
Slashhh.. Sebuah sayatan berhasil melukai tangan pria itu.
"Kau! Berani-beraninya kau melukaiku! Aku akan menghabisimu sekarang juga, bocah tengik!" ucapnya setengah teriak-teriak sambil terus melayangkan pukulan-pukulan pada Chici.
"Hhahaha.. Senang sekali rasanya siang-siang begini berduel dengan orang sepertimu." ujar Chici penuh semangat.
"Ayo,nona! Hajar dia! Lemaskan otot-ototmu yang kaku sejak pagi tadi. Hahaha"
"Benar! Habisi dia! Berani-beraninya dia menghalangi jalan nona!"
"Ya benar. Beri dia pelajaran!"
"Ayo! Habisi dia"
Begitulah teriak anggota Blood One dan orang-orang disekitar sana saat melihat pertaruangan Chici dengannya semakin sengit.
Pria itu tambah geram mendengar teriakan orang-orang menyemangati Chici.
"Diam kalian semua atau aku....aaakkhhhh" ucapannya terhenti dengan sebuah sayatan di dada kirinya.
"Ck ck ck.. Berani sekali kau berpaling saat sedang bertarung denganku! Kau punya nyawa berapa? Kalau sudah tak kuat lagi..Kau! Bawa dia dari hadapanku dan segera obati jika masih mau hidup" ujar Chici menunjuk salah satu dari gerombolan mereka.
"Jangan dengarkan dia! Ayo serang bersama-sama!"
"Hiyaaaa" teriak orang-orang itu kompak berlari menyerang Chici.
Chici berdecak kesal, akhirnya ia menarik pedang keduanya.
Sringggggg..
Suara dua logam bergesekan membuat gigi semua orang terasa ngilu dan memekikkan telinga. Mereka kompak menutupi telinga.
"Tunggu!" teriak Zhan mencegah gerombolan itu mendekati Chici.
"Kalian sebaiknya menyerah saja. Kalian tidak akan mampu melawannya meskipun bersama-sama." lanjutnya.
"Aku tidak peduli! Kita akan tau hasilnya setelah pertaruangan ini berakhir" bentak pria yang tengah terluka itu.
"Hei-!! Kau mau merusak tempat ini hah?" teriak Wixi geram.
"Cihh memangnya apa keistimewaan gadis kecil sepertinya? hahaha" jawabnya tetap sombong.
"Ck dasar orang tua kepala batu. Ya sudah biarkan saja dia mati disini." celetuk Zhan.
"Semuanya! Dengarkan aku! Orang tua itu terlalu keras kepala, pertempuran baru dimulai. Kalian mundur sejauh mungkin dari sini jika ingin hidup." lanjutnya memperingati orang-orang.
Bagi mereka tidak ada pilihan lain selain menuruti perkataan Zhan. Melihat kemampuan Chici dalam bertarung dengan pedang biasa saja sudah membuat preman terkuat disana terluka, mereka juga menduga masih ada yang Chici sembunyikan.
Akhirnya mereka mundur beberapa meter untuk menghindari dampak dari pertarungan itu.
__ADS_1
"Tetua Zhan, bagaimana ini? Pedang itu punya keistimewaan tersendiri. Jika nona menggunakan itu, tanah disini akan hancur." tanya Fino cemas.
Orang-orang yang mendengar perkataan Fino jadi berkeringat dingin, tubuhnya benar-benar bergetar ketakutan.
"Gi..gila.. apa..apa itu benar? ba..Bagaimana ini?" batinnya gugup.
"Tenanglah. Aku yakin nona muda bisa mengatasi dampaknya. Ia bisa mengontrol kekuatan yang ia pakai agar tidak melukai orang-orang disekitar sini dan tidak merusak alam" ujar Zhan menenangkan.
Zhan sendiri sebenarnya merasa cemas, karena ia tahu sendiri kekuatan dari pedang sakral Chici tidak mudah untuk dikendalikan.
"Blood One, bersiap!" teriak Zhan mengantisipasi dampak dari serangan.
**
"Pak tua, ini adalah pilihanmu sendiri." ujar Chici tersenyum sinis.
Wushhh..
Angin berhembus kencang saat Chici menghentakkan kakinya ke tanah.
Orang-orang itu tak peduli akan hal itu, mereka pikir itu hanya angin biasa. Mereka berlari bersama-sama ke arah Chici.
Tangggg..
Lima buah pedang berbenturan dengan satu pedang Chici. Tak lama kemudian...
Suara retakan terdengar dari pedang pedang mereka bersamaan.
"Ba..Bagaimana..ini..ini terjadi? Ti..tidak..ini tidak mungkin" ujar mereka ketakutan.
Chici melompat ke udara, ia memutar tubuhnya melayangkan tendangan. Dalam sekejap lima orang yang mengeroyok Chici pun tumbang setelah sebuah tendangan mendarat di kepala mereka.
Orang-orang yang tersisa tak bisa bergerak. Mereka mematung seketika. Nafasnya bak terhenti, lalu mereka melihat Chici yang berdiri tegak di atas sebuah pedang yang menancap.
Setelah mendapatkan sedikit kesadaran dan tenaga, mereka berlari secepat kilat meninggalkan area pertaruangan itu.
Chici tak berniat membuat mereka lolos, meskipun tidak mati setidaknya mereka mendapatkan pelajaran.
Sekali lagi Chici melompat dan mendarat dengan keras membuat angin kencang kembali berhembus, tanah yang Chici pijak menunjukkan retakan.
Brukkk brukk brukkk
Orang-orang yang ada dalam jangkauan tenaga dalam Chici terjatuh. Tak sedikit dari mereka yang pingsan.
"Wahhh..Nona ini sangat kuat, lihat si brengsek itu kewalahan." teriak seseorang.
Merasa tak punya pilihan lain, ia segera berlari meninggalkan Chici dan orang-orang. Awalnya anggota Blood One hendak mengejarnya namun Chici menghentikannya.
"Nona kenapa dia dibiarkan begitu saja? Kita harus menangkapnya atau nanti dia akan berulah lagi" ujar Zhan.
__ADS_1
"Ia ben..ehh?? Be..begitu saja??" tanya orang-orang kaget.
"Ehh?! Heh heh maksud dia membiarkannya pergi dan kita tidak mencegahnya. Benar begitu Zhan?" tanya Chici melotot memberikan kode.
"Eeee I..iya be..begitu" jawab Zhan gelagapan.
"Oooohhh" celetuk orang-orang bersamaan.
Chici dan yang lainnya hanya cengengesan dan menggaruk kepala yang tak gatal, salah tingkah.
"Baiklah nona. Terimakasih sudah memberi orang itu pelajaran. Dia selalu berbuat ulah disini." ucap seseorang.
"Tidak perlu sungkan. Kami juga hanya melindungi diri sendiri. Mari mari kita lanjutkan pencarian kita masing-masing." jawab Chici ramah.
Akhirnya mereka membubarkan diri dan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
"(Nona, berjalanlah ke arah Utara pulau ini)"
Chici menurutinya. Mereka berjalan ke arah Utara. Hari menjelang malam, mereka memutuskan untuk beristirahat dulu untuk malam ini.
"Sebaiknya kita istirahat di sini saja. Tempatnya cukup untuk kita semua" kata Zhan memberikan saran.
Mereka mendirikan tenda disana dan seperti biasanya, mereka membuat api unggun untuk menghangatkan diri.
"Emm..Nona bagaimana kita mencari bunga itu?" tanya Wixi mencari topik.
"Hmm?! Bunga itu sama seperti bunga teratai pada umumnya. Tapi settiap sisi kelopaknya akan terlihat hitam kemerahan seperti mengeluarkan api, bunga ini tumbuh di atas danau es di pulau ini"
"Danau es? Maksudmu danau yang membeku?" tanya Fino.
"Benar" jawab Chici singkat.
"Hei ini tidak masuk akal,nona. Bagaimana bisa? Es akan meleleh terkena api" bantah Zhan.
"Ckk.. Apa kebaikan dan keburukan bisa bersatu? Tidak kan?" jawab Chici dengan pertanyaan pula.
"Aku tidak mengerti nona" celetuk Wixi menggaruk kepala yang tak gatal.
"Ckk kau memang bodoh, Wixi. Kalian akan tau nanti saat melihatnya. Besok kita mulai pencarian."
Malam semakin larut.
Setelah cukup puas berbincang-bincang, mereka pergi tidur, mengistirahatkan tubuh dan fikiran mereka.
Di depan api unggun yang semakin mengecil, Chici tampak termenung disamping Leo.
Suara hewan-hewan malam mulai terdengar membuat bulu kuduk Chici berdiri. Chici melirik leo, namun Leo malah memalingkan wajahnya. Tampak jelas kalau Leo tengah merasa kesal.
-------------------------#🕊️TBC...
__ADS_1