
Freya kau baik-baik saja?" Denis bertanya saat mengantar Lolita ke kamarnya.
"Aku hanya leleh. Pergilah." usir Lolita
mendorong Denis agar cepat keluar.
Denis curiga Lolita masih marah padanya. Wanita itu terus diam sepanjangan perjalanan mereka ke Rumah. Ia bertanya pun, Lolita mau tidak menjawab.
"Kau cemburukan melihatku bersama Gadis itu?" tanya Denis tidak mau pergi.
Lolita mengumpat dalam hati. Eksepsinya seperti menahan sesuatu.
"Aku mohon Denis pergilah!!" bentak Lolita marah.
Tidak diragukan lagi Lolita cemburu dan sekarang wanita itu marah besar padanya.
"Baiklah aku pergi." ucap Denis mengalah. Ia tidak mau semakin membuat Lolita marah.
Setelah melihat Denis pergi dan menutup pintunya. Lolita pun segera berlari masuk ke kamar mandi.
Lolita merasakan mual luar biasa pada perutnya. Sedari tadi ia menahannya dan sekarang wanita itu tak kuat. Ia keluarkan semua cairan bening itu ke wastafel.
Berulang kali kamar mandi itu memantulkan suara muntah Lolita yang terlihat menyedihkan.
Stelahnya merasa perutnya tak mual lagi, Lolita berhenti dan membasuh mulutnya dengan air.
Lolita menyandarkan tubuhnya ke tembok. Wanita itu memijat kepalanya yang masih pusing. Seketika tubuhnya menjadi lelah dan tak bertenaga.
Ada apa dengannya? Kenapa sakitnya bertambah parah?
Dengan susah payah Lolita berjalan ke kasurnya lagi. Lalu setelah sampai di sana Lolita langsung membaringkan tubuhnya.
Dalam mimpinya Lolita bertemu Alex. Pria itu memeluknya.
"Tidurlah." setalah perkataan lembut dari Alex, Lolita pun kembali menutup matanya.
Rasanya nyaman, Lolita ingin terus berada dalam pelukan Alex. Ia merindukan Pria itu. Bolehkah ia egois dan memiliki Pria itu?
"Aku mencintaimu Alex." setetes air mata dikeluarkan Lolita saat tertidur.
Ternyata itu bukan mimpi, Alex bener-benar di sana. Pria itu mengecup mata Lolita sedetik setalah Lolita menangis.
Alex merasa sakit, jika Lolita mencintainya kenapa wanita itu sampai melakukan ini?
Apa menikah dengan Denis akan membuat Lolita bahagia? Lihat saja Lolita sampai menangis seperti ini karenanya. Jika bukan cinta lalu apa?
Alex janji akan melakukan sesuatu agar Lolita menyadari cintanya. Alex tidak akan membiarkan Lolita pergi darinya.
"Aku juga mencintaimu." Alex kemudian memeluk Lolita erat.
...
Cahaya matahari yang masuk lewat gordeng jendelanya langsung membuat Lolita terbangun. Wanita itu melihat sekitar kamarnya. Kosong dan tak ada siapapun. Tapi entah mengapa Lolita merasa Alex datang semalam dan memeluknya?
Apa itu mimpi, tapi kenapa rasanya nyata?
Mendadak perutnya bergejolak. Lolita segera menutup mulutnya dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Lolita muntah dan mengeluarkan cairan bening itu lagi. Kepalanya juga berdenyut sakit.
Ada apa dengannya sebenarnya? Keadaannya semakin parah setalah kemarin ia bertemu dengan Alex. Sebelumnya Lolita hanya merasa pusing tapi sekarang bertambah muntah juga. Tubuhnya semakin lelah sekarang.
Lolita berjongkok di kamar mandi. Wanita itu menangis karena merasa sakit di tubuhnya. Ia ingin memberitahu pada semua orang, tapi itu tidak mungkin. Lolita tidak ingin semua orang cemas dan khawatir padanya.
...
Setalah memoles wajahnya dengan Make-up Lolita turun ke bawah untuk sarapan pagi.
Pokoknya Lolita tidak boleh menunjukan rasa sakitnya pada semua orang. Ia harus terlihat kuat dan bersikap seperti biasanya.
Namun baru saja Lolita memijakkan kakinya di lantai satu. Lolita mendengar suara keributan di Meja makan.
"Tidak Denis tidak Aidan. Kalian berdua sama saja mengambil wanita murahan seperti ******. Lihat saja penampilannya sangat tidak bermoral. Seperti rakyat jelata!" Megan terus menghardik sambil berteriak.
__ADS_1
"Dia ingin menjebakmu Aidan! Mamah yakin bayi yang dikandungnya bukan anakmu!"
Bayi? Lolita semakin penasaran. Ia pun mendekat dan melihat seorang wanita yang ditutupi oleh tubuh besar kakaknya itu.
"Sebaiknya kita usir dia!" Megan histeris dan menarik tangan wanita itu untuk pergi.
"Mah!" Aidan berusaha melindungi wanita itu dari Cengkraman Ibunya itu.
Di tengah tarik-menarik itu Lolita bisa melihat wajah wanita itu. Seketika Lolita langsung terkejut.
Sarah?
"Cukup Mah!" Aidan terlihat murka.
Ini pertama kalinya Lolita melihat Aidan semarah itu. Karena biasanya Aidan tak bisa marah, sekalinya marah malah terlihat lucu. Aidan orangnya dewasa, tenang dan suka menasehati.
Tapi karena Sarah, Aidan berubah. Seolah amarah yang dipendamnya selama ini ditunjukkan sekarang.
"Jangan suruh Sarah pergi. Aku membawanya untuk meminta restu kalian. Aku sudah membuat kesalahan dan aku akan bertanggung jawab." tegas Aidan.
"Sampai kapanpun Mamah tidak mau mempunyai menantu rakyat jelata seperti dia. Gugurkan saja kandungannya!!"
"Kau ingin berapa? Satu miliar? Tiga miliar atau sepuluh miliar. Aku akan memberikannya. Asal tinggalkan anakku!" pinta Megan ganas.
"Mah ..." Aidan mendesah tak percaya.
"Sudah cukup!" Roger yang dari tadi diam kemudian menengahi.
"Aku tidak akan menolak sebagi Ayah. Melihat prestasi Aidan yang membanggakan, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya.
"Apalagi dengan sikap tanggung jawab Aidan yang besar, Papah sangat salut denganmu Aidan. Kau bisa menikah dengan Sarah." ucap Roger.
Aidan tersenyum senang dan mengucapkan terimakasih pada Ayahnya. Tapi Megan tak setuju.
"Apa-apaan kau?! Pokoknya aku tidak setuju! Aku ibunya, aku berhak atas kehidupan anakku. Wanita ****** dia tidak pantas bersanding dengan kita. Tarik kembali perkataanmu, suamiku!" Megan terus berteriak dan mengikuti suaminya ke kamarnya.
Denis yang ada di sana ikut senang, "Selamat untuk pernikahan kalian." ucap Denis meninju lengan kakaknya, bercanda.
"Thanks!" Aidan kemudian menggenggam tangan Sarah dan mereka saling melempar senyum.
"Hei, Freya. Kau akhirnya datang, aku ingin memperkenal-"
"Aku tahu, Sarah kan?" potong Lolita langsung.
Aidan langsung bingung.
"Mereka saling kenal. Di Indonesia, Sarah adalah seniornya Freya." jelas Denis berbisik di telinga kakaknya itu.
Walaupun Denis tidak kenal akrab dengan Sarah, tapi Denis sedikit tahu sejarah Sarah yang sering membully Lolita. Mereka sering terlibat Pertengkaran. Semua orang tahu itu
"Aidan, bolehkah aku berbicara berdua dengan Sarah?" tanya Lolita meminta ijin.
"Baiklah, jika itu kemauanmu." ucap Aidan. Ia tidak bisa menolak keinginan adiknya. Ia bisa melakukan apapun untuk Freya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Aidan, Lolita segera menarik tangan Sarah untuk membawanya ke taman Rumah.
Sementara Aidan menaikan satu alisnya pada Denis, "Bisakah kau menjelaskan situasi ini?" Tanya Aidan sedikit bingung.
"Tentu saja, kau pasti akan terkejut." jawab Denis terkekeh.
...
"Kenapa Lo bisa ada di sini? Bukannya lo ada di rumah Bordil itu?! Terus gimana caranya lo hamil anaknya Aidan?!" tanya Lolita tak percaya.
"Seharusnya gue yang nanya. Lo mau nikah sama Denis? Really? Terus gimana dengan nasib misi kita?!" Sarah terlihat panik.
"Gue yang pertama nanya, jadi Lo yang harus jawab."
"Gue atasan Lo jadi Lo yang harus jawab." Sarah membalikan.
Lolita memejamkan matanya, seperti biasa Lolita tidak bisa menang jika harus berdebat dengan Sarah.
"Gue udah berhenti jadi Reporter. Masa bodo tentang kasus." ucap Lolita cuek.
__ADS_1
"Gue udah jawab, gantian!" lanjut Lolita lagi.
"Bener juga, gue bakal nikah sama Aidan yang kaya raya itu. Buat apa gue kerja, apalagi gue lagi bunting kayak gini."
Lolita memutar bola matanya. Ia tidak peduli Sarah!
"Jadi?" Lolita bertanya lagi. Kok, ia menjadi merasa lebih pintar satu tingkat dibandingkan Sarah?
Sarah pun menceritakan tentang kekaburan di Rumah Bordil itu. Sarah ingin menyusul dirinya yang berada di Amerika. Tapi karena uang hasil curiannya habis, Dia terpaksa menggembel di jalan.
Kemudian tidak sengaja ia menemukan brosur tentang seminar Aidan seorang CEO mapan dan sangat pintar. Sarah tertarik dan pergi ke sana tapi sayangnya ia tak boleh masuk.
Singkat cerita Sarah masuk ke Ruang kerja Aidan. Dia meminum air mineral dalam botol itu sedikit. Tapi Aidan yang ke buru masuk, membuat Sarah terkejut dan bersembunyi di kolong meja.
Entah bagaimana caranya Sarah ketahuan dan mereka melakukannya karena air yang terkandung di dalam botol itu mengandung obat perangsang.
"Lalu Gue pun di ajak tinggal di Apartemen Aidan. Ternyata Kakak Lo itu bertanggung jawab banget. Gue kira gue bakal di kasih duit terus pergi.
"Gue sih gak papah tapi seminggu kemudian gue ketahuan hamil dan Aidan pun langsung kesini minta restu sama orang tuanya. Astaga gue beruntung banget punya Suami kaya Raya ...." Sarah tampak bahagia saat mengatakannya.
Lolita hanya meringis jijik. Ia baru tahu Sarah senorak ini. Bagaimana dengan kepintarannya yang selalu di banggakan?
"Oh!" Lolita hanya menanggapi singkat.
"Gue pergi!" Merasa tak penting lagi Lolita segera bangkit dari kursi taman.
"Hei tunggu adik ipar, Lo harus anter gue dulu ke kamar!" perintah Sarah.
Namun Lolita terus berjalan dan Sarah pun mengikutinya dari belakang.
...
"Ini kamar Lo." Lolita hendak pergi lagi, tapi Sarah menahannya.
"Nih!" Sarah memberikan sepotong coklat untuk Lolita.
"Karena sebentar lagi kita bakal iparan, gue mau hubungan kita baik." pinta Sarah tulus.
Lolita menatap Coklat yang sudah di buka itu. Dan seketika aromanya membuat Lolita mual, ia membuang coklat itu kelantai dan masuk ke kamar mandi sarah untuk muntah lagi.
"Lolita Lo kenapa?" Sarah membantu Lolita yang sedang muntah. Wanita itu terlihat kacau, Sarah jadi kasian.
"Lo sakit?"
Lolita hanya menggeleng dengan wajah lelahnya. Ia pun merasa bingung, ia menjadi sering muntah sekarang.
"Duduk dulu." Sarah menuntut Lolita untuk duduk di kasurnya.
"Sejak kapan hal ini terjadi?" tanya Sarah.
Namun Lolita tidak menjawab, ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tempat duduknya. Lolita langsung mengambilnya dan seketika tertegun.
******?
"Ah, itu. Sebelumnya saat gue gak tahu lagi hamil, Aidan pake itu untuk mencegah tapi percuma saat pertama kita enggak menggunakannya." tanpa di minta Sarah menjelaskannya.
Lolita juga mengingat, ia tidak menggunakan ini saat melakukannya bersama Alex.
Dadanya tiba-tiba berdetak cepat. Ia ambil ponselnya dan melihat tanggal.
Jantungnya pun hampir copot. Ia belum datang bulan.
Lolita mengusap wajahnya terkejut. Ia pun segera pergi dari kamar Sarah.
"Lolita!" Sarah berteriak memanggil wanita itu.
Ada apa dengannya? Tapi, Muntah? Melihat tanggal? Apa jangan-jangan?
"Lolita hamil anak Denis?" seketika Sarah menutup mulutnya terkejut. Ia akan memberitahu Aidan.
***
Up ke dua.
__ADS_1
Tinggalkan jejak like sama komennya yh😄
Salam sayang dari aku😘