh.
"Astaga, kamu tuh ganteng, kaya, seorang produser terkenal pasti banyak lah yang antri," sahut Aisyah dengan tertawa.
Reno tertawa mendengar kata Aisyah hingga tiba-tiba perut Aisyah terasa kencang karena ditendang dari dalam.
"Aaaahhhhh," teriak Aisyah dengan memegangi perutnya.
"Ada apa?" tanya Reno panik.
"Bayi aku menendang," jawab Aisyah.
Reno yang ingin merasakannya meminta ijin Aisyah untuk memegang perutnya.
"Aisyah boleh aku ikut merasakannya?" tanya Reno.
Aisyah nampak bingung antara mengijinkan atau menolak keinginan Reno hingga dia akhirnya mengijinkan Reno untuk memegang perutnya.
Yang benar saja saat tangan Reno menyentuh perut Aisyah dia merasakan bayi di dalam menendang perutnya.
"Wahhhhh dia nendang Aisyah," kata Reno.
Reno yang sangat senang meletakkan tangannya kembali dan benar saja lagi-lagi calon bayi di dalam menendang lagi.
"Dia aktif sekali Ren," kata Aisyah dengan tersenyum bahagia.
__ADS_1
Saat itulah dia teringat akan Celo, seharunya Celo yang seperti apa yang dilakukan Celo bukannya orang lain.
Raut wajah yang senang berubah menjadi mendung bahkan mata Aisyah berkata-kata.
"Maaf Aisyah," kata Reno tak enak.
"Iya nggak papa," sahut Aisyah.
Reno mencoba menghibur Aisyah dengan candaannya dan untungnya Aisyah bisa tersenyum lagi.
Reno tau masalah Aisyah dan Celo tapi Reno tidak ingin bertanya dia takut kalau Aisyah tersinggung.
Reno dan Celo sempat saling mengobrol saat acara pernikahan Aisyah dan Celo beberapa tahun yang lalu.
Mereka juga sempat beberapa kali bertemu di sebuah acara.
"Aku ada sebuah kisah Ren yang aku tulis menjadi sebuah novel," kata Aisyah.
"Benarkah," sahut Reno.
"Iya," timpal Aisyah.
"Coba nanti kamu kirim, kalau ceritanya bagus aku coba untuk buat film semoga banyak yang minat," kata Reno.
Aisyah menatap Reno dengan tatapan tak percaya, dia mencubit tangannya dan dia merasakan sakit.
"Kamu yakin Ren," kata Aisyah.
"Yakinlah memangnya aku bohong," sahut Reno.
Aisyah dan Reno saling bertukar nomor ponsel, Reno juga memberikan alamat email pada Aisyah untuk memudahkan Aisyah mengirim naskah.
Semenjak saat itu Reno dan Aisyah saling mengirim pesan untuk membahas masalah novel, dia sungguh tertarik dengan novel Aisyah, saat Reno membaca beberapa episode, dia dapat merasakan betapa sakitnya Aisyah saat Celo menikahi wanita lain.
"Kamu wanita yang hebat Aisyah, menumpahkan sakit hati kamu menjadi sebuah karya yang luar biasa," kata Reno dengan tersenyum.
Reno dan Aisyah sering bertemu guna membahas naskah revisi sebelum naskah tersebut diserahkan pada bawahannya.
"Semoga lancar dan sukses ya Aisyah," kata Reno.
"Makasih ya Ren, sungguh aku tak tau harus bilang apa sama kamu. Aku bahagia sekali," kata Aisyah dengan mata berkaca.
"Sudahlah Aisyah kita kan musuh sejati jadi harus saling support," kata Reno dengan tertawa.
Aisyah pun ikut tertawa.
Tak terasa hari semakin larut, Aisyah pamit untuk pulang.
"Aku pamit ya Ren, gak bawa mobil soalnya," kata Aisyah.
"Ya sudah aku antar ya," sahut Reno.
"Nggak usah," timpal Aisyah.
"Nggak papa, ayo," ucap Reno yang langsung saja menarik tangan Aisyah.
Di dalam mobil perut Aisyah terasa sakit karena yang di dalam ada yang menendang dan Reno minta ijin lagi untuk menyentuhnya.
Apa mungkin anak dalam kandungan Aisyah merindukan sentuhan ayahnya? sehingga saat dekat dengan Reno si calon jabang bayi selalu menendang dengan kuat? entahlah.
Reno sangat bahagia bisa merasakan gerakan calon bayi yang ada di dalam perut Aisyah, dia juga ingin memiliki seorang anak tapi apa daya jodoh saja tak kunjung datang.
__ADS_1
"Tenang ya sayang, papa selalu di dekat kamu kok," seloroh Reno yang membuat Aisyah menatapnya.