MAFIA KEJAM

MAFIA KEJAM
MaFia KeJam | Part 68 - Restu dan Bencana


__ADS_3

hai-hai ada yg masih baca cerita ini? komen yah. aku baca komentar kalian sebelumnya pada kesel sama Lolita. sabar yh, Lolita gitu dulu, nanti pada waktunya dia akan sadar.


Jagn lupa Follow Ig ku na_herna90 untuk mengetahui info bab selanjutnya dan season 2nya.


happy reading..


***


Denis dan Freya masuk ke Ruang kerja Roger. Dari tadi Lolita hanya menunduk dan Denis tampak enggan dengan semua ini.


"Jika Papah ingin menentang hubungan kami, aku tidak peduli. Aku akan tetap menikah dengan Freya." tandas Denis keras.


Roger menaikan alisnya, sinis.


"Kau terlalu marah Denis. Dari dulu sampai sekarang hanya kau saja yang membuatku pusing. Kau selalu membuat masalah dengan tingkah nakalmu. Kau bahkan pernah dilaporkan polis tapi anehnya sekarang kau malah menjadi polisi." ucap Roger bercerita.


"Kalau papah hanya ingin menemuiku untuk menghinaku, aku akan pergi!" ancam Denis kesal, bersiap membawa Lolita dari sana.


Roger tampak mengelus kepalanya dan segera mengejar kedua anaknya itu.


"Kau sangat ingin menikahi Freya?" tanya Roger pada Denis.


"Papah pasti akan bilang, hubungan kami tidak mungkin." balas Denis memandang ke arah lain dengan sinis.


Roger kemudian memisahkan gengaman tangan Lolita dan Denis. Pria paruh bayah itu sekarang gantian yang menggeram tangan anaknya itu.


"Freya lihatlah Ayah." Mendadak Roger memohon dan ingin Putrinya itu menatapnya.


Lolita pun mengangkat wajahnya dan air matanya pun mengalir kembali. Ia merindukan ayahnya, sungguh.


"Kau tidak merindukan Ayah, Freya?" Roger ikut menangis. Pria itu kembali mengingat lagi, masa-masa ia meminta Lolita pergi.


"Pergilah, aku sudah memesankan tiket untukmu. Jangan kembali lagi dan jangan hubungi keluargaku lagi."


Freya menangis, "Ayah tidak percaya padaku? Aku tidak membuat Ibu kecelakaan, jika saja ayah tahu selama in—"


"Cukup Freya, ini demi kebaikanmu juga. Jika kau tetap ada di sini, Denis tidak akan pernah melupakanmu. Pergilah!" Roger kemudian pergi meninggalkan Freya yang terus menangis memanggil nama ayahnya.


Roger menangis dan menggenggam kedua tangan Lolita, "Maafkan Ayah, seharusnya Ayah tak melakukan itu ..."


Roger sangat menyesal. Ia mengirim putrinya sendiri jauh dari dirinya. Aidan sudah menjelaskan Freya tidak bersalah, Megan sendiri yang ingin celaka. Tapi di saat penyesalan Roger, ia malah tidak menemukan Freya dimanapun.


Roger mengirim Freya ke Italia tapi saat ia mengeceknya di sana, Freya sudah menghilang dan baru hari ini Roger bertemu dengan Putrinya itu.


"Jangan pergi lagi Freya, Ayah sangat menyesal." pinta Ayahnya menangis pilu.


Lolita menggeleng dan menangis terisak. Kemudian Lolita tidak kuat menahan rindu,ia pun kemudian memeluk Ayahnya dengan erat.


"Tidak, Ayah hanya tidak tahu yang sebenarnya ..." ucap Lolita dalam pelukan Roger.


Selama ini Lolita tidak dendam pada Ayahnya. Roger selalu di pengaruhi Megan, istrinya itu yang jahat. Karena itulah Roger tak percaya padanya.


"Maafkan Ayah ..." Roger berucap lagi sambil membekap tubuh putrinya itu dalam pelukan kasih sayang.


Denis pun ikut sedih, Pria itu memalingkan wajah untuk menghapus air matanya. Bukan Ayahnya saja, ia pun ikut terlibat dalam membuat Freya pergi dari hidup mereka.


Beberapa menit kemudian Roger melerai pelukan mereka, Pria paruh Bayah itu menghapus air mata Lolita perlahan.


"Jangan menangis. Putri Ayah yang cantik ini tidak boleh sampai menangis. Kalau tidak kencantikannya nanti diambil hantu."


Kalimat candaan itu sering Lolita dengar saat ia kecil. Wanita itu pun terkekeh kecil.


"Nah itu baru cantik ..." Roger memuji senyum putrinya.


"Sekarang aku tidak mau ikut campur dengan kehidupan kalian. Jika kalian ingin menikah, menikahlah." ucap Roger kemudian.


"Aku tidak mau kehilangan putriku lagi." lanjut Roger menatap Lolita penuh kasih sayang.


Denis merasa tak percaya. Baru saja Ayahnya memberikan lampu Hijau padanya?


"Papah yakin?" tanya Denis tidak mau bahagia dulu, siapa tahu ini hanya Kebohongan Ayahnya saja kan.


"Yah, kalau perlu Papah besok sebar undangan kalian ke semua orang." yakin Roger penuh tekad.

__ADS_1


Senyum bahagia langsung terbit dari bibir Denis.


"Papah tidak peduli lagi dengan nama baik keluarga. Jika anak ayah senang maka Ayah pun akan bahagia." lanjut Roger menyatukan kedua tangan Denis dan Lolita bersama.


"Ayah mohon setelah ini kalian bisa hidup bahagia." pinta Roger.


"Pasti!" Denis langsung menjawab cepat.


Sementara Lolita hanya diam menatap gengagaman tangan itu. Kenapa di saat semuanya sudah teratasi, Lolita malah mengingat Alex?


...


Persiapan pernikahan sudah di rencanakan. Mereka hanya punya waktu dua minggu saja untuk melangsungkan pernikahan.


Denis ingin pernikahan ini berlangsung meriah.


Dengan momen pernikahan yang tak terlupakan, Denis akan sewa gedung yang paling termahal di kota New York ini. Ia juga akan memberikan cincin berlian untuk Lolita. Pokoknya Denis akan memberikan yang terbaik agar Lolita selalu mengingat Momen Pernikahan mereka.


"Freya kau suka cincin yang mana?" tanya Denis menatap berbagai cincin berlian di bawa Desain cincin ternama.


"Freya!"


"Freya!"


"Lolita!" setalah guncangan tangan Denis di bahunya, barulah wanita itu tersadar.


"Iyah?" Lolita tampak linglung.


"Kau suka cincin yang mana?" tanya Denis lagi.


"Yang ini." Lolita kemudian memilih asal.


Denis menyeringit, "Kau yakin?" tanya Denis melihat cincin yang tadi Lolita tunjukan. Berliannya kecil dan itu sangat sederhana.


"Iyah ..." jawab Lolita singkat. Wanita itu terlihat tidak enak badan. Wajahnya pucat.


"Freya kau sakit?" Denis khawatir. Dari tadi ia sudah bertanya tapi Lolita terus mengatakan baik-baik saja.


"Aku tidak papah Denis." ucap Lolita.


"Kau bilang ini tidak papah?" tanya Denis kesal.


"Jangan berlebihan, aku hanya demam. Aku juga sudah minum obat tadi." tandas Lolita.


Iyah, memang dari semalam Lolita merasa tidak enak badan. Ia pun meminum obat untuk memulihkan tubuhnya.


Tapi itu saja belum cukup. Pikirannya terus terpusat pada Alex. Ia bingung, apakah pernikahan ini memang yang diinginkannya?


Sudah seminggu Denis tampak sibuk dengan pernikahan mereka. Pria itu terlihat semangat menyiapkan semuanya.


Lolita pun jadi tidak tega kalau sampai menggalakan pernikahan ini. Apalagi Restu ayah sudah bersama mereka, tidak mungkin ia mengecewakan mereka semua.


"Kita ke rumah sakit. Kalian pergi dulu, nanti aku panggil lagi besok!" ucap Denis pada beberapa orang yang membawa Desain cincin itu.


"Tidak Denis. Aku tidak mau ke Rumah sakit." tegas Lolita.


"Tapi—"


"Aku hanya perlu istirahat." Lolita memohon lewat matanya.


"Baiklah, aku antar kau ke kamar."


Lolita setuju dan Denis pun segera menuntun Lolita ke kamarnya.


...


Dari kasurnya, Lolita termenung menatap bulan. Ia bisa melihat benda langit itu lewat Atapnya yang terpasang jendela. Ayahnya yang mendesain kamar ini untuknya.


Dengan berbagi kontroversi bersama istrinya Megan, akhirnya Roger berhasil membangun kamar ini saat hari ulang tahunnya. Saat itu Lolita merasa bahagia, karena untuk pertama kalinya Ayahnya menunjukan kasih sayangnya lewat kamar ini.


Suara grasak-grusuk tiba-tiba masuk Indra pendengaran Lolita. Itu tidak mungkin kucing, karena keluarga ini tidak akan memelihara hewan itu. Dan jika itu hantu, Lolita tidak akan percaya. Ia akan tetap diam dan istirahat.


Pernikahannya tanpa terasa sudah seminggu lagi. Lolita masih belum yakin, tapi ia berusaha meyakinkan diri sendiri. Inilah yang terbaik untuknya.

__ADS_1


Dari awal Lolita sudah rela jika harus meninggalkan cintanya. Seharusnya Lolita tidak perlu memikirkannyakan apalagi sampai sakit seperti ini?


"Gdubrak!!"


Lolita langsung kaget.


Suara itu kembali hadir dan kali ini lebih besar. Lolita mulai merasa cemas. Apa mungkin ada hantu di sini?


Karena penasaran, Lolita turun dari ranjang. Membuka Balkon dan ketika ia hendak melihat-lihat tiba-tiba tubuhnya sudah di dorong ke tembok.


Matanya langsung melotot saat tahu, itulah Alex.


"Bagaimana bisa kau kemari?" tanya Lolita terkejut.


Lolita sudah pindah ke rumah ayahnya, mustahil Alex bisa menemukannya.


"Tidak ada yang tidak diketahui Alex." ucap Alex dingin.


Mendadak jantungnya berdetak cepat. Ia tahu kenapa Alex kemari, pasti Pria itu sudah tahu tentang pernikahnya dengan Denis.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Alex berusaha menurunkan suaranya, walau hatinya sedang emosi saat ini.


Sudah seminggu lima hari, Alex tidak mendapatkan kabar dari Lolita. Ia mencari Lolita ke Apartemen Denis, tapi kata petugas di sana mereka sudah pindah. Alex pun mulai marah, ia terus menghubungi Lolita tapi Ponsel Lolita tidak aktif. Lalu tiba-tiba hari ini, ia mendapatkan kabar dari Jhon, Lolita dan Denis akan menikah. Bahkan cetakan undangan sudah tersebar ke orang-orang.


Tanpa pikir pajang, Alex meminta Jhon menemukan alamat Ayahnya Lolita. Ia yakin Lolita berada di sana. Dan benar saja Lolita ada dan tadi ia naik ke lantai dua Lolita hanya dengan tangannya.


"Tidak ada alasan kenapa aku harus memberitahumu. Kau seharusnya sadar, sejak aku memutuskan kontak denganmu. Itu berarti hubungan kita berakhir, ah tidak.


"Kita tidak memiliki hubungan kan? Yah, pokoknya aku tidak ingin berurusan denganmu lagi." ucap Lolita santai. Padahal hatinya sedang menari-nari di dalam sana. Ia begitu gugup dan takut. Apalagi saat ini mata Alex seolah menusuk jiwanya.


"Kau begitu tega Lolita. Kau bilang akan memberi kesempatan pada hatimu?" tanya Alex merasa tak terima.


"Itukan hatiku? maka aku sudah memilih. Aku akan menikah dengan Denis." Putus Lolita final.


Tinjuan keras tiba-tiba dilayangkan Alex ke tembok. Pria itu emosi. Dan Lolita hanya bisa memejamkan matanya.


"Kau mempermainkan ku?" tanya Alex, marah.


"Yah, terserah apapun yang kau pikirkan." jawab Lolita cuek.


Niat ingin mendorong Alex, Pria itu malah mencium bibir Lolita membabi buta.


Alex marah dan sangat marah. Ia hanya ingin melampiaskannya pada ciuman itu.


Pria itu terus mengecap, ******* dan bahkan menyalurkan salvina bersama.


Lolita terus memukul dada Alex dan ingin Pria itu menghentikan ciuman itu. Tapi percuma Alex tak mau berhenti.


"Freya?" suara Denis terdengar. Pria itu baru saja membuka pintu dan bingung tak menemukan Lolita di kasurnya.


Lolita mulai panik. Beberapakali ia memukuli dada Alex. 


Denis mulai mendekat dan Alex belum juga melepaskan tautan lidah itu.


Lolita memohon lewat erangannya.


"Freya!" Denis kembali memanggilnya lagi, Pria itu hendak menghampiri balkon.


Dan yang terjadi selanjutnya, Lolita mendadak berdiri di hadapan Denis dan tersenyum aneh.


"Kau kemana, aku memanggilmu tapi tidak di jawab?" tanya Denis khawatir.


Lolita menggaruk rambutnya. Untungnya, Alex langsung menghentikan ciuman itu setalah panggilan Denis yang kedua.


"Aku sedang menatap bintang di balkon. Ada bintang jatuh karena itu aku sampai tak mendengarmu." elak Lolita membuat alasan.


"Sungguh? Mana aku mau lihat?" Denis akan menghampiri balkon lagi tapi Lolita segera menahannya.


"Tidak, sekarang bintang sudah tidak ada. Sebaiknya kita keluar." Lolita segera menarik tangan Denis untuk keluar kamar.


Sementara Alex mengepalkan tangannya marah pada di Goreng putih di kamar Lolita.


***

__ADS_1


Kangen mereka🥰


__ADS_2