
Btw, part ini panjang 2000 word lebih, semoga puas yah :)
****
Senyum merekah tampak terlihat dari bibir mungil Lolita. Wanita itu memandang Rumah Alex di depannya dengan padangan bahagia.
Lihat saja Alex, kau akan terkejut melihat kehadiranku saat ini!
Lolita masuk ke dalam Rumah Alex. Di sana ada Jhon, anak buah satunya itu segera membuka pintu untuknya masuk.
"Aku tidak menyangka Nona datang kemari." Jhon terlihat senang dengan kehadirannya. Pria itu sepertinya habis berpatroli di sekitar Rumah.
Lolita tersenyum manis, "Yah, aku harus kemari. Bossmu ada Jhon?" tanya Lolita selanjutnya.
"Ada Nona. Tapi dia sedang tidak sadar."
"Maksudmu dia minum lagi?" pekik Lolita kesal.
"Yah, biasalah. Jika bukan karena Nona, Boss tidak sekacau itu." keluh Jhon bercerita.
Lolita menggelengkan kepalanya. Dasar Pria bucin. Baru saja ditinggal beberapa hari langsung galau. ia sudah merasa takut karena Alex yang bersikap dingin padanya. Ia pun langsung menuntaskan masalahnya. Tapi setalah datang Pria itu malah mabuk-mabukan.
Melenggang masuk, Lolita segera ke kamar Alex. Dan benar saja, Alex sudah terkapar tertidur di kasur dengan kaki yang masih di lantai.
Aroma minuman keras langsung menyeruak ke hidung Lolita saat ia sedang membenarkan kaki Alex di atas kasur. Pria ini benar-benar minum banyak sepertinya.
"Saat aku ingin minum kau melarangku. Tapi kenapa kau minum banyak. Tidak adil!" keluh Lolita mengerucutkan bibirnya.
Terdengar suara erangan Alex. Pria itu merubah posisi tidurnya ke arah samping. Ahh ... entah mengapa tingkah Alex semakin panas dimatanya.
Apalagi dengan dua kancing kemeja yang dibuka dan rambut berantakannya. Lolita semakin ingin menidurkan dirinya di samping Alex. Ia pun tak segan langsung berbaring disamping Pria itu.
Sambil menatapnya yang tertidur, Lolita mengecup bibir Alex sebanyak tiga kali. Pria itu hanya menyeringit dahinya lalu tertidur lagi dengan tenang.
Lolita sempat terkekeh, "Dasar Pria tembok!" ejek Lolita.
Wanita itu mengingat lagi pertemuan mereka di Singapore. Waktu itu Alex menyandaranya bersama Denis. Lolita sangat membencinya, ia bahkan melakukan banyak cara untuk menggoda Alex demi misinya. Kalau di pikir itu sangat konyol. Lihat saja sekarang ia bersama Alex dan mencintainya. Siapa yang tahu takdir merubah ini semua.
Lolita kemudian membawa dirinya ke dalam pelukan Alex. Lolita membenamkan wajahnya di dada
pria itu.
"Jangan khawatir Alex. Kita akan bersama selamanya." Lolita pun ikut tertidur bersama Pria itu. Nyaman dan hangat. Ia selau suka dipeluk Alex, walaupun ia sering menyangkalnya karena waktu itu bersama Denis tapi sekarang ia tidak bisa bohong ia sangat menyukai bersama Alex.
Oh, Sepertinya Lolita mulai gila karena jatuh cinta berulang kali bersama Pria itu.
Lolita pun ikut terlelap dengan wajah senangnya. Ia memutuskan besok saja ia akan menceritakan semuanya pada Alex. Ia yakin Alex pasti bahagia.
...
Alex membuka matanya saat silauan matahari menggangunya tidur. Sial, siapa yang berani membuka Gordeng di pagi hari seperti ini?!
Kepalanya pusing lagi. Kenapa disaat ia mempunyai banyak masalah mereka semua mengganggu ketenangan. Ini pasti ulah anak buahnya.
Siapa lagi kalau bukan Jhon yang selalu berani melewati batas. Nanti ia akan beri pelajaran pada Pria itu. Pelajaran sangat berat. Lihat saja nanti.
Berdiri dengan kepala pusing, Alex keluar dari kamar untuk mengambil minum. Namun kehadiran Lolita yang sedang memasak membuat Alex mematung tak percaya. Benarkah itu Lolita?
"Hai! Kau sudah bangun?" dari arah kitchen Lolita menyapa sambil mengaduk masakannya.
Wanita itu tampak bersemangat dan ceria. Ini bukan mimpi tenyata. Lolita ada disini. Tapi untuk apa? Setalah Lolita mengaduk-aduk hatinya, Lolita kembali dengan gampangnya. Kemarin-kemarin ia memohon untuk pulang ke rumahnya, tidak mau. Lolita tetap bertahan bersama Denis.
"Alex kau mau kemana? Sini, kau harus minum ini dulu." Lolita segera mengejar dan memberikan segelas Jus jeruk padanya.
"Aku sudah mencobanya, setalah meminum Jus Jeruk bisa meredakan pusing akibat minum." terang Lolita dan menyerahkan gelas itu pada Alex.
Tapi Alex tak kunjung menerimanya. Pria itu hanya diam dengan wajah dinginnya.
Lolita pun memaksa. Alex segera memecahkan gelas itu ke lantai.
"Alex!" tegur Lolita, kelewatan.
"Aku tidak ingin meminumnya." terang Alex segera pergi dari sana.
"Alex tunggu dulu ...." Lolita langsung mengejarnya ke kamar.
"Alex!" Lolita berhasil mencengkal tangan Alex yang ingin masuk kamar mandi.
Pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Jika ia memandang Lolita saat ini, sudah pasti hatinya akan lemah. Ia tidak mau itu terjadi, sedikit saja Alex ingin memberi pelajaran pada Lolita bahwa hatinya bukan untuk dipermainkan. Ia juga bisa merasakan sakit. Tapi dengan tidak berperasaannya Lolita melanggar janjinya dan memilih Denis.
"Alex dengarkan aku, aku dan De—"
"Sudahlah aku tidak ingin mendengarkannya!" Alex segera masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya.
"Alex!"
"Alex!"
Diluar pintu Lolita terus memanggilnya.
Alex sama sekali tidak mau membukakannya. Biarlah seperti ini dulu. Lolita harus menyadari kesalahannya. Bahwa cinta bukan untuk dibagi tapi diberi pada satu orang.
__ADS_1
...
Melihat Alex baru saja keluar dengan setelah rapihnya, Lolita bergegas menghampirinya.
"Sarapan dulu sebelum pergi." pinta Lolita memohon.
"Aku tidak lapar."
"Alex ..." melas Lolita.
"Untuk apa kau kemari? Jika kau merasa gusar karena perkataanku kemarin. Jangan dipikirkan, aku tidak akan pergi. Aku mencintaimu untuk apa aku menyerah untuk pecundang seperti Denis!"
"Itu masalahnya, aku ingin menjelaskan ka—" sebelum Lolita mengatakannya, Alex segera memotong.
"Jangan sekarang, aku sibuk." Alex berucap sembari melepas tangan Lolita dan berlalu.
"Makanlah dulu." pinta Lolita, mengikuti Alex.
Alex hanya diam.
"Kau sangat marah padaku?"
Alex terus diam.
"Aku minta maaf, setidaknya dengarkan penjelasaku dulu." mohon Lolita terus.
Sampai di Mobil, Alex berhenti dan memandang Lolita.
"Aku bilang jangan sekarang. Jika kau sudah selesai, kau bisa pulang diantar Jhon."
Pria itu bahkan tidak tahu Lolita berniat tinggal disini. Dasar, kalau marah pasti tidak memikirkan apapun lagi. Menyimpulkan dengan seenaknya.
"Alex!"
Percuma Pria itu sudah pergi dengan Mobilnya. Lolita mengumpat lalu ia ingat ia sedang hamil. Lolita pun menutup mulutnya.
Sekarang Lolita tidak boleh mengumpat. Kata orang, ibu hamil tidak boleh berkata kasar. Tidak baik untuk janinnya. Jadilah ia lebih sering memilih kata yang baik.
Tapi bagaimana dengan Alex, Pria itu selalu marah dan tak mau mendengarkannya. Alex kok menjadi keras kepala seperti ini?
...
Selama di Club, Alex tak konsentrasi dengan bisnisnya. Ia sedang berbicara dengan Klien, tapi pikirannya terus berpusat pada Lolita.
Sebenarnya mengapa Lolita berkunjung. Wanita itu merasa bersalah? terlambat. Seharusnya jika Lolita tidak mau ia marah, Lolita jangan memilih Denis. Tepati saja janjinya untuk tinggal bersamanya. Masalah keluarga Lolita, bisa diselesaikan dengannya kan. Tapi Wanita itu seolah ingin sendiri dan tak mau ia terlibat.
"Maaf, kau mendengarku?" Klien langsung menyadarkan Alex.
"Aku akan kirim barangnya nanti malam, anak buahku yang akan menanganinya." Alex segera berdiri.
Tidak bisa dibiarkan, walaupun Lolita terus menyakiti hatinya. Alex masih mencintainya, apalagi saat ini Lolita sedang hamil anaknya. Bagaimana bisa ia bersikap kekanakan seperti ini. Hanya pada Lolita, Alex menjadi kehilangan kendali. Ia melakukan hal-hal jauh dari kebiasaannya.
"Aku harus pergi, maafkan aku." setalah meminta maaf, Alex segera pergi keluar Clubnya.
Alex harus cepat menemui Lolita untuk meminta maaf. Semoga saja Lolita masih ada di rumahnya dan belum pergi.
Pria itu mengendarai Mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ketika tiba di Rumahnya, Alex langsung dikejutkan dengan kejadian Lolita yang sedang ditarik tangannya oleh Roger. Ayah Lolita itu memaksa Putrinya keluar dari Rumahnya. Ada apa ini?
Membuka pintu mobilnya cepat, Alex mendengar pertengkaran mereka.
"Aku tidak mau pergi Ayah!"
"Jangan seperti ini Freya, dengarkan Ayah!" Roger tetap memaksa.
Aidan juga ada di sana, Pria itu mendukung Ayahnya.
"Iyah Freya, kau harus dengarkan Ayah!" Aidan menimpali.
Lolita tetap tidak mau dan berontak.
"Ada apa ini?" tanya Alex sampai di teras Rumahnya.
Pria itu menatap cengkraman Roger ditangan Lolita. Seketika Alex tak suka dan melepaskan itu.
"Jangan berbuat kasar, kau Ayahnya kan?" ingat Alex sambil melindungi Lolita dibelakangnya.
Mereka berdua betatapan sengit.
"Sudahlah ... kau tahu mengapa aku melakukan ini!" sinis Roger. Ayah tiga anak itu terlihat kesal.
"Maksud Ayah apa?" tanya Lolita menimpali.
Sementara Alex hanya diam. Pasti Roger akan memberitahu semuanya pada Lolita.
"Freya dengarkan Ayah, Pria ini tidak baik untukmu. Tinggalkan dia. Dia adalah seorang Mafia kejam. Latar belakangnya buruk, kriminal dan banyak membunuh orang!" hardik Roger.
Seketika Lolita terkejut. Ayah mengetahui ini semua? Lolita pun memandang Alex yang ada didepannya. Pria itu sepertinya sudah tahu.
"Ayah tidak mau terjadi sesuatu padamu, Freya. Ayah mohon ikut Ayah kembali dan tinggalkan Pria ini?" Roger menunjuk Alex, marah.
"Freya ayo pulang!" sekarang Aidan yang memaksa.
__ADS_1
Alex yang melihat itu langsung menghentak tangan Aidan dengan marah.
"Jangan ada yang memaksanya lagi, aku sudah bilang. Apapun yang terjadi aku akan tetap bersama Freya!" bentak Alex menatap tajam kedua orang itu.
"Tidak tahu diri, Pria sepertimu tidak pantas untuk putriku. Jika Freya menyayangi Ayah, kembalilah." Roger kemudian meminta dengan pilihan.
Alex sudah ingin maju untuk memberi pelajaran. Beraninya Roger mengancam Lolita dengan nama kasih sayang. Tapi Lolita yang ada di sana segera menahannya dan wanita itu pun menghadap Ayahnya.
"Aku tidak mau pergi kemanapun. Rumahku disini bersama Alex." terang Lolita meluncur bebas dari mulut manisnya.
Seketika hati Alex langsung menghangat. 'Rumahku disini bersama Alex.' perasaan baru menyelimutinya. Ia tak percaya ini, Lolita mengakuinya di depan semua orang.
"Aku mencintai Alex, Ayah. Dan jika Ayah menyayangiku seharunya jangan memaksaku." ucap Lolita, melirih.
Roger terlihat tidak terima, Pria paruh Bayah itu ingin menyela tapi Lolita segera bicara.
"Apapun profesi Alex, mau dia Mafia atau bukan. Aku akan selalu mencintainya. Seluruh dunia bisa menghinanya tapi aku akan memujinya, seluruh dunia bisa mengatakan dia jahat tapi aku orang pertama yang mengatakan dia sangat baik untukku." Lolita berhenti sebentar untuk menggenggam tangan Alex.
Wanita itu terlihat berani dan yakin. Alex sampai takjub melihatnya.
"Mulai hari ini siapa pun yang memisahkan kita aku tidak akan membiarkannya." lanjut Lolita.
"Kau menentang Ayah, Freya?" tanya Roger marah. Pertama kalinya hanya untuk Pria keji itu, Putri kesayangannya pun menentangnya.
Brengsek! mulai sekarang Roger tidak akan memberikan ampun pada Alex.
"Tidak aku tidak menentang Ayah. Aku sedang memperjuangkan hubunganku dengan Alex. Cobalah mengerti."
"Dengan kau memperjuangkan hubungan yang tidak Ayah restui itu berarti kau telah menentang Ayah." bentak Roger.
Lolita menggeleng Frustasi.
"Sampai besok kau belum kembali, Ayah benar-benar marah padamu!" Roger pun segera pergi dari sana. Sifatnya yang seperti ini nih yang mengingatkan Lolita pada Denis. Mereka sedikit sama, keras kepalanya dan apapun harus dituruti.
Setelah kepergian Aidan dan Ayahnya. Lolita mengehela nafas kasar.
Alex bisa merasakan kegelisahan dalam diri Lolita.
"Kau seharusnya jangan seperti itu. Pergi saja dengan Ayahmu. Aku tidak keberatan."
"Sungguh?" kali ini Lolita menghakimi Alex.
"Saat aku memilih Denis kau marah hingga bersikap acuh padaku, lalu saat aku membelamu hari ini. Kau menyuruhku ikut dengan Ayah?! Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan Alex?!" keluh Lolita merasa kesal sambil berkacak pinggang dihadapan Pria itu.
Alex mengerutkan dahinya, "Aku hanya tidak ingin kau merasa bersalah pada Ayahmu." bela Alex, merasa tak bersalah.
"Kau ini sangat aneh! Aku sedang memperjuangkanmu tapi kau menyalahkanku. Sudahlah, aku tidak ingin bicara denganmu lagi!" Lolita segera pergi ke dalam.
Alex yang merasa bersalah, segera mengejar Lolita.
"Maafkan aku." ucap Alex langsung.
"Ini, yang ingin aku jelaskan Alex. Kau selalu menghindar dan selau saja marah. Bisa tidak redam dulu amarahmu dan dengarkan aku?!" keluh Lolita ngambek.
"Iyah, aku dengarkan." jawab Alex menurut.
"Hubunganku dan Denis sudah berakhir, kita tidak punya hubungan apapun selain saudara."
Alex langsung tertegun.
"Iyah, bahkan masalahku dengan Ibuku sudah berakhir. Saat kau selalu datang ke Rumah Ayahku tapi dengan sikap dinginmu, aku merasa gundah. Aku selau berfikir, apa aku sudah tidak adil padamu. Kau sudah banyak memperjuangkan hubungan kita, kau juga telah banyak mengalami sakit hati karenaku. Tapi aku selalu mengabaikanmu dan memilih Denis.
"Maaf, karena sikap bodohku dan egoisku. Mulai sekarang aku janji, aku tidak akan ragu lagi. Jika orang lain bertanya, aku akan menjawab kau adalah satu-satunya orang yang aku cintai tidak ada yang lain. Aku hanya milikmu ...."
Alex tidak tahan lagi, Pria itu segera membawa tubuh Lolita ke pelukannya. Ia memejamkan matanya dan menghirup aroma tubuh Lolita yang manis dan menyegarkan.
"Jangan bicara lagi. Kalau tidak aku akan melahap bibirmu sampai bengkak." ucap Alex emosional.
Lolita terkekeh, "Menarik, aku ingin merasakannya." goda Lolita.
Pria itu menggeram, Lolita pun membalasnya dengan pelukan erat.
"Aku sangat-sangat mencintaimu, jangan marah lagi yah?"
"Hmm ..."
"Kau tidak mau membalasnya?" tanya Lolita ngambek.
"Iyah."
"Iyah apa?!"
"Aku sangat-sangat mencintaimu ...." Alex pun mengulang ungkapan Lolita tadi, tapi dengan nada rendah yang dingin.
"Selain pemarah, kau batu Es juga yah!" hardik Lolita.
"Terserah."
Tuh, kan. Jawabannya pelit sekali.
***
__ADS_1
Satu part lagi end. Mungkin enggak sesuai ekspektasi kalian tapi aku harus selsaiin cerita ini biar enggak ada utang🤣🤣