
"Jadi Ferrit dan Alex terlibat dengan kasus pembunuhan Damar? Sudah gue duga." ucap Sarah mengangguk, sinis.
"Iyah, tapi sayangnya gue belum nemui bukti itu." jawab Lolita, menghelakan nafas.
Mereka sekarang berada di dalam kamar Lolita. Pintunya sudah mereka kunci jadi di jamin tidak ada orang lain yang bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
"Terus bagimana caranya lo menemukan bukti itu?" tanya Sarah penasaran.
Karena sebelumnya Lolita bercerita mengenai melanjutkan kasus ini dengan sungguh-sungguh, Sarah berfikir bagaimana cara Lolita menemukan bukti itu.
"Dengan Alex." jawab Lolita menerawang jauh.
"Alex? Udah gue duga, kalian mempunyai hubungan khusus kan? Dengan segala pesona murahan lo, Lo buat Alex terpikat. Tidak mungkin waktu itu Boss mafia itu khawatir saat lo terluka. Jadi bagaimana, Lo ingin memanfaatkan cinta Alex buat kepentingan kasus ini?"
Tepat sekali. Sarah memang selalu cerdas dalam segala situasi. Hanya dengan memperhatikan sekitarnya, Sarah langsung mengetahui semuanya. Itulah mengapa Lolita tak menyukai Sarah selama ini. Wanita itu terlalu pintar untuk di jadikan teman.
"Yah, hanya Alex saja yang bisa gue manfaati sekarang." tambah Lolita mengangguk.
"Bagus! terus ikat dia dalam cinta busuk Lo. Lalu setelah itu buat dia mengakui kejahatannya dan menyerahkan semua bukti itu secara suka rela sama lo."
"Tanpa Lo suruh gue juga udah berfikir seperti itu." Keluh Lolita sinis.
"Gue juga masih atasan Lo. Lo mau ngelawan gue?"
"Emang gue takut?" tantang Lolita ngajak ribut.
Sarah melayangkan tatapan tajamnya pada Lolita, "Gue pecat lo juga lo, mau?" ucap Sarah mengancam.
"Terserah lo lah!! Pergi sana, Alex mau ke sini. Jangan sampai dia tahu kalau kita saling kenal!" Balas Lolita selanjutnya.
Sebenarnya Lolita tak takut dengan ancaman Sarah. Tapi tetap aja kalau di suruh adu mulut, Sarah tetap menang. Sudah di bilang Wanita itu terlalu pintar untuk di jadikan teman. Tapi kalau untuk di jadikan musuh mereka nomor satu.
"Yaudah, awas ajah kalau Lo enggak dengerin semua yang gue bilang tadi!" Sarah menunjuk wajah Lolita tajam sambil berjalan ke arah pintu.
"Iyah ... Sana Lo pergi." saat ini Lolita sedang tak ingin bertengkar. Karena itu, ia memilih menjawab seadanya.
Ketika Sarah membuka pintu, ia di bingungkan dengan beberapa orang yang membawa baju di depan pintu Lolita, "Kalian siapa?"
"Maaf Nona, apakah ini kamar Nona Lolita?" tanya salah satu pegawai yang berpakaian seragam.
"Yah benar." jawab Sarah menangguk.
"Bawa masuk semua bajunya." perintah pegawai itu lagi pada yang lainnya.
"Permisi Nona." Sarah langsung menyingkir dan melihat bagaimana orang-orang itu membawa masuk baju itu ke dalam kamar Lolita.
Hal itu kemudian menjadi pusat perhatian wanita yang ada di rumah bordil itu. Mereka berkumpul di depan kamar Lolita dan merasa iri melihat baju mahal itu yang pasti diberikan Alex.
Sarah yang masih di sana tersenyum senang. sepertinya Alex benar-benar jatuh cinta pada Lolita.
"Ini untukku?" Setelah di jelaskan pada Kepala pegawai butik, Lolita tidak percaya bahwa Alex lah yang membeli semua Pakaian ini.
"Iyah Nona, Tuan Alex yang mengirimnya untuk Anda." jelas salah satu dari mereka.
"Baiklah taruh saja di lemari." suruh Lolita selanjutnya.
Ada apa dengan Alex, kemarin saja Lolita ingin membeli beberapa potong pakaian ia harus mencuri kartu kredit Alex dulu. Baru ia bisa membelinya. Tapi sekarang, tanpa dimintapun Pria itu membelikannya tiba-tiba. Aneh sekali.
__ADS_1
"Kau menyukainya?" Tiba-tiba Alex datang dan melihat beberapa pelayan sedang menyusun Pakaian itu di dalam lemari Lolita.
Lolita yang kakinya masih sakit duduk di kasur dan mengangguk, "Tidak buruk." jawab Lolita masih jutek pada Alex.
Semenjak seminggu lalu Lolita memberi banyak pelajaran pada Alex. Lolita mulai bersikap jutek dan sering memerintah Alex seperti seorang Boss. Dan bodohnya Alex menuruti semua keinginannya. Beruntungnya Lolita.
"Jika sudah selesai, kalian boleh pergi." titah Alex pada mereka.
Mereka menunduk lalu bergerombol pergi bersama-sama dari sana.
"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Alex, duduk di samping Lolita dan melihat kaki wanita itu yang sudah tak di perban lagi.
"Sudah kering, sekarang aku juga bisa berjalan." jawab Lolita. Tapi ia terlalu malas untuk berjalan sekarang.
Alex mengangguk, "Sebaiknya jangan terlalu di paksakan. Jika kakimu sudah sembuh, kita bisa pulang besok." ucap Alex selanjutnya.
"Pulang?" tanya Lolita bingung.
"Yah, pulang ke rumah kita. Mulai sekarang kau juga berhak atas rumahku. Kau juga bisa pergi kemanapun yang kau sukai. Tapi aku mohon, jangan pergi dari sisiku." pinta Alex memohon.
"Oke." jawab Lolita segampang itu. Bagaimana bisa ia pergi sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya kan.
"Tapi aku menginginkan sesuatu?" Lolita berbicara lagi untuk meminta keinginannya.
"Katakan saja, apapun itu." ucap Alex tak keberatan.
"Sungguh?" tanya Lolita lagi dan Alex mengangguk.
"Maka berikan ponselku." pinta Lolita selanjutnya.
Alex terdiam.
"Aku akan membelikan ponsel baru untukmu." putus Alex berbuah dingin.
"Bukan ponsel baru, tapi ponselku!!" Lolita mendadak kesal, kenapa Alex tak mau memberikan ponselnya? Lagian sudah jelas ia tak mempunyai bukti kejahatan Alex. Jadi untuk apa Pria itu masih menyimpanya?
"Sudahlah, aku akan membelikan yang baru." Alex tetap pada kemauannya.
Lolita pun tak mau kalah, banyak foto penting di ponselnya dan jika hilang akan sangat di sayangkan.
"Pokonya aku ingin ponselku SEKARANG!!" bentak Lolita di hadapan Alex.
Alex mulai merasa tersulut emosi. Tapi tidak, ia tidak akan menyakiti Lolita. Alex pun segera beranjak dari ranjang dan hendak pergi dari sana. Namun cekalan tangan Lolita menghentikannya.
"Kau mau kemana? Berikan ponselku?!" Lolita mulai keras kepala.
Dan Alex pun mulai kehilangan kendali, "Jika aku mengatakan akan membelikan yang baru maka aku akan belikan yang baru. Tolong jangan bahas hal ini lagi Lolita!" Alex berkata jengkel, lalu melepaskan tangan Lolita dan pergi dari sana.
Sementara Lolita yang melihat Alex bersikap kasar padanya, langsung merasa kesal. Apa-apaan tadi itu Alex. Baru saja Pria itu mengatakan ia boleh meminta apapun, sekarang saat ia ingin melakukannya, Pria itu langsung menolaknya mentah-mentah.
Dasar Pria kurang ajar. Lolita kesal-kesal!!
Lolita meninju kasurnya sendiri.
***
Di ruangannya, Alex sedang membuka ponsel Lolita. Ia merasa panas melihat banyaknya foto Lolita dan Denis yang sangat intens. Alex cemburu. Beberapa pesan dari Denis beberapa tahun lalu pun tak di hapus Lolita.
__ADS_1
Lolita masuk ke ruangan Alex karena ingin membuat perhitungan pada Pria itu, tapi baru saja ia membuka pintu, Lolita menemukan Alex yang sedang memegang Ponselnya.
Bukankah itu Ponselnya?
"Berikan Ponselku!" Lolita langsung memikik dan menghampiri Alex.
"Kenapa kau di sini? Bagaimana dengan lukamu?!" Alex khawatir dan ingin melihat kaki Lolita apakah baik-baik saja atau tidak.
"Tidak! Aku ingin ponselku. Berikan!" Lolita ingin merebut ponsel itu dari tangan Alex. Tapi Alex segera menjauhkannya dari jangkauan Lolita.
"Aku sudah bilang akan membelikan yang baru untuk mu." ucap Alex, berusaha sabar.
"Sudah ku bilang juga, aku hanya ingin ponselku!" Kekeh Lolita keras kepala.
"Tidak!" Alex mengabaikan Lolita.
Lolita yang merasa marah ingin merebut ponsel itu lagi. Alex yang belum siap ingin menghindar tapi malah berakibat Ponsel itu terjatuh ke lantai dan menampilkan sebuah foto antara Lolita dan Denis yang tersenyum mesra di kolam renang.
Seketika setalah Lolita melihat Foto itu, ia langsung terkejut lalu menatap Alex untuk melihat reaksinya seperti apa.
Tidak ada reaksi Khusus yang di berikan Alex. Pria itu tampak datar dan dingin.
Rasa gelisah langsung mengerayangi Lolita.
Alex mengambil Ponsel itu dan bertanya sambil memandang fotonya, "Polisi ini kekasihmu?" Alex ingin mengetes Lolita. Kira-kira apa jawaban wanita itu.
"Mengingat aku pernah menangkap kalian. Kau mengorbankan dirimu dan membuat Denis lepas. Aku rasa hubungan kalian lebih dari teman." ucap Alex lagi dingin.
Lolita langsung gelagapan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Alex tak boleh tahu hubungannya dengan Denis.
Melihat Lolita terus diam, Alex mengangkat dagunya lembut, "Katakan saja, aku tak akan marah." ujar Alex menenangkan.
Tapi karena rasa takutnya, Lolita akhirnya berbohong, "Denis adalah masalah lalu ku dan kita sudah putus dua tahun lalu." ucap Lolita, menunduk lagi.
"Oh." hanya gumanan yang di berikan Alex.
Lolita berbohong. Ucap Alex dalam hati.
"Kau percaya padaku kan?" tanya Lolita khawatir.
Alex berusaha memaksakan senyumannya, "Aku percaya. Sekarang istirahatlah, aku harus mengerjakan sesuatu." ucap Alex mengambil salah satu kertas dan membacanya.
Walaupun Alex tak mengatakannya, Lolita bisa merasakan aura dingin yang di tunjukan Alex.
Apakah kebohongannya terlalu jelas?
"Istirahatlah." Alex berucap lagi.
Jelas sekali tatapan Alex seolah mengatakan Lolita tidak boleh di sini. Mau tak mau Lolita pun pergi dengan perasaan gelisah.
Apa yang harus kulakukan? Lolita berfikir.
Sementara itu, setelah mendengar pintu tertutup. Alex langsung melempar kertas yang di pegangannya kasar ke meja.
"Sial!!" Alex terlalu marah sampai ia pun kehilangan akal.
***
__ADS_1
Udh up yah. jgn lupa like, comen sama Votenya biar cerita ini terus berlanjut di NT.
salam sayng dari aku🥰