Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.51 Pulau Teratai Api [ Part 5 ]


__ADS_3

Pukul 03:00 dini hari, Chici dan yang lainnya tengah berkumpul dan menghangatkan diri pada api unggun kecil.


"Kalian segera bersiap-siap, kita akan melanjutkan perjalanan kita satu jam lagi sebelum matahari benar-benar terbit. Itupun kalau tamu kita tidak datang dan mengganggu." ujar Chici.


"Tamu?" tanya mereka serempak.


"Iyaa.. Nanti kalian akan tau. Ayo segera bersiap."


---


"Selamat pagi, tuan-tuan." sapa seorang pria pada rombongan Chici.


"Pagi. Siapa kalian?" tanya salah satu anggota Wixi.


"Emm.. Tadi malam anak buahku memberitahuku kalau ada yang ingin bertemu denganku disini" jelasnya.


Semua anggota Blood One saling berpandangan, mereka sama sekali tak mengerti. Semalam kan tidur pulas sekali, pikir mereka bersamaan.


"Ada siapa?" tanya Zhan muncul dari kerumunan anggotanya.


"Kau?!" ucap pria itu bersamaan dengan Zhan.


"Ehh?? Kalian saling mengenal?" tanya wanita itu heran.


"Kenapa kau disini?" tanya Zhan tak mempedulikan pertanyaannya.


"Iyah, aku ditelpon oleh nona untuk ikut dalam pencarian." jawab Hendra.


"Nona?? Jangan-jangan gadis yang semalam itu..."


"Benar. Itu aku" celetuk Chici menghampiri mereka sambil menggantungkan wadah anak panahmya.


"Salam,Nona. Selamat pagi" sapa Hendra membungkuk.


"Bos, apa orang yang bernama Chiyo itu...dia?" tanyanya mengambil jeda.


"Benar. Kau udah mengganggunya tadi malam. Perkenalkan dirimu dan segera minta maaf" ketus Hendra.


"Ahh ya ampun. Maafkan aku,nona. Aku tidak tahu itu kau." ucapnya sambil bersimpuh.


"Tidak apa. Siapa namamu?"


"Namaku Tiara,nona." jawabnya tetap menunduk.

__ADS_1


'Sialan! Kenapa orang dalam misi ku adalah ketua mafia? Walaupun masih muda, aku yakin kemampuan dia jauh diatasku. Kupikir dia hanya anggota biasa' gerutunya dalam batin.


---


Di tengah perjalannya, rombongan Chici dihadang oleh dua kelompok pendekar lain. Chici tidak menghiraukan keberadaan mereka.


Merasa tak dianggap, kedua kelompok itu kembali menghadang jalannya.


"Berhenti! Berani sekali kalian mengacuhkan kami. Diam dan serahkan senjata itu pada kami." ujar seseorang.


"Jangan menghalangi jalan nona! Minggir!" bentak Zhan.


"Lancang! Jangan berteriak pada bos kami. Kalian tidak tahu kami siapa?" tanya mereka lagi dengan suara meninggi.


"Kami adalah utusan dari mafia negara C. Jangan macam-macam dengan kami atau.."


"Atau apa?" bentak Fino.


"Aku akan membunuhmu!" teriaknya sambil berlari menuju Zhan.


Namun sayangnya, baru saja tiga langkah sebuah belati kecil tertancap di perutnya. Semua temannya tersentak bersamaan.


"Si..siapa kalian? Ge..gerakannya cepat sekali, aku hampir tidak melihat dia bergerak" celetuk orang yang paling tinggi.


"Hallo Tuan. Tolong sampaikan salamku pada pimpinan kalian, tuan Jalal. Dan sekarang tolong menyingkir dari hadapanku." ucap Chici dengan nafas tertahan.


"Jangan banyak tanya padaku! Cepat menyingkir!" bentak Chici tersulut emosi.


"Nona, Ada apa? Tenanglah biar kuurus mereka" ujar Hendra menenangkan.


"Diam!" bentak Chici lagi dengan muka yang semakin memerah karena geram.


"Zhan, apa yang ter... ehh?? Kau juga marah??" tanya Wixi kaget melihat reaksi yang sama terjadi pada Zhan.


Bukan hanya anggota Chici saja yang terkejut akan kemarahan Chici dan Zhan, tetapi kebingungan yang sama terjadi pada sekelompok orang didepan mereka.


Mereka saling memandang dan berbisik satu sama lain mempertanyakan apa yang terjadi pada mereka berdua. Ditengah kebingungan yang melanda semua orang, Chici melepaskan busur dan anak panah dari punggungnya dan menyerahkannya pada Wixi.


Dengan bingung Wixi menerima panah itu dan memegangnya dengan hati-hati. Tatapan mereka semua kini tertuju pada Chici dan Zhan yang sudah memegang pegangan pedang dan siap menariknya.


Pertanyaan serupa terus berputar dikepala mereka tanpa jawaban. Wixi dan Fino berusaha menenangkan Chici agar tidak terjadi kerusakan parah dan memancing hewan buas disekitarnya.


Bukannya mendapat respon baik, mereka yang mencoba menenangkan Chici malah mendapat tatapan membunuh dari Zhan.

__ADS_1


"Hey nona, sudah kubilang jangan melawan dan serahkan senjata antik itu padaku" celetuknya tenang karena mengira Chici hanya anak kecil biasa.


"Baiklah jika kalian tidak mau menyingkir"


Sringg


Chici dan Zhan menarik pedangnya bersamaan.Mengetahui keduanya tidak akan bisa dicegah lagi, seluruh anggota Blood One mundur cukup jauh.


Berbeda halnya dengan orang-orang itu, mereka malah tertawa terbahak-bahak melihat lawannya mundur dan membiarkan dua orang melawan mereka yg berjumlah 10 kali lipat.


"Hahaha...Bocah, lihatlah teman-teman mu tidak peduli lagi padamu. Maut tidak akan bisa kau hindari lagi."


"Mereka bukan tidak peduli padaku. Tapi mereka tahu diri." kata Chici dengan suara tertahan.


"Banyak bicara! Ayo serang dia!"


Pertarungan pun tak dapat dihindari lagi, dan dalam waktu sekejap anak buah penghalang itupun tiada. Kini tinggal seorang pria yang tadi tengah berlutut dihadapan Chici.


"Aku akan mengampuni nyawamu tapi hanya untuk menyampaikan salamku, bukan untuk hal lainnya." ketus Chici menodong lehernya dengan pedang.


Ia langsung lari terbirit-birit meninggalkan kemarahan Chici yang belum reda dan juga kebingungan di kepala anggotanya yang sama-sama belum hilang.


Tanpa banyak bicara mereka menyimpan terlebih dahulu kebingungan itu dan melanjutkan perjalanan. Meter demi meter mereka lalui tanpa kesulitan. Yaa...Karena Chici yang melampiaskan kemarahannya pada setiap hewan yang menghampiri mereka.


"Emm..Nona?!" sapa Fino ragu-ragu.


Chici tiba-tiba berhenti tanpa menjawab, bahkan menoleh.


"Jika boleh aku tahu, sebenarnya siapa tuan Jalal itu??" tanya nya.


Ia tahu sifat Chici disaat marah jangankan menjawab, menoleh pun tidak akan pernah. Dan benar saja Chici melanjutkan langkahnya tanpa bergeming.


"Kau sudah tahu bagaimana sifat nona, kenapa kau masih bertanya juga? Apa kau ingin nona semakin marah?" ketus Hendra setengah berbisik.


"Aku tahu, tapi aku penasaran." jawab Fino berbisik juga.


"Bukan hanya kau, kita juga penasaran. Tapi bukan waktu yang tepat untuk bertanya pada nona saat marah" bentak Hendra memukul kepala Fino perlahan.


"Aduhhh.. Iya iya, tapi coba kau pikir, kalau hanya nona dan Zhan yang tahu, bagaimana kita akan menghadapi mereka jika suatu saat kita berpapasan? Jika dia adalah musuh dan kita mengira dia teman, itu akan berbahaya, bukan hanya bagi kita, tapi bagi nona juga. Lalu jika dia adalah teman dan kita mengira dia musuh dan menyerangnya, kita juga yang akan kena hukuman. Pikirkan itu!" jelas Fino panjang lebar namun tetap berbisik.


Hendra tampak berfikir sesaat.


"Kau benar. Tapi meskipun hanya nona dan Zhan yang tahu, itu bukan masalah, kau tau sendiri kemampuan nona" ujar Wixi ikut-ikutan berbisik.

__ADS_1


"Ck kau memang bodoh Wixi. Kita tidak selalu mengekor pada nona, kita juga punya misi yang selalu dijalankan tanpa nona." celetuk Fino kesal sendiri.


Saat mendengar itu, Chici tiba-tiba berhenti dan membuat semuanya menelan ludah. Apalagi saat Zhan kembali menatap mereka dengan kesal.


__ADS_2