Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.39 Perjalanan I [Keberangkatan]


__ADS_3

Hari minggu tepat pukul 07:00 sudah berjejer puluhan orang di depan 'istana' Chici.


Seragam lengkap yang serba hitam tampak menawan dipakai oleh orang-orang yang tengah berjejer rapi di halaman depan. Jejeran orang-orang tersebut tampak memenuhi sebagian halaman rumah Chici.


Melihat penampilannya saja tidak akan ada yang berani mengusik mereka, apalagi kalau tahu siapa bos-nya.


Selang beberapa menit kemudian, sang Dewi pun menampakkan kemolekan nya. Bau harum parfum terbang bersamaan dengan angin yang menerpa, membuat semua mata tertutup dan nafas yang tertahan seolah tak ingin kehilangan harumnya.


Kini semua orang tampak terhipnotis oleh kehadiran Chici di hadapan mereka. Tersungging senyuman bangga dari setiap orang yang melihatnya,tanpa terkecuali. Langkah demi langkah tampak mereka nikmati, membuat jantung semua pria terpukau.


Tak ada satupun mata yang berpaling dari Chici. Sesaat setelah langkah Chici berhenti tepat di depan mereka semua, dalam satu tarikan nafas semuanya berlutut kompak.


Bak seorang pembina dalam upacara bendera, Chici berdiri tegak mengamati seluruh anggotanya yang tengah berlutut di hadapannya. Chici menjentikkan jarinya, dan semua orang langsung berdiri dan melepas kacamata hitamnya.


"Aku tak menyangka waktu berlalu begitu cepat. Kini waktunya untuk kita menjelajahi sebuah pulau. Demi aku, demi kita, demi bumi yang kita pijak. Aku harap kita selamat sampai tujuan dan kembali dalam keadaan seperti ini pula. Satu yang harus kalian lakukan selama perjalanan kita. Ikuti arahanku dan tetap bersama-sama, jangan bertarung jika bukan mereka yang memulai. Kalian mengerti?" Chici berbicara layaknya seorang pemimpin.


"Mengerti" jawab mereka serempak,menggema di halaman yang luas itu.


"Maaf,nona. Eh. Bos ada yang ingin aku sampaikan sebelum kita berangkat." ujar Wixi.


"Katakan, Wixi"

__ADS_1


"Ini adalah senjata yang nona pinta, semoga sesuai dengan keinginan anda. Tolong dilihat terlebih dahulu. Satu pedang Phoenix Merah, satu panah Naga Emas dan ratusan anak panahnya serta senjata rahasia yang kami siapkan khusus untuk mu." kata Wixi sambil menyuruh beberapa orang memperlihatkan senjata-senjata yang di ucapkan Wixi.


Dengan teliti Chici memeriksa kualitas dari setiap senjata di hadapannya. Senyum tipis muncul di bibir kecilnya.


"Bagus. Ini sesuai dengan yang kuinginkan. Zhan, tolong bawa panah ini tapi jangan jauh-jauh dariku. Sepertinya ada sesuatu yang spesial di dalam busur panah ini. Biar pedang ini aku bawa sendiri." ujar Chici sambil mengusap permukaan pedang barunya.


Chici langsung pamitan kepada Farka, Suzu, paman Dani dan Bi Meta yang berdiri di belakangnya. Akan tetapi Suzu memegang tangan Chici saat ia hendak pergi. Chici berbalik badan dan menatap Suzu meminta penjelasan.


Tanpa mengucap sepatah katapun, ia menarik salah satu pedang yang menggantung di punggung Chici. Suzu menggores ujung telunjuk tangannya hingga darahnya mengalir.


"Rin'er, ini adalah restu dari Dewa Naga Emas. Pedang ini sebagai saksi atas restunya. Pergilah dengan hati-hati, aku percaya Dewi ku tidak akan mendapatkan kesulitan yang berarti. Dapatkan apa yang menjadi tujuanmu datang ke sana." ucapnya dengan nada yang amat lirih sambil mengusapkan darah tersebut di setiap ujung mata Chici.


Chici tersenyum, ia mengerti Suzu menyimpan harapan padanya. Chici menepuk pundak Suzu lalu menyobek sedikit bajunya untuk membalut luka di tangan Suzu.


Setelah perpisahan yang begitu mendramatisir, jejeran mobil-mobil yang mengiringi perjalanan Chici berlalu menjauhi istana itu membelah jalanan yang mulai dipadati kendaraan.


Rasa gugup dan takut pada hal buruk yang mungkin akan terjadi, kini menyelimuti hati sebagian dari mereka. Akan tetapi berkat motivasi dan kepercayaan Chici pada mereka membuat semua rasa buruk itu perlahan lahan hilang.


Rasa gelisah kini berganti semangat yang membara bersamaan dengan semakin teriknya sang surya bersinar.


"Ayo bersenandung pelan-pelan untuk mengusir rasa bosan. Jangan terlalu keras juga nanti dimarahin pak polisi. Hahaha" ucap Chici menggunakan mikrophone yang saling terhubung satu sama lain.

__ADS_1


Dan begitulah mereka, sepanjang perjalanan bercanda bersama mengusir rasa takut, bernyanyi bersama-sama meski tidak terlalu keras. Suasananya semakin riang karena memasuki pedesaan.


Ya Chici memang sengaja melakukan perjalanan melalui daratan dengan alasan agar suasana hati anak buahnya tidak terlalu tegang, karena itulah ia mengambil satu minggu sebelum bulan purnama. Sebelum menghadapi pertikaian yang sudah menanti di pulau terkutuk itu, ia akan membuat anak buahnya memiliki motivasi yang tinggi terlebih dahulu.


Mereka melakukan perjalanan tanpa henti, berhenti hanya sekedar untuk istirahat, makan, dan mengisi bensin saja.


Sore hari mereka tiba di sebuah desa kecil diiringi tenggelamnya sang Surya. Mereka memutuskan untuk istirahat dulu di sana. Akan tetapi suasananya sangat sepi.


Tak lama setelah rombongan Chici berhenti, ia melihat seseorang tengah berlari terbirit-birit masuk kedalam rumahnya. Chici menghampiri pria paruh baya yang kebetulan lari melewatinya.


Chici dibuat terkejut dengan jawaban yang diberikan pria paruh baya tersebut atas situasi di desa tersebut.


"Setiap malam selalu ada bahaya yang mengintai warga desa. Hewan-hewan buas turun gunung menyebabkan banyak sekali korban atas kebuasannya. Lalu setelah hewan buas itu pergi sekitar pukul dua belas malam, segerombolan perampok akan datang dan membangunkan kami dan meminta uang pada kami kami, kalau kami tidak memberikan apapun maka kami akan dibunuh. Kalian pasti dari kota, segeralah pergi dari sini, disini sangat berbahaya." pria paruh baya bernama Toto menjelaskan.


Kini Chici dan yang lainnya tengah berada di rumah pak Toto. Chici tampak berfikir sejenak, tersirat di hatinya ingin membantu warga namun itu pasti akan memakan waktu cukup banyak.


"Bos, apa kita tidak bisa membantu warga desa mengenai masalah ini? Dengan kemampuan bos membaca bahasa hewan buas, itu bisa sedikit mengurangi kecemasan warga sini" ujar Hendra mengeluarkan pendapatnya.


"Tapi mungkin kita akan sedikit terlambat kalau membantu warga desa yang kita singgahi" jawab Chici mengeluarkan yang menjadi pertimbangannya.


"Bos, kita tahu bos membawa kita melalui darat untuk mengumpulkan keberanian, ini kesempatan bagus untuk kita melawan ketakutan, kita bisa melampiaskannya pada mereka. Lagipula kita bisa melanjutkan perjalanan terkahir melalui udara nanti,itu mudah kan?." ujar Wixi disertai anggukan yang lainnya.

__ADS_1


Setelah mempertimbangkannya sejenak, Chici akhirnya mau membantu warga desa untuk mengusir perampok dan hewan buas. Akan tetapi bukan Chici yang akan mengatasi hewan buas, tetapi Leo sendiri yang akan berkomunikasi agar tidak mengagetkan warga desa dengan tingkah laku Chici, ya meskipun sebenarnya Pak Toto sangat terkejut mengetahui kalau bos segerombolan orang kota itu adalah gadis yang masih begitu muda.


------------------------#🕊️TBC...


__ADS_2