
"Nona! Nona, tunggu. Kumohon tunggu sebentar." pak Toto berteriak sambil berlari menghampiri Chici.
Chici dan yang lainnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Mereka berbalik badan dan melihat Pak Toto tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Nona nona, mohon ampuni warga desa. Kami menyesal meragukan kebaikan anda. Kumohon maafkan kami" ujarnya sambil berlutut memegang pergelangan kaki Chici.
"Bangunlah,paman. Kau tidak bersalah." ucap Chici membangunkan Pak Toto dari berlutut nya.
"Cihh. Sekarang kalian menyesal? Kemana saja otak kalian dari tadi?" celetuk Zhan.
"Kami tahu kami salah,nona. Maafkan kami sudah lancang terhadap mu dan yang lainnya. Saya mohon kembalilah bantu kami melawan perampok perampok itu. Kami tidak akan sanggup melawannya meskipun sudah membuat berbagai jebakan. Saya mohon nona saya mohon bantu warga desa. Akan kami berikan apapun yang nona inginkan, saya siap menjadi bawahanmu tapi kumohon tolonglah warga" ujar Pak Toto memohon penuh harap.
Sebenarnya tidak masalah bagi Chici, tapi ia ingin memberikan kesempatan bagi anak buahnya untuk mengutarakan isi hati mereka yang sedari tadi dipendam.
"Menjadi bawahan nona? Jangan harap pak tua. Jika kau tidak bisa melindungi diri sendiri dan warga di sini, bagaimana kau akan melindungi nona yang penuh dengan ancaman setiap detiknya?"
"Ya,benar. Jangan bergurau di saat seperti ini, itu tidak lucu. Kembali dan bantulah wargamu sendiri"
"Kalian mencela,menghina, memfitnah dan datang meminta maaf sesukamu, kalian pikir kalian siapa? Orang yang paling tak bermartabat adalah orang tidak tahu terimakasih."
Begitulah anak buah Chici mengeluarkan unek-unek dari hati mereka atas sikap warga desa pada Chici barusan. Ditengah kerasnya mereka meneriakkan kekesalan, Chici tampak berusaha menyembunyikan senyumnya,hingga akhirnya ia tak kuat lagi dan tertawa kecil membuat mereka berhenti mengoceh dan menatap Chici heran.
"Ha ha ha sudah sudah. Aku bangga punya anak buah seperti kalian semua. Terimakasih atas ketulusan kalian. Pak Toto kami akan kembali dan membantu warga desa." ujar Chici sambil terus berusaha menahan tawa gembiranya.
Mendengar ucapan Chici membuat pipi mereka sedikit memerah. Pasalnya selama ini, tak pernah sekalipun Chici memuji mereka segembira itu sampai-sampai ia menahan tawanya. Karena dikuasai rasa malu dan gembira yang menggebu, mereka jadi tidak fokus bahkan tak ada penolakan sedikitpun saat Chici bilang akan kembali dan membantu warga desa.
"Ayo! Kita hajar para perampok itu!" teriak Zhan penuh semangat.
"Ayo kita hancurkan kejahatan! Musnahkan para perampok! Ciptakan kedamaian!" teriak semua anggota Blood One sambil berlari ke arah pusat desa penuh semangat seperti Zhan yang sudah berlari di depan mereka.
Chici bukannya marah karena dirinya ditinggalkan, ia malah tertawa lepas melihat anak buahnya berlari penuh semangat dengan wajah yang merah merona. Hal itu sangat lucu baginya, anak buahnya memang hampir semuanya berkulit putih sehingga warna kemerahan di pipi mereka terlihat cukup jelas, ditambah lagi dengan cara mereka menutupi rasa malu dan bahagia itu dengan berlari dan berteriak mengejar para perampok.
Pak Toto yang melihat reaksi Chici saat melihat anak buahnya berlari penuh semangat tidak bisa berkata apa-apa. Ia faham betul atas apa yang Chici rasakan.
__ADS_1
•••
"Hei! Brengsek! Lepaskan kami"
"Turunkan kami!"
Teriak para perampok yang terjebak di atas pohon, dalam lubang maupun yang terikat. Sebagian dari mereka berhasil terperangkap dan sebagian mengejar dan memukuli warga yang tersisa.
Bukkk
Sebuah tendangan mendarat di perut kepala desa. Kepala desa yang bernama Jakibara terpental mundur beberapa langkah akibat tendangan tersebut. Ia mencoba mengulur waktu agar warganya berhasil melarikan diri dan bersembunyi.
"Hahaha menyerah saja, dasar kepala desa tak berguna" ujar seorang perampok yang menendang perut Jakibara.
"Pergilah kalian dari desa kami! Kenapa kalian menjajah desa kami?"
"Ck ck ck. Jakibara, aku tidak membutuhkan alasan apapun untuk menghancurkan apapun yang kau miliki saat ini."
"Kau?! Siapa kau? Kenapa kau tahu namaku hah?" tanya Jakibara ditengah cekikan perampok itu.
Sebuah anak panah menancap tepat di pergelangan tangan perampok tersebut sebelum menyelesaikan kalimatnya, sehingga Jakibara ambruk ke tanah.
"Kau?! Siapa kau? Jangan berani-berani ikut campur dalam urusanku." bentaknya sambil meringis kesakitan.
"Siapa aku? Aku hanya seorang gadis kecil yang tengah istirahat dalam perjalananku.Maafkan aku sudah ikut campur tapi memang itu yang harus aku lakukan agar kejahatan sirna dari dunia ini." ujar Chici sambil berjalan perlahan mendekati Jakibara.
"Kau seorang pengelana?"
"Anggap saja begitu jika menurutmu begitu."
Pak Toto membantu Jakibara duduk dibawah pohon cukup jauh dari tempat Chici dan perampok itu berdiri. Mereka hanya diam menyaksikan apa yang terjadi antara keduanya.
Chici diam menatap tajam orang didepannya. Ia tidak ingin memulai pertarungan lebih dulu. Namun tak lama kemudian perampok itu mulai menunjukkan ciri-ciri akan menyerang.
__ADS_1
Wushhh
Sebuah pisau kecil melesat dengan cepat ke arah Chici. Akan tetapi Chici mampu menghindari serangan itu dengan sempurna.
Ia menarik anak panah pada busurnya, tidak terlalu kuat tapi hasilnya sungguh menakjubkan. Anak panah melesat dengan kecepatan tinggi mengincar jantung perampok itu.
Sayangnya ia masih sempat menghindar dari tancapan anak panah Chici, sehingga anak panah tersebut meleset dan menancap dalam pada pohon dibelakangnya.
Ia menengok ke belakang dan menelan ludah kasar saat melihat yang terjadi di belakangnya. Anak panah yang diluncurkan Chici menancap cukup dalam, ada sekitar 7 cm dari 20 cm panjang anak panah tersebut.
'Bagaimana jadinya jika anak panah itu berhasil menancap di jantungku?' batinnya bergidik ngeri.
"Hei. Jangan melamun saat bertarung denganku." teriak Chici menyadarkan lamunan dia.
"Ck. Sialan. Hadapi aku dengan pedang kalau kau berani, gadis kecil" teriaknya menutupi ketakutan di hatinya.
"Hah? Hahaha. Ouhh jangan gegabah paman. Tapi tidak apa. Biar ku kabulkan keinginanmu. Zhan, turun dari pohon" teriak Chici di akhir kalimatnya.
Brukkk
Zhan terjatuh dari atas pohon. Ia malah tertawa kecil tak berdosa menyadari persembunyian nya ketahuan. Ia menghampiri Chici.
Chici menyerahkan anak panah serta busurnya pada Zhan. Tetapi Chici tidak langsung menarik pedangnya keluar sarang.
"Jangan menghinaku. Keluarkan pedangmu sekarang juga. Apa kau membawa dua pedang di punggungmu hanya untuk pamer saja?" ujarnya setengah mengejek.
"Cihh.Pedangku anti menyentuh kulit yang tidak punya keberanian." celetuk Chici memancing emosinya.
"Kurangajar akan ku habisi kau sekarang juga!" teriaknya tersulut emosi.
Chici menghindari tebasan teebasan yang dilakukannya dengan mudah. Tentu saja mudah bagi Chici, sejak kecil ia sudah bergelut dengan ribuan jurus pedang. Baginya, tidak ada jurus yang harus ditakuti selama hati kita tetap kuat untuk melakukannya demi kebaikan.
Chici tersenyum saat melihat celah yang ditunjukkan perampok itu ditengah aksinya.
__ADS_1
------------------------#🕊️TBC...