MAFIA KEJAM

MAFIA KEJAM
MaFia KeJam | Part 46 - Budak Cinta


__ADS_3

Tolong yang mau baca kebersamaan, keromantisan dan keunyuan Lolita dan Alex baca part ini😂


Kalau suka like komen yah😘😘


****


Setelah kejadian itu, Jhon membawa Alex ke rumah. Jhon juga telah menghubungi Dokter sewaannya yang sudah datang beberapa menit yang lalu.


"Aku sudah bilang pasien tidak boleh melakukan kegiatan apapun. Lukanya belum kering dan demamnya semakin parah." Sang dokter menegur mereka.


"Ini salahku, seharusnya aku tak menghubungi Boss saat itu." ucap Jhon merasa bersalah pada dirinya sendiri.


Lolita menyeringit, Jadi Alex sudah sakit sebelum berkelahi?


Dan dugaannya terbukti benar ketika perawat itu menggunting kaos Alex dan memberikan salep di dada, punggung dan kaki Alex yang terdapat luka bakar.


Lolita terkejut, ia menutup mulutnya saking tak percayanya. Alex menahan semuanya sendiri.


Dengan banyaknya luka yang di alami Alex. Ia kira selama ini Alex tak mengalami luka apapun.


Setelah menyelamatkannya, Alex tampak baik-baik saja. Pria itu juga yang merawat kakinya yang terbakar saat itu. Alex melakukannya dengan baik tanpa mengeluh apapun.


"Jhon, selama dua hari ini Alex melakukan perkejaan pentingkan dan bukan sakit?" Tanya Lolita untuk memastikan.


"Maaf Nona, sebenarnya Boss dalam masa perawatan waktu itu, lukanya infeksi dan membuat kesehatannya menurun. Beliau tidak mau terlihat lemah di hadapan Nona karena itu Boss tidak mau memberitahu Nona." sesal Jhon diakhir kalimatnya.


"Pria bodoh!" Lolita mengumpati Alex yang sedang di obati.


Bagaimana bisa orang yang sekarat bisa di anggap lemah. Alex merawatnya, menjaganya tapi Pria itu sendiri tak mau menjaga kesehatannya. Kata apa yang tepat jika bukan bodoh untuk menggambarkan Pria itu.


...


"Sekarang pengobatannya sudah selesai, kita tinggal tunggu demamnya menurun sampai besok. Semoga saja Pasien bisa sadar dan pulih dengan cepat. Berikan obat ini tepat waktu dan salepnya aku mohon di berikan tiga kali sehari agar luka bakarnya cepat mengering." ucap sang Dokter menyerahkan beberapa obat kepada Lolita.


"Terimakasih Dok, biar aku antar anda ke depan." Jhon mempersilahkan. Lalu dokter dan perawat itu pun pergi bersama Jhon.


Lolita menghampiri Alex yang di tidurkan memiring karena luka bakarnya. Ia duduk di sisi tempat tidur lalu menatap wajah pucat penuh luka Alex sehabis berkelahi.


Bagaimana bisa seorang Boss Mafia besar seperti Alex bisa menahan rasa sakitnya sendiri hanya untuk seorang wanita biasa seperti Lolita.


Lolita kemudian mengambil tempat disisi Alex untuk berbaring.


Seperti inikah cinta tulus Alex padanya. Seperti inikah cinta tanpa pamrih dari Alex untuknya.


Andai saja Pria itu tak jahat, mungkin Lolita tak akan membencinya seperti ini. Alex seharusnya bisa mengambil kehidupan yang lebih baik dari ini.


Alex berhak memilih. Tapi apa alasan hingga Alex terjun ke dunia gelap seperti ini. Ia jadi penasaran.


...


Merasakan seseorang menyentuh wajahnya, Lolita membuka matanya perlahan. Sial, ia ketiduran. Saat itu lah ia menemukan Alex sedang menatap wajahnya lembut.


"Alex?" Berulang kali Lolita mengedipkan matanya bingung. Alex hanya tersenyum tipis.


"Kau sudah sadar?!" Lolita segera duduk dari tidurnya dan memeriksa kening Alex. Masih panas.


"Kau masih sakit, apakah luka bakarnya juga sakit?" Lolita bertanya penuh kekhawatiran.


"Aku suka." tiba-tiba saja Alex berucap seperti itu.

__ADS_1


Lolita menyeringit aneh, "Apa yang kau bicarakan? Aku bertanya lukamu. Tidak! sebaiknya aku beritahu Jhon!" Lolita ingin bergegas turun dari ranjang, tapi satu tangan Alex yang di infus menahan tangannya.


"Jangan pergi." Alex berkata serak.


Lolita pun duduk kembali di sisi Alex.


"Tidurlah." pinta Alex dan Lolita pun kembali menuruti permintaan Alex dengan tidur di sampingnya.


"Aku suka, suka saat kau mengkhawatirkanku ...." Bersamaan dengan itu Alex menutup matanya dan menggenggam tangan Lolita erat.


Deru nafas yang setabil dari Alex dapat Lolita dengar. Sepertinya Alex kembali tertidur. Lolita menghela nafas, lega. Mungkin ini pengaruh obat.


Lolita pun menatap Alex lagi. Ia tidak mengerti, Alex pernah ingin dirinya mati di bakar tapi melihat Pria itu sakit seperti ini entah mengapa membuat hatinya merasa bersalah dan gelisah.


...


Besoknya Alex kembali sadar, ia menatap ke samping tempat tidurnya, tidak ada. Lolita kemana? Jelas sekali semalam ia melihat Lolita tidur bersamanya dan bahkan bicara padanya juga.


Alex bangun dengan erangan sakit di luka bakarnya. Jhon yang baru ingin masuk bergegas berlari dan menghampiri Bossnya.


"Apa yang kau lakukan Boss? Lukamu bisa semakin parah jika seperti ini!" Jhon membantu Alex duduk.


"Dimana Lolita?" Alex memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Punggungnya sengaja tak ia senderkan karena yakin, pasti akan terasa sakit jika ia melakukanya.


"Nona sedang memasak, eh itu dia!" Jhon langsung melihat Lolita yang baru memasuki kamar dengan nampan berisi makanan di tangannya.


"Alex kau bangun? Bagaimana bisa, luka mu masih sakit bukan?" Lolita menaruh nampan makanan itu di Nakas lalu duduk di samping Alex.


Alex tersenyum.


Setelah melihat Lolita seperti ini. Rasanya semua rasa sakit di alaminya saat ini langsung menghilang.


"Iyah, sepertinya begitu. Lihat saja kau yang seperti ini. Aku bisa mengatakan dengan jujur kau sedang terluka parah. Bagaimana bisa kau tak mengatakan kau sakit,


"Kau pura-pura pergi padahal kau sedang di rawat. Ini tidak benar, aku selalu di siksa olehmu dan sekarang kau menyiksaku dengan rasa bersalah!" Seperti biasa tutur bahasa Lolita tak pernah baik. Ia selalu berkata kasar padahal hatinya sebaliknya.


Mereka berdua terkekeh. Jhon dan Alex.


"Kenapa kalian tertawa?!" Lolita menegur mereka tak terima.


"Anda lucu Nona." ucap Jhon tanpa sadar.


"Jhon kau berani menertawakannya?" Alex menatap tajam Jhon, serius.


Hanya Alex saja yang bisa menertawakan sikap lucu Lolita. Orang lain tidak. Termasuk Jhon. Oh, sepertinya Alex mulai posesif.


Jhon langsung berdehem pelan, "Maaf, aku akan kembali." Jhon bergegas keluar kamar untuk pergi.


Sementara Lolita menatap kepergian Jhon sinis, "Dasar aneh!" hardik Lolita.


"Ekhhmm!" tiba-tiba Alex menegur Lolita lewat batuk bohongan nya.


"Apa?!" Lolita berkata keras pada Alex.


Alex membelai rambut Lolita lembut, "Aku merindukanmu ..." ucap Alex diiringi senyum bahagianya. Dan Lolita hanya bisa diam menerima elusan Alex di rambutnya.


...


Seminggu berlalu ada saatnya mereka bertengkar dan saling menyiram kasih sayang. Dan ada saatnya juga mereka hanyut dalam hasrat.

__ADS_1


"Kau bilang kau akan menuruti semua keinginanku. Tapi untuk makan saja kau susah sekali!!" Kesal Lolita membanting sendoknya.


"Tapi lidahku pahit, kau selalu masak bubur bagaimana aku bisa makan?" Keluh Alex.


"Oh ... Sekarang kau mencari-cari kesalahanku?!" Tanya Lolita akan marah.


"Bukan begitu .. hanya saja ..."


"Sudahlah, jangan bicara lagi!!" Potong Lolita hendak pergi dari sana. Tapi Alex segera menahan tangannya.


"Asataga ... Sekarang siapa yang pemarah?" tanya Alex bertanya pada Lolita.


Melihat Lolita menatapnya tajam, Alex akhirnya menyerah, "Baiklah-baiklah, aku akan makan semuanya."


Lolita menatap Alex. "Ayo cepat suapi aku!" ujar Alex menunggu


"Dasar manja." Ledek Lolita sebelum menyupi Alex.


Sebelumnya Alex tidak suka saat Lolita mengganggunya dan menentangnya tapi sekarang keadaan berbalik ia malah amat menyukai walaupun itu, ia harus mengalah terlebih dahulu.


"Alex berbalik! Jika kau terus dalam posisi seperti ini bagaimana aku bisa mengobati luka di punggungumu?" tanya Lolita jengah.


Sejak tadi Alex terus menatapnya yang sedang mengoleskan salep di dada Pria itu. Alex tak mau beranjak barang sedetikpun.


Walupun keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik, sikap manja Alex tidak pernah berubah. Ia baru mengetahui sejak dua minggu ini Pria itu juga mempunyai sifat seperti anak kecil.


Inginnya tetap di suapi, tidurnya ingin ditemani dan bahkan Alex pernah mengajaknya ke kamar mandi untuk ditemani.


Lolita sadar, Itu sih, bukan sekedar permintaan tapi ajakan untuk berbuat mesum. Dasar Pria kurang ajar, ingin mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Lukamu sudah hampir kering, kau juga bisa berjalan sekarang. Berbalik sedikit saja, aku terlalu malas beranjak." ucap Lolita kesal.


"Maka janganlah beranjak." ucap Alex penuh arti.


"Maksudmu?" Alex tiba-tiba menyerang Lolita dan membuat wanita itu tiduran di bawahnya.


"Tidak!!" Lolita mengerti dan langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


Sudah cukup Alex banyak mencium di banyak kesempatan, Lolita tak mau tertipu lagi. Ia tidak mau memperbanyak daftar rasa bersalahnya pada Denis.


"Kau pikir hanya bibirmu saja?" Alex tersenyum miring lalu tanpa Lolita duga Alex malah mencumbu lehernya penuh kelembutan.


Astaga! Alex benar-benar licik. Sekarang ia tak bisa menahan erangannya lagi.


...


"Kau membuatnya merah!" Lolita melihat lehernya di pantulan cermin yang di pegangannya.


"Lalu?" Alex malah balik bertanya.


Lolita layangkan tatapan kesal padanya, "Ini tidak bagus, kau membuatnya seperti bintik-bintik cacar." keluh Lolita sebal.


"Itu berbeda, ini namanya tanda kepemilikanku, orang lain akan tahu kau milikku, sehingga tidak ada lagi yang mengaku kau miliknya." ucap Alex penuh kesenangan.


Walapun Alex mengatakannya dengan santai tapi Lolita merasakan bahwa perkataan Alex mengandung arti lain. Seolah Alex ingin menjadikan Ia miliknya selamanya, padahal dalam kebohongan, dia tahu bahwa Lolita adalah miliknya.


Tapi kenyataannya, Lolita bukanlah milik Alex tapi milik Denis. Jika saja Alex mengetahui semuanya, apakah Pria itu akan tersenyum seperti ini terus atau apakah Pria itu akan murka dan menghancurkan segalanya?


****

__ADS_1


...Biar semangat up like daan komen yg bnyk dong. Syukur² like semua chapter😅...


__ADS_2