Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.38 Persiapan Menuju Pulau Teratai Api 2


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Kini Chici tengah mencari cara agar penawar racun yang mereka bawa tidak mengundang perhatian orang lain, dan juga tidak merepotkan saat membawanya. Setelah mencoba menggunakan berbagai cara membawa penawar racunya, akhirnya mereka menemukan cara yang efektif.


"Nona, eh bos, kalau kita membawanya dengan cara seperti itu kita membutuhkan kantung kulit yg tipis tapi kuat. Kita harus mencari kemana?" tanya Wixi yang baru tahu.


Wixi tak mengerti bagaimana cara membawanya. Mereka hanya bilang kalau penawar racun akan dibawa dengan cara menggantungnya di balik pakaian mereka. Agar tidak terdeteksi oleh orang-orang yang mereka temui. Hal tersebut menimbulkan pro dan kontra di antara anggota-anggota yang terpilih.


"Hahh. Aku tak setuju kalau seperti itu cara membawanya,bos. Kita akan kesulitan mengambilnya dalam situasi yang darurat. Itu akan memakan waktu walau saat kita mengambilnya saja." protes yang lainnya.


"Tapi dengan cara seperti itu rencana kita tidak akan terdeteksi oleh orang-orang. Kalau orang-orang tahu kita punya penawar racunnya kita pasti akan menjadi buronan mereka dan kita tidak akan bisa menghindari pertempuran besar." ujar Fino.


"Ya. Apa yang dikatakan,Bos Fino. Seperti yang bos besar bilang, kekuatan,kemampuan kita jauh di bawah mereka. Dan kalau saja itu terjadi makan nyawa kita akan melayang." anak buah Fino menambahkan.


"Tapi coba bayangkan saja kalau kita dalam kondisi darurat dan harus segera menggunakan penawar racunnya, apa kita harus menyingkap baju dulu? Membuka baju dulu untuk mengambilnya?"


"Itu memang masuk akal. Tapi coba pikirkan lagi baik-baik. Jika satu orang saja tahu kita membawa penawar racun, orang itu pasti akan memberi tahu yang lainnya. Dan kalian tahu lawan kita bukan hanya satu atau dua orang saja. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang akan berkumpul di sana dari berbagai penjuru dunia.Pikirkan itu baik-baik dengan jumlah kita yang hanya sedikit" ujar Fino dengan suara lirih di akhir kalimatnya.


Chici yang mendengar pro kontra mengenai cara membawa penawar racun dari anak buahnya menjadi pusing. Apa yang di katakan anak-anak memang tidak salah namun juga kurang benar. Cara seperti itu memang aman, akan tetapi kurang efektif. Saat berada dalam kondisi yang darurat, tentu akan sangat memakan waktu dan membahayakan.


Chici memutar otak lagi mencari yang lebih efektif dan aman. Anak buah yang melihat ekspresi dingin di wajah Chici berhenti berdebat, saling menatap satu sama lain. Takut kalau-kalau pendapat mereka akan menyinggung perasaan Chici.


"Baiklah. Kita tidak punya cara lain lagi selain itu. Kita pakai pakaian bersaku saja. Itu lebih efektif dan aman juga, lagi pula tidak akan merepotkan saat kita bertarung." Chici mencoba memberikan jalan keluar.

__ADS_1


Orang-orang tampak berfikir sejenak. Tak ada jawaban satupun. Suasana menjadi hening sejenak setelah Chici menyelesaikan kalimatnya. Tak lama kemudian mereka akhirnya setuju dengan usul dari Chici. Chici lega sarannya bisa diterima anggotanya.


"Baiklah. Kalian bisa melanjutkan persiapan kalian. Ingatlah harus teliti agar hasilnya sempurna. Wixi,Fino kalian ikut dulu denganku ke rumah. Ada yang harus kalian lakukan."


"Baik,Bos." jawab keduanya serempak.


***


Udara malam ini sangat berbeda dari biasanya. Suhu yang biasanya dingin menusuk tulang, kini terasa panas membakar kulit bagi Chici. Chici tampak gelisah dan mondar mandir tak karuan. Ia terus bolak-balik kesana-kemari sambil mengurut urut keningnya.


"Chi,berhenti mondar-mandir begitu, mataku sakit melihatnya." tegur Farka.


"Ck. Aku bingung sekali."


"Kak, aku cemas meninggalkan perusahaan kita selama itu. Aku khawatir Nugi dan Kak Melisa akan berulah lagi. Apalagi kalau mereka tahu aku tidak ada di rumah" Chici menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.


Farka,Suzu,Wixi,dan Fino tengah duduk di sofa kamar Chici. Mereka malah saling menatap,bingung harus bereaksi seperti apa.


"Ini menyangkut perusahaan,kenapa kita juga dipanggil?" bisik Fino pada Wixi.


"Dengar,Rin'er. Mereka tidak akan beraksi selama ada Farka dan aku yang mengontrol perusahaan. Kita sudah sepakat akan berbagi tugas. Aku akan memantau kinerja karyawan di anak perusahaan CRX Group saja, karena aku juga tidak bisa meninggalkan Group CS. Jadi kak Farka yang akan menghandle semuanya di CRX Group utama. Aku yakin mereka tidak akan mengincar anak perusahaan yang tengah terpuruk. Orang-orang belum tahu keadaan sebenarnya di anak perusahaan kan?"

__ADS_1


ujar Suzu.


"Itu benar,Chi. Jangan khawatir,kau fokus pada perjalanan mu saja. Kita bisa menghandle semuanya, meskipun tidak lihai dalam bela diri, setidaknya posisi Suzu sebagai CEO akan mempermudah semuanya."


"Hah.Justru itu yang aku takutkan.Dengan posisi Suzu yang seperti itu hadir atau membantu menghandle urusan di CRX Group akan mencuri perhatian orang-orang. Karena itulah aku meminta kalian berdua ikut ke sini. Aku membutuhkan bantuan beberapa anak buah kalian untuk menjadi pengawal Suzu sementara aku tidak ada. Kau Suzu, kalau hendak menghandle anak perusahaan CRX Group, ubah dulu penampilan mu agar tidak dikenali orang-orang. Ini demi nama baik satu sama lain. Meskipun kita punya kerjasama, orang zaman sekarang terlalu banyak pemikiran dan cenderung negatif. Aku tidak mau ada masalah yang melibatkan mu. Dan kau hanya mengontrol saja, kalau ada masalah beritahu kak Farka saja jangan mengatasinya sendiri." ucap Chici panjang lebar menjelaskan rencananya.


Mereka menghembuskan nafas lega saat Chici berhenti berbicara. Pasalnya Chici bicara dengan nada sedikit tinggi dan tempo ucapannya begitu cepat.


"Kau yang bicara kenapa aku yang kehabisan nafas?" lirih Wixi dan yang lainnya mengelus-elus dada.


"Hufff baiklah,jadi bagaimana?" tanya Chici dengan wajah serius.


"Bagaimana apanya?" tanya mereka kompak.


"Apa? Jadi dari tadi kalian tidak mendengarkan aku? Kalian hanya mengangguk-angguk saja dari tadi!" bentak Chici.


"Eh?! Hhehe..Aku tidak fokus mendengar perkataanmu, masalahnya kau bicara begitu cepat dan kami malah terpengaruh hingga ikutan menahan nafas saat kau bicara tadi." ujar Kak Farka cengengesan.


Mata Chici memerah menahan kesal. Ia memarahi keempatnya. Bicara panjang lebar namun tidak di dengarkan sama sekali membuat darahnya mendidih. Apalagi masih banyak yang harus ia lakukan sebelum berangkat.


Chici mengomeli mereka habis-habisan hingga telinga mereka terasa panas. Bahkan sesekali Chici memukul bahu teman-temannya itu yang tampak tak memperhatikan ucapannya. Akan tetapi mereka bukannya takut malah terus-terusan menahan senyum dan tawanya melihat ekspresi Chici yang kesal.

__ADS_1


Setelah kehabisan nafas dan kata-kata memarahi kakak dan teman-temannya, Chici mengusir mereka dari kamarnya dan langsung terlelap mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Semua persiapan untuk menuju ke pulau Teratai Api sudah selesai. Kini anak buahnya tinggal menunggu perintah dari Chici untuk berangkat.


---------------------------#🕊️TBC....


__ADS_2