
Hujan berubah menjadi gerimis kecil, Mobil yang ditunggangi Alex menepi ke arah Hutan.
Alex yang keluar dari Mobil segera di payungi oleh Jhon dan beberapa anak buah lainnya
Sebuah Peti berukuran besar di keluarkan oleh kedua anak buah itu untuk di bawa ke dalam hutan.
"Apa itu?" Tak jauh dari mereka, Lolita merasa, itu pasti obat terlarangnya. Tidak diragukan lagi Alex hendak melakukan transaksi obat terlarang bersama seseorang.
Ini tidak bisa di biarkan, ia harus segera mendokumentasikan hal ini secepetnya.
Dengan membawa kamera ponsel di tangannya, Lolita buru-buru keluar dari mobil dan mengikuti mereka.
Tetesan gerimis besar mengenai wajah dan tubuhnya. Tiba-tiba saja, Gerimis yang tadinya kecil berubah besar. Sepertinya akan terjadi hujan lebat setelah ini.
Hutan yang di masuki Lolita pun tak wanita kenali. Ia terus berjalan dengan Alex sebagai pemandunya. Pria itu dan anak buahnya semakin memasuki hutan, pepohonan rindang dan lebat dapat Lolita lihat.
Susana mencekam ini mampu Lolita rasakan. Dengan hujan yang terus turun dan pepohonan yang bergoyang membuat Lolita merasa kedinginan sekaligus merinding.
Bayangkan saja Lolita seperti berada dalam film horor yang pernah ia tontonnya. Saat itu ia melihat seorang wanita diperkosa dan dibunuh di sebuah hutan.
Jasadnya di tinggalkan begitu saja lalu malam harinya bersama hujan lebat, mayat itu hidup kembali dan bergentayangan di seluruh hutan untuk mencari pelakunya.
Membayangkannya saja membuat Lolita takut. Lagian kenapa Alex harus bertransaksi obat terlarangnya di sini, sih. Apa tidak ada tempat yang bagus selain hutan.
Lolita tahu di hutan aman tidak akan ada yang curiga, tapi Lolita yang mengikuti Alex seperti ini merasa parno sendri.
Tapi waluapun begitu, Lolita harus mengikuti Alex dari belakang terus. Ia tidak boleh kehilangan jejaknya.
Sebuah batu mendadak menjatuhkannya ke tanah yang lembab. Lolita langsung membekap mulutnya agar suara jeritannya tak terdengar.
"Sial, siapa yang menaruh batu itu di sini." Lolita mengeluh dan kembali berdiri dengan badan yang sakit.
Seluruh bajunya kotor terkena tanah merah. Lolita merasa jijik dan meringis. Jika bukan karena tujuannya, ia ogah melakukan ini.
Memandang ke depan, Lolita di kejutkan dengan ketidak hadiran Alex di mana-mana. Ia mengedarkan pandangannya tapi tak menemukan mereka.
"Kemana perginya Alex dan anak buahnya?" Lolita bertanya sendiri.
Lolita merasa panik. Jika Lolita sampai tak menemukan mereka, mustahil baginya untuk keluar dari hutan ini. Nyatanya sampai sekarang ia terus berjalan dan lupa arah jalan pulang.
Alex ... Mendadak nama itu yang keluar dalam pikirannya saat ini.
Sementara itu Alex dan anak buahnya baru saja tiba di sebuah gubug kecil dalam hutan itu. Mereka menyapa seorang Pria dan pengawalnya di sana.
"Kami sudah membawa barangnya." ucap Alex sembari memberikan peti besar yang di bawa anak buahnya kepada Pria itu.
"Ku harap tidak ada yang curiga." Pria itu terlihat khawatir. lalu memberikan se koper uang pada anak buahnya Alex.
"Tenang saja, dengan kau meminta kami ke hutan ini. Tidak ada polisi atau satu orang pun yang curiga. Kami sudah memastikannya." balas Alex datar.
"Baiklah, aku tak ingin berlama-lama. Seseorang dari keluargaku sudah mulai curiga, aku tak ingin dia melaporkanku ke polisi." Pria itu berjabat tangan dengan Alex sebelum buru-buru keluar dari gubug bersama pengawalnya
"Kita kembali boss?" Setalah Pria itu pergi, Jhon hendak memandu Alex keluar dari gubug ini lagi.
__ADS_1
"Apa Lolita masih mengikuti kita?" Tanya Alex.
"Kurasa tidak, karena sebelum pergi aku melihat mobilnya masih ada di sana dan saat kita masuk ke hutan pun aku tak melihat keberadaan Nona Lolita." jelas Jhon.
Alex terdiam sebentar, lalu kemudian keluar dari Gubug bersama Jhon dan anak buah lainnya yang langsung mengikutinya.
...
Ternyata di tengah Hutan Lolita belum menemukan keberadaan Alex dan yang lainnya di manapun. Lolita merasa buntu. Tiba-tiba saja dari arah semak-semak Lolita merasakan ada yang bergerak di dalamnya.
Lolita langsung menelan salvinahnya takut.
"Tidak-tidak Lolita. Kau tidak boleh membukanya." Ia yakinkan dirinya sendiri lalu pergi dari sana.
Namun karena rasa penasarannya, Lolita melihat lagi dan semak-semak itu kembali bergerak. Apa mungkin itu Alex?
Mencoba berfikir positif, Lolita dekati semak-semak itu dan membukanya. Seketika Lolita melotot, ia pun tanpa aba-aba berlari dan berteriak kencang.
"AKHHHH!!!!"
Hujan telah berhenti, Alex yang berjalan untuk kembali tiba-tiba mendengar suara teriakan itu.
"Kau mendengarnya?" Alex berhenti dan bertanya pada Jhon.
"Iyah boss." suara teriakan itu terdengar sangat dekat, bagaimana mungkin Jhon tak mendengarnya. Ia pun penasaran suara siapa itu?
"Kau yakin Lolita tak mengikuti kita?" Alex mulai curiga.
Mendadak Jhon gugup. Sebenarnya ia tak begitu yakin Lolita keluar dari mobil atau tidak. Ia tak terlalu memperhatikannya tadi.
Jhon dan anak buahnya segera mengikuti dari belakang. Mereka takut terjadi sesuatu pada Boss dan nona Lolita.
Di sana Lolita terus berlari dan berlari. Sesekali kepalanya menengok ke belakang. Binatang itu masih mengejarnya.
"TOLONG, TOLONG AKU!!" Lolita berteriak sambil berlari. Ia takut jika sampai binatang itu berhasil menangkapnya ia akan di terkam saat itu juga.
"Tolong ...!!!" Lolita masih berteriak.
"LOLITA!" Dari arah jauh Alex tiba-tiba datang.
Lolita yang merasa ada harapan dengan kehadiran Alex segera menghampiri Pria itu, "Alex tolong aku!!"
Tapi baru saja Lolita berteriak, kakinya terpeleset hingga tubuhnya masuk ke jurang.
"AKHHHH!"
Bersamaan dengan teriakan Lolita, Alex segera berlari dan menangkap tangan Lolita yang hampir masuk ke jurang.
Sementara Babi hutan yang ternyata mengejar Lolita tadi segera di bunuh oleh anak buahnya Alex.
"Jangan lepaskan tanganku!" pinta Alex khawatir.
"Aku takut ..." Lolita menangis.
__ADS_1
Alex menarik tangan Lolita perlahan hingga ke dasar. Setelah Lolita berhasil di selamatkan Alex begitu marah.
"Apa yang kau lakukan di sini Lolita?!" bentak Alex marah.
Lolita menatap Alex lalu tanpa di sadari langsung pingsan di pelukan Alex.
...
"Kau mengikuti ku kan?" tanya Alex.
Setalah Lolita sadar di kamarnya, Alex tak membiarkan wanita itu beristirahat sedikitpun. Entah mengapa amarahnya bergejolak saat ini.
Ia sangat khawatir bagaimana jika Lolita jatuh tadi di jurang. Kenapa wanita itu bisa sebodoh ini.
"Itu ..." Lolita tampak gugup dan tak menjawab-jawab.
Alex membanting ponsel Lolita hingga pecah tak berfungsi lagi.
"ALEX!!" teriak Lolita. Apa-apaan maksud pria itu membanting ponselnya.
"Katakan!" Perintah Alex dengan mata tajamnya.
Semua yang dilakukan Lolita beberapa hari ini tampak aneh. Walaupun Alex sudah tahu niat Lolita. Tapi ia ingin tahu sendiri dari mulut wanita itu.
"Baiklah!!" Lolita bangkit dari tidurnya dan menyamai tingginya dan Pria itu.
"Aku mengikutimu untuk mencari bukti. Kau itu kriminal, pendosa dan pembunuh. Kau harus di hukum. Aku sebagi Reporter tidak akan menyerah. Kau pikir dengan berencana membunuhku aku akan menyerah? Tentu saja tidak. Aku sudah berjanji dan ini tanggung jawabku sebagai Reporter, Alex!!" Lolita berteriak kehilangan akal.
"Kau sangat ingin menghukumku?" ulang Alex memastikan.
"Yah! Kau penjahat kau pantas mendapatkan hukuman!!" jawab Lolita tak peduli apapun lagi.
Alex menatap Lolita tajam lalu pergi dari sana dengan amarah yang memuncak.
Lolita yang melihat kepergian Alex merasa marah juga. Sekarang ia tidak peduli, Alex akan membunuhnya atau tidak. Yang penting ia sudah berkata jujur, itukan yang diinginkan Pria itu.
Namun siapa sangka Alex tiba-tiba kembali lagi dengan berbagai berkas di tangannya.
Lolita bingung.
"Seharusnya kau bilang, aku sudah bertanya apa yang ingin kau ketahui. Tapi kau tidak mau menjawab." tutur Alex.
"Ini yang kau inginkan, kan?" Alex menyerahkan map-map penting itu kepada Lolita.
"Di dalamnya adalah daftar orang yang aku bunuh, berserta dimana aku mendapat Narkoba itu. Rumah bordil juga adalah salah satu bisnis ilegalku. Kau bisa menyerahkan ini kepada polisi." ucap Alex tanpa ragu lagi.
Lolita tak percaya ini, Pria itu menyerahkan semua bukti ini padanya. Tapi kenapa?
"Kau diam?" tanya Alex lagi.
"Alex kau ..." Lolita tak bisa berkata-kata lagi.
"Tapi sebelum itu, bisakah kau mendengarkan ceritaku?"
__ADS_1
***
Jangan lupa tinggalkan jejak yah :)