Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.36 Rencana Menuju Pulau Teratai Api 2


__ADS_3

***


"Selamat Malam, Bunda." Sapa Chici mengejutkan bunda Shina yang sedang makan.


"Uhukk uhuk. Ka- kamu uhuk" bunda Shina tersedak sampai terbatuk-batuk karena terkejut.


"Ah maaf aku mengagetkan mu. Minumlah dulu,Bun." Chici menyodorkan air minum.


"Kamu dari mana saja? kenapa tidak menemui bunda beberapa hari ini? Kau tahu? Aku sangat takut kau marah padaku. Apa kau sedang sakit? Apa terjadi sesuatu yang sangat buruk hari itu? Kenapa tidak memberi tahuku setelahnya? kau terluka kah? Atau kau sudah tidak sayang padaku? Apa.."


"Sstttt-! Bunda berapa banyak lagi pertanyaannya? Aku tidak apa-apa kok. Hanya saja banyak teka-teki yang membingungkan. Jadi aku butuh waktu menyendiri." Ujar Chici terkekeh melihat reaksinya yang menurutnya berlebihan.


"Hufff syukurlah jika begitu. Aku takut kau marah jadi tidak menemui ku. Yasudah sini makan dulu. Ada rendang kesukaan putraku, kau harus mencobanya. Ini buatanku sendiri, kalau bukan aku yang memasak rendang, dia akan manyuuuunn terus sepanjang malam tak mau makan tak mau bicara denganku sampai-sampai dia tak mau mandi sama sekali sebelum aku memasak rendang untuknya." celotehnya menyindir Suzu yang duduk di depan Chici.


"Bundaaaaa.." Rengek Suzu malu sampai membuat pipinya begitu merah.


"Kau lihat kan? Cihh dia itu sangat manja. Apa-apa harus aku yang menemaninya. Ada masalah selalu menangis, merengek terus menerus sampai membuat telingaku panas sekali. Sikapnya tidak pernah berubah, manja dan selalu kekanakan. Jika teman-teman bunda tahu sikapnya seperti ini, aduhhhh ntah harus menggali lubang dimana bunda nanti." celoteh bunda Shina tanpa henti.


'Bukankah ocehanmu yang membuat telinga orang panas,Bun? Hhihihi maaf saja. Ternyata ini alasan Suzu tidak berani pulang telat hahaha' Batin Chici tertawa geli.


"Benarkah? Apa saat mandi juga harus bunda temani?" Tanya Chici setengah mengejek.


"Iy.."


"Tidak!" jawab Suzu cepat.


"Haihh kalian ini serasi sekali. Jangan menggoda aku terus dong, Bun." ucapnya dengan suara yang menyedihkan.


"Cihh kau ini-! Mengaku saja" celetuk bunda Shina sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"ck bunda ini-!" decak Suzu kesal.


"Tapi saat di luar Suzu tidak seperti itu kok Bun"


"Iya. Dia itu seperti bunglon. Untung saja bukan kulitnya yang berubah-ubah." Ujar Bunda Shina dengan polosnya.


Suzu mendengus kesal, tidak akan ada habisnya kalau sang ibu sudah mood untuk menggodanya.

__ADS_1


Mereka mengobrol, bercanda dan menggoda Suzu yang semakin cemberut mendengar godaan dua wanita di depannya itu. Malam sudah hampir larut, Chici pamit untuk pulang karena Farka Pasti sudah menunggunya.


Awalnya Bunda Shina meminta Chici untuk menginap saja, tapi Chici menolak dengan alasan ada beberapa hal yang harus ia bereskan malam ini juga. Untuk menghilangkan kesedihan bunda Shina, ia berjanji lain waktu ia akan menginap menemaninya. Dengan bujukan itulah akhirnya Chici baru bisa pulang.


***


Malam berganti pagi. Di pagi buta itu mobil Chici sudah berjalan memadati sepinya jalanan, memecah sunyi nya suasana pagi hari.


Ting...


Sebuah pesan masuk ke ponsel Chici.


πŸ“₯*Wixi : Chi, semua orang sudah berkumpul di markas bawah tanah. Kapan kau sampai?


πŸ“€ Chici : Sebentar lagi aku sampai. Apakah semuanya sudah terjamin dirahasiakan?


πŸ“₯Wixi : Ya, sesuai perintahmu.


πŸ“€Chici : Baiklah tunggu aku sebentar lagi. Pastikan tidak memunculkan kecurigaan dari orang-orang.


πŸ“₯ Wixi : Oke*.


***


"Baiklah kita mulai saja. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Kalian tanyakan saja apa yang ingin kalian tanyakan." ujar Chici memulai pembicaraan.


"Bos,apakah benar kamu mau pergi ke pulau itu?" tanya salah satu anak buah Wixi.


"Ya. Kalian pasti sudah tahu semuanya bukan?"


"Benar. Tapi apa itu tidak terlalu berbahaya?"


"Tidak terlalu berbahaya asal kita bekerja sama."


"Baiklah jika bos memaksa. Sekarang siapa saja yang akan anda bawa menuju pulau itu?"


"Aku hanya akan membawa 50 orang saja dari anggota Blood One. 10 ketua, dan 40 anggota. Ketua kalian akan memilih siapa saja yang akan ikut."

__ADS_1


"Baiklah. Itu mudah. Tapi kenapa kami juga di panggil kemari, Nona?"


"Perjalanan kali ini akan memakan banyak waktu. Aku meminta Hendra dan kamu menghandle semua urusan di perusahaan. Kita tidak tahu sampai kapan disana. Kita akan berangkat satu Minggu sebelum bulan purnama.


Kita harus menyiapkan beberapa penawar racun. Aku akan menanyakan bahan-bahan yang harus dicari untuk membuatnya pada Leo.


Kita bagi dalam dua tim dulu. Sebagian menyiapkan persenjataan. Bagaimanapun juga pertaruangan tidak akan dapat dihindari. Menurut informasi yang aku dapatkan, banyak sekali ahli bela diri datang ke pulau itu setiap waktu. Baik mencari bunga teratai api maupun sekedar mengasah kemampuan.


Ingatlah. Jangan mencari masalah di sana. Jangan bertarung jika bukan mereka yang memulainya. Kemampuan kalian berada jauh di bawah mereka. Selama kita bisa menjaga sikap dan berhati-hati, aku yakin tidak akan ada hambatan.


Siapkan penawar dan senjata yang berkualitas, tidak boleh ada sedikitpun kekurangan. Kita tidak akan bisa menghindari hal buruk jika itu terjadi.


Sampai sini, apa kalian mengerti?" Tanya Chici menutup penjelasan dan petuahnya yang panjang lebar.


"Mengerti" jawab semuanya kompak.


"Emm..Nona, apa pemuda yang baru itu akan ikut?" Tanya Wixi was-was.


"Tent.."


"Tidak! Suzu, kau tidak boleh ikut. Kau dan kak Farka tetap disini. Kau harus melindungi bunda dan bantu kakak ku mengurus perusahaan selama aku disana." ucap Chici cepat menyela ucapan Suzu.


"Hufff baiklah." Jawab Suzu singkat.


"Bagus! Sekarang aku beri waktu bagi para ketua untuk memilih anggotanya masing-masing. Jangan ada paksaan. Aku tidak mau repot jika nanti kalian banyak mengeluh. Aku harus pergi menemui Leo dulu untuk menanyakan bahan-bahan penawar racun itu. Hendra, Veli kalian dan yang lainnya boleh pulang sekarang. Tugas kalian sudah aku sampaikan. Jangan gegabah saat aku tidak mengontrol, kakak dan Suzu akan memantau kinerja kalian."


Semua orang mengangguk. Chici berdiri dan berlalu menuju kandang Leo. Mereka tersenyum menatap punggung Chici yang semakin menghikang dari pandangan. Mereka selalu terpukau dengan kecerdasan dan ketegasan Chici dalam bertindak. Tenang namun mematikan.


"Petualangan kali ini akan menyenangkan"


"Ayo bekerja keras untuk nona"


"Semangat"


Teriak orang-orang bersahutan menyemangati diri sendiri dan rekan-rekannya hingga menggema keluar markas. Chici tersenyum penuh arti mendengar teriakan yang terus bersahutan dari anak buahnya. Hari yang berat akan segera dimulai, menguji nyali, mengasah kemampuan, menjunjung tinggi kerjasama dan membuka mata mereka akan indahnya kebersamaan.


--------------------#πŸ•ŠοΈTBC.....

__ADS_1


Mohon maaf untuk besok Jum'at sampai Minggu libur up dulu, mau kejar target Novel yang satu lagi. Mohon dukungannya ya di Novel The Queen Of True Adventurers. Tinggalin jejak like sama komennya ya.. πŸ˜„


See you hari Senin lagi. Jangan lupa mampir ke novel satu lagi loh..πŸ˜„πŸ€—πŸ’•


__ADS_2