
Wilayah barat kini sudah mereka lalui tanpa rintangan berarti. Sekarang hal yang harus mereka waspadai adalah racun yang tersebar dimana-mana.
"Nona,gawat" teriak salah seorang anggota Blood One.
"Ada apa?" tanya Chici singkat.
"Penawar racun yang kita bawa hilang" ujarnya dengan sangat takut.
"Apa??" bentak Chici kaget.
"Ii..iya,nona. Semua penawar racun yang kita bawa tiba-tiba hilang." sahut Wixi setengah berbisik.
"Kauuu!!"
Chici yang tengah marah kembali dilanda kekesalan hingga membuatnya hilang kendali dan menebas leher Wixi yang sudah di ujung mata pedang.
Melihat pedang yang sudah menempel di kulit lehernya, Wixi terduduk lemas.
"A..Ampun,nona ampuni aku. Ki..kita juga tidak tahu kapan penawar racun itu hilang, saat kita menyadari pakaian kita terasa ringan, semuanya sudah tidak ada." ujar Wixi memohon dan menjelaskan semuanya dengan suara yang terikat.
"Bagaimana itu bisa terjadi,Wixi?" bentak Zhan.
"Am..ampun,Tuan. Tapi kami juga tidak tahu saat kami bangun tidur dan bersiap kami baru menyadarinya. Tapi saat kami hendak melapor, saat itu kita kedatangan Tuan Hendra jadi kami keburu lupa." timpal yang lainnya.
"Jangan membuatku semakin marah,Wixi. Bagaimana mungkin penawar itu bisa hilang tiba-tiba? Apa kau pikir hantu yang mengambilnya?" ucap Chici berapi-api.
"Nona, tenanglah dulu. Mungkin saat kita tertidur pulas, ada yang mencurinya" Zhan berusaha menenangkan Chici.
Chici menurunkan pedangnya dari leher Wixi. Ia mencoba menenangkan diri. Memang benar apa yang dikatakan Zhan, lagi pula saat itu Chici sedang berlatih sendiri dan meninggalkan anggotanya yang tengah tertidur pulas.
"Tapi siapa yang melakukannya? Kau pikir aku bodoh?! Aku sudaheminta kalian untuk berhati-hati dan tidak menimbulkan kecurangan dari orang lain!! Kalian benar-benar tidak berguna!" ucap Chici pelan namun tetap terkesan menyeramkan bagi mereka.
Bukan hanya kelompok Wixi yang gemetar dan tercekat tenggorokannya, tetapi juga kelompok yang lainnya. Meskipun mereka tidak bersalah tapi tetap terkena imbasnya.
Chici berlalu begitu saja meninggalkan mereka. Tetapi Zhan tahu, semarah apapun Chici ia tidak akan pernah meninggalkan anak buahnya dalam bahaya. Zhan mengambil alih amanat dan peringatan Chici.
__ADS_1
"Apa semua penawar yang kita bagi rata hilang semua?" tanya Zhan pelan.
"Tidak,tuan. Punya kami masih lengkap." jawab Fino.
"Bagus, ini berarti memang direncanakan. Mungkin saja saat kita tertidur ada yang mencurinya. Dan hanya ada satu orang yang patut kita curigai..."
"Dani.." tebak Wixi dan Fino bersamaan.
"Ya.. Hanya dia dan teman-temannya yang bernama kita saat itu. Mungkin merek melihatnya di salah satu pakaian kalian dan mengetahui apa isinya. Dani bekerja untuk Tom, maka..." ucapan Zhan terpotong.
"Gawat! Itu berarti nona dalam bahaya" teriak Wixi langsung berdiri dari duduknya.
"Aaaakhhh" suara teriakan Chici terdengar nyaring.
Bak tersambar kekuatannya kembali setelah hilang oleh tatapan Chici, Wixi berlari sekencang kencangnya kala mendengar teriakan Chici.
Wajah semua orang memucat. Dalam kondisi Chici yang tengah dikuasai kemarahan, dua kemungkinan besar yang akan terjadi. Kemungkinan baiknya kemarahannya yang akan menjadi kekuatan besar bagi Chici dan kemungkinan buruknya menjadi kelemahan terburuk bagi Chici.
Dan satu-satunya yang belum bisa Chici kendalikan dalam emosi nya adalah kepedihan di masalalu.
"Kau!" bentak Zhan emosi.
"Hhahaha aduhhh sungguh kasihan sekali, gadis secantik dia harus kubunuh. Hmm tapi ini adalah balasan yang setimpal dengan kematian kakak ku" ucap Tom geram.
"Chici tidak membunuh kakak mu! Kenapa kau melakukan ini pada Chici hah?!" teriak Zhan.
"Ya! Dia tidak membunuh kakak ku secara langsung, tapi dia sudah membunuhnya secara perlahan! Gara-gara luka yang dia berikan, kakak ku tidak bisa menerimanya dan bunuh diri. Dia sudah tiada! Dia sudah tiada!" jawab Tom berteriak juga.
Suasana hening sejenak. Zhan meminta beberapa orang untuk segera mengobati luka Chici. Yang tidak ikut membantu mengobati kini berdiri berjajar rapi di belakang Zhan, Wixi dan Fino dengan nafas berat dan mata memerah.
"Kau sudah membuat kesalahan besar dengan melukai,Nona. Jangan menghindar lagi dari ajalmu, brengs*k!" ujar Wixi pelan namun penuh penekanan.
"Hahaha.. Meskipun aku harus mati di sini, kalian juga tidak akan selamat dari kerajaan tanaman beracun ini. Lihat.. Ini penawar racun kalian" ucap Tom sambil membuang penawar racun.
Melihat penawar racun yang hilang itu, Wixi semakin marah. Bagaimanapun juga karena hilangnya penawar itulah Chici semakin hilang kendali.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi, Wixi berlari danenyerang Tom dengan membabi-buta.
Tranggg
Pedang-pedang saling bertabrakan menimbulkan suara yang begitu nyaring, hingga membangkitkan semangat yang lainnya.
Kelompok Tom yang kalah awalnya dalam kemampuan, kini kalah pula dalam jumlah.
"Nona adalah kehidupan ku! Kau sudah melukai kehidupan ku, kehidupan kami semua! Terima ini bajing*n,,hiyaaa"
Wixi melesatkan serangan bertubi-tubi. Tom hampir saja kehilangan keseimbangan karena serangan yang dilancarkan Wixi. Belum lagi Zhan dan Fino yang ikut menyerangnya.
"Hhahaha lihat? kalian itu lemah, kalian hanya berani keroyokan" bentak Tom tak menemukan cara lain selain menghancurkan mental mereka.
"Cihhh.. Kau bilang kami lemah? Keroyokan? Lalu apa yang tadi kau lakukan pada seorang gadis hah? Kau bilang itu bukan keroyokan? Itu sudah membuktikan kalau kau lah yang lemah!" bentak Zhan mempercepat serangannya.
Kini Tom menemui jalan buntu. Ia tahu kekuatannya berbeda jauh dari mereka, meskipun satu lawan satu. Tapi itu adalah jalan yang ia pilih sendiri.
Karena dihantui kehilangan, Tom dibutakan dalam pilihan. Bukannya menyadari kesalahannya, ia malah semakin menambah kesalahan. Alhasil, kini bukan hanya dia yang menuai buah hasil pilihannya.
Orang-orang yang tidak bersalah pun jadi korban akibat pilihannya. Anggotanya yang tak tahu apapun kini harus bertarung melawan monster-monster Blood One.
Sekilas Wixi melihat pendaratan di perut Chici tak lekas berhenti, membuat hatinya semakin tersayat. Air matanya menetes tanpa diminta.
"Hhahaha kau semakin lemah saja. Uhh Jangan menangis, jangan menangis" ujar Tom tak mau berhenti mencoba.
"Ya kau benar, aku lemah. Lihat? Hatiku hancur melihatnya berdarah seperti itu. Tapi aku ucapkan terimakasih sudah membangunkan iblis dalam diriku,lagi." ucap Wixi berhenti menyerang.
Wixi bersiul memberikan aba-aba membuat formasi. Zhan dan yang lainnya langsung menuju posisinya masing-masing.
Tom dan teman-temannya yang tidak tahu akan formasi itu hanya saling menatap menanyakan apa yang terjadi. Namun firasat mereka semua sama, hal buruk akan terjadi.
---------------
Chapter berikutnya nyusul ya..
__ADS_1