Maduku ternyata Readerku

Maduku ternyata Readerku
Siasat


__ADS_3

Perlahan aku membuka mataku, aku tersenyum dan bersyukur hari ini karena aku masih bisa bernafas, aku masih bisa bangun dan aku masih bisa melihat Celo suamiku.


Aku menatapnya dengan lekat, sungguh indah mahkluk Tuhan di samping aku ini. Wajahnya sungguh manis dan rupawan namun sayang hatinya tak seindah wajahnya.


Perlahan memori tentang Citra dan dia mulai masuk dalam ingatanku, aku kembali sakit saat mengingat foto dalam status Citra.


Aku berharap itu semua hanya mimpi malam ini dan berharap tidak benar-benar terjadi namun semua memanglah terjadi.


Dengan mata yang basah aku pergi ke kamar mandi kemudian memulai aktivitasku seperti biasa.


"Masak apa bi?" tanyaku pada art


"Ini non bibi masak sayur lodeh sama ikan gurami dan tempe," jawabnya.


"Wah mantap tuh, oh ya nanti bekal mas Celo biar aku yang siapkan ya bi," kataku.


"Oh ya non, kemarin kan bibi masak sayur balado terong sama ikan teri, bibi lupa kalau tuan Celo tidak suka balado, tapi pas bibi lihat kotak makannya kosong lo bahkan setiap hari bekal makanan tuan Celo selalu kosong berbeda dengan dulu, kalau dulu pasti adalah sisa-sisa sayur," ungkap bibi.


Aku mengerutkan alis, apa benar yang bibi katakan? memang selama ini aku tidak mengecek kotak makannya, aku hanya meletakan tempat makan yang kotor di dapur.


"Coba bi nanti kasih sayur yang banyak, siapa tau mas Celo mulai suka sayur," kataku.


"Oh ya sayurnya sayur apa?" tanyaku.


"Nangka muda," jawab bibi.


Celo sama sekali tidak suka sayur nangka muda, aku ingin lihat apa dia menghabiskannya atau tidak.


Setelah menyiapkan bekal makanan untuknya aku kembali ke kamar dan aku melihat Celo sudah siap pakaian kerjanya.


"Mas kamu hari ini nggak pulang larut kan?" tanyaku.


"Kenapa sayang?" tanyanya balik.


"Aku mau mengajak kamu makan malam diluar lama kita nggak makan diluar," jawabku.


"Lihat nanti ya sayang, karena biasanya ada operasi dadakan," sahutnya.


Aku mengangguk, ingin protes tapi aku urungkan, setelah segalanya siap aku mengantar Celo ke depan.


"Hati-hati ya mas," kataku lalu melambaikan tangan.


Selepas kepergian Celo aku masuk kedalam kamar, kuambil ponsel dan aku mengirim pesan pada Citra.


Aku ingin mengorek informasi darinya, pikirku dengan mendapatkan informasi dari Citra aku bisa menggagalkan rencana Celo untuk mengunjunginya di luar kota.

__ADS_1


"Pagi Citra, lagi apa?" tanyaku.


Kulihat dia sedang online tapi tak kunjung membalas pesanku hingga saat aku ingin menutup wa aku dia baru membalas.


"Sorry Aisyah, ini lagi nunggu suami jemput aku," balasnya.


Deg...


Hariku berdesir membaca pesan dari Citra.


"Dia menunggu suaminya? apa Citra kini juga di Surabaya?" aku bertanya-tanya dalam hati.


"Kamu dia Surabaya?" tanyaku.


"Iya, aku nyusul suami aku di Surabaya, aku juga kerja di rumah sakit yang sama dengannya," balasnya.


Mataku basah, sungguh aku tak menyangka mereka bisa berbuat ini padaku.


Aku menangis membayangkan betapa kejamnya dia dan Celo, pantas saja Celo tidak pernah meminta jatahnya, pantas saja dia selalu pulang larut dan pantas saja di selalu berangkat pagi.


Mengingat hal itu semua aku tertawa, aku seperti orang gila yang tertawa dalam tangis menertawakan betapa bodohnya diriku selama ini.


Puas menangis dan tertawa aku membalas pesan Citra.


"Main dong Cit ke rumah aku, aku pengen ketemu." Aku mengirim pesan lagi.


Lama Citra tidak membalas pesanku, aku meletakkan ponselku.


Di balkon aku merenung, apa yang seharusnya aku lakukan? berpisah dengan Celo atau bagaimana? hatiku benar-benar sakit.


"Aku sangat mencintai kamu mas, menyayangi kamu dengan segenap jiwa dan ragaku.


Ingin sakinah bersama kamu, ingin menua bersama kamu tapi setelah kamu mendua seperti ini hancur semuanya, pudar keinginan mawadah bersamamu, Citra datang dan menghancurkan semuanya. Menghancurkan dongeng indahku bersamamu,"


Citra dan Celo telah membangun dongen mereka sendiri, dongeng yang mereka bangun di atas hancurnya dongengku.


Puas memikirkan Celo dan Citra aku kembali masuk ke dalam, kuambil ponsel dan ternyata Citra telah membalas pesanku.


"Besok hari minggu saja, aku main bersama suamiku," balasnya.


"Ok aku tunggu, nanti aku share alamatku," balasku.


Tiba-tiba sebuah rencana muncul di otakku, aku ingin mempertemukan Citra dan Celo di rumah, aku ingin melihat bagaimana ekspresi Celo dan Citra saat bertemu di rumahku, apa mereka akan mengakui hubungan terlarang mereka? atau mereka menyangkal atau mungkin mereka pura-pura tidak saling mengenal.


Senyuman mengembang, aku tidak sabar menunggu hari minggu besok.

__ADS_1


*********


Aku dan Citra saling mengirim pesan hingga aku tau kalau sore ini Celo dan Citra ingin jalan-jalan. Kata Citra Celo ingin memanjakan Citra karena telah memberinya seorang anak.


Membaca pesan Citra membuat aku memanas, rasanya darahku mendidih, ingin aku memakinya dan bilang kalau Celo adalah suamiku, lelaki yang telah direbutnya tapi hatiku melarang, aku ingin membuat Celo dan Citra tersiksa hingga Celo mau mengakui semuanya.


Aku ingin menggagalkan rencana mereka dengan datang ke rumah sakit. Aku ingin memberi kejutan pada Celo dengan kehadiranku yang secara tiba-tiba.


"Aku pulang telat sayang," kata Celo dalam sambungan telponnya.


"Kenapa kok pulang telat?" tanyaku.


"Ada jadwal piket tambahan dari rumah sakit," jawabnya.


"Oh, ya sudah nggak papa," kataku lalu aku memutuskan panggilan telponnya.


Aku yang sudah berada di loby rumah sakit berjalan menuju ruangannya, aku ingin tau bagaimana dia beralasan lagi.


"Sore mas," sapaku saat aku membuka pintu.


Aku lihat dia telah bersiap untuk pergi.


Celo menatapku dengan tatapan bingung, dia terlihat salah tingkah saat aku berjalan mendekatinya.


"Loh sayang kamu kok ada disini?" tanyanya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Raut wajahnya persis dengan raut wajah seekor kucing yang ketahuan mencuri ikan.


"La tadi kamu telpon saat aku di loby, ya sudah ikut nemenin kamu piket saja lagian di rumah juga suntuk sendirian terus," jawabku.


Raut wajah Celo semakin tak karuan, dia sungguh lucu seperti anak kecil yang ketahuan mengompol di tempat tidur.


Aku berusaha santai meksipun dalam hati ingin sekali marah padanya.


Bola mataku memutar menatapnya, aku mengerutkan alis dan pura-pura bertanya padanya.


"Kamu mau kemana mas? bukankah tadi kamu bilang kalau kamu mau piket kenapa ini malah mau pergi?" tanyaku.


Celo tersenyum padaku.


"Kamu nggak asik sayang, kenapa malah datang, padahal aku ingin memberi kamu suprise lo, yah gak jadi deh," katanya dengan melemas.


Is amazing, hebat, hebat. Ingin sekali aku bertepuk tangan untuk mengapresiasi betapa hebatnya dia dalam mencari alasan.


Aku menatapnya dengan lekat, dalam kesempitan pun dia masih bisa menemukan alasan yang pas.


Penipu kelas kakap kalah dengan Celo, heran dia belajar dari mana, epik sekali.

__ADS_1


__ADS_2