MAFIA KEJAM

MAFIA KEJAM
MaFia KeJam | Part 42 - kemarahan Lolita


__ADS_3

Update Yey! Berikan like dulu yh😘


***


"Lukanya sudah kami obati, jangan biarkan dia berjalan dulu dan untuk kendala lainnya kalian bisa menghubungi aku jika terjadi sesuatu." sayup-sayup Alex bisa mendengar seseorang bicara dalam tidurnya.


"Kalau begitu kau bisa pergi." setelah penuturan terakhir kakeknya, Alex terbangun dari pingsannya.


"Alex kau sadar?" Sila yang berada di sana bertanya.


Alex terdiam dan tiba-tiba mengingat tentang kejadian di mana Lolita hampir di bakar hidup-hidup di Markas.


Alex langsung terbangun, "Dimana Lolita?!" tanya Alex khawatir pada mereka.


Sila dan Ferrit saling pandang. Apa ini, Alex baru sadar dan langsung mengkhawatirkan wanita ular itu?


"Dia berada di salah satu kamar di Rumah Bordil ini." akhirnya Ferrit yang menjawab.


Mendengar hal itu, Alex segera beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamar untuk menemui Lolita.


"Alex, kau tidak boleh jalan!" Pekik Sila mengomel.


Namun Alex tidak mempedulikan dan tetap keluar kamar sambil meringis kesakitan pada kakinya yang di perban.


Sila menatap Ferrit untuk menghentikan Alex, tapi Ferrit hanya diam dan membiarkan Pria itu pergi.


"Kek-" belum sempat Sial berucap lagi, Ferrit langsung menyelanya.


"Biarkan dia pergi." ucap Ferrit selanjutnya.


Semenjak Alex menyelamatkan Lolita di markas, Ferrit sudah curiga. Antara Alex dan Lolita, mereka berdua pasti memiliki hubungan khusus.


Jika tidak. Tidak mungkin Alex sampai mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan wanita biasa seperti Lolita.


Sebenarnya apa yang disembunyikan Alex. Ferrit harus mencari tahu, jika tidak, bisnisnya yang akan dalam bahaya dan ia sendiri tidak bisa mengendalikan Alex.


Alex. Hanya dia satu-satunya barang yang patut ia pertahankan. Selain bisa di manfaatkan ia juga bisa menghancurkannya.


...


Sementara Alex tiba-tiba masuk ke dalam kamar Lolita yang ada di Rumah Bordil itu. Para wanita yang berada di sana langsung terkejut. Termasuk Serena dan Sarah.


"Alex?" panggil Serena ingin menghampiri sang pujaan hatinya.


"Semuanya pergi." perintah Alex dingin.


Mendengar perintah Alex yang begitu dingin membuat wanita berjumlah lima orang itu segera pergi. Mereka tahu jika Alex sudah marah tidak akan baik untuk menyela.


"Alex." pengucualian untuk Serena, wanita itu ingin mencoba mendekati Alex. Tapi dengan tegas Alex berkata,


"Kau juga keluar!" ucap Alex tanpa repot melihat Serena lagi.


Berdecak sebal, Serena akhirnya pergi. Kenapa dengan Alex kenapa Pria itu jadi dingin seperti ini padanya.


Setelah Serena pergi, Alex bergegas menghampiri Lolita yang terbaring di atas kasur.


Sepertinya Lolita belum sadar. Alex menggenggam tangan Lolita dan bersyukur. Untungnya tidak ada luka serius yang di alami Lolita hanya telapak kakinya yang terluka.


Sekarang Alex bisa bernafas lega. Setidaknya Lolita masih hidup dan ia bisa melihatnya lagi.


Tapi tetap saja Alex menyesali semua perbuatannya. Ia membuat hidup Lolita dalam bahaya dan selalu menyiksanya.


Hanya karena tidak mau memikirkan Freya lagi, Alex sampai membahayakan orang yang di cintainya. Lolita dan Freya? Mereka orang yang sama, tapi sama sekali ia tidak mengenalinya.


Pergerakan mata Lolita membuat Alex menatap wanita itu hati-hati.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya langsung setelah Lolita tersadar.


Lolita memandang Alex sebentar lalu melihat sekelilingnya. Bukankah ini Rumah Bordil dan kamar ini adalah miliknya selama ia tinggal di sini.


"Kau baik-baik saja kan?" Alex bertanya lagi.


Kilasan bagaimana Lolita hampir mati karena rencana Alex membuat Lolita marah. Ia menarik tangannya dari genggaman Alex.


"Kenapa aku belum mati dan kenapa aku ada di sini bukan di tiang gantung untuk di bakar?!" kalimat sinis Lolita membuat dada Alex tersayat sakit.

__ADS_1


Yah, seharusnya Alex tak melakukan itu. Ia bahkan tega meninggalkan Lolita yang memohon untuk jangan meninggalkannya. Ia memang Pria brengsek dan ia menyesali semua itu.


"Maaf." hanya kata itu yang keluar dari mulut Alex sambil menundukan kepalanya dalam.


"Plak!" Tiba-tiba sebuah tamparan dilayangkan Lolita pada Alex.


Lolita marah dan duduk dari rebahannya, "Jangan mengucapkan kata maaf, itu sangat tidak cocok untukmu Boss Mafia yang kejam!!" Lolita mengeja kalimat akhirnya dengan nada yang sangat sinis.


"Bebaskan aku atau kau bisa membunuhku. Keduanya adalah pilihan dan aku ingin kau memilih. Aku lelah dan ingin bebas darimu setidaknya bukan di dunia tapi di akhirat. Itu kan yang kau inginkan?!" tanya Lolita angkuh.


Alex menggeleng dan ingin menggenggam tangan Lolita tapi sayang Lolita menolaknya, keras.


"Jangan temui aku, pergilah dan kembali setalah mengambil keputusan." ucap Lolita tegas.


"PERGILAH!" Lolita kesal pada Alex lalu menunjuk pintu keluar.


"PERGI!" Mata Lolita melotot saat Alex tak mau pergi-pergi.


Akhirnya karena kemarahan yang memuncak, Lolita dorong tubuh Alex sampai terjatuh ke lantai.


Ia bisa melihat Alex meringis karena luka di kakinya. Lolita tekan hatinya. Luka itu bukan salahnya dan mengenai Alex yang menyelamatkannya itu juga bukan permintaannya.


Saat Lolita sedang teramat membutuhkannya Alex malah pergi dan saat ia mengira semuanya berakhir Alex malah datang dan menyelamatkan.


Apakah Alex tidak berfikir, Prilakunya ini seolah mempermainkan dirinya. Menurut Lolita, nyawanya bukanlah main-main.


Lolita selalu sabar ketika Alex menyiksanya, memberikannya pada Garik, menjadikannya pembantu dan bahakn menerima sikap kasarnya. Lolita menerimanya.


Tapi tidak untuk sekarang. Masalah ini terlalu besar hingga Lolita pun membenci dirinya sendiri.


Sekarang Lolita mulai ragu apakah menyelidiki kasus ini adalah pilihan tepat untuknya atau tidak?


...


Mengepalkan tangannya kencang, Alex berdiri membelakangi Ferrit dan Sila.


Semua ini salahnya. Melihat bagaimana Lolita menangis sebelum pergi. Alex merasa sakit. Untuk pertama kalinya ia membuat Freya menangis karenanya.


Alex menahan kemarahannya sendiri. Ia bodoh dan brengsek. Ia tak mendapatkan maaf Lolita.


Setelah keluar dari kamar Lolita, Alex sudah di tunggu Ferrit dan Sila di ruangannya. Mereka ingin bicara dan memperjelas mengenai tindakannya.


"Iyah, bukankah kau sendiri yang menyuruh kita untuk mengurusnya tapi lihat dengan kau mengorbankan dirimu sendiri, kau jadi terlihat bodoh." Sila yang tidak bisa menahan kekesalannya lagi segera ia keluarkan di hadapan Alex.


Alex berbalik dan menatap Sila, "Kau tidak tahu apa-apa. Pergilah dulu, aku ingin bicara dengn kakek berdua." ucap Alex dingin.


Sila tak terima, "Alex kau ini apa-apaan. Aku juga bagian dari kalian. Apapun yang kalian bicarakan aku juga harus tahu!" tekan Sila tak mau di usir .


"Pergilah Sila." Kali ini Ferrit yang memerintah.


"Kak-"


"Pergi!" Ferrit memerintah lagi. Akhirnya Sila pergi dengan kesal.


"Sekarang tidak ada Sila, katakanlah." pinta Ferrit selanjutnya.


Alex terdiam sejenak, pikirannya sedang menyusun sesuatu. Ferrit tidak akan mudah percaya padanya karena itu ia harus membuat tawaran yang menarik agar Ferrit menurutinya.


"Jangan bunuh Lolita." Alex mendadak mengucapkan hal itu.


"Apa maksudmu? Kau tahu sendiri jika kita tidak membunuhnya, bisnis kita dalam bahaya." ucap Ferrit tak habis pikir. Boleh tadi ia membiarkan wanita itu hidup tapi untuk selanjutnya Ferrit harus membunuhnya mau tak mau.


"Itu tidak akan terjadi, aku bisa menjamin hal itu." jawab Alex cepat.


Mendengar Alex mengatakan dengan yakin, Ferrit mulai curiga, "Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Ferrit, tajam.


"Tidak. Hanya saja aku pikir akan lebih baik wanita itu tetap hidup. Kau ingin membalas dendam pada Denis kan? Maka Lolita adalah pilihan yang tepat untuk di jadikan sandera." ucap Alex datar dan cepat.


Perkataan Alex tadi ada benarnya. Denis sudah sangat merepotkan dirinya. Dari dulu Ferrit ingin membunuh Denis, tapi selalu saja gagal.


"Tapi pengorbanan apa yang bisa kau lakukan agar aku percaya padamu?" tanya Ferrit. Tentu saja ia tidak akan begitu saja percaya. Alex sama sepertinya licik dan penuh strategi. Karena itu ia harus berhati-hati.


"Aku akan membawa Denis secepatnya padamu." tutur Alex selanjutnya.


"Baiklah untuk sekarang aku mempercayaimu. Besok aku akan kembali bersama Sila ke Amerika, di Italia kau yang mengurus segalanya, kau mengerti?"

__ADS_1


Alex mengangguk singkat lalu melihat Kakeknya pergi dari Ruangannya.


Sekarang tinggal masalahnya dengan Lolita. Apa yang harus ia lakukan?


...


"Lolita apa yang lo lakuin?" Sarah baru saja tiba di kamar Lolita dan melihat wanita itu beranjak dari ranjangnya.


Sarah segera menahan Lolita dan mendudukkan lagi wanita itu di kasur.


"Kaki lo itu masih sakit dan lo mau jalan-jalan. Waras gak lo?!" bentak Sarah di depan wajah Lolita.


Lolita kesal dan berdiri di hadapan Sarah. Ia tak mempedulikan nyeri di kakinya yang amat sakit.


"Lo enggak tahu apa yang gue alami Sarah. Boss brengsek itu mau bunuh gue dan tadi gue nyaris mati, gue enggak mau ada di sini lagi. Udah cukup Gue tersiksa. Udah cukup Sarah!" Bentak Lolita tak kalah keras.


Sekarang Lolita tak sanggup lagi menahan segalanya. Ia akan melepaskan segalanya. Pekerjaan reporternya dan jabatannya.


"Terus gimana sama misi kita?!" tanya Sarah kesal.


"Gue enggak peduli. Gue mau pulang sekarang." jawab Lolita sambil menyingkirkan Sarah di jalannya.


"Tap-" belum sempat Sarah menyelesaikan ucapannya, ia menemukan Alex di depan pintu.


Lolita dan Alex saling pandang. Ada kemarahan di tatapan Lolita sementara tidak ekspresi apapun yang ditunjukan Alex.


Gawat, apakah Alex mengerti bahasa Indonesia? Di sana Sarah khawatir sendiri. Jika Pria itu mengerti itu berarti indentitasnya akan terbongkar.


"Pergilah."Alex berucap pada Sarah.


Syukurlah Alex tak mengerti. Ia pun bergegas pergi dari sana dan mengkode agar Lolita tak bersikap kurang ajar pada Alex.


Namun Lolita tak peduli dan memalingkan wajah ke arah lain.


Setelah Sarah pergi, tinggal lah Lolita dan Alex. Mereka tidak saling bicara, tapi Alex melihat jelas bagaimana Lolita berdiri dengan kaki yang terluka. Alex khawatir dan ingin membantu Lolita untuk duduk di kasur.


"LEPAS!!" Lolita langsung menolak lengan Alex yang ingin menyentuh tangannya.


"Dengar yah! Kau boleh saja memiliki kekuasaan yang besar, uang yang banyak bahkan kekuatan yang tak tertandingi. Tapi tidak dengan diriku.


"Aku ingin pergi, aku akan kembali ke tempat asal ku. Tapi jika kau merasa itu tidak benar kau bisa membunuhku!!" Lolita tiba-tiba berjalan ke arah kaca, mengangkat kursi dan hendak melemparnya ke arah meja rias.


"Apa yang kau lakukan?!" Alex segera menghentikan aksi Lolita.


"Lepas!" Lolita berhasil menyingkirkan tangan Alex lalu seketika memecahkan kaca itu mengunakan kursinya.


"LOLITA!!!" Alex berteriak karena khawatir. Ia tak habis pikir dengan Lolita yang melakukan hal ini.


Setelah kacanya pecah, Lolita mengambil salah satu serpihan kaca itu dan memberikannya pada Alex.


"Sekarang gunakan itu lalu bunuh aku!" perintah Lolita beringas.


"Kau gila?! Aku tidak akan melakukannya!" tegas Alex membuang pecahan kaca itu ke lantai.


Demi Lolita ia berusaha mengontrol emosinya, ia tidak akan melakukan apapun yang membuat Lolita semakin kecewa padanya.


Lolita tak menghiraukannya, ia kembali mengambil pecahan kaca lainnya, tapi tangan Alex mengambil lengan Lolita dan membuat wanita itu berada dalam jarak dekat dengannya.


"Jangan lakukan itu." Pinta Alex berusaha lembut.


Lolita tertawa hambar, "kenapa aku tidak boleh melakukannya, bukankah itu yang ingin kau lakukan selama ini?!" tanya Lolita tajam.


Alex terdiam, lalu tiba-tiba Alex menatap Lolita dengan yakin, "Karena aku mencintaimu, itulah mengapa aku tak ingin melihatmu terluka." jawab Alex cepat.


Tidak ada reaksi, Lolita terlalu terkejut hingga matanya tak berkedip. Jarak mereka yang dekat membuat Lolita gugup.


Lalu tanpa persetujuan Lolita, Alex langsung melahap bibir mungil Lolita dan membawanya ke atas tempat tidur.


Mereka berciuman di sana. Lolita tak menolak, ia sendiripun bingung apa yang terjadi padanya.


Jika seperti ini, apakah Lolita sanggup meninggalkan misinya?


***


tnggalkan dukungan vote dan komen biar cerita ini up di Nt🤗🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2