
Happy Reading guys....
***
Mereka semua tiba di Rumah. Denis sudah dipindahkan ke kamarnya sendiri. Dengan segala alat medis yang dibawa dari rumah sakit, akhirnya Pria itu bisa dirawat di Rumah tanpa harus di rawat di Rumah sakit lagi.
Tapi tetap saja kondisi Denis akan tetap dikontrol oleh Dokter setiap harinya.
"Jangan pergi!" Denis langsung mencegah tangan Lolita yang akan pergi.
"Tapi kau harus istirahat Denis." ucap Lolita, enggan.
"Aku akan tidur jika kau menemaniku." paksa Denis tidak mau ditolak.
Akhirnya Lolita tidak punya pilihan, wanita itu duduk di kursi samping tempat tidur Denis dan menemaninya tertidur.
"Baiklah, tidurlah sekarang!" perintah Lolita.
Denis tersenyum lalu menutup matanya sambil menggenggam tangan Lolita erat. Pria itu tidak akan membiarkan Lolita pergi kemanapun.
Lolita menatap nanar tangan Denis. Seharusnya Denis tidak melakukan ini padanya. Keadaan Denis yang seperti ini membuatnya dan Alex menjauh.
Lolita menjadi sesak dan ia terus memikirkan Alex. Ia merasa bersalah karena membuat Alex kecewa. Seharusnya ia tak melakukan itu kan?
Alex pasti marah padanya. Pria itu kecewa dan pergi. Secepatnya Lolita harus menjelaskan hal ini pada Pria itu. Bahwa keadaan ini bukan yang dia inginkan tapi situasi yang memaksanya.
Jika Lolita meninggalkan Denis sekarang, ia takut Denis akan melakukan hal buruk nantinya. Pria itu sangat nekat dan tidak bisa di kendalikan. Itulah mengapa ia tetap bertahan dan menjaganya sekarang.
Lolita harus menjelaskan. Cinta dan kasih sayang berbeda. Ia bisa kehilangan segalanya tapi kasih sayang tidak bisa. Mereka sudah hidup sejak kecil. Alex harus mengerti tentang hal ini.
Merasakan Denis sudah tertidur lelap di kasurnya. Lolita segera menarik tangannya dari tangan Pria itu.
Saat di luar Lolita mendengar pertengkaran seseorang.
"Mau apa kau kemari!" itu suara ayahnya. Sepertinya Roger sedang marah. Sebenarnya ada apa ini?
Bergegas pergi, Lolita berjalan cepat ke pintu utama. Di sana Lolita melihat Ayahnya dan Alex sedang bersitegang.
"Tidak ada yang boleh masuk ke rumahku." ucap Roger tajam.
"Aku berhak. Aku Ayah dari anak yang dikandung Freya, aku ingin memberikan obatnya." jelas Alex, dingin. Tidak peduli dengan larangan Roger tadi.
"Tapi aku tidak mengizinkannya!" seru Roger kesal.
Alex kemudian menatap Roger tajam.
Sebelum terjadi perkelahian, Lolita bergegas pergi menghampiri mereka.
"Ayah ... Alex benar, Dia Ayah adalah dari anakku. Aku ingin bicara dengannya." pinta Lolita menghentikan mereka.
Roger menatap putrinya. Dia terlihat tidak setuju.
"Aku mohon ..." Lolita berucap lagi.
"Baiklah." setelah mengatakan itu Roger pergi dari sana. Untuk sekarang kau selamat Alex!
Lolita memandang Alex. Ia sangat merindukan Pria itu. Namun saat Lolita ingin mendekat, Alex segera mundur.
Lolita langsung terkejut. Kenapa dengan Alexnya? Pasti tentang kejadian tadi siang.
"Kau meninggalkan obatmu." singkat Alex segera memberikan bungkusan obat itu padanya.
Pria itu sangat dingin. Ini pertama kalinya Alex bersikap seperti ini padanya.
"Alex ..." Lolita melirih
Namun siapa sangka Alex malah berbalik pergi dan ia pun segera menahan tangannya.
"Alex mengertilah." pinta Lolita, memohon. Pria itu pasti marah karena ia menolaknya di Rumah sakit tadi siang.
Alex melepaskan tangan Lolita, Pria itu menjaga jarak darinya. Sikap ini membuat Lolita sakit hati. Hatinya tak terima.
"Istirahatlah, aku masih ada urusan." ucap Alex selanjutnya.
Lolita kemudian meringis memegangi perutnya, "Aakhhww-awhh ... Sakit!" teriak Lolita. Saatnya menjalankan drama. Ia yakin Alex akan berempati padanya.
Dan benar saja, Alex segera berlari padanya, "Ada apa? Perutmu sakit?" tanya Alex khawatir.
"Iyah, aku tidak bisa pergi ke kamarku sendiri ... Tolong bantu aku .... !" ringis Lolita terus.
Alex terdiam.
"Aakhhwww!!" Lolita berteriak lagi sebelum Alex menyadari kebohongannya.
Alex pun segera mengangkat tubuh Lolita untuk masuk ke kamar wanita itu.
Dalam gendongan Alex. Lolita sedikit tersenyum. Lihat kan, Alex tidak bisa marah padanya.
__ADS_1
"Aku tahu kau berbohong." tiba-tiba saat mereka menaiki tangga, Alex berkata seperti itu.
Lolita terkejut. Pria itu mengetahui semuanya!
Masuk ke kamar Lolita, Alex segera membaringkan Lolita ke kasurnya. Pria itu menatapnya lama.
"Istirahatlah, jangan membuat kebohongan untuk memancing perhatianku karena aku tidak tertarik lagi." sinis Pria itu dingin.
"Apa maksudmu?" tanya Lolita ketakutan. Apa ia tidak penting lagi?
Alex hanya diam. Pria itu kemudian berbalik pergi. Lolita segera turun dari ranjang dan memeluknya dari belakang.
"Jika marah katakan, jangan menyimpannya." keluh Lolita.
Tapi Alex hanya menurunkan tangan Lolita. Pria itu kemudian benar-benar pergi dari sana.
Lolita langsung terdiam. Hatinya kehilangan. Ia menyesali semuanya. Pasti Alex sangat marah padanya. Itulah mengapa, Pria itu bersikap seperti ini padanya.
...
Hari-hari kemudian dikerjakan Lolita dengan mengurus Denis. Pria itu sangat rewel, inginnya selalu bersama dengan dirinya. Lolita sampai pusing menanganinya, Denis seperti anak kecil.
Padahal dalam hatinya ia sedangan memikirkan Alex. Semenjak mengantarnya malam itu ke kamarnya, Alex terus bersikap dingin. Pria itu memang datang setiap hari untuk menjenguknya. Tapi itu hanya sebentar. Setelah itu pergi lagi.
Entahlah kemana Alex mau pergi, tapi Lolita menjadi tidak tenang, melihat Alex bersikap seperti ini padanya membuat hatinya gundah. Ada saja sesuatu yang mengganjal dalam dirinya dan itu membuatnya gila.
Lolita masih ingat kata-kata Alex semalam sebelum pergi.
"Jika kau masih belum bisa menentukan sikap, jangan harap aku bersikap seperti dulu lagi."
Ucapan Alex itu seolah menyindir. Lolita menyadari, sikapnya selalu labil dan konsisten. Tapi percayalah, ia akan menyelesaikan semua ini dulu. Lolita berharap sebelum itu Alex masih bisa bersabar.
"Freya?" tiba-tiba seseorang mengguncangkan bahunya.
"Yah?" Lolita langsung terkaget.
"Pikiranmu kemana? Kau harusnya menyuapiku makan." tegur Denis selanjutnya.
Melihat mangkuk yang berisi makanan ditangannya, Lolita tersadar. Ia sedang menyuapi Denis makan tadi, tapi karena Alex menyita pikirannya, ia pun tak sadar.
Sekarang Lolita yakin, ia sangat mencintai Alex. Ia tidak ingin jauh dari Pria itu dan merindukannya.
Pokoknya Lolita harus menyelesaikan masalah ini. Ia tidak mungkin berada di tengah-tengah Alex dan Denis terus. Ia harus mengambil keputusan tegas. Denis harus mengerti, ia tidak mau bersamanya.
"Denis kau ingat?" sembari menaruh Mangkuk itu di Nakas, Lolita ingin mengenang masa lalu bersama Pria itu.
"Karena aku mencintaimu." jawab Denis, dalam.
Lolita menggeleng, "Itu tidak benar. Yang sebenarnya adalah kau ingin mendapatkanku untuk obsesimu saja."
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu atas cintaku?!" Denis tak terima.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan taruhan teman-temanmu yang membuatmu ingin mendapatkanku? Kalau itu bukan obsesi?" tanya Lolita santai.
"Lalu bagaimana dengan kau menyebarkan foto palsu Alex di Mading sekolah, itu bukan obsesi?"
"Aku sudah bahagia bersama Alex saat itu, tapi karena kau merasa kalah. Kau melakukan itu lagi dan membuatku kembali bersamamu karena ambisimu."
Denis langsung terkejut, Pria itu tidak bisa berkata-kata.
Melihat eksepsi Denis yang tak biasa, membuat Lolita tersenyum.
"Itu bukan pertama kalinya Denis. Aku selalu dianggap permata yang indah yang harus didapatkan oleh dirimu tapi saat kau sudah mendapatkannya kau akan membuangnya seperti sampah. Itulah dirimu kau sangat terobsesi padaku. Lihat lah, sekarang kau juga sedang melakukannya lagi."
"Kau pikir seperti itu Freya?" mata Denis langsung memerah.
"Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan dan aku tidak menampik hal itu. Aku Pria bajingan yang mempermainkan wanita. Tapi saat aku mengatakan mencintaimu, itu berarti aku tulus mencintaimu. Kau pikir apa, Hubungan apa yang kita jalankan selama ini kalau bukan cinta?"
"Obsesi." ucap Lolita langsung.
Denis menyeringit tak setuju.
"Aku menyadarinya Denis, bukan kau saja yang terobsesi. Akupun sama. Aku melakukan hal bodoh untuk cintaku. Padahal jika mereka saling mencintai landasan utama dari cinta adalah saling percaya.
"Aku tahu Denis, kita menjadi dekat karena haus akan kasih sayang. Dari kecil kita tidak mengerti hal seperti itu. Orang tua kita sibuk. Kita saling memberi dan menerima kasih sayang. Hingga tanpa sadar kita menjadi dekat karena hal itu. Cinta yang kita sadari selama ini bukan cinta tapi obsesi." tekan Lolita.
Denis tidak terima.
Lolita segera menyela sebelum Denis berbicara, "Mengertilah ... Kasih sayangku tidak akan berubah padamu. Walaupun kita tidak bersama nantinya, kau akan menjadi saudara yang aku sayang."
"Jadi kau mengakuinya?" Denis mengeluarkan air matanya.
"Iyah, aku sangat mencintai Alex. Aku tidak akan menyembunyikannya lagi. Maafkan aku Denis ...." Lolita menangis terisak.
"Kau akan merelakan ku kan? Aku tidak mau menyakitimu karena itulah aku selalu bertahan di sisimu. Tapi untuk hari ini aku tidak bisa. Aku membutuhkan Alex ...." lanjut Lolita tersedu-sedu.
Denis memalingkan wajah. Mereka kemudian menangis dalam diam untuk beberapa saat.
__ADS_1
Denis merasakan sakit yang mendalam dihatinya. Jantungnya mungkin baik-baik saja. Tapi orang lain tidak bisa melihat saja, saat ini Denis sedang menahan rasa sakit dari jarum yang terus dihujami ke jantungnya.
Perih.
Merelakan Lolita sama saja merelakan hidupnya. Denis tidak bisa, tapi jika ia terus egois. Lolita tidak akan bahagia. Ia juga menyadari Lolita tidak mencintainya lagi. Ia tidak peduli jika Lolita mengatakan cintanya adalah obsesimu. Cukup ia yang tahu, bahwa rasa sakit ini mewakili cintanya yang mendalam.
Denis menatap Lolita, "Pergilah, jika kau ingin bersama Alex. Aku akan merelakannmu. Aku memang sangat buruk hingga saat ini aku terus mengambil menahanmu."
"Tidak Denis ..." Lolita menggeleng.
"Kau adalah satu-satunya orang yang ku sayang. Jika kau tiada, aku maka hidupku juga akan hilang Denis. Aku sangat menyanyangimu ...." Lolita kemudian menghambur memeluk Denis.
Mereka berdua sama-sama menangis pilu. Orang-orang tidak tahu kasih sayang mereka sangat besar. Cinta pada saudara memang tidak benar, karena itulah mereka berkahir seperti ini.
"Aku mohon Denis, setelah ini ... Jangan sakiti dirimu. Alex boleh saja mengusahi hatiku, tapi melihatmu tiada, aku tidak bisa menerimanya ...." lirih Lolita masih menangis.
Kejadian itu pun menjadi akhir dari kisah cinta dari sepasang saudara tiri. Memang tak mudah, tapi Denis harus menerimanya.
...
"Kita cerai, segera tandatangani surat perceraian itu!" perintah Roger sambil menyerahkan berkasnya pada Megan.
Megan tak terima dan membuang berkas itu ke lantai, "Aku tidak mau cerai!" teriak Megan keras.
"Kalau begitu, kita urus perceraian kita di pengadilan!" putus Roger seketika.
Megan berteriak histeris. Aidan memeluk ibunya dan menenangkan.
"Sebenarnya apa salahku? Aku melakukan apa yang menurutku benar. Kau sudah mengkhiantiku dan anak haram itu pantas mendapatkannya!!'
Roger mendekat dengan mata tajamnya, "Tutup mulutmu, jangan lagi menghina Freya. Beruntung aku tidak memenjarakanmu karena kasus kekerasan ini!" tekan Roger marah.
Megan menangis dan memelas, "Aku mohon maafkan aku. Aku mengaku salah. Tolong maaf kan aku!" ucap Megan ketakutan.
"Yah, kau memang mengaku salah saat ini, tapi sebenarnya kau takut kehilangan hartamu kan? Aku tahu, Megan. Kau tidak mencintaiku, kau hanya ingin hartaku saja. Dan jika kau ingin minta maaf, minta maaflah pada Freya!"
"Dan cam kan ini baik-baik Megan. Kita akan tetap bercerai maka tandatangani lah surat cerai itu secepet mungkin!" setalah mengatakan itu Roger pergi dari sana.
Megan berteriak memanggil suaminya. Tapi Roger tak mempedulikannya. Megan harus di beri pelajaran. Itulah pemikirannya.
Sementara itu Lolita yang baru saja keluar dari kamar Denis dengan mata sembabnya, menyaksikan hal itu dari kejauhan. Wanita itu mengerti masih ada satu hal masalah yang belum di selesaikan.
Padangan mereka kemudian bertemu. Megan tetap angkuh, tentu saja ia tidak mau meminta maaf pada anak haram itu.
Berbalik pergi, Megan abaikan tatapan Lolita yang masih memandangnya. Tidak akan ia biarkan Lolita menang saat ini.
Ternyata saat Megan sedang menangis di kamarnya, Lolita datang dan duduk di sebelahnya. Megan yang melihat itu terlihat benci.
"Untuk apa kau kemari? Pasti kau ingin mengejekku kan?" tanya Megan sarkas.
"Kenapa kau sangat membenciku dan Ibuku? Apa karena ibuku mengambil Ayah darimu? Aku dengan kalian saudara kandung tapi kenapa karena satu kesalahan Ibuku, kau sampai membencinya?" tanya Lolita tanpa memandang Megan.
"Jika tidak tahu apa-apa kau diam saja!" sela Megan sinis.
"Ibuku selalu menyanyangimu. Mungkin saat itu aku terlalu kecil, tapi aku masih ingat Ibuku selalu menatap foto kalian sambil menangis. Apa itu tidak cukup untuk merobohkan kebencian dihatimu?" tanya Lolita lagi menatap lantai.
"Sudah kubil—"
"Ibu berkata Megan adalah kakak terbaik di dunia, dia sangat baik. Kau akan senang tinggal bersamanya. Itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum meninggal. Apa kau masih tidak mau memaafkannya?" Lolita menghela nafasnya panjang. Ia tak kuat menahan tangisnya. Tangisannya pun pecah.
Tanpa disadari Megan pun ikut menangis.
"Dia sangat mencintaimu dan dia juga menyesali semuanya. Sekarang Ibuku tiada, apa pantas kau membencinya?"
Mereka kemudian menangis terisak.
Lolita terdiam sebentar, "Sebenarnya duduk bersamamu membuatku takut. Bahkan tanganku masih bergetar. Aku selalu bingung dan marah. Mengapa kau melakukan ini padaku, apa salahku? Saat itu aku masih kecil dan kau sudah melakukan penyiksaan padaku.
"Kau tahu setelah penyiksaan itu, hari-hariku buruk. Aku mengalami trauma berat. Bahkan saat aku kembali lagi ke New York bayangan kau menyiksaku selalu menghantuiku. Aku tidak bisa bernafas rasanya sesak.
"Aku ingin membalas semua penyiksaanmu tapi tidak bisa. Tapi satu yang bisa aku lakukan saat ini. Jika perceraian itu bisa, aku ingin kau dan ayah bercerai. Nikmatilah penderitaanmu setelah itu beban penderitaanku akan hilang!" Setelah mengatakan itu Lolita pergi dari sana.
Ia tidak peduli lagi pada hati nuraninya. Ia selalu mengalah pada penderitaan. Sekarang akan ia berikan penderita pada orang. Biarkan saja Ibu tirinya itu menyesali semuanya sampai mati.
Wanita itu sempat melewati Aidan dan Sarah. Lolita abaikan dan tetap berjalan keluar rumah. Hari ini semua masalahnya telah terselesaikan. Sekarang tinggal satu yang harus ia urus, Alex.
Pria itu sangat Lolita rindukan. Ia ingin menemui Alex dan memeluknya nanti. Lolita akan mengatakan mereka bisa hidup bahagia mulai dari sekarang.
***
Dua Bab lagi bakal Ending😭
Pokoknya kalian harus baca season 2 nya, itu gantung banget lohh. Dijamin Season 2 lebih tegang seru. Hanya di Fi---zzo Gratis! caranya download appnya dan login atur umur 18+ agar bisa menemukan ceritanya. So aku tunggu kalian di sana yah 🤗
__ADS_1