
Ingat, apa yang Lolita inginkan? Wanita itu hanya ingin menyelesaikan misi ini secepat mungkin dan di saat semuanya berjalan sesuai keinginannya. Hatinya malah menghianatinya.
Sekarang Lolita tidak mau bermain dengan takdir lagi. Ia pikir semua kehidupan di dunia ini hanyalah permainan. Ia bisa menikmati kehidupan dengan santai tanpa merasa takut atau malu lagi.
Tapi setelah Alex membawanya lagi ke Amerika, Lolita sadar hidup yang tidak biasa akan kembali hadir dalam harinya.
"Kau menginginkan sesuatu?" Alex mendadak datang dan menawarkan sesuatu.
Pria itu sengaja menggunakan Pesawat pribadinya agar membuat Lolita nyaman. Tapi semenjak beberapa jam lalu setelah pesawat ini terbang, Lolita hanya berdiam diri di kamarnya.
"Tidak." jawab Lolita singkat. Rasanya perutnya serasa mual, kepalanya pusing dan tangannya selalu dingin.
Wanita itu mengerti keadaannya saat ini sedang tidak baik. Tapi ia tidak mau Alex mengetahui ini semua.
"Baiklah." putus Alex dingin. Pria itu langsung pergi dengan rasa kesal dihatinya.
Apa sebegitu tidak sukanya Lolita padanya. Sampai untuk melihat matanya pun wanita itu tidak mau.
Alex duduk di kabin pesawat, ia lempar semua kertas di mejanya dengan penuh kekesalan. Sekarang Alex tahu, Lolita semakin ingin menjauh darinya. Tapi tidak, Alex tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
...
Kota New York adalah kota terpadat di Amerika. Semua pusat bisnis, perdagangan dan bahkan hiburan semuanya ada di sini.
Kata siapa kota besar ini penuh hiburan dan bisa membuat orang senang? Nyatanya Lolita selalu takut dan senantiasa menyendiri untuk kebaikan keluarganya.
Ia bahkan sampai di kucilkan karena saking tidak maunya bersosialisasi dengan teman sebayanya.
Lolita tinggal dengan keluarga ayah kandungnya yang memiliki dua putra dan satu istri. Ibu tirinya sangat membencinya, ia selalu tidak dianggap dalam keluarga.
Ayahnya memang baik padanya, selalu memberikan semua kebutuhannya. Tapi sayang, dia tidak pernah ada waktu untuknya. Beliau hanya bisa kerja tanpa tahu putrinya yang tersiksa karena ulah Istrinya yang selalu menyiksanya seperti orang gila.
Lolita bahkan masih ingat di hari ulangtahun Aidan, ia di kurung di gudang selama berhari-hari tanpa diberi makan.
Tiga hari kemudian barulah Aidan menemukan di sana. Ia sangat bersyukur tapi Lolita kecil harus mengalami masa kritis, usianya masih sangat muda tujuh tahun dan ia mengalami dehidrasi karena tidak makan dan minum.
Orang-orang mengira ia mengunci dirinya sendiri di gudang, mereka tidak tahu bahwa dalang dari semua itu adalah Ibu tirinya sendiri.
Sebenarnya Lolita tidak mau mengingat hal itu lagi, tapi mau bagaimana lagi, penyiksaan yang di lakukan Ibu tirinya bukan untuk pertama kali baginya. Sudah banyak kekejaman yang dilakukan ibu tirinya padanya.
Seperti obat itu, yang membuatnya hilang akal dan hidupnya seperti di neraka.
Mengingat hal itu lagi membuat kepalanya langsung pusing. Lolita merasakan mual luar biasa dalam perutnya.
Segera setelah ia merasakan hal itu, ia meminta Mobil Alex berhenti lalu setalah ia keluar dari Mobil ia keluarkan semua isi perutnya ke pinggir jalan.
"Kau tidak papah?" Alex segera membantunya membersihkan mulutnya dengan tisu.
Lolita tidak menjawab apapun. Jika ia memberitahu bahwa New York adalah mimpi buruknya, Pria itu pasti akan bertanya macam-macam.
__ADS_1
Sekarang ia sedang tidak mau menjelaskan apapun. Lolita hanya ingin Alex segera memberitahu kebenarannya secepatnya. Karena itu walaupun takut, Lolita memaksakan diri untuk ikut ke As bersama Alex saat ini.
"Sebaiknya kita cepat ke Rumah, agar kau bisa istirahat." Alex segera menuntun Lolita masuk ke dalam mobilnya dengan khawatir.
...
Bodoh! Itulah penggambaran yang tepat untuk dirinya saat ini. Bagaimana bisa Alex tak menyadari Lolita sakit sejak tadi. Ia hanya memikirkan amarahnya yang bahkan tak penting.
Wanitanya sakit dan Alex baru menyadari sekarang? Bodoh!
Lolita telah di periksa oleh dokter. Wanita itu mengalami demam tinggi katanya. Dia harus di infus dan istirahat yang banyak untuk memulihkan kondisinya.
Alex menyesali semuanya. Seharusnya ia tak memikirkan dirinya sendiri. Entah mengapa akhir-akhir ini emosinya tak terkendali. Ia hanya ingin marah tapi tak bisa mengungkapkannya. Jadilah selama seminggu ia meninggalkan Lolita.
"Maafkan aku." ucap Alex mengecup puncuk kepala Lolita.
Alex tidak peduli lagi, walaupun Lolita tak mencintainya. Ia akan terus bertahan dan terus membuat hati wanita itu berpaling padanya.
Walapun cinta Lolita sangat besar pada Denis, tapi ia yakin dengan kebersamaan mereka Lolita pasti akan mencintainya.
"Aku janji, aku tidak akan melepaskanmu Lolita." ucap Alex, menatap wanita itu penuh kesungguhan.
...
"Kau adalah anak haram!! Kau tidak pantas hidup dengan kami!!" Sebuah tamparan dilayangkan wanita itu pada Freya.
Kepala Freya berdarah akibat di benturkan beberapakali ke tembok. Freya hanya bisa menangis, ia tahu perbuatannya memang salah. Tapi apa mencintai seseorang adalah sebuah kesalahan juga?
"Tolong maafkan aku ... Tapi tolong jangan pisahkan kami ..." ucap Freya menangis.
Ia pasrah jika ibu tirinya itu mau menyiksanya apapun lagi, tapi ia tidak bisa jika harus meninggalkannya.
"Kurang ajar?! Kau masih tidak mau melepaskannya?!" Ibu tirinya itu kemudian memukul tubuhnya dengan sebuah tongkat bisbol.
Freya berusaha menahan sakit. Di rumah ini sepi, ayahnya dan Aidan tidak ada di sini. Itulah mengapa ibu tirinya bebas melakukan apapun padanya.
"Akhiri hubungan kalian?!" perintah Ibu tirinya terus memukul.
Freya menggeleng dan terus menahan rasa sakit. Sampai kapanpun walaupun ia harus mati, ia tidak akan meninggalkannya. Cintanya murni dan ini tidak salah.
Kemudian Ibu tirinya naik pitam, ia di seret dan di bawa ke tempat tangga. Lalu dengan tidak berperasaannya ia di dorong di sana hingga tubuhnya berguling-guling lalu kepalanya membentur lantai begitu kerasnya.
Rasa sakit itu langsung membuat Lolita terbangun dari mimpinya. Jantungnya berdetak kencang, nafasnya memburu.
Alex yang ada di sana langsung khawatir, "Kau baik-baik saja?"
Pria itu langsung membawa wajahnya menghadap dirinya. Mereka saling bertatapan.
Lolita bisa melihat rasa cemas di mata Pria itu. Sangat jelas, karena biasanya Alex hanya menampilkan wajah datar dan dinginnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." ucap Lolita langsung menurunkan tangan Alex di pipinya.
Siapa yang tahu perlakuan itu langsung membuat Pria itu marah.
"Aku tidak peduli walaupun kau tidak ingin di sentuh olehku." tiba-tiba saja Alex berkata seperti itu.
Lolita menyeringit bingung. Lalu siapa juga yang melarang Alex menyentuhnya? Ia hanya tidak ingin Alex khawatir, itulah mengapa ia menurunkan tangan Pria itu.
Tapi sepertinya Alex mempunyai pikiran lain. Mungkin karena masalahnya di Dubai yang ia tak ingin di sentuh oleh Alex karena gugup.
"Alex ..." Lolita ingin menjelaskan. Tapi sepertinya itu tidak ada gunanya lagi. Karena ia sudah berjanji pada Denis untuk tidak membagi cintanya.
"Sudah ku bilang walapun kau tidak ingin di sentuh olehku. Aku tidak peduli. Aku bahkan bisa melakukan apapun?" tiba-tiba saja Alex mencium bibir Lolita.
Wanita itu langsung terkejut.
Alex juga tak kalah terkejutnya. Ia bahkan tak memikirkan Lolita baru saja mengalami mimpi buruk dan karena rasa marahnya ia malah mencium bibir wanita itu. Ia memang gila dasar.
Alex perlahan melepaskan ciuman itu yang lebih tepatnya bisa merupai kecupan saja. Pria itu mendadak merasa tak enak, tapi ia sudah tercebur jadi sekalian saja mencebur di kobangan yang lebih besar.
"Aku tahu kau sakit, tapi aku terlalu marah." terang Alex jujur. Ia sedikit malu tapi tentu saja seorang Alex yang dingin tidak akan menunjukannya pada siapapun.
Mendadak Lolita terkekeh. Astaga! Wajah Alex lucu sekali. Ini pertama kalinya Alex menunjukan hal seperti ini padanya. Menggemaskan.
Ekspresinya itu seperti seorang Pria yang menyesal karena telah mencuri ciuman pertama dari seorang Gadis.
"Kau benar-benar ..." Lolita tidak bisa berkata-kata lagi, ia tertawa dan hanya menggeleng.
Mimpi buruk itu seketika hilang di gantikan dengan kebahagiaan lain. Rasanya aneh, Lolita merasa tenang setalah Alex membuatnya tertawa. Padahal jika dilihat lagi ini tidak lucu sama sekali.
Alex hanya bisa diam menyaksikan Lolita yang tertawa. Sial! Kenapa keadaannya menjadi seperti ini?
"Terimakasih." Lolita kemudian menghentikan tawanya.
Sekarang Lolita akan menghadapinya. Walaupun rasa takut masih ada, asalkan ia tak bertemu dengan mereka. Ia masih tetaplah Lolita dan bukanlah Freya.
"Yah, aku adalah Lolita kan Alex? Lolita tidak takut apapun. Dia bisa menghadapi semuanya tanpa ragu sedikitpun?" Lolita tersenyum pada Pria itu
Sementara Alex bingung. Apa maksudnya wanita itu bicara seperti itu padanya?
***
Up lagi🔥
maaf baru inget harus up🤭
jgn lupa tinggalkan jejak.
Love you😘😘
__ADS_1