
Pagi hari terasa begitu dingin. Chici sudah bangun dan duduk menunggu sang mentari menyapanya.
Chici membaringkan tubuhnya. Berbantalkan lengannya, ia menatap langit yang terang perlahan-lahan menampakkan kecantikannya.
"Haahhhh... Andai aku bisa menikmati perasaan yang hangat seperti ini setiap hari.."Helaan nafasnya terdengar berat. Chici tersenyum tipis membalas hangatnya sapaan mentari pagi.
"Mama..Chiyo kangen banget.. Andai Chiyo bisa ngerasain hangatnya pelukan mama lagi. Pelukan yang hangat sehangat cahaya mentari pagi ini." Gumam Chici perlahan memejamkan matanya mencoba merasakan kehadiran seorang ibu disisinya.
Kening Chici mengkerut tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sudah sangat ia rindukan.
"Maa..Jangan bermain-main denganku. Itu menyakitkan. Yaahhh..Setelah perasaan ini hilang, hatiku akan menangis lagi.Pergilah,Ma jangan menyiksaku." Ucap Chici dengan mata tetap terpejam merasakan perasaan yang sama saat ada disamping ibunya.
Air mata Chici tampak mengintip, mencoba agar tidak jatuh. Namun sia-sia. Siapapun akan menderita menahan kerinduan pada sosok yang amat disayangi dan dikasihi.Terlebih lagi itu adalah sosok seorang ibu.
"Mama..." Ucap Chici lirih, terbayang sosok ibu dalam benaknya.
"Terimakasih.."Ucapnya lagi. Terasa tangan yang begitu lembut mengusap keningnya.
"Sama-sama" Jawab seorang wanita disamping Chici.
Terdengar merdu dan penuh kasih. Hati dan tubuhnya bergetar hebat. Air matanya semakin deras mengalir. Chici tak kuat menahan perasaan itu. Namun ia enggan untuk membuka matanya, takut akan kehilangan momen yang sangat ia nantikan itu.
Chici meremas pasir yang menjadi alasnya berbaring. Nafasnya semakin sesak terus berusaha berhenti menangis. Tangannya semakin kuat mencengkram pasir dalam genggamannya.
"Ayah.."Lirih Chici merasakan tangan seorang laki-laki menggenggam tangannya yang gemetar.
"Menangis lah jika itu bisa membuatmu tenang" Suara sedikit serak terdengar di samping telinga Chici.
Chici tersenyum mendengar itu. Namun tak bertahan lama. Suara tangisannya semakin keras terdengar,tidak ada tekanan sedikitpun. Chici melepas semua perasaan menakutkan itu.
Terasa ada yang memeluknya dari kanan dan kiri Chici, menggenggam kedua tangan Chici, mengelus lembut pipi Chici menyeka air mata yang membasahinya. Akan tetapi Chici tak jua membuka matanya.
__ADS_1
Chici sedikit heran dengan dua pelukan pada tubuh mungilnya. Pelukan yang ia kira dari ibu dan ayahnya, mengapa terasa begitu nyata dan tidak segera hilang. Kehangatan yang lebih terasa dari yang seperti biasanya Chici berkhayal.
Chici berusaha menstabilkan emosinya. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Alangkah terkejutnya ia, ternyata yang memeluknya adalah Bunda Shina dan Suzu.
"Bu..Bunda.. Kenapa.Kenapa bunda di sini? Su.Suzu?? Ka..Kalian sedang apa disini?" Tanya Chici gelagapan. Ia segera duduk dan menghapus air matanya.
"Kemari sayang."Bunda Shina merentangkan kedua tangannya.
Dengan ragu Chici mendekat dan memeluknya.
"Kamu merindukan ibumu kan? Aku disini. Kenapa kamu menangis sendiri di tepi pantai begini hmm? Pakaianmu juga tipis nanti kalau masuk angin bagaimana? Bahaya sayang tidur di tepi pantai sendirian dari pagi buta. kalau ada ombak besar bagaimana kalau kamu terseret ke tengah laut? Jangan di ulangi lagi ya?" Bunda Shina memeluk Chici dengan erat.
Suzu yang melihat itu menjadi terbawa suasana. Air matanya menetes. Ia jadi ikut teringat pada ayahnya.
"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Kalau kamu merindukan ibumu, temui bunda saja. Bunda siap membantu Chici mengurangi rasa rindu itu." Ucapnya setelah tak mendapat jawaban dari Chici,melainkan sebuah Isak tangis.
Suzu menghampiri Chici dan ibunya.
Tangisan Chici menghilang setelah mendengar itu. Ia melepas pelukannya, beralih menatap Suzu.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Chici melihat mata Suzu memerah.
Suzu tersentak, ia kira Chici akan marah setelah mendengar hal itu. Namun Chici justru menanyakan hal lain.
"A..Aku hanya.. hanya teringat pada ayahku saja.." Suzu menunduk.
"Sudah sudah jangan mengingat yang sedihnya terus. Cobalah ingat hal-hal menyenangkan saat bersama keluarga mu untuk mengobati rindu. Positif thinking." Kata bunda, memeluk keduanya.
"Baiklah, Bunda sayang" Ucap Suzu dan Chici bersamaan sambil membalas pelukan ibunya.
"Ekhm ekhm" Dehem seseorang di depan mereka.
__ADS_1
Mendengar suara seseorang sontak saja ketiganya melepaskan pelukan satu sama lain.
"Ka..Kalian?? Sejak kapan kalian disana?" tanya Chici malu.
"Sejak kau tiduran disini, tersenyum dan menangis sendiri, lalu berpelukan bertiga" Ucap Farka dengan nada mengejek.
Chici mengembungkan pipinya merasa mulai di jahili. "Ngapain kalian nontonin aku hah?"
"Karena kita tahu kamu lagi butuh suport makannya kita kesini. Tapi ga tega gangguin kamu yang lagi sedih kangen sama mama papa." Farka mendekati Chici dan duduk disampingnya, diikuti oleh semua anggota Blood One dan para pegawai di perusahaan,termasuk para pekerja di rumahnya.
"Nona,kamu harus ingat. Kamu tidak sendiri, seperti yang Suzu katakan. Kita ini keluarga. Nona jangan sungkan berbagi cerita suka duka dengan kami. Kami akan selalu ada buat nona." Ucap salah seorang anggota Blood One.
"Benar,Nona. Nona ingat kenapa nona memberi nama geng kita dengan 'Blood One' ? Kita ini satu darah, hidup dan mati, suka dan duka, sedih dan gembira kita selalu bersama-sama." Ucap yang lainnya.
Semua orang berkumpul membentuk lingkaran. Saling memberikan support untuk Chici sebagai ungkapan terimakasih.
"Nona, nona juga pasti pernah dengar kan kalau keluarga itu bukan hanya ayah ibu dan anak tapi orang-orang disekeliling kita, orang-orang yang menyayangi kita juga orang-orang yang kita pedulikan itu adalah keluarga."
"Ya,nona. Meskipun selalu ada yang tidak menyukai kita, tapi jangan lupa tidak sedikit juga orang yang sayang pada kita. Rasa sayang itu tidak selalu harus di ungkapkan, cukup selalu ada saat kita suka maupun duka."
Semua orang membenarkan apa yang dikatakan rekan-rekannya.
Chici amat tersentuh dengan support yang mereka berikan.
'Terimakasih Dewi. Ternyata aku masih memiliki keluarga. Tolong pertahankan keluarga ku yang ini.Aku berjanji akan menjalani hidup ku yang sebenarnya mulai dari sekarang. Aku akan membahagiakan keluarga-keluarga ku. Akan kuusahakan yang terbaik untuk mereka semua.' batin Chici berjanji pada dirinya sendiri.
"Terimakasih semuanya. Tetaplah menjadi keluarga ku yang utuh. Sekarang aku tidak sendiri lagi." Ucapnya tersenyum bahagia.
"Ini baru Nona kita" Ucap semua orang serempak lalu tertawa bersama-sama.
Pagi yang begitu indah untuk mereka. Pagi ini Chici sudah mendapatkan semangat baru. Namun semua itu tidak bertahan lama. Masalah yang sebenarnya baru akan terjadi. Hari yang berat dan merepotkan baru akan dimulai.
__ADS_1
--------------------#🕊️TBC...