
Pertengkaran itu kemudian di hentikan oleh Roger. Ayah dari ketiga anak itu menyuruh semua orang untuk bubar. Roger akan memanggil mereka dalam waktu satu jam.
Roger tak mau Putranya itu mengambil keputusan yang salah. Apalagi ini menyangkut Bayi yang tak berdosa.
Di kamarnya Lolita menangis dengan ditemani Aidan dan Sarah.
Aidan bertanya, "Alex itu yang kau temui di persimpangan jalan tadi kan, Dia siapa?" tanya Aidan berlutut di hadapan adiknya.
Sarah yang tahu semua, ingin menjawab. Tapi remasan tangan Lolita di tangannya langsung menghentikannya.
"Alex adalah teman sekolahku dulu, kami sempat berpacaran dan saat Alex kembali, aku tidak bisa menghentikan perasaanku, aku ..." Lolita tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Ia sangat mencintai Alex, tapi tidak mungkin mengatakannya di hadapan Aidan.
Aidan mengerti dan segera menghapus air mata Lolita, "Jangan khawatir, walaupun keadaan memanas sekarang, aku akan tetap berada di sisimu." tenang Aidan.
Kemudian Lolita menangis terisak, "Aidan ... Aku mohon, aku tidak ingin menggugurkannya ... Aku memang tidak menginginkannya tapi aku tidak bisa kehilangannya ...." tangis Lolita semakin pecah.
"Tolong buat Denis mengerti ...." lanjut Lolita lagi, terus menangis dan memeluk Kakaknya itu.
...
"Sudah Mamah bilang, wanita itu sangat murahan. Lihat saja sekarang, wanita itu hamil saat kalian akan menikah. Batalkan saja pernikahan ini. Tidak ada gunanya mempertahankan Dia!" omel Megan, kesal.
Denis hanya diam dengan emosi yang masih membara.
"Bagaimana bisa dia hamil dengan anak Pria lain?! Ini sangat keterlaluan!" Megan terus mengkompori anaknya itu. Sesekali Megan terseyum senang melihat putranya yang sedang mengepalkan tangannya.
"Tidak Mah, aku tidak akan membiarkan Pria itu mendapatkan Freya." Denis berbalik dengan rasa kemarahan dimatanya.
"Tolong bantu aku, aku menginginkan anak itu tiada." lanjut Denis kejam.
...
Mereka semua kemudian dikumpulkan lagi di Ruang Keluarga. Sambil duduk di sofa, Roger sebagai Kepala keluarga memulai pembicaraan.
"Aku harap kalian sudah memikirkannya dengan baik. Freya itu adalah bayimu, kau lebih berhak atas keputusan yang bisa kau ambil, apa kau ingin menggugurkannya atau tidak?" tanya Roger pada Putrinya yang duduk diapit oleh Sarah dan Aidan.
Putrinya itu menunduk dan masih menangis.
"Jangan pikirkan tentang pernikahan dan juga jangan pikiran tentang Denis. Kau bisa memutuskan oleh hati nuranimu." lanjut Roger.
Sejujurnya Roger kecewa pada Lolita yang berselingkuh dibelakang Denis. Ia tidak menyangka Putri yang disayanginya bisa melakukan ini. Tapi untuk bayi yang dikandung Lolita, Roger pikir dia tak bersalah. Ia juga tidak mendukung tentang Aborsi yang ingin dilakukan Denis terhadap Lolita.
"Pah, Freya sudah mengatakan dia tidak ingin menggugurkannya. Dia sudah mengaku salah, aku mohon tolong maafkan dia.
"Seperti aku yang telah menghamili Sarah dan menerima dirinya, aku juga memohon, kalian bisa menerima bayi itu di keluarga ini." pinta Aidan mewakili Lolita berbicara.
"Bagaimana mungkin, aku tidak Sudi menerima anak haram seperti dia!" Megan kemudian berbicara.
"Diam!" peringat Roger pada Megan. Ia tidak suka jika Megan terus berbicara dan membuat suasana buruk lagi.
Megan pun hanya mendumel setelahnya.
"Kau dengar Denis, Freya tidak ingin menggugurkan kandungannya. Sekarang Papah minta pikirkan lagi keputusanmu. Pernikahan kalian tinggal beberapa hari lagi, apa kau ingin membatalkannya?" tanya Roger.
Untuk beberapa saat Denis hanya terdiam.
Lolita mengigit bibir bawahnya. Harap cemas. Ia sudah mengikhlaskan jika Denis ingin menggalakan pernikahan ini, Lolita akan menerimanya. Tapi untuk kehilangan bayi ini Lolita tidak sanggup. Janin ini darah dagingnya bagaimana bisa ia menghabisinya?
__ADS_1
"Aku akan tetap menikah dengan Freya. Apapun yang terjadi kami akan menikah!" jawab Denis setalah lama diam.
Setelah jawaban Denis, semua orang merasa senang. Itu berarti Denis sudah menerima bayi itu. Tidak ada yang bisa di permasalahkan lagi.
"Baiklah pernikahan akan tetap berlanjut. Di hari pernikahan Aidan dan Sarah kalian juga akan menikah bersama." lanjut Roger senang.
Denis kemudian memalingkan wajah ke arah lain. Pernikahan itu memang tetap berlanjut tapi setalah bayi itu tiada. Jangan harap ia akan menerima bayi itu.
Megan terseyum miring, "Kita urus besok." bisik Megan di samping Denis.
...
Setalah pembicaraan itu selesai, Aidan mengantar Adiknya itu kembali ke kamarnya lagi.
"Sekarang jangan khawatirkan apapun, Kau istirahatlah." ucap Aidan dan mengecup kening adiknya itu.
"Terimakasih." balas Lolita sebelum membiarkan Aidan pergi dan menutup pintunya.
Lolita sempat terdiam. Entah mengapa ia masih ragu Denis menerima anak ini. Yang ia tahu, Denis itu orangnya keras kepala dan egois. Dia akan marah dan ngambek jika suatu hal tidak sesuai keinginannya.
Tapi sekarang, Denis menerimanya tanpa berdebat lagi. Ah, mungkin saja Denis sudah berubah. Denis kan sangat mencintainya, jadi dia bisa melakukan apapun untuknya.
Siang hari itupun Lolita habiskan untuk tertidur sampai malam hari. Ia tidak menyangka ia tidur begitu lama seperti ini.
Membasuh wajahnya di wastafel, Lolita pergi ke Balkon setelahnya. Musim dingin masih berlangsung di kota ini. Ia bahkan bisa melihat turunnya salju di luar sana.
Lolita menadahkan tangannya keluar dan salju pun jatuh mengenai tangannya.
Bagaimana jika Alex tahu bahwa ia hamil? Apakah Pria itu akan marah dan membawanya pergi dari Denis?
Suara grasak-grusuk membuat Lolita menyeringit, wanita itu pun langsung menunduk ke bawah dan seketika tatapannya terkejut saat melihat Alex sedang memanjat lantai dua kamarnya menggunakan kedua tangan dan kakinya.
"Jadi selama ini kau menemuiku dengan cara seperti itu? Bagaimana jika kau terluka?" Marah Lolita saat Alex berhasil naik Balkonnya.
"Kau khawatir?" tanya Alex senang.
Lolita langsung mengubah wajahnya menjadi datar.
"Matamu sembab, kau habis menangis?" Alex ingin menyentuh mata Lolita, tapi wanita itu langsung mundur.
Alex tertegun.
"Stop Alex! Aku mohon jangan temui aku lagi dengan cara seperti ini!" bentak Lolita keras.
"Kau khawatir padaku kan?" tanya Alex berfikir positif.
"Tidak bukan itu. Kau pikir bagaimana rasanya jika seseorang selalu diikuti kemanapun. Pasti merasa takutkan?! Kau membuatku tidak bisa bernafas saat kau memaksaku?! Aku tersiksa Alex ... Jika kau mencintaiku lepaskan aku dan tinggalkan aku! Aku ingin bahagia Alex ... !" Lolita terisak menangis.
Sebenarnya Lolita tidak ingin mengatakan hal itu. Hatinya sakit. Tapi ia harus mengatakannya agar Alex pergi dan tidak pernah tahu tentang kehamilannya.
Alex sedih, kenapa Lolita selalu menyakiti hatinya?
"Baiklah aku akan pergi, kau bisa tenangkan hatimu dulu." ucap Alex kecewa lalu hendak pergi dari sana.
"Tidak, kau harus pergi selamanya dariku!" balas Lolita menusuk.
Alex tidak tahan lagi, Ia dorong tubuh Lolita ke tembok dengan marah.
__ADS_1
"Jangan suruh aku pergi Lolita. Kau tahu sendiri kita saling mencintai!" bentak Alex kesal.
"Aku tidak mencintaimu lagi!" sergah Lolita langsung.
"Sungguh?"
"Lalu kenapa kau tidak menatapku?" tanya Alex melihat Lolita yang malah menatap ke arah lain.
Lolita pun menatap Alex berani, "Aku. Tidak. Mencintaimu!" ucap Lolita penuh penekanan.
Alex pun langsung mencumbu leher Lolita dengan marah. Wanita itu menolak dan terus mendorongnya. Tapi Alex tetap memaksa dan melakukannya dengan kasar.
"Alex ... Kau keterlaluan!" pekik Lolita sambil menangis.
Tiba-tiba rasa mual kembali menyerang. Entah kekuatan dari mana, Lolita pun berhasil mendorong Alex dan ia pun mengambil kesempatan itu untuk pergi ke kamar mandi.
Suara muntahan Lolita terdengar.
Alex bingung dan bergegas menghampiri Lolita dengan khawatir. Pria itu langsung membantu menyibakkan rambut Lolita kebelakang agar tak menggangu.
Setelah Lolita selesai muntah, Alex membersihkan bibir Lolita dengan tisu.
"Apa sakitnya bertambah parah?" tanya Alex cemas.
Alex ingat Lolita tadi pagi pergi ke Apotek dan saat ia bertanya, Lolita menjawab dia hanya demam. Tapi sepertinya tidak, sakit Lolita semakin parah dan itu membuat Alex khawatir.
Menyadari sesuatu Lolita segera mundur.
"Astaga ... Di saat seperti ini kau ingin menjauhiku?!" tanya Alex tak percaya.
"Jangan mendekat!" Lolita langsung membentak kala Alex ingin mendekatinya lagi.
Lolita memegangi perutnya. Alex tidak boleh tahu ia sedang hamil.
"Oke! Kau ingin aku pergi, aku akan pergi. Tapi biarkan aku mengantarmu istirahat." pinta Alex memohon.
Lolita pun menurut dan segera keluar kamar mandi.
"Kau sudah meminum obatnya?" tanya Alex.
"Pergi!" rengek Lolita. Ia sungguh takut Alex berada di sini dan bagaimana jika ia keceplosan tentang kehamilannya?
Lolita tidak mau itu terjadi.
"Yah, aku memang seburuk itu ...." lirihan Alex kecewa.
Lolita merasa bersalah. Wanita itu pun ingin menghentikan Alex. Tapi tidak jadi. Lolita hanya diam dengan Alex yang sudah pergi ke Balkon.
Maafkan aku Alex.
Lolita hanya menangis dalam diam setelahnya.
***
jgn lupa tinggalkan jejak guys agar cerita ini up terus di NT.
Dan jangan lupa setelah baca mafia kejam season 2 yah di Fi---zzo
__ADS_1