
Semua orang menatap Suzu dengan kesal sekaligus penasaran dengan sikap Suzu yang tiba-tiba mendorong mereka.
"Ehh..Begini semuanya, ini sudah menjelang malam kalian pulang dan istirahat saja dulu,makan dulu. kalian kan belum makan sejak datang kemari. Aku akan menjaga Rinrin disini selama kalian pulang." Kata Suzu mencari alasan.
"Apa? Disini? berdua?" Tanya Farka kaget.
Suzu mengangguk.
"Hey! Kau mau macam-macam dengan adikku ya? Kau ja.."
"Kak! Bukankah kau percaya padaku? Memangnya apa yang mau aku lakukan pada orang yang terbaring lemah begitu?" Suzu balik bertanya dengan kesal.
"Sudahlah,Farka. Nak Suzu benar. Kita pulang saja dulu. Bibi yakin tidak akan terjadi apa-apa. Sudah bagus nak Suzu mau menjaganya dulu agar kita bisa istirahat sejenak." Ucap Bi Meta setuju dengan perkataan Suzu.
"Baiklah kita pulang dulu. Jangan macam-macam! kalau tidak,kau akan kehilangan kepalamu." Ancam Farka.
Suzu menelan ludah kasar mendengar ancaman Farka Lalu mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu kami titip Chici dulu ya." Kata pak Dani menepuk pundak Suzu pelan.
"Baik paman. Paman istirahatlah."
"Hey sial*n! Jangan macam-macam pada nona ku ya!" Bentak Zhan memelototi Suzu.
"Apa kau bilang?" Teriak Suzu.
Zhan berlari keluar ruangan sambil tertawa puas melihat Suzu yang kesal.
Suzu tersenyum tipis melihat kekompakan keluarga Chici.
***
Setelah menemui Chici, Hendra bermaksud kembali ke apartemennya. Tapi baru saja tiba di parkiran hendak membuka pintu mobil, Ponselnya berdering. Terlihat nama Fazriel disana, Hendra mengangkatnya.
•→Telepon Terhubung←•
__ADS_1
Fazriel : “Halo..”
Hendra : “Ya,Halo. Ada apa?”
Fazriel : “Masih bertanya ada apa? bagaimana pekerjaan mu bod*h?”
Hendra : “HEY!!! SOPAN SEDIKITLAH PADA ORANG TUA!!!”
Fazriel : “Hmphh..Katakan saja bagaimana?!”
Hendra : “Temui aku di markas ku besok pagi!”
Fazriel : “Cihhh.. Peduli apa kau padaku?”
Hendra : “Yasudah. Aku juga tidak peduli. Tapi kenapa harus besok? Buang-buang waktu saja menunggu. Malam ini saja”
Fazriel : “Aku akan menjenguk Chiyo dulu ke rumah sakit.”
Fazriel : “Apa bocah itu sedang sekarat? Ha ha ha”
Hendra : “Dia kritis”
Hendra : “.....”
Fazriel : “Sudahlah. Besok aku akan ke markas mu”
Hendra : “Bagus.”
•→Telepon Terputus←•
"Fazriel,kau sudah membuat dia benar-benar depresi. Kau juga hampir membuatku mati. Aku sangat menantikan kehancuranmu. Hehh bersenang-senanglah dulu sebelum ajalmu sampai di tenggorokan mu" Gumam Hendra penuh kebencian.
Suzu menghampiri Chici dan duduk disampingnya.
"Kata dokter, meskipun kamu dalam kondisi seperti ini kamu masih bisa mendengar. Apa kamu mau mendengarku bercerita? Aku ingin bercerita padamu, tapi aku juga ingin kamu bercerita padaku juga nanti.
__ADS_1
Aku sudah mendengar kisahmu dari Farka. Kamu tahu? Aku sangat terkejut dengan apa yang kudengar. Huftt.. Kamu memang selalu mengejutkan ku dalam segala hal. Aku sangat kagum dengan keberanian dan kegigihan mu menjalani hidup yang hampa.
Kamu sudah bekerja keras untuk membuat orang-orang disekitarmu bahagia. Kamu sanggup melakukan hal itu. Tapi kamu malah tak sanggup membahagiakan dirimu sendiri,bahkan kamu lupa bagaimana cara agar dirimu bahagia.
Rin...Ehh..Emm..Apa boleh aku memanggilmu Rinrin? Panggilan ini cocok untuk dirimu yang selalu dingin menjalani hidup..Hhihi..
Rinrin,kamu juga berhak untuk bahagia. Jangan menyiksa dirimu terus-menerus seperti ini. Memang benar, dengan caramu yang seperti ini mereka tidak akan mencemaskan kondisi mu yang sebenarnya. Tapi kamu juga tahu itu hanya sementara,Rin.
Mereka akan merasa kecewa pada diri mereka sendiri saat tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Seperti sekarang ini,mereka sangat terpukul, Rinrin. Mereka merasa tidak berguna di hidup mu dan hanya menjadi beban dalam setiap hal. Harta dan tahta yang mereka miliki berkat dirimu akan terlihat seperti keangkuhan mereka saja. Mereka akan merasa sudah banyak berhutang padamu,baik harta maupun Budi baikmu.
Saat Farka menceritakan kisah hidup mu selama bersama mereka, dia tidak berhenti menangis. Dia sangat menyayangi mu, Rinrin. Keluargamu, mereka adalah keluargamu. Jangan merasa sendiri. Tidak sedikit orang-orang yang menyayangi mu."
Suzu mencoba membuat Chici mengerti apa yang harus dia lakukan agar tidak membuat kesalahan. Suzu meraih tangan Chici dan menggenggamnya.
"Rinrin,kita berasal dari negeri yang sama. Kamu dan keluargamu sangat kental dengan legenda. Kamu pasti percaya adanya Dewi Phoenix yang pantang menyerah. Meskipun di namamu terdapat arti dingin tapi di hati dan di hidupmu bagai api. Tanda lahir di sudut matamu tidak bisa kau sembunyikan dariku.. Akhhh sudahlah kita bahas legenda leluhur kita nanti.
Kau harus bangun saat mereka kembali. Tunjukkan kekuatan dan keberanian Dewi Phoenix ku pada mereka. Lihatlah ayah dan ibumu disana jadi menangis sekarang. Kau juga membuatku lelah bicara sendiri seperti orang gil*.. Huhh.. No Problem for me. Tidak usah fikirkan aku. Bangunlah demi mereka Dewi ku, demi keluargamu, demi orang-orang yang menyayangi mu, dan demi mereka yang takut kehilanganmu.
Kau harus mendengar banyak cerita dariku dan kau juga berhutang cerita padaku untuk mengganti cerita panjang ku malam ini. Bangunlah Dewi ku"
Suzu menutup ceritanya dengan mengecup tangan Chici.Baru saja Suzu melepas genggamannya, dia melihat air mata Chici kembali menetes. Dengan cepat Suzu menggenggam lagi tangan Chici.
"Kenapa kamu jadi cengeng begini.? Seorang Dewi tidak boleh menangis. Tadi saat keluargamu bercanda dan tertawa riang berusaha menghibur mu, kamu malah menangis. Aku jadi sedikit kasar mendorong mereka agar tidak tahu kamu menangis. Aku juga malah mengusir mereka dari sini. Mungkin saja jika tadi kamu tidak menangis mereka pasti masih disini. Berusaha menghibur Mu agar kamu tetap semangat menjalani hidup,hingga mereka lupa waktu, lupa istirahat, lupa makan, lupa mandi, lupa segalanya demi menemanimu dan menghiburmu.
Come on,Her majesty. Kenapa air matamu terus menetes? Aku disini untukmu." Suzu mengelap air mata Chici yang terus mengalir.
"Apa perkataan ku ada yang salah? Maafkan aku kalau begitu. Hey! Berhentilah menangis Dewi ku. Kau marah padaku Hmm? Kita baru bertemu beberapa hari loh. Kau mau membuat ku jauh darimu? Tidak akan! aku akan selalu ada bersama mu, menyayangi mu, dan membahagiakan mu kapanpun dimanapun oke?!"
Suzu mengecup kening Chici dan sedikit memeluknya. Suzu melihat air mata Chici sudah berhenti menetes. Susu tersenyum senang.
"Ini baru Dewi ku yang cantik. Hmm jangan-jangan kau mau aku memeluk dan mencium mu ya? Hhaha baiklah ini aku berikan lagi." kata Suzu lalu mengulangi pelukan dan ciumannya.
"Sudahlah Dewi ku. Ini sudah malam, beristirahatlah. Besok harus bangun dan tunjukkan sebuah keajaiban pada semua orang. Aku percaya padamu. Aku akan menemanimu disini. Good Night Dewi ku."
Suzu membaringkan kepalanya sambil memeluk sebelah tangan Chici. Tak lama kemudian Suzu tertidur.
__ADS_1
Tanpa Suzu sadari semua perkataan nya didengarkan oleh dua orang dibalik pintu.
---------------------#🕊️TBC...