Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.26 Warna Baru..


__ADS_3

"Chiciiii Ayo cepatt Kita ke pantai" Teriak Farka seperti anak kecil memanggil ibunya.


Chici tak menggubris panggilan Farka.Ia tetap melanjutkan memberi arahan kepada pekerja-pekerja. Sedangkan Farka Dan Suzu semakin gelisah ingin segera ke pantai. Ntah karena sudah lama tidak bermain di pantai, atau karena bosan menunggu terlalu lama.


"Astaga.. Chici lagi apa sih? ini sudah sore, kenapa dia belum beres juga sih?" Gerutu Farka kesal.


"Tak tahu" jawab Suzu singkat sambil terus memainkan ponselnya.


"Ehh?Iya benar kenapa lama sekali" Ucap Suzu tiba-tiba saat Ponselnya mati kehabisan baterai.


"Ishhh dasar,kecoa. Cepat panggil dia."


"Iya-iya sebentar. Ekhmm ekhm.. Rinrin ayo pulang ini sudah sore." Teriak Suzu.


Merasa tak mendapat jawaban Farka menyuruh Suzu memanggilnya sekali lagi, tapi harus dengan manja agar Chici segera datang.


"Cihh tidak mau. Memalukan"


"Yasudah kalau begitu kita bermalam disini saja menunggu Chici yang tidak akan selesai-selesai bicara di sana."


"Tidak tidak aku tidak mau menginap disini. Bunda pasti sudah menunggu" Rengek Suzu.Akhirnya Suzu mau memanggilnya dengan manja meskipun memalukan.


"Rinrin sayaaaangggg ayo cepat pulang.. Bunda sudah menungguu."


Blushh pipi Suzu memerah. Betapa malunya dia setelah berteriak begitu. Pekerja-pekerja disana terkekeh geli mendengar teriakan tersebut.Chici yang semakin geram dengan panggilan panggilan menggelikan itupun akhirnya menyudahi arahannya dan meminta mereka segera beristirahat saja.


"Sayang sayang kepalamu!! Berisik sekali!! Kalau mau pulang yang pulang saja!" Bentak Chici memukul kepala Suzu dengan pedangnya.


"Hhehe. Kau tahu kan kita tidak tahu jalan."


"Kalau tidak tahu ya nurut saja!! Jangan mengganggu waktu kerja ku! seperti kau tidak pernah bekerja saja! Cepat masuk ke mobil!" Chici marah-marah.


Dengan cepat Farka dan Suzu masuk ke mobil. Ketiganya berangkat dalam satu mobil saja. Karena pada awalnya berniat hanya sebentar. Meskipun berada dalam satu mobil yang sama, tapi pengawalnya tetap saja banyak.


Chici meminta supir menuju tempat pembangunan hotel di pinggir pantai. Saat itu Zhan tidak ikut ke lokasi karena harus membantu anak perusahaan yang masih punya beberapa masalah.


Chici sudah meminta Zhan untuk menyusul ke pantai saja jika masalah sudah selesai.


"Rin, kenapa kita ke sini? Aku sudah bilang kita pulang saja." Protes Suzu yang dibawa ke pantai.

__ADS_1


"Kita akan menginap di vila"


"Apa?"teriak keduanya serempak.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak."


"Bukan begitu. Tapi mommy pasti nggak ngijinin." Ujar Suzu khawatir.


"Kau lihat saja nanti."


Perjalan dari taman ke pantai cukup memakan waktu. Sepanjang sudah hampir tak ada orang. Perjalanan yang jauh itu membuat ketiganya mengantuk.


"Nona,Kita sudah sampai." Kata sang supir membangunkan mereka.


"Ohh.. Yasudah terimakasih untuk hari ini."


Saat mereka keluar Suzu sangat terkejut. Ternyata ibunya sudah ada di sana dengan banyak orang lainnya.


"Bunda? Kok bunda disini?" Tanya Suzu melihat ibunya sedang asik membakar ikan.


"Memangnya kenapa? Tidak boleh kah bunda berlibur semalam saja?"


Setelah membersihkan diri, Suzu, Farka dan Chici bergabung ke kumpulan orang-orang disana.


Orang yang ikut serta dalam acara 'Party Kecil' itu tidak lain adalah orang-orang yang bekerja di perusahaan dan di rumahnya. Tentu saja dengan para pengawalnya. Anggota Geng Mafianya juga turut hadir meramaikan acara.


Tak ada alasan khusus Chici membuat party tersebut. Ia hanya ingin membuat sebuah suasana baru.


Namun ditengah keramaian itu, Chici TK merasakan apapun yang berbeda. Hanya sedikit berisik saja. Chici memutuskan untuk duduk di depan vila, sedikit jauh dari tempat orang-orang berkumpul.


"Kenapa?" Suzu menyodorkan jagung bakar.


"Kenapa hidupku tidak berubah? Kenapa aku selalu merasa kesepian di tengah keramaian begini?"


"Itu karena hatimu tertutup rapat untuk kebahagiaan. Kau sendiri yang menutup hatimu untuk semua itu."


"Benarkah? Laluu bagaimana agar aku bisa merubah segalanya?"


"Cukup melupakan hal-hal yang tidak kau sukai. Melihat ke belakang untuk menjadikannya sebagai pelajaran bukan sebagai penjara"

__ADS_1


"Hmm.. Sulit rasanya melepaskan semua itu."


"Rin'er dengarkan aku. Semua yang ada di dunia ini sudah ada garisnya. Kau juga tahu itu. Leluhur kita juga mengajarkan untuk merelakan semua yang sudah terjadi."


"Aku tahu. Tapi tetap saja sulit."


"Hahhh...Kesulitan ada karena tidak ada niat yang tulus. Sudahlah. Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba bikin party begini?"


"Bukan apa-apa. Hanya ingin membuat mereka punya warna lain di hidupnya."


"Dengan warna putih di hidupmu? Jangan konyol. Aku tahu bukan ini alasannya."


"Huftt emang gak bisa bohong ya.?!. Aku belum siap bertemu Nugi. sekarang dia pasti ke rumah. Aku..."


"Yasudah. bahas yang lain saja. Kamu bikin taman itu buat apa?"


"Sebagai persiapan ikutan ajang tahun depan antar perusahaan."


"Lalu?" Suzu yakin masih ada tujuan lain dalam setiap tindakan yang Chici buat.


"Hhaha.Kau cerdik sekali. Aku sengaja membuat taman itu untuk masyarakat umum. Aku ingin mereka punya hidup yang indah. Anak-anak bisa bermain kesana-kemari dengan teman-teman seusianya.Bercanda ria dengan keluarganya. Menikmati banyak waktu dengan keluarga,sahabat dan berbaur dengan orang-orang. Menikmati masa-masa indah seusianya. Bukan bergelut dengan rasa sakit, penderitaan, penghinaan dan lain-lain yang membuat diri kita merasa kesepian, terasingkan, tak dianggap, tak dihargai, selalu salah.


Jangankan berkumpul dengan orang-orang, berpapasan saja rasanya sangat enggan. Melihat tatapan tajam dari orang itu rasanya sangat menyakitkan." Chici menyeka air matanya.


"Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Bukankah kamu keturunan keluarga utama?"


"Ya..Tapi aku selalu dibandingkan dengan saudaraku yang lain. Yang lebih cerdik,gesit dan mampu menguasai segala jurus. Perkembangan aku dalam hal-hal itu sedikit lambat darinya. Jadi orang-orang meragukan kalau aku bukanlah keturunan keluarga utama. Sejak ayah dan ibu meninggal, saat itu juga aku sadar kalau semuanya sudah direncanakan"


"Apa kamu akan membunuh mereka untuk balas dendam?"


"Balas dendam terbaik dan terampuh adalah kesuksesan. Baru setelah itu aku akan menyelesaikan segalanya"Chici mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Sudah sudah. Maaf membuatmu mengingat hal buruk."


"Tidak apa. Terimakasih sudah mau mendengarkan ceritaku."


"It's Oke.. Come on.. Kita gabung dengan yang lain. Lupakan dulu luka itu, kita bersenang-senang malam ini." Suzu merangkul Chici untuk bergabung dengan yang lain.


Mereka makan bersama dan bernyanyi bersama-sama mengelilingi api unggun kecil. Semua orang tampak riang. Anggota Mafia Chici jadi terlihat seperti orang biasa saja. Orang yang tidak tahu akan mengira mereka bukanlah anggota mafia. Malam panjang berjalan dengan damai, penuh dengan nyanyian, candaan dan makanan tentunya.

__ADS_1


--------------------#🕊️TBC...


__ADS_2