
***
Setelah percintaan panas itu, Alex bangkit dari tubuh Lolita. Ia mulai menyesali perbuatannya barusan.
Memandang Lolita, wanita itu sudah menangis dalam diam. Alex ingin memeluknya tapi Lolita langsung mendorongnya.
Alex mengepalkan tangannya. Untuk pertama kalinya Lolita menangis karenanya. Dulu Saat ia mengambil kehormatannya pun Lolita tak sesedih ini. Justru dengan peristiwa itu, mereka kemudian berpacaran setelahnya.
"Lolita maafkan aku ..." Alex ingin menghapus air mata wanita itu, tapi Lolita langsung menangkis tangannya.
"Jangan sentuh aku .... !" tangis Lolita semakin pecah.
Wanita itu menutupi wajahnya dengan tangannya. Sekarang ia tidak punya harga diri lagi. Semua pertahanannya hancur kala Alex menyentuh seluruh tubuhnya tadi.
"Freya ..." Alex berucap lembut dan berusaha membawa wanita itu kedalam pelukannya.
Tapi Lolita berontak. Namun Alex berhasil membawa Lolita masuk ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku ..." sesal Alex, sedih.
Lolita tidak menjawab dan hanya menangis kencang.
...
Lolita pikir mencintai itu harus saling mendukung, melengkapi kekurangan masing-masing dan memberi kasih sayang tanpa pamrih.
Tapi semenjak bersama Denis, Lolita selalu merasa sesak. Ia takut Denis berselingkuh, ia takut Denis meninggalkannya dan ia takut saat Denis tidak memperhatikannya lagi.
Hari-hari seperti itu selalu Lolita alami semenjak berpacaran dengan Denis. Ia pikir Pertengkaran mereka setiap hari di sebabkan karena kepribadian mereka yang berbeda.
Lolita pun berusaha memperbaiki dirinya. Ia mencoba menjadi seperti Denis yang bebas. Ia memendam dirinya yang polos dan lugu ke dalam kobangan hidup yang penuh kenakalan dan kegegelapan.
Tapi itu semua tidak membuat Lolita merasa nyaman, ia selalu khawatir. Ia bingung kepada siapa ia harus bercerita tentang kekhawatirannya ini. Denis selalu ingin ia mendengarkan tapi Pria itu sekalipun tak pernah mendengarkannya.
Lolita mulai kehilangan arah. Ia pun sadar, hubungan mereka tak sehat. Perasaan yang dimilikinya hanya Obsesi. Denis selalu egois dan ia tetap mempertahankan dirinya sampai saat ini.
Sementara disisi lain hatinya menginginkan kenyamanan, menerima keluh kesah dan kepercayaan diri bahwa hati Pria itu hanya miliknya.
Semua kualitas itu hanya ada pada Alex. Semenjak Alex masuk hidupnya dulu maupun sekarang. Pria itu selalu memberinya kenyamanan. Ia tidak pernah takut kehilangannya, karena Pria itu akan berkata jujur padanya.
Apapun itu, Lolita bebas berekspresi. Bahwa ini dirinya. Tidak ada lagi merasa terancam dan sesak sejak bersama Alex.
Semasa sekolah dulu, Alex selalu bertanya apa yang dinginkannya, apa masalahnya dan apa yang tidak di sukainya. Lolita akan merasa bahagia dan merasa nyaman.
Tapi itu tidak ada gunanya lagi. Lolita bersama Denis sekarang. Walaupun ia mencintai Alex, tapi rasa sayangnya pada Denis lah yang membuatnya bertahan sampai sekarang.
Hari ini Lolita memutuskan, ia akan mengungkapkan cintanya pada Alex. Ia sudah lelah berbohong pada dirinya sendiri maupun Pria itu.
Biarlah Pria itu mengetahui semuanya, tapi Alex juga harus mengerti ia tak bisa bersamanya.
Kemudian mereka duduk berdampingan di sofa. Lolita sudah selesai dengan tangisnya, ia diberi selimut oleh Alex untuk menutupi tubuhnya. sementara Alex hanya mengenakan Bokser.
Tidak ada yang bicara selama beberapa menit lalu. Lolita terus melamun dan Alex hanya menunggu sampai Lolita mau bicara padanya.
Alex tahu tindakannya ini tidak benar. Saat itu ia dikuasai emosi, pikirannya kacau. Lolita selalu mengatakan tidak mencintainya. Ia merasa tak terima dan melakukan itu padanya.
Sekarang Alex pasrah, kalau Lolita ingin pergi dari hidupnya, ia akan menerimanya.
"Aku tidak bisa menebak siapa dirimu yang sekarang." tiba-tiba saja Lolita mau berbicara lagi.
Alex langsung menengok.
"Tapi untuk Alex yang dulu, aku bisa mengatakan aku merasa nyaman dan bahagia saat bersamanya." Lolita masih menatap lurus ke depan tanpa mau menunjukan eksepsi apapun.
"Aku memang tidak bisa memberikan cinta waktu itu tapi kebersamaan kita di Italia membuatku sadar, bermain dengan api itu salah. Aku menjebakmu dengan permainan cintaku tapi aku malah terjebak di permainkan ku sendiri ...." keluh Lolita, hampa.
"Maksudmu?" Mendadak jantung Alex berdetum kencang. Ia tahu arti ucapan Lolita, tapi ia tidak mau berfikir sendiri.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Alex ..." Lolita kemudian menatapnya dalam dan serius.
Mata Lolita menunjukan kejujuran di sana.
Alex pun langsung merasa darahnya mengalir cepat di sekujur tubuhnya, rasa bahagia pun seketika hadir di hatinya.
"Tapi aku tidak bisa bersamamu."
Dan sesudah kalimat itu, rasa bahagia Alex langsung hilang.
"Kenapa?" tanya Alex dingin.
"Mengertilah Alex, aku sekarang milik Denis dan kit—"
"Kau selalu berkata seperti itu!" Alex langsung memotong ucapan Lolita dengan marah.
"Kau mengatakan mencintaiku tapi kau tidak bisa bersamaku?! Cinta apa sebenarnya ini!" lanjut Alex tak terima.
"Lalu aku harus seperti apa Alex?! Tidak mungkin aku meninggalkan Denis untuk dirimu. Aku juga menyanyanginya ..." balas Lolita tak mau kalah.
Tiba-tiba hati Alex merasa sakit ketika Lolita mengatakan hal itu.
"Jadi kau lebih memilih Denis yang kau sayangi itu dari aku yang kau cintai?" tanya Alex tak percaya. Pria itu tak mengerti apa isi kepala Lolita sampai bisa berfikir seperti ini.
Cinta harusnya di perjuangkan bukan untuk ditinggalkan.
"Kau tidak mengerti Alex. Cinta hanya sementara tapi rasa sayang sahabat akan selalu ada." ucap Lolita lagi.
"Kau mungkin lupa, Di dunia ini masih ada cinta sejati."
"Aku tidak percaya itu." jawab Lolita cepat.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku yang masih ada selama dua belas tahun, kalau bukan cinta sejati?" tanya Alex lagi.
"Kau ingin berdebat? kau jadi banyak bicara Alex!" ucap Lolita tak suka.
"Kalau begitu beri satu kesempatan pada hatimu." pinta Alex selanjutnya.
"Aku hanya bilang beri kesempatan untuk hatimu bukan untuk diriku!" ujar Alex.
"Setelah kau memperkosaku tadi?" tanya Lolita sinis.
Alex langsung diam. Kenapa Lolita harus membahas hal itu lagi. Ia jadi merasa bersalah.
"Mungkin saja hatimu menginginkanku kan?" tanya Alex, mencoba agar Lolita memahaminya.
"Baiklah ... Mungkin saja aku bisa memberikan kesempatan pada hatiku?" Lolita sedikit tidak yakin. Pandangannya sekarang menerawang jauh.
Mungkin saja Lolita bisa bersama Alex. Tapi bagaimana dengan Denis. Rencana pernikahan mereka sudah di sepakati, tinggal sedikit lagi mereka akan membangun rumah tangga yang di impikan, tidak mungkin ia meninggalkan Denis sendiriankan?
Mendadak tubuh Lolita di peluk oleh Alex. Wanita itu menyeringit keheranan.
"Terimakasih ..." ucap Alex bahagia.
Lolita mulai mengerti sekarang, "Aku janji akan memberikan kesempatan pada hatiku Alex. Tapi jika sampai aku memilih Denis, aku mohon kau bisa menerimanya." pinta Lolita dalam pelukan Pria itu.
Alex melerai pelukan itu, wajahnya terlihat tidak terima. Tapi Pria itu tidak mau memaksakan kehendaknya lagi, "Baiklah." putus Alex pasrah.
Lolita kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Sofa, "Sekarang aku hanya ingin melihatmu seperti ini." ucap Lolita tersenyum dan memandang Alex penuh cinta.
Sekarang ia sedang memberikan kesempatan pada dirinya, Karena itulah ia akan memberikan cinta juga pada Alex.
Alex tersenyum dan ikut menyender juga bersama Lolita. Wajah mereka saling berhadapan sekarang.
"Aku tidak menyangka kau akan mengungkapkan perasaanmu. Aku kira kau tidak mencintaiku." ucap Alex bahagia.
Lolita mengangkat tangannya dan menyentuh setiap bagian wajah Alex. Mata Pria itu kecil tapi tajam, hidungnya Bangir dan jenggotnya, dulu Pria itu tak menggunakan jenggot.
__ADS_1
Alex hanya memejamkan mata dan meresapi setiap sentuhan dari wanita yang dicintainya itu.
"Yang membuatku tidak mengenalimu adalah jenggotmu. Aku tidak menyangka akan tumbuh setebal ini." ucap Lolita mengelus rambut halus itu dengan lembut.
"Dulu bahkan lebih tebal, mungkin aku belum bercerita. Ayahku keturunan Turki jadi kumis dan jenggotku tumbuh lebih cepat." jelas Alex, senang.
Sadar atau tidak, Lolita merasakan ada nada di setiap ucapan Alex. Pria itu tidak lagi berkata dingin atau datar. Hanya ada kebahagiaan di matanya.
Lolita juga sama, hatinya menghangat jantungnya terus berdetak cepat. Ada perasan baru dan Lolita sangat menyukainya.
"Tapi aku sangat suka." lanjut Lolita tersenyum miring.
Alex juga ikut tersenyum. Pria itu kemudian mendekat lalu berhenti untuk menatap mata Lolita. Setelah melihat Lolita yang diam saja, Alex pun mendaratkan bibirnya di bibir Lolita.
Wanita itu mendesah, Alex semakin semangat untuk menyapu habis bibir Lolita dalam ciuman panjangnya. Lidah mereka bertautan menyalurkan salvina bersama.
Alex ingin melakukannya lagi, tapi bukan dengan paksaan. Ia ingin Lolita juga menginginkannya.
Melepas ciuman itu, Alex menatap Lolita dengan kabut gairah dimatanya. Pria itu tidak mengatakan apapun tapi Lolita tahu apa arti tatapan itu.
"Aku ingin melakukannya di kamar." ujar Lolita dengan nafas yang belum beraturan.
Setelah mendapatkan persetujuan, Alex pun segera mencium Lolita lagi dan mengangkat tubuh wanita itu masuk ke kamar mereka.
Dulu kamar ini adalah kamar Freya dan Alex. Tidak ada yang berubah dari kamar itu. Catnya masih sama berwarna biru muda dan seprai merah yang terakhir diganti Freya dua belas tahun masih ada. Ia tidak percaya ini.
Apa mungkin Pria itu sengaja dan menyuruh orang datang untuk membersihkan setiap hari rumah ini?
Lolita memekik kala benda keras itu kembali memasuki tubuhnya.
"Kau pernah melakukannya dengan Denis?" tanya Alex bertanya sambil melakukan tugasnya di bawah sana.
Lolita hanya diam, tak mengatakan apapun.
Rasa marah tiba-tiba terbit dalam hatinya. Seharusnya Alex tak boleh kesal seperti ini, ia juga pernah melakukannya dengan wanita lain. Bahkan bersama Serena pun ia terang-terangan menunjukkan pada Lolita. Lalu kenapa Alex harus marah?
Alex melajukan dirinya semakin cepat di dalam Lolita. Hingga sampai puncaknya, ia pun menggeram dan pelepasan setelahnya.
Lolita tampak kelelahan tapi Alex masih menginginkannya.
Merubah posisi Lolita menjadi menyamping, Alex mulai posisikan diri di belakangnya.
Suara erangan Lolita dapat Alex dengar. Ia melakukan pemanasan dulu dan saat akan menyatukan diri bersama Lolita.
Alex bisa mendengar suara perutnya berbunyi. Ia pun bisa menebak Lolita bisa mendengarnya juga. Wanita itu menengok dan terkekeh kecil.
"Kau lapar?" tanya Lolita mengejek.
Bagaimana mungkin ditengah percintaan panas mereka, Perut Alex malah berbunyi?
Dasar memalukan. Alex merutuki dirinya sendiri.
"Aku tidak lapar!" sergah Alex tidak mau mengaku.
Pria itu ingin melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda.
"Jika kau lapar, kita bisa berhenti." ejek Lolita lagi.
Alex merasa tersinggung langsung saja ia menyatukan diri kembali dengan Lolita.
Wanita itu seketika mendesah dan meracau tidak jelas.
Lihat, Lolita menginginkannya juga kan? Jadi kenapa harus mengejeknya?
"Aku ingin kau memasak setelah ini ..." Alex berbisik di telinga Lolita.
***
__ADS_1
Janga lupa like, vote sama komennya.
See you ...