
Sesuai dengan namanya, Desa Barat Baru adalah sebuah desa kecil baru di pinggir sebuah kota yang besar. Warga desa hidup dengan sederhana, mereka hidup dengan damai dan rukun. Tak pernah sekalipun terjadi perselisihan mematahkan hati.
Kehidupan sehari-hari mereka terpenuhi dengan jerih payah mereka sendiri. Warga desa yang begitu berbakat dalam segala hal membuat mereka tidak terlalu bergantung pada produk produk dari kota atau yang lainnya.
Untuk makanan, mereka menanam sayur-sayuran dan buah-buahan sendiri, dengan jumlah penduduknya yang sedikit tentu menyisakan banyak lahan yang bisa dipakai untuk bercocok tanam. Sedangkan untuk pakaian mereka juga membuatnya sendiri, berbahan dasar benang dari ulat sutera.
Kedamaian dan ketenangan yang biasanya terpancar dari desa tersebut kini berganti menjadi ketakutan yang amat sangat. Pantas saja jika Desa Barat Baru dikunjungi perampok.
Pasalnya, bukan hanya hasil pertanian yang melimpah akan tetapi warga desa tersebut mempunyai sebuah kegiatan memproduksi kerajinan tangan dari berbagai barang yang sudah tidak terpakai. Hasil karya warga desa menjadi salah satu penghasilan mereka dengan cara menjualnya di dalam desa atau ke desa-desa sekitar, bahkan tak sekali mereka mendapat pesanan dari kota-kota.
Kini kegiatan yang awalnya hanya sebuah keharusan untuk mengurangi sampah menjadi sebuah pekerjaan.
Kini Chici dan anak buahnya tengah duduk melingkar di depan rumah pak Toto. Mereka ingin mendiskusikan tentang perlawanan yang akan mereka berikan pada serangan hewan-hewan buas dan para perampok.
"Baiklah, Wixi, Fino aku percayakan hal ini pada kalian. Kalian harus bisa meyakinkan warga agar bisa membantu kita. Menangkap seekor tikus tidak perlu mengeluarkan tenaga yang besar, kita cukup memberinya kepala ikan." ujar Chici.
Chici bermaksud untuk membujuk para warga agar bersedia membantu mereka membuat jebakan. Berdasarkan penjelasan yang diberikan Pak Toto, perampok yang selalu datang kesana sedikitnya ada dua puluh orang. Meskipun Chici tidak akan kesulitan melawan mereka seorang diri, ia mencoba menundukkan mereka tanpa terjadi pertumpahan darah.
"Nona, aku merasakan sesuatu yang aneh, tanah ini terasa bergetar....Ah-! Mereka datang,Nona" ucap Leo langsung berdiri, seperti biasa hanya didengar oleh Chici.
"Siapa?" tanya Chici was-was.
"Hewan buas yang turun dari gunung"
"Apa?" celetuk Chici setengah berteriak.
__ADS_1
Informasi yang pak Toto berikan ternyata keliru, katanya hewan buas akan muncul pukul sembilan malam dan sekarang baru pukul setengah sembilan malam.
Anak buahnya ikut cemas melihat ekspresi Chici yang tampak terkejut. Mereka langsung berdiri dan ribut bertanya ada apa. Namun, sebelum Chici menjawab, puluhan hewan buas berbagai macam tampak berlari ke arah mereka dan berhenti tepat di depan Leo.
Chici tampak heran dengan hewan buas yang berjejer berbeda jenis itu.
'Kenapa hewan-hewan ini tampak akur? Setahuku hewan-hewan tidak banyak yang akur dengan hewan yang berbeda jenis. Tapi..Harimau..Serigala.. Ular-ular ini..Kok bisa kompak begini ya?' batinnya penuh tanya.
***
"Kenapa kalian menyerang warga desa? Kalian membuat mereka kehilangan banyak ternak dan merusak tanaman mereka" kata Leo pada kawanan hewan buas itu.
"Ini tidak ada hubungannya denganmu, pergilah jika tidak ingin mati mengenaskan" jawab seekor harimau yang sedikit lebih besar.
"Aku tidak akan pergi. Dewi ku sedang beristirahat di sini. Tidak akan kubiarkan kalian mengganggu istirahat mereka." ucap Leo dengan nada bicara yang sudah naik satu oktaf.
"Beraninya kau berteriak padaku! Aku bukan melindungi warga desa, tapi aku sedang menjalankan misi ku menjaga seorang Dewi. Jangan coba-coba membuatku marah"
Suara geraman Leo yang tidak mengerti ucapannya merinding. Suaranya begitu mencekam saat geraman harimau saling bersahutan. Sedangkan Chici tampak tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan Leo. Ia tak menyangka kalau Leo akan benar-benar berusaha melindunginya.
"Tunggu. Kau bilang seorang Dewi? Jangan bilang kalau kau adalah..."
"*Benar. Aku adalah salah Satu hewan suci yang ada di bumi ini. Dewi yang aku maksud adalah Reinkarnasi Jiwa Dewi Chiyo Ryuu. Kalian tentu tahu siapa dia, kalian adalah bangsaku, jangan membuatku mati karena tidak berhasil menjaga Dewi."
"Aku mengerti tapi kau sepertinya lupa kalau Dewi Phoenix itu hampir membunuh bangsamu sendiri. Sekarang kau melindungi jiwanya? konyol sekali."
__ADS_1
"Aku tahu rasa sakit yang kita alami berabad-abad yang lalu itu sulit untuk ditemukan. Aku menjadi hewan suci adalah atas kehendaknya. Meskipun kita berbeda tapi aku tahu apa sebenarnya terjadi pada bangsa kita dulu. Jika kalian mengetahuinya, aku yakin, benar-benar yakin kalian tidak akan rela dia terluka meskipun dalam raga orang lain"
"Maafkan kelancangan kami. Tapi kami tidak ingin diam saja menghapus semua kesalahan warga desa yang jahat itu. Kami akan menuntaskan dendam kami pada mereka atas kematian bangsa-bangsa kami*."
Hewan-hewan itu berbicara layaknya manusia yang tengah mengobrol, meskipun hanya bisa diketahui Chici apa yang mereka bicarakan. Meskipun memiliki kemampuan tersebut, bukan sekali kalau ia juga merasa konyol mendengar hewan-hewan mengobrol.
"Dengar, kita buat kesepakatan saja. Tapi jangan disini, aku tidak mau Nona merasa terganggu. Mari ikut aku memasuki hutan selatan dulu."
Awalnya Chici hendak mencegah Leo pergi. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat hewan-hewan itu turun ke desa. Akan tetapi Wixi yang datang dengan warga desa membuatnya mengurungkan niatnya.
"Bos,mereka sudah bersedia membantu kita membuat perangkap." ujar Fino membungkuk melapor.
"Apa? Dia bos kalian? Hei kalian mencoba menjebak kami ya? jangan-jangan kalian adalah bagian dari perampok itu." teriak salah satu pemuda yang terkejut mengetahui kalau seorang gadis yang menjadi bos mereka.
"Cihh. Kau tidak akan bisa bernafas setelah tahu kemampuannya." sindir Wixi atas ucapan pemuda tadi.
"Tidak ada waktu untuk berdebat. Jika kalian mau hidup damai seperti dulu maka ikuti arahanku. Wixi, Fino kalian berpencar dan cari semua yang dibutuhkan untuk membuat jebakan" kata Chici tak peduli atas anggapan warga desa.
Pak Toto tampak berlari tergopoh-gopoh mendekati warga yang tengah berkerumun membicarakan Chici. Ia takut sikap warga desa akan menyinggung Chici dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk membantu.
"Kalian jangan asal bicara. Dia kuat sekali
Meskipun aku belum melihat kemampuannya secara langsung, tapi dilihat dari banyaknya anak buah yang dia bawa menunjukkan sedikit kekuasaannya. Asal kalian tahu dia adalah Chiyo Rin Xia. Gadis seribu talenta dan Presdir di perusahaan CRX Group di kota sebelah. Dia juga kabarnya ketua dari geng mafia Blood One. kalian lihat seragam yang dipakai anak buahnya, ada simbol tetesan darah di dada sebelah kirinya" ucap Pak Toto menjelaskan dengan cepat.
Penjelasan Pak Toto membuat suasananya semakin gaduh. Banyak yang menjadi takut, tidak sedikit juga yang tidak percaya.
__ADS_1
-----------------------#🕊️TBC...